“Hantu!” teriak Hyuna saat memasuki rumahnya. Gadis itu langsung berteriak saat melihat sesosok hantu dengan daster berwarna putih dan wajahnya yang berwarna hijau muda tengah menuruni tangga rumahnya.
“Ini gue, Bangsat. Gue Tae-hee, enak aja lu samain gue sama demit rumah lu.” Tae-hee kembali berjalan menuju dapur untuk mengambil minuman. Tenggorokannya kering setelah berteriak dan menangis karena melihat drama Korea.
“Ya elu ngapain di rumah orang kek begitu, Bangsat!” teriak Hyuna. Gadis itu benar-benar kesal karena ulah sahabat sialannya itu dia hampir mati muda.
“Gue tadi lagi ngedrakor, sekalian pake masker.”
“Emang harus apa ngedrakor pake daster putih sama muka hijau begitu,” gerutu Hyuna yang masih kesal dengan Tae-hee.
“Gue nggak mau baju mahal gue kena kotoran masker, makanya gue beli ni daster buat maskeran.” Gadis itu menggelengkan kepalanya. Bingung harus bereaksi seperti apa setelah mendengar jawaban sahabat gilanya.
Hyuna melempar tas mahalnya dan merebahkan diri di sofa panjang yang berada di ruang tengah rumahnya. Moodnya sedang campur aduk sekarang, ditambah lagi kelakuan Tae-hee yang membuat moodnya semakin berantakan.
“Habis menghadiri pesta ulang tahun kolega crush malah cemberut gitu. Nggak di kasih makan lu sama si Jimin?” sarkas Tae-hee.
“Bukannya gue nggak dikasih makan, tapi kolega Jimin yang bikin gue enek sampek pengen muntah.”
“Kenapa emang? Kolega si Jimin gendut? Jelek? Buncit? Tua? Pendek? Brewokan? At....”
Hyuna menjepit bibir Tae-hee menggunakan jarinya. “Diem lu, anjing. Gue lagi pusing,” ucap Hyuna sembari melepaskan tangannya dari bibir sang sahabat.
“Emang kenapa sih?” tanya Tae-hee sembari mendudukkan dirinya di samping Hyuna yang tengah mengusak rambutnya kasar. Gadis malang itu terlihat begitu kesal, marah dan teman-temannya.
“Kolega Jimin nggak seperti yang lu sebutin tadi,” ucap Hyuna.
“Lalu?”
“Kolega Jimin sangat tampan, berwibawa, bertubuh atletis, memiliki roti sobek di perut dengan jumlah delapan kotak, berkulit putih dan juga tinggi.”
“Trus kenapa lu....”
“Namanya Jeong Yun-o atau biasa dikenal dengan nama Jaehyun.”
“What the ****! Jangan bilang Jaehyun yang lu maksud....”
“Mantan gue,” ucap Hyuna yang sukses membuat Tae-hee yang duduk di sebelahnya merasa lemas. Ia tidak menyangka bahwa sahabatnya akan dipertegas kembali dengan sosok manusia tidak tau diri yang sudah meninggalkan sahabatnya di saat ia ketahuan selingkuh. Pastas saja Hyuna uring-uringan saat pulang, nggak taunya diajakin crush ketemu mantan. Hadeh, jelek banget nasib Hyuna.
Hyuna dan Jaehyun adalah pasangan yang bisa di bilang cukup serasi dan populer. Hyuna yang cantik dan jadi incaran para laki-laki, bersanding dengan seorang Jaehyun, laki-laki tampan dan mapan yang jadi incaran kaum hawa. Senyumnya yang teduh mampu menyihir siapapun yang melihatnya, namun banyak rumor mengatakan kalau Jaehyun tidak sebaik kelihatannya.
Pemuda itu suka bermain dengan banyak wanita, dan hampir setiap wanita yang ia kenal pernah tidur dengannya. Tidak sampai di situ, wanita-wanita itu bahkan mengaku sangat puas setelah berhubungan dengan Jaehyun, dan hal itu membuat Hyuna murka.
Hyuna mendatangi Jaehyun yang tengah berada di kelasnya. Pemuda itu terlihat sedang asik berbicara dengan teman-temannya sembari membereskan buku yang berserakan di mejanya.
“Jaehyun,” panggil Hyuna. Pemuda itu menoleh ke arah sang kekasih dengan senyum indah.
“Yes, Baby. Ada apa?” tanya Jaehyun sembari menghampiri Hyuna. Semua mata menatap iri gadis itu, mereka semua juga ingin Jaehyun memperhatikan mereka seperti pemuda itu memperhatikan kekasihnya.
“Bisa kita bicara di tempat lain? Aku ingin bicara serius.”
Jaehyun mengangguk. Pemud itu lebih dulu kembali ke mejanya untuk mengambil tasnya yang tertinggal di meja.
Keduanya berjalan menuju taman belakang sekolah mereka.
“Ada apa, Baby? Kenapa wajahmu terlihat tegang.”
“Jaehyun, aku ingin bertanya soal rumor yang beredar? Rumor soal kau yang menjalin hubungan dengan beberapa gadis lalu meniduri mereka?” tanya Hyuna.
“Baby, kau tau aku begitu menyayangi mu dan aku begitu menjaga hubungan kita agar tetap sehat. Mana mungkin aku melakukan hal yang semenjijikkan itu? Kalau rumor yang beredar itu benar adanya, bukankah aku juga menidurimu sama seperti yang lain? Tapi aku tidak melakukannya, karena aku ingin hubungan yang sehat.”
Definisi cinta itu buta, dan orang yang jatuh cinta itu cenderung menjadi bodoh adalah Hyuna. Kenapa begitu? Karena gadis itu langsung mempercayai semua yang Jaehyun katakan tanpa terkecuali. Gadis itu bisa saja pergi membuntuti kekasihnya itu diam-diam untuk memastikan semuanya, tapi Hyuna tidak melakukannya. Gadis itu memilih untuk mempercayai kekasihnya, dan tidak mempedulikan semua rumor yang beredar soal Jaehyun.
***
Sore hari Hyuna tengah mengerjakan tugas sekolah yang menumpuk. Tiba-tiba Tae-hee datang dan langsung menyeretnya pergi dari kamarnya dengan alasan ia ingin ditemani belanja. Gadis itu ingin memburu salah satu koleksi outfit terbaru dari sebuah brand favoritnya.
“Tae-hee gue sibuk,” gerutu Hyuna yang sudah berada di dalam mobil Tae-hee di mana terdapat seorang laki-laki berusia paruh baya yang sudah duduk di kursi kemudi.
“Selamat sore, Non Hyuna.” Laki-laki paruh baya itu menundukkan kepalanya sebagai salam ke pada Hyuna yang baru saja masuk ke dalam mobil.
“Sore juga, Pak Lee.” Hyuna melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan pak Lee padanya sebagai salam. “Tae-hee tugas gue lagi banyak, gue nggak bisa nemenin elu.”
“Gue nggak minta elu buat nemenin gue, gue bawa elu buat pergi bareng gue. Tolong bedakan dia kalimat tersebut,” ucap Tae-hee setelah ia berhasil menarik Hyuna keluar dari kamarnya dan membawanya ke dalam mobil kesayangannya.
Hyuna terdiam. Gadis itu memikirkan dua kalimat yang baru saja sahabatnya ucapkan, dua kalimat yang menurutnya tidak ada bedanya, dan dua kalimat yang sama-sama mempunyai arti yang sama. Sementara pak Lee hanya tersenyum melihat Hyuna yang kebingungan mencerna kalimat yang diucapkan oleh anak dari majikannya.
Setelah sekian lama berpikir, akhirnya Hyuna memutuskan untuk menyerah dan menuruti kemauan sang sahabat yang ingin ditemani belanja.
Wajah Tae-hee nampak sunrise saat melihat sahabatnya pasrah atas kemauannya. Gadis itu segera memberi isyarat pada pak Lee agar melajukan mobilnya menuju mall ternama.
Hyuna membolakan matanya saat mereka sudah sampai di tempat yang mereka tuju. Awalnya Hyuna pikir mereka akan pergi ke butik langganan Tae-hee, namun ia salah. Gadis gila itu membawa Hyuna ke sebuah mall yang cukup besar dan ramai.
“Lu udah gila bawa gue ke sini?” tanya Hyuna.
“Emang kenapa sih, Na? Kan biasanya kita juga ke sini.”
Bukan masalah tempat tapi penampilan Hyuna yang jauh dari kata layak. Apa Tae-hee sudah lupa kalau ia menyeret Hyuna dari kamarnya tanpa mengizinkan gadis itu bersiap?
Semua mata tertuju pada Hyuna karena penampilan gadis itu. Kaos oblong berukuran besar yang dipadukan dengan celana hotpants yang hilang karena tertutup kaos, serta sendal jepit rumahan. Oh God, rasanya Hyuna ingin melarikan diri dan menyembunyikan dirinya di dalam dekapan hangat kekasihnya.
“Anterin gue beli baju, buruan!” seru Hyuna sembari menarik tangan Tae-hee menuju salah satu toko langganan mereka yang kebetulan jaraknya tidak jauh dari tempat mereka berdiri.
Hyuna meraih baju apa pun yang dia lihat dan membawanya ke ruang ganti. Gadis itu tidak lupa meminta salah satu pegawai yang ia kenal untuk membawakan sepasang sepatu yang cocok dengannya.
Hyuna keluar dari ruang ganti dengan disambut tatapan takjub dari orang-orang yang memandang. Kaos oblong kebesaran miliknya dipadukan dengan celana jeans robek dan juga sebuah kemeja berwarna merah maroon dengan motif kotak-kotak, serta sebuah sepatu berwarna putih dan rambut yang diikat ekor kuda membuat penampilannya terlihat begitu memukau.
“Nah, gini kan enak.” Hyuna berjalan ke arah kasir. Gadis itu berniat membayar kemeja dan celana juga sepatu yang ia pakai, namun saat ia sudah ada di meja kasir, petugas kasir itu mengatakan jika semua belanjaanya sudah dibayar oleh Tae-hee.
Gadis itu buru-buru menghampiri sahabatnya untuk mengucapkan terima kasih, namun urung karena Tae-hee lebih dulu berkata, “nggak usah ngucapin makasih, toh lu ke mall kek gembel juga gara-gara gue yang sembarangan nyeret lu. Jadi anggap aja itu ucapan maaf dari gue, lagi pula lu juga nggak bawa dompet.”
Hyuna hanya tersenyum. Gadis itu merasa senang karena Tae-hee membayar seluruh belanjaanya, namun di sisi lain ia juga merasa jengkel karena dikatai gembel.
“Dah, yuk, makan. Gue udah laper,” ajak Tae-hee.
“Lhah, lu katanya mau beli baju terbaru dari brand kesayangan lu. Nggak jadi?” tanya Hyuna.
“Udah kok. Semalam gue udah telfon bos di toko itu buat nganter brand yang gue mau ke rumah, dan semua biayanya juga udah gue lunasi.”
“Trus, lu ngapain bawa gue ke mall?”
“Gabut.”
“Bangsat!” seru Hyuna.
Satu kata dari Tae-hee mampu membangunkan singa yang sudah ia tidurkan dengan susah payah. Gabut, hanya karena satu kata itu Hyuna harus rela malu karena ke mall dengan penampilan seperti gelandangan, dan mengabaikan tugas dari gurunya.
Kalau tau barang itu sudah dalam perjalanan ke rumah Tae-hee dan seluruh biayanya sudah dibereskan, Hyuna lebih memilih menolak ajakan sahabat bangsatnya dan memilih mengerjakan tugas sekolah yang harus ia kumpulkan esok hari.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments
Yona
kira2 bakal ada Jaemin sama Haechan g iya 😆
2022-12-17
0