“Nona, sampai kapan Nona akan menyembunyikan semuanya dari sahabat-sahabat Nona?” tanya pemuda tampan yang sudah lelah dengan kegilaan anak dari Rajanya.
“Jeno benar, Nona. Akan lebih baik jika mereka mengetahui semuanya sebelum sekarang.”
“Apa yang Jeno dan Jaemin katakan ada benarnya, Nona. Lebih baik mereka tau segalanya dari awal, karena kalau sampai mereka tau yang sebenarnya nanti, apalagi mereka tau dari orang lain, kami takut mereka akan nekad menyakiti anda.”
Gadis itu terdiam. Mendengar penuturan ketiga orang kepercayaannya entah mengapa membuatnya sedikit merasa was-was.
Ia bisa saja memberitahukan semuanya pada teman-temannya, tapi bagaimana kalau semua akan jadi lebih buruk karena ia mengungkapkan jati dirinya? Bagaimana jika keputusannya untuk mengungkap jati dirinya malah membuatnya mengulang kesalahan yang sama dengan yang pernah dilakukan seseorang? Banyak hal yang harus ia pertimbangkan sebelum mengungkapkan tentang siapa dia yang sebenarnya, dan dia harus siap dengan segala kemungkinan yang akan terjadi.
“Nonna,” panggil Lucas saat nonanya malah terdiam.
“Cas, apa menurutmu mengungkapkan jati diriku saat ini adalah hal yang terbaik? Bagaimana kalau karena aku melakukan itu, para manusia akan memburu kelompok kita lagi.” Lucas bersama dengan Jaemin dan Jeno terdiam. “Aku tidak masalah kalau teman-teman menjauhiku karena jati diriku, tapi aku belum siap kalau yang terjadi waktu itu harus terjadi lagi.”
“Lalu, apa yang akan Nona lakukan?” tanya Jaemin. Jujur saja ia ikut pusing memikirkan kelangsungan hidup tuannya dan juga klannya.
“Entahlah. Kalian tetap jalani hidup kalian seperti biasa, begitu juga dengan aku. Nanti setelah aku menemukan cara yang tepat, aku akan memanggil kalian lagi.”
“Noona, maaf kalau saya lancang. Tapi bagaimana dengan tuan muda Jimin dan yang lainnya? Dendam mereka masih sangat besar kepada Nona dan keluarga kerajaan.”
“Aku akan memikirkannya. Sebelum kalian kembali ke pekerjaan kalian, bisakah kalian kembali ke kerajaan? Ada hal yang ingin aku sampaikan pada raja dan ratu.”
Lucas mengangguk saat Tuan mereka memberikan secarik kertas padanya.
“Baik Nona. Kalau begitu kami permisi,” pamit ketiganya.
Setelah mendapatkan anggukan dari seorang wanita yang dipanggil Nona, ketiganya lenyap begitu saja bagai ditelan bumi.
Kamar tersebut kembali sunyi seperti sebelumnya, dan wanita itu memutuskan untuk merebahkan dirinya di kasur empuk yang ia beli beberapa hari yang lalu karena bagus.
“Gue harus apa?” tanya gadis itu sembari mengusak rambutnya dengan kasar.
***
“Elu tu jadi cowok bersih dikit, kek!” teriak Hyuna saat seseorang mencomot makanannya. Pemuda itu kebetulan teman satu tingkat Hyuna di universitas tempat ia menuntut ilmu. Sebenarnya bukan cuma satu tingkat, tapi satu jurusan, satu pergaulan, tapi kalau soal satu rasa belum tau.
“Ngalah? Gue harus ngalah sama cewek jadi-jadian kek elu? Najis banget.”
Hyuna mengepalkan tangannya dan melayangkan tangannya ke arah Jimin yang berdiri tak jauh darinya. Saat pemuda itu berhasil menangkis tangan Hyuna, gadis itu langsung melayangkan tendangan ke arah betis Jimin yang membuat pemuda itu mengadu kesakitan.
“Lu....”
“Apa lu!” seru Hyuna saat Jimin menunjuk wajahnya dengan jari. “Lagian jadi cowok kok lembek bener. Baru ditendang gitu doang udah kesakitan,” ejek Hyuna yang membuat Jimin hampir tersulut emosi.
“Lu....”
“Kalian berdua lama-lama gue kawinin juga, kalau nggak berhenti.” Seseorang datang dan berhasil menghentikan pertengkaran konyol antara Hyuna dan Jimin.
“Kali ini apa lagi?” tanya Hoseok yang baru sampai di meja kantin sembari membawa segelas jus jeruk dingin dan beberapa buku di pelukannya.
“Dia nyomot bakso gue!” seru Hyuna.
“Cuma bakso doang, lagian juga gue nyomot cuma sebiji.”
“Masalahnya lu nyomot pake tangan ya, Njing.” Hyuna tidak mempermasalahkan soal Jimin yang mengambil bakso di mangkoknya, yang gadis itu permasalahkan cara pemuda itu mengambil bakso Hyuna. Dan bukannya meminta maaf, Jimin malah mengobok-obok mangkok Hyuna, membuat gadis itu urung memakan baksonya.
“Kan elu bisa beli yang baru. Perhitungan banget jadi orang,” gerutu Jimin. Pemuda itu mengambil tempat duduk di sebelah Hoseok karena menurutnya itu yang paling aman, dibandingkan dirinya harus duduk di dekat hyungnya yang lain.
“Ini,” ucap seorang pemuda tampan dengan senyum kotak yang membuatnya terlihat sangat menggemaskan. Pemuda itu menyerahkan semangkok bakso panas lengkap dengan sayuran di atasnya yang membuat Hyuna tersenyum.
“Thank you, Taehyung. Lu emang yang terbaik, beda sama saudara lu.”
Jimin hanya memajukan bibirnya. Pemuda itu memilih menikmati ramen pesanannya yang juga baru datang.
“Kalian berdua bisa nggak akur sehari aja. Capek gue dengernya,” gerutu Jungkook. Meski dalam pertemanan mereka, Jungkook adalah member paling muda, tapi pemuda itu bahkan lebih dewasa jika dibandingkan dengan Jimin.
“Jungkook benar.”
“Tapi dia duluan,” ucap Jimin dan Hyuna bersamaan yang sukses membuat Jungkook dan yang lainnya menggelengkan kepala.
Semuanya kembali tenang dan fokus dengan makanannya masing-masing. Hyuna yang tengah fokus dengan bakso pedas miliknya harus terbatuk-batuk saat Taehyung mengatakan ingin menemui orang tuanya. Pemuda itu berniat menikahi Hyuna agar gadis itu tidak dibawa lari oleh laki-laki lain.
“Taehyung, bukannya gue nggak mau ngenalin elu sama ortu gue. Tapi kan kita nggak ada hubungan apa-apa, kita semua berteman.”
“Kalau gitu mulai sekarang kita pacaran dan elu nggak ada hak buat nolaknya,” ucap Taehyung tanpa mengalihkan pandangannya dari mangkok di depannya.
“Tae, kita semua teman dan gue nggak mau ngerusak hubungan baik kita. Elu....”
“Bukannya gue udah bilang kalau elu nggak punya hak buat nolak,” ucap Taehyung.
Hyuna bersama dengan yang lain terdiam mendengar penuturan Taehyung yang terdengar mengada-ada. Bagaimana bisa ia membuang hak gadis itu untuk memutuskan apa yang dia mau dan nggak? Dan apa yang dia setujui atau tidak?
Hyuna menggebrak meja mendengar ucapan Taehyung. Gadis itu memilih pergi meninggalkan teman-temannya dan memilih pergi ke atap sekolah untuk menenangkan pikiran.
“Taehyung, Hyung tau elu suka sama Hyuna. Tapi elu harus mikirin perasaan dia juga,” ucap Hoseok. Pemuda itu berniat menengai pertengkaran antara sang adik dengan sosok yang pemuda itu cintai. “Jangan memaksakan apa pun yang lu mau ke orang lain, karena belum tentu orang itu bisa terima.”
“Hyung berkata seperti itu karena Hyung ingin Jimin yang bersama dengan Hyuna, bukan gue. Benar?”
Jimin yang tengah sibuk menikmati ramennya harus mendongakkan kepalanya setelah mendengar ucapan sang adik.
“Maksud lu apa, Taehyung? Hyung hanya....”
“Kalian tau gue suka sama Hyuna sejak pertama bertemu, tapi kalian nggak pernah sama sekali bantuin gue buat dapetin dia. Kalian semua....”
“Kalau emang lu mau sama Hyuna, lu ambil aja. Lagian gue juga nggak berminat sama gadis dada rata kek dia, tapi setidaknya jaga cara bicara lu sama yang lebih tua.”
Hyuna yang berniat kembali ke meja untuk mengambil tasnya merasakan sakit yang cukup dalam saat mendengar ucapan Jimin yang begitu menusuk.
Gadis itu memutuskan untuk kembali ke atap, namun karena tidak berhati-hati ia jadi menabrak teman sekelasnya.
“Mata lu buta!” teriaknya. Dan hal itu sukses membuat Hoseok dan yang lainnya menoleh ke arah sumber suara.
“Hyuna,” panggil Jungkook. Namun bukannya memberi jawaban, gadis itu hanya tersenyum dan memilih pergi meninggalkan teman-temannya.
“Hyuna tunggu!” seru Jungkook saat berniat mengejar Hyuna yang berlari ke arah atap. Namun Belum sempat Jungkook mengejar Hyuna, Hoseok lebih dulu mengentikan langkahnya. “Kenapa, Hyung?” tanya Jungkook yang tidak mengerti dengan apa yang dilakukan hyungnya.
“ Yoon Ki Hyung yang mengejarnya, karena saat ini dia satu-satunya rang yang bisa bicara dengannya.” Jungkook hanya mengangguk menanggapi ucapan sala satu hyungnya. Berbeda dengan Jimin yang namak diam setelah melihat Hyuna.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments