BH university pagi itu digegerkan dengan penemuan mayat seorang mahasiswa fakultas ekonomi yang tergeletak di salah satu ruangan dengan tubuh yang mengering. Darah di dalam tubuhnya terkuras habis menjadi faktor meninggalnya gadis tersebut.
“Bukannya dia Irene,” ucap Jungkook yang membuat atensi Hyuna bersama para sahabatnya menoleh ke arahnya.
“Lu kenal sama dia?” tanya Hyuna. Gadis itu sedikit tidak percaya dengan apa yang dikatakan Jungkook. Pasalnya pemuda itu termasuk golongan anak yang tertutup dan jarang berhubungan dengan orang lain kecuali Hyuna dan para hyungnya.
“Kenal sih nggak. Gue cuma tau namanya karena gue beberapa kali lihat dia masukin surat ke loker Tae Hyung,” ucap Jungkook yang membuat semuanya serempak menoleh ke arah Taehyung yang masih setia berdiri dengan angkuh di belakang Hyuna.
“Bener Tae?” tanya Hyuna.
Taehyung hanya diam. Pemuda itu bahkan memilih untuk pergi meninggalkan para sahabatnya yang masih sibuk berbincang soal kematian Irene, karena menurutnya membicarakan orang yang sudah meninggal tidak akan ada gunanya.
“Tae, tunggu!”
***
Taehyung duduk bersama dengan para saudaranya dan juga Hyuna di salah satu ruangan yang ada di kampus mereka.
“Na, ntar malem bisa temenin gue jalan nggak?” tanya Hoseok. Pemuda itu berniat mengajak Hyuna jalan-jalan, mengingat beberapa hari terakhir gadis itu terlihat murung dan tidak seperti biasanya.
“Sorry, Oppa. Tapi Taehyung udah ngajak duluan,” ucap Hyuna. Sementara Taehyung yang berada di samping gadis itu tersenyum penuh kemenangan.
“Fokus, Hyuna!” teriak Jungkook. Keduanya tengah bermain game jenis shooter multiplayer. Keduanya cukup sering memainkan game tersebut dan sudah beberapa kali menang, namun kali ini mereka harus kalah karena Hyuna kurang fokus.
“Lu kenapa sih, Na? Akhir-akhir ini banyak ngelamun.” Pertanyaan Yoon Ki diangguki oleh yang lainnya.
“Lu masih mikirin soal anak-anak yang mati dengan tubuh kering?” tanya Jimin yang baru datang sembari membawa dua kantong kresek berukuran besar.
“Gue nggak tau, tapi masalah kali ini benar-benar ganggu pikiran gue. Jumlah korban semakin bertambah setiap harinya, ditambah lagi rumor yang beredar soal vampir. Orang-orang jadi takut untuk keluar dari rumah dan beraktivitas seperti biasa.” Hyuna meletakkan stick game yang ia pakai bersama Jungkook dan memilih untuk merebahkan diri di sofa panjang bersama dengan Taehyung. “Apa kalian yakin kalau itu bukan ulah kalian?” tanya Hyuna sembari menatap satu persatu sahabatnya.
“Kita masing-masing udah punya budak darah, Na.” Hoseok percaya kalau bukan saudaranya dan dirinya yang membunuh para korban, karena ia tau kalau setiap saudaranya sudah memiliki budak darah masing-masing.
“Berarti secara nggak langsung lu ngomong kalau ada vampir lain di sini selain kita?” tanya Yoon Ki.
“Bukannya itu udah pasti, ya? Soalnya kan kita hidup berdampingan. Apalagi klan vampir juga bukan kalian aja, dan yang memutuskan untuk menyatu dengan manusia juga bukan hanya kalian.”
“Gue rasa si Hyuna benar. Tapi yang jadi pertanyaan, kenapa kita nggak bisa ngerasain keberadaan mereka?” tanya Jimin.
Semuanya terdiam. Sampai kalimat yang keluar dari mulut Taehyung membuat semuanya tersadar. “Nggak ada klan vampir yang bisa menghilangkan bau kecuali dari keluarga kerajaan. Sebenarnya mereka hanya sedikit menyamarkan bau, dan alasan kenapa kita tidak bisa membedakan bau mereka karena kita selalu bersama sehingga kita berpikir bahwa itu bau dari masing-masing kita.”
“Tapi siapa mereka? Kenapa mereka tiba-tiba menghabisi para manusia?” tanya Hoseok yang masih tidak mengerti dengan tujuan para klan vampir menghabisi para manusia.
“Apa mungkin kerajaan berniat menghabisi manusia?” tanya Jungkook.
“Itu mustahil. Apa alasan mendasar yang membuat mereka mengambil keputusan seperti itu?” tanya Hyuna. “Mungkin nggak kalau ini ulah para slave yang kehilangan tuannya?”
Suasana kembali hening. Tidak ada yang berani mengucapkan sepatah kata sekalipun, karena mereka semua tau bahasan tentang ini hanya akan membuka luka lama di hati.
“Hah, entahlah. Otak gue rasanya mau pecah mikirin semuanya,” gerutu Jimin sembari memegang kepalanya yang sakit.
“Gue juga,” ucap Hyuna sembari meraih stick game di depannya. Gadis itu berniat mengurangi rasa sakit kepalanya dengan bermain game. Namun, baru saja ia menekan tombol power, sebuah teriakan terdengar di Indra pendengar mereka.
Secepat kilat mereka semua menuju ke sumber suara. Namun bukannya si vampir yang mereka lihat, malah seorang gadis yang tengah meringkuk di sebuah rumput yang basah.
“Lee Jiun,” panggil Hyuna saat dirinya sampai di sumber suara.
“Kenapa lu lama banget?” tanya Taehyung sembari berbisik di telinga Hyuna.
“Gue lari, kalau lu lupa.”
Pemuda itu hanya tersenyum manis. Ia lupa kalau gadis yang ia cintai hanyalah manusia biasa yang tidak bisa berpindah ke suatu tempat dengan cepat, seperti dirinya dan para saudaranya.
Hyuna langsung mendorong sahabatnya yang menghalanginya melihat keadaan teman sekelasnya.
“Lu kenapa?” tanya Hyuna.
“Gue ... tadi ... itu ... ada ... itu ... anu,” gagapnya.
“Pelan-pelan aja. Jelasin Pelan-pelan,” pinta Hyuna saat melihat Jiun menangis sesenggukan.
“Gue nggak tau, Na. Tadi gue mau pulang, tiba-tiba seseorang dateng trus jilat leher bagian belakang gue. Habis itu gue teriak, dan dia pergi.”
“Apa yang dia katakan?” tanya Taehyung sembari melipat kedua tangannya di dada.
“Makan siang yang lezat. Gue nggak tau apa maksudnya, tapi itu yang gue denger tadi sebelum gue teriak.”
“Udah cukup.” Hyuna memeluk tubuh Jiun yang terduduk di tanah. Gadis itu terus mengatakan ingin pulang, dan setelah perdebatan yang cukup sengit akhirnya Hyuna memesankan taxi online agar teman satu kelasnya bisa pulang dengan selamat.
***
Hyuna merebahkan tubuh lelahnya di kasur yang empuk. Pikirannya tengah semrawut memikirkan siapa dalang dibalik semua hal yang terjadi.
Kenapa dia tidak bisa mencium bau orang itu, dan kenapa para sahabatnya juga tidak bisa mendeteksinya. Hyuna mengusak kepalanya yang pusing karena kejadian demi kejadian aneh yang terus terjadi.
“Hyuna, ini gue Jimin. Buka pintunya,” ucap Jimin dari sambungan telepon.
“Ngapain lu kemari?” tanya Hyuna sesaat setelah membuka pintu.
“Gue lagi pusing,” ucap Jimin sembari berjalan memasuki rumah Hyuna. “Kejadian demi kejadian yang terus terjadi akhir-akhir ini buat kepala gue mau pecah.”
“Kenapa lu nggak nanya aja sama Namjoon dan Seokjin Oppa. Gue yakin mereka bisa ngasih lu pencerahan,” saran Hyuna.
“Seokjin Hyung lagi sibuk di rumah sakit, sementara Namjoon Hyung sibuk dengan pekerjaannya di kepolisian. Jangankan buat nanya tentang hal ini, sampai detik ini aja mereka belum pulang ke rumah sejak kejadian Irene.”
Keduanya membuang napas kasar. Tidak tau apa yang harus mereka lakukan untuk mencari pelaku dari teror yang membuat warga ketakutan dan enggan keluar dari rumah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments