“Jadi, bagian mana yang buat elu sakit hati?” tanya Yoon Ki saat dirinya sudah sampai di rooftop sekolahnya. Di mana terdapat seorang gadis cantik yang tengah sibuk memandangi langit biru yang indah.
“Entahlah,” jawab Hyuna sekenanya. Ia sedang tidak ingin membahas dua makhluk Tuhan yang sudah berhasil memporak-porandakan hatinya.
“Lu bodoh kalau elu masih berpikir buat bohongin gue,” sarkas Yoon Ki yang membuat Hyuna membuang napas panjang. “Dibanding omongan Taehyung, sejujurnya lu lebih mikirin omongannya si Jimin. Benar?” tebak Yoon Ki.
“Kalau lu emang udah tau apa yang bikin gue kayak gini, kenapa lu masih nanya,” sarkas Hyuna. Gadis itu cukup pusing dengan apa yang tengah dirasakan oleh hatinya, tapi Yoon Ki malah membuat suasana hatinya makin tak karuan.
Setelah pembicaraan yang cukup panjang bersama dengan Yoon Ki, Hyuna memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk.
Pikiran Hyuna melanglang jauh. Mungkin memang benar apa yang Yook Ki katakan, dibanding omongan Taehyung yang memutuskan hubungan keduanya secara sepihak, perkataan Jimin tadi sukses melukai hatinya yang paling dalam.
“Kenapa juga dia harus bicara seperti itu? Gue tau, dan gue juga cukup sadar diri kalau gue bukan tipenya. Tapi kan nggak perlu ngomong sesadis itu juga,” gerutu Hyuna yang masih setia bersembunyi di dalam selimut tebal bergambar karakter BT21 miliknya.
“Hyuna!” teriak seseorang dari luar rumahnya.
Hyuna tau betul siapa yang sedang memanggil namanya sembari berteriak seperti orang gila, tapi bukannya berjalan keluar dan membuka pintu, Hyuna lebih memilih tenggelam dalam selimutnya.
“Buka pintu utama, atau gue perkosa lu sekarang juga!” ancam orang tersebut.
“Hantu!” teriak Hyuna sembari mengeratkan selimutnya menutupi tubuhnya yang bergetar.
“Vampir, Bego.”
“Mana ada vampir bisa nembus tembok trus masuk ke kamar gue,” elak Hyuna.
“Gue bisa masuk ke kamar lu karena jendelanya nggak lu tutup dengan benar.”
“Bohong! Lu pasti hantu, kan? Iya, hantu.” Orang itu hanya menggelengkan kepalanya mendengar ucapan gila sahabatnya. “Mampus, gue. Jantung gue kejedar kejedor, dag dig dug kejeduk.” Hyuna memegangi jantungnya yang berdetak lebih kencang dari biasanya.
Orang itu berjalan mendekati Hyuna, dan menarik selimut yang digunakan gadis itu untuk menutupi tubuhnya. “Buka pintu utama, atau gue beneran bakalan perkosa lu!” ancam orang itu sebelum melesat turun dan berdiri di depan pintu utama rumah Hyuna.
Dengan malas Hyuna membuka selimutnya dan berjalan ke arah ruangan utama, agar dia bisa membukakan pintu untuk manusia tidak tau diri yang sudah berani masuk ke dalam kamarnya.
“Tadikan udah ketemu di kamar gue ngapain masih nyuruh gue buka pintu segala, sih.” Hyuna menggerutu sembari berjalan ke arah dapur untuk membuatkan sang tamu minuman.
“Yoon Ki hyung bilang kalau elu masih perawan, kalau setelah gue main ke rumah elu, trus elunya nggak perawan lagi dia mau menggal kepala gue.”
Hyuna menghentikan sejenak acaranya mengaduk minuman saat mendengar penuturan Jimin. Apa maksudnya coba ucapannya? Mana mungkin Yoon Ki mengatakan hal yang memalukan begitu.
“Itu alasan kenapa gue mau lu buka pintu utama,” ucap Jimin sembari memandangi beberapa foto masa sekolah Hyuna. Tidak ada foto masa kecil di sana, karena gadis itu mengatakan jika masa kecilnya terlalu suram dan ia tidak punya keinginan untuk mengingat semuanya. Itu alasannya ia tidak memiliki foto masa kecil.
“Oiya, ngomong-ngomong ada perlu apa seorang Park Jimin dateng ke rumah gue yang kumuh ini?” tanya Hyuna sembari meletakkan minuman yang baru saja ia buat.
“Gue mau minta maaf. Gue tau kalau elu denger semua yang gue omongin ke Taehyung, dan gue juga tau kalau elu cukup sakit hati pas denger. Jadi gue mutusin buat dateng ke rumah lu dan meminta maaf,” ucap Jimin. Pemuda itu mengambil tempat duduk tepat di sebelah Hyuna yang tengah sibuk dengan televisi. “Elu mau kan maafin gue?” tanya Jimin sembari menarik tangan Hyuna dan meletakkannya di dada.
“Iya, gue maafin. Lagian gue juga sadar diri kalau gue ini bukan tipe lu,” ucap Hyuna sembari memakan cemilan yang tersedia di mejanya.
“Siapa bilang? Elu tipe gue banget kali.” Hyuna menghentikan acara mengunyahnya saat mendengar ucapan dari mulut Jimin. Tubuh gadis itu kelu. Dia bahkan tidak mampu menggerakkan mulutnya hanya untuk sekedar membalas ucapan Jimin. Berbeda dengan Jimin yang seolah tidak peduli dengan apa yang baru saja ia katakan.
***
“Sampai kapan lu bakalan ngelakuin ini?” tanya Tae-yaa saat melihat seorang pemuda tampan sudah berdiri tak jauh darinya.
“Gue udah jadi vampir slave, dan secara tidak langsung hidup gue bergantung sama Tuan gue. Dan kita berdua sama-sama tau kalau elu adalah Tuan gue,” ucap pemuda itu tanpa mengalihkan pandangannya dari gemerlap lampu dan bintang yang menyatu dengan indah.
“Tujuan gue izinin elu jadi slave gue waktu itu, karena elu butuh duit buat pengobatan nyokap lu. Sekarang nyokap lu udah sembuh dan hidup lu juga udah jauh lebih baik dari sebelumnya, sampai kapan lu bakalan terus jadi slave gue? Gue bisa aja ngelepas elu kapanpun lu mau.”
“Tae-yaa, gue sayang sama lu dan gue rela ngelakuin apa aja biar gue bisa tetep di dekat elu.” Pemuda itu mengalihkan pandangannya dan memilih memandang gadis cantik yang tengah berdiri di belakangnya. “Awalnya mungkin gue emang ngelakuin semuanya buat nyokap gue dan buat ngangkat derajat keluarga gue, tapi nggak untuk saat ini. Sekarang yang gue mau cuma selalu ada di samping elu,” ucap pemuda bernama Yeonjun.
Yeonjun adalah slave Tae-yaa atau biasa disebut dengan budak darah. Kapan pun Tae-yaa butuh darah segar, maka di saat itu juga Yeonjun harus selalu ada. Tae-yaa pernah mengatakan akan melepaskan Yeonjun dan mencari budak darah yang lain, namun pemuda itu dengan tegas menolak dan berkata kalau ia akan selamanya menjadi budak darah Tae-yaa.
Yeonjun sudah jatuh hati pada sosok gadis yang mengambil darahnya. Sosok vampir origin yang datang menemuinya, dan menawarkan sebuah tawaran yang cukup menggiurkan untuknya.
“Yeonjun....”
Pemuda itu berjalan ke arah Tae-yaa sembari membawa sebuah pisau berukuran kecil yang ia gunakan untuk menyayat tangannya sendiri.
Tae-yaa mati-matian menahan diri agar tidak langsung menyerang Yeonjun yang tengah berjalan ke arahnya dengan darah yang mengalir dari tangannya. Meski jarang meminum darah, namun dirinya tetaplah seorang vampir yang tidak akan bisa menahan diri jika melihat darah segar.
“Ayo, ambil darah gue. Ambil semua yang lu mau seperti biasa,” tawar Yeonjun.
Mata Tae-yaa berubah menjadi merah menyala, serta gigi taring yang tajam muncul dari celah giginya. Namun Tae-yaa masih mencoba untuk sadar dan mengatakan pada Yeonjun kalau dia tidak perlu melakukan semua itu lagi, karena mulai saat ini Tae-yaa sudah memutuskan akan mencari budak darah yang baru.
“Tidak, Jun. Gue....”
Badan Tae-yaa kesaksian saat melihat darah Yeonjun. Insting berburunya semakin menjadi saat Yeonjun dengan tidak tau dirinya mengigit lidahnya sendiri.
Tae-yaa yang sudah hilang kendali langsung melahap bibir Yeonjun dan menghisap darah yang mengalir deras dari lidah pemuda itu. Tidak sampai dia, Tae-yaa bahkan menggigit leher Yeonjun, membuat pemuda itu berteriak karena rasa sakit saat taring tajam Tae-yaa menyapa kulitnya.
“Bagus, hisap dan habiskan semuanya. Elu bakalan selamanya jadi Tuan gue, dan gue bakalan selamanya jadi budak darah lu. Nggak ada yang bisa misahin kita,” ucap Yeonjun.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments