Bagian (8)

Hyuna dan Tae-hee berjalan menuju sebuah restoran yang ada di mall tersebut.

“Lu mau pesen apa?” tanya Tae-hee saat seorang pelayan laki-laki berusia belia menghampiri keduanya sembari membawa sebuah note kecil untuk mencatat menu yang pelanggannya pesan, dan segera pergi setelah ia mendapatkan apa yang diminta oleh Hyuna dan Tae-hee.

“kami mau pesen semua makanan yang ada di menu, plus dua gelas Sangria.”

“Lu gila, pesan makanan sebanyak itu?” tanya Hyuna yang masih tidak percaya sahabatnya memesan semua menu makanan yang ada di restoran tersebut.

“Nggak, lagi pula gue kan udah janji sama lu bakalan beliin apa pun yang lu mau sebagai ganti waktu lu.”

Tae-hee tadi memang sempat berjanji akan mengerjakan semua tugas Hyuna, dan mengganti semua waktu sahabatnya karena sudah membawanya keluar dari rumah untuk menghilangkan gabut yang menyerangnya. Namun Hyuna menolak, dengan alasan dia cukup mampu untuk mengerjakan tugas sekolahnya sendiri, alhasil Tae-hee mentraktir gadis itu sebagai permintaan maaf.

Hyuna hanya menggelengkan kepalanya. Ia memilih diam sembari menatap sekitar untuk mengusir stres yang mendadak menghampiri.

“Na, bukannya itu Jaehyun?” tanya Tae-hee saat melihat seorang laki-laki berjalan dengan seorang wanita memasuki sebuah toko. “Tapi, siapa wanita yang bersamanya itu?”

Tanpa pikir panjang Hyuna langsung menghampiri Jaehyun yang tengah terlihat asik berbincang dan bercanda dengan seorang wanita.

“Hai Jaehyun,” sapa Hyuna yang membuat Jaehyun terdiam di tempatnya. “Hai juga Tante,” sapa Hyuna pada wanita yang tengah merangkul tubuh Jaehyun dengan mesra.

“Hai juga. Kamu siapanya Yun-o?” tanya wanita itu.

“Saya....”

Belum selesai Hyuna memperkenalkan diri, Jaehyun lebih dulu menarik tangannya dan membawanya pergi dari hadapan sang wanita yang membuat wanita bernama See-hee mengerutkan keningnya. Tae-hee yang melihatnya segera menghampiri See-hee dan mengajaknya berbicara, agar Hyuna dan Jaehyun bisa leluasa menyelesaikan masalah mereka.

“Gue baru tau ternyata Nyokap lu seorang idol, Jae.”

Jaehyun terdiam. Ia tidak menyangka Hyuna akan sebegitu marahnya sampai menggunakan kata ‘lu gue’ untuk berbicara dengan dirinya.

“Baby dengerin aku dulu. Dia....”

“Tenang aja, gue nggak marah kok. Gue juga nggak bakalan benci sama lu, tapi gue mau....”

“No, Baby. Aku nggak mau kita berakhir seperti ini, aku sayang sama kamu dan kamu juga. Baby, beri aku kesempatan,” mohon Jaehyun.

Hyuna membuang napas kasar. Gadis itu terdiam sejenak memikirkan apakah ia harus memberikan kesempatan pada pemuda itu atau tidak. Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Hyuna mengangguk dan memilih untuk memberi kesempatan pada Jaehyun dengan syarat, pemuda itu harus memperkenalkan Hyuna pada wanita tadi sebagai calon istrinya.

“Baiklah, kalau itu memang mau kamu. Aku akan memperkenalkan kamu ke dia sebagai tunangan aku, tapi kamu janji dulu kita nggak akan berakhir seperti ini.”

“Gue janji.”

Keduanya kembali ke meja Tae-hee yang di mana terdapat See-hee juga di sana. Sepertinya Tae-hee sengaja mengajak wanita itu dan makan bersama agar Hyuna bisa berbicara dengan tenang tentang hubungannya dengan Jaehyun.

“See-hee,” panggil Jaehyun. See-hee dan Tae-hee langsung menoleh ke arah Jaehyun yang berdiri di samping mereka dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak, sementara Hyuna sendiri sudah duduk di samping sahabatnya sembari memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

“Hai, Sayang. Kebetulan kamu datang, tadi manager ku telfon katanya dia minta ketemu, jadi maaf aku harus membatalkan acara kita untuk menghabiskan waktu bersama di hotel. Maaf ya, Sayang.”

Tae-hee terkejut dengan penuturan See-hee. Gadis itu menutup mulutnya dan menoleh ke arah Hyuna yang tengah sibuk memakan makanannya seolah tidak mendengar apa yang dikatakan See-hee, sementara Jaehyun terlihat diam dan pucat.

“Sayang, ada apa?” tanya See-hee karena Jaehyun terlihat lebih diam tidak seperti biasanya.

“Nggak ada apa-apa. Kamu bisa pergi sendiri atau....”

“Tidak perlu mengantarku. Maganer ku sudah ada di depan, aku akan pergi bersama dia.” Jaehyun hanya mengangguk sebagai jawaban. Mata pemuda itu terus menatap Hyuna yang masih sibuk memakan makanannya, tanpa menoleh sedikitpun ke arahnya. “Kalau begitu aku pergi dulu,” pamit See-hee pada Jaehyun dan juga yang lainnya. Wanita itu bahkan tidak lupa membubuhkan ciuman di bibir Jaehyun yang membuat Hyuna semakin meradang.

See-hee pergi. Sepeninggalan wanita itu, Hyuna langsung menggebrak meja dan membalik meja yang penuh dengan makanan, dan hal itu sukses membuat seluruh pengunjung menatapnya.

“Baby, dengarkan aku dulu.”

Jaehyun mengejar Hyuna yang sudah berjalan terlebih dahulu, sementara Tae-hee lebih dulu menyelesaikan administrasi dan membayar ganti rugi atas kerusakan yang sudah diperbuat oleh sahabatnya.

“Baby, aku mohon dengerin penjelasan aku dulu.” Jaehyun meraih tangan Hyuna, namun segera dihempas oleh gadis itu. Ia merasa jijik dengan apa yang sudah dilakukan oleh orang yang akan segera menjadi mantannya.

“Penjelasan yang mana? Soal hotel? Ciuman tadi? Atau lu mau jelasin ke gue gimana elu menikmati tubuh wanita itu. Iya?”

“Baby....”

“Jangan panggil gue dengan sebutan itu, karena mulai hari ini kita nggak ada hubungan apa pun!” seru Hyuna sembari masuk ke dalam mobil Tae-hee di mana sudah ada pak Lee di dalamnya.

“Baby, please. Dengerin aku dulu,” mohon Jaehyun. Tapi Hyuna tetep kekeh tidak mau mendengarkan penjelasan pemuda itu dan memilih untuk mengunci pintu mobil sahabatnya agar Jaehyun tidak bisa membukanya.

“Jae, biarin Hyuna tenang dulu.” Setelah sekian lama terdiam akhirnya Tae-hee memilih untuk angkat bicara, karena menurutnya apa yang dilakukan Jaehyun hanya akan membuat dirinya dan Hyuna malu.

“Tae-hee gue mohon sama lu, kasih tau Hyuna kalau gue sayang sama dia. Gue nggak mau hubungan gue berakhir sama dia,” mohon Jaehyun sembari memegang tangan Tae-hee.

“Gue tau. Sebaiknya lu balik dan tenangin diri lu juga,” saran Tae-hee yang di angguki oleh Jaehyun.

Selama perjalanan pulang, Hyuna hanya diam. Gadis itu tidak terlihat marah, nangis, atau bahkan kecewa. Raut wajahnya datar, seolah tidak memiliki ekspresi.

“Na, are you ok?” tanya Tae-hee yang dijawab anggukan oleh Hyuna.

Tae-hee memilih diam sampai mereka tiba di rumah Hyuna. Tae-hee berniat turun untuk menemani sahabatnya yang tengah dirundung masalah. Namun, Hyuna menolak dengan alasan dia ingin sendiri.

Sejak kejadian itu Hyuna tidak masuk sekolah hampir setengah bulan, dan hal itu sukses membuat Tae-hee khawatir. Pasalnya setiap gadis itu mengunjungi rumah Hyuna, ia hanya bertemu seorang pemuda tampan yang selalu berkata, “maaf tapi Hyuna tidak ada di rumah.” Hanya kalimat itu yang selalu Tae-hee dapatkan. Meski yang gadis itu temui berbeda setiap harinya, namun kalimat yang diucapkan oleh pemuda-pemuda itu selalu sama.

Jaehyun sendiri baru masuk sekolah setelah tidak masuk selama satu minggu karena sakit. Pemuda itu juga selalu mendatangi rumah Hyuna, namun hasilnya sama dengan apa yang Tae-hee dapatkan.

Tidak ada yang tau ke mana Hyuna dan apa yang terjadi pada gadis malang itu. Sejak kejadian itu Hyuna bak ditelan bumi, tidak ada yang benar-benar tau keberadaannya kecuali pemuda-pemuda yang ada di rumah Hyuna.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!