“Na,” panggil Tae-hee yang masih setia duduk di samping sahabatnya. Ia tau pasti sahabatnya itu tengah sedih karena harus bertemu dengan seseorang yang sudah membuat hatinya hancur berkeping-keping.
“Paan,” jawab Hyuna. Gadis itu mendongakkan kepalanya yang tertutup dengan sebuah handuk berukuran kecil.
“Gue mau nanya. Dulu kan lu pernah tu nggak masuk dua minggu setelah kejadian itu. Nah, hari itu lu ke mana?” tanya Tae-hee. Karena demi ketek Jimin yang menggoda iman, ia masih benar-benar penasaran tentang ke mana perginya sang sahabat hari itu.
“Balik ke rumah nyokap.”
“Lu nenangin diri ke sana?” tanya Tae-hee.
“Nggak juga, sih. Awalnya gue cuma pengen ke sana aja, akhirnya betah trus lupa kalau harus sekolah.”
“Jadi lu nggak masuk sekolah lama karena lu lupa kalau lu masih sekolah?” tanya Tae-hee yang dijawab anggukan oleh Hyuna.
Tae-hee memukul kepalanya. Ia benar-benar tidak menyangka jika ia bisa berteman cukup lama dengan gadis aneh seperti Hyuna. Bisa-bisanya gadis itu lupa kalau masih sekolah.
“Trus tiga cowok yang ada di rumah lu pas elu nggak ada, siapa?” tanya Tae-hee.
“Nggak ada cowok di rumah gue, Tae.”
“Ada. Pas gue nyari elu ke rumah lu waktu itu mereka kok yang nemuin, trus mereka bilang elu nggak ada.”
Hyuna terdiam. Gadis itu terlihat berpikir lebih dulu sebelum mengatakan kalau pemuda-pemuda itu mungkin saudaranya yang sengaja dikirim orang tuanya untuk menempati rumah Hyuna sementara waktu.
“Jadi lu nggak ke....”
Ponsel Hyuna berdering nyaring. “Gue angkat telfon dulu,” ucap Hyuna sembari mengangkat telfon dari seseorang bernama Jimin.
“Kenapa Jim?” tanya Hyuna begitu sambungan telepon tersambung.
“Nggak, gue cuma pengen mastiin kalau lu nggak lupa.”
“Lupa apaan?” tanya Hyuna lagi.
Di seberang sana Jimin hanya bisa memukul kepalanya. Padahal belum ada satu hari mereka ngomong, tapi Hyuna sudah melupakan janji mereka.
“Weekend besok kita jalan,” ucap Jimin yang sukses membuat Hyuna membolakan matanya.
“Emang jadi?”
“Menurut lu?” tanya Jimin sebelum akhirnya pemuda itu menutup telfon sepihak. Cukup kesal juga dengan Hyuna yang ternyata nggak serius soal acara weekend mereka, padahal Jimin sudah begitu menantikannya.
“Mampus!” seru Hyuna.
“Ada apa?” tanya Tae-hee saat melihat sahabatnya yang lebih lesu dari awal ia datang ke rumah.
“Jimin ngajakin gue weekend bareng di pantai Busan selama dua hari, katanya sih buat ganti hari ini. Gue kira dia bercanda, makanya nggak begitu gue tanggepin. Sekarang dia marah, gue harus gimana dong?” tanya Hyuna. Gadis itu mengusak rambutnya kasar, mencoba mencari ide agar Jimin nggak marah lagi padanya.
“Ya lu siap-siaplah, Njing. Ngapain lu masih diem di sini!” seru Tae-hee sembari mendorong sahabatnya menuju kamar agar segera mempersiapkan diri.
Weekend memang masih dua hari lagi, tapi Hyuna perlu maskeran, perawatan dan yang lainnya juga agar ia terlihat segar saat bertemu dengan Jimin.
“Oiya, Na. Gue mau nanya deh sama lu. Menurut lu, Yeonjun tu tipe cowok yang gimana?” tanya Tae-hee sembari memakaikan masker ke wajah sang sahabat.
“Gue nggak tau, karena gue nggak begitu kenal baik sama dia. Tapi kalau saran gue mending lu hati-hati sama dia,” peringat Hyuna. Gadis itu tidak punya maksud apa-apa, dia hanya ingin sahabatnya itu lebih berhati-hati karena nyatanya mereka hanya kenal Yeonjun dari luar dan tidak ada satupun dari mereka yang kenal Yeonjun dengan benar-benar baik.
“Kalau gue jadian sama dia, lu setuju apa nggak?” tanya Tae-hee yang membuat Hyuna memegang tangan gadis itu agar berhenti mengoleskan masker ke wajahnya.
“Elu nggak tau siapa dia yang sebenarnya, jadi jangan sembarang menaruh hati.”
“Kok lu gitu, sih? Harusnya lu seneng dong gue udah punya pengganti Tom!” seru Tae-hee.
“Tae-hee, gue nggak ngelarang lu suka sama siapapun. Gue cuma minta sama lu untuk mengenali dia lebih jauh, dan gue minta elu untuk lebih hati-hati mengingat banyak kejadian yang menimpa teman-teman di kampus kita.”
“Yeonjun pasti jaga gue kok, dan elu nggak perlu khawatir soal itu.”
***
Tae-yaa tengah berdiri di tepi sebuah gunung. Menanti seorang pemuda tampan yang memintanya untuk bertemu, namun pemuda itu tak kunjung datang.
“Ke mana perginya dia?” tanya Tae-yaa entah pada siapa. Gadis itu sudah cukup lelah menanti, bukan satu dua menit dia menunggu di sana.
Tae-yaa memilih untuk mengelilingi hutan yang ada di sekitar gunung untuk menghilangkan rasa jenuh yang perlahan menghampiri. Tae-yaa rindu dengan suasana hutan, karena sudah cukup lama gadis itu tidak masuk ke dalam hutan lagi karena kesibukan yang padat.
“Sorry, tadi ada sedikit kendala. Jadi telat deh,” ucap seseorang di belakang Tae-yaa. Orang itu memeluk tubuh gadis yang diam-diam dicintainya dari belakang dan meletakkan dagunya ke pundak Tae-yaa.
“Iya,” jawab Tae-yaa singkat. Gadis itu tengah fokus memandang ke arah tengah hutan di mana terdapat sebuah pohon yang menarik perhatiannya.
“Liatin apa sih?” tanya Yeonjun karena Tae-yaa terlihat sangat fokus menatap pohon tinggi tersebut sampai mengabaikan keberadaannya.
“Entah kenapa gue ngerasa ada yang lagi ngawasin kita,” tutur Tae-yaa.
“Itu hanya halusinasi karena elu kecapekan. Lihat, wajah lu pucat banget, bibir lu juga nggak semerah biasanya.” Yeonjun mengusap bibir tipis Tae-yaa tanpa malu. Pemuda itu bahkan menciumi ceruk leher Tae-yaa yang masih fokus memandang ke arah pohon besar.
“Yeonjun, hentikan!” seru Tae-yaa sembari mendorong kepala Yeonjun menjauh dari tubuhnya.
“Kenapa? Biasanya kita juga begini.”
“Elu udah punya Tae-hee, gue nggak mau mengkhianati sahabat gue sendiri.”
Yeonjun tersenyum getir. Pemuda itu tau saat ini dia sudah tidak sendiri lagi seperti beberapa hari yang lalu, namun ia mengencani Tae-hee hanya semata-mata agar dia bisa selalu dekat dengan Tae-yaa. Opsesi Yeonjun terhadap Tae-yaa sudah sangat tinggi, dan membuat pemuda itu rela melakukan apa pun asal Tae-yaa tetap ada bersamanya.
“Tapi Tae-hee hanya manusia biasa yang bisa mati kapan saja. Dia berbeda dengan kita, Tae-yaa.”
Yeonjun mungkin benar soal Tae-hee yang berbeda dengan dirinya dan juga pemuda itu, tapi itu bukan alasan Yeonjun bisa bermain hati seenaknya.
Mereka selalu diajari untuk setia hanya dengan satu pasangan. Kaum mereka tidak pernah melarang mereka untuk memilih pasangan, mereka bebas mau berpasangan dengan manusia atau memilih dari kaum yang sama.
“Yeonjun, jangan sakiti Tae-hee.”
Yeonjun terdiam. Ia merasa marah karena gadis itu terlihat lemah dan mulai mengasihani manusia yang sudah menghabisi hampir separuh dari kaum gadis itu sendiri.
“Tae-yaa, maksud lu apa? Gue nggak....”
“Elu satu-satunya budak darah dari keluarga kerajaan vampir, jadi bisa dibilang elu berbeda dari para slave yang lain. Kematian Irene dan yang lainnya, itu ulah elu kan?” tanya Tae-yaa.
“Gue mungkin emang slave dari kerjaan, tapi gue nggak sekotor itu buat bunuh kaum gue. Lagi pula apa motif gue sampai bunuh manusia? Nggak ada.”
Tae-yaa melesat ke arah pohon saat melihat sosok yang sejak tadi mengawasi mereka. Gadis itu sengaja tidak meminum darah Yeonjun terlebih dahulu karena ia ingin memastikan siapa dan apa tujuan sosok itu memata-matai dirinya dan Yeonjun.
“Tae lu mau ke mana!” teriak Yeonjun yang tidak dihiraukan oleh Tae-yaa. Gadis itu tetap menatap fokus ke arah seseorang yang juga tengah melesat, melompat dari satu pohon ke pohon yang lain.
Terjadi kejar-kejaran cukup lama antara Tae-yaa dengan sosok itu, sampai akhirnya gadis itu bisa menangkap seseorang yang sejak tadi menarik perhatiannya.
“Siapa lu?” tanya Tae-yaa setelah berhasil melumpuhkan pemuda yang ia yakini sudah memata-matai dirinya sejak keluar dari rumah.
Pemuda itu hanya diam, seolah tidak ingin gadis itu mengetahui asal usulnya dan siapa yang sudah memintanya untuk melakukan hal tersebut.
Beberapa kali Tae-yaa mencoba bertanya namun pemuda itu tetap saja diam. Terjadi pertarungan yang cukup menguras tenaga Tae-yaa. Kini keduanya sudah sama-sama lelah dan babak belur karena pertarungan tadi. Tae-yaa masih mencoba bersabar dan kembali menanyakan tentang identitas pemuda tersebut dan siapa yang ada dibalik pemuda itu. Namun, lagi dan lagi pemuda itu diam seribu bahasa. Hingga akhirnya gadis itu kehilangan kesabaran dan mematahkan leher seseorang yang berasal dari kaumnya.
Dengan napas terengah Tae-yaa kembali ke tempat Yeonjun berada. Pemuda itu nampak terkejut dengan apa yang terjadi dengan gadis kesayangannya. Baru beberapa menit Tae-yaa pergi, dan kini dia kembali dengan membawa luka yang cukup membuat Yeonjun miris.
Yeonjun segera mengarahkan tangannya ke arah Tae-yaa agar gadis itu bisa segera meminum darahnya.
Setelah mendapat anggukan oleh yang bersangkutan, Tae-yaa segera mengeluarkan taringnya dan menancapkan ke tangan kanan Yeonjun. Pemuda itu nampak meringis sebentar menahan sakit yang luar biasa karena gigitan Tae-yaa. Meski bukan pertama kalinya, namun nyatanya gigitan gadis itu tetap membuat Yeonjun kesakitan meski tidak separah dulu.
Keadaan gadis itu berangsur membaik setelah meminum darah Yeonjun, berbeda dengan Yeonjun yang tampak lemas setelah darahnya dinikmati oleh Tae-yaa. Keduanya memilih merebahkan tubuh letihnya di tengah hamparan rumput yang cukup luas, di bawah sinar rembulan yang indah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments