Hujan lebat yang terjadi tadi malam menyisakan hawa dingin yang begitu menusuk tulang sehingga membuat seorang yeoja cantik yang tengah tertidur nyenyak harus rela terbangun dan itu artinya dia merelakan mimpi indahnya lenyap begitu saja. Gadis dengan netra berwarna coklat serta rambut berwarna coklat emas yang berantakan khas orang yang baru bangun tidur dan jangan lupakan bibirnya yang merah dan mungil itu yang membuat siapa saja ingin mencicipi manisnya.
Dengan rasa kantuk yang bercampur rasa malas gadis itu bangun dari tempat peristirahatannya, meregangkan otot-otot ditubuhnya yang terasa kaku, kemudian membenahi ranjangnya yang sudah beberapa tahun terakhir menemaninya.
Dia gadis yang sangat unik karena sepanjang hidup dia hanya akan melakukan sesuatu yang diinginkan oleh hatinya, ya dia hanya berpegang teguh pada kata hatinya karena menurutnya hati tak akan pernah membohonginya dan akan selalu ada bersamanya.
Ada ya yang kayak gitu?
Gadis itu keluar dari kamarnya. Kaki jenjangnya melangkah dengan penuh keanggunan menapaki setiap anak tangga membuat setiap orang akan berkata, “Aku ingin jadi anak tangga yang beruntung itu”.
Gadis itu berjalan menuju dapur mengambil air untuk sekedar membasahi tenggorokannya yang kekeringan.
“Tumben ini hari dingin banget,” keluh gadis itu sembari mengambil gelas dari lemari penyimpanan. “Kok gue berasa kayak orang gila ya, ngoceh-ngoceh sendiri. Nggak jelas banget, ini pasti efek hidup sendiri deh. Hidup sendiri tiada yang menemani bagaikan angka 1 yang tak akan pernah jadi 10 jika 0 tidak menemaninya. Lhah kan, makin gila gue. Lama-lama kesambet setan rumah sendiri gue, mending jogging aja ah biar nggak makin sinting”.
***
Kyeon Hyuna. Seorang mahasiswa di fakultas ekonomi dari salah satu universitas yang cukup ternama , yaitu BH University. Gadis itu memilih untuk tinggal di sebuah rumah berukuran besar seorang diri, dari pada harus tinggal bersama teman-temannya di asrama yang disediakan oleh universitas.
Dia punya seorang sahabat perempuan yang tidak akan pernah menolak semua keinginannya, sekalipun terkadang keinginan gadis cantik itu tidak masuk akal. Tapi, di sisi lain gadis itu juga selalu menanyakan sesuatu yang menurut Hyuna tidak penting.
“Hyuna!” teriak gadis cantik saat memasuki rumah Hyuna. “Lu habis jogging?” tanya gadis itu saat melihat Hyuna masih memakai setelan olahraga.
“Heemb. Tadi gue berniat mandi, tapi elu keburu datang.”
“Gue sengaja datang ke sini pagi-pagi soalnya ada hal yang mau gue bahas sama lu,” ucap gadis yang saat ini tengah mengambil beberapa cemilan yang tersedia di lemari penyimpanan makanan Hyuna.
“Soal apaan?”
“Soal vampir dan manusia serigala untuk bahan cerita baru gue,” ucap gadis itu yang membuat Hyuna membuang napasnya, dan memilih meninggalkan gadis itu sendirian di ruang tamu rumahnya.
Gadis itu sudah cukup lelah mendengar opsesi sahabatnya soal vampir dan manusia serigala yang menurutnya berlebihan.
Bagaimana tidak? Gadis mungil dengan tubuh bulat itu selalu berpikir kalau musnahnya klan vampir ratusan tahun yang lalu karena ulah manusia serigala yang menyerang bangsa vampir saat kekuatan mereka melemah. Padahal kan bukan begitu cerita aslinya.
“Na, menurut lu apa yang bakalan vampir lakukan kalau mereka berjumpa dengan manusia seperti kita?” tanya gadis itu sembari berjalan mengekori Hyuna.
“Park Tae-hee yang tercantik, termanis dan ter yang lainnya. Sahabat gue yang paling gue sayangi, gimana bisa gue tau apa yang bakalan mereka lakuin ke manusia. Dasar gila,” umpat Hyuna.
“Gue pengen jadi vampir, Na.”
Hyuna yang tengah memegang ponsel seketika terdiam. Gadis cantik itu tanpa belas kasihan langsung melempar ponsel mahal miliknya hingga mengenai kepala sang sahabat.
“Hyuna bangsat!” teriak Tae-hee sembari mengusap keningnya yang merah.
“Masih untung cuma ponsel yang gue lempar, bukan meja.”
Tae-hee mengusap kepalanya. Kedua matanya menatap ponsel sang sahabat yang tergeletak di lantai setelah mengenai kepalanya beberapa detik yang lalu.
“Na, ini foto siapa?” tanya Tae-hee sembari mengambil ponsel sahabatnya yang tergeletak di lantai. “Anak kecil yang sangat tampan,” ucap Tae-hee.
“Namanya Yeon hee. Dia anak jalanan yang ada di depan kampus kita,” jawab Hyuna sekenanya.
Kedua gadis cantik itu sibuk dengan kegiatan masing-masing. Hyuna dengan segelas minuman dan cemilan, sementara Tae-hee sibuk dengan laptopnya. Gadis cantik itu selain menjabat sebagai mahasiswa di salah satu universitas yang cukup ternama, ia juga menjadi seorang penulis dan bukunya sudah banyak yang terbit.
“Hyuna, enak kali ya jadi vampir. Kita bisa pergi ke mana pun dengan cepat dan mudah, tinggal lari. Kita bisa sangat kuat, jadi nggak perlu takut sakit. Bahkan gue denger kalau ada yang namanya vampir origin, mereka bahkan bisa bebas keluar kapan pun mereka mau tanpa takut terbakar sinar matahari.”
“Jangan gila. Ingat, kalau semua yang ada di dunia ini pasti ada plus dan minusnya. Maybe mereka bisa melakukan semua hal yang lu sebutin tadi, tapi mereka juga pasti punya kelemahan yang kita nggak ketahui.”
Tae-hee mengusap dagunya. Gadis itu tengah memikirkan kalimat yang baru saja diucapkan oleh sahabatnya. Memang benar apa yang dikatakan oleh Hyuna, tapi bukannya mereka nggak punya kelemahan, ya? Banyak situs yang mengatakan tentang hal itu.
Tae-hee membuka aplikasi pencarian. Mengetik sesuatu yang mungkin akan merubah pola pikir sahabatnya tentang vampir.
“Bagaimana menurut lu soal ini?” tanya Tae-hee sembari menunjukkan sebuah artikel tentang vampir.
“Tidak ada yang sempurna kalau masih bisa mati,” ucap Hyuna. Gadis itu berlalu pergi meninggalkan sahabatnya yang tengah kebingungan dengan jawaban yang sahabatnya berikan.
Lama Tae-hee tenggelam dalam lamunan, membuat gadis itu tidak menyadari Hyuna sudah berdiri di sebelahnya dengan outfit yang berbeda.
“Lu mau ke mana?” tanya Tae-hee.
“Kampus lah, Bodoh.” Hyuna mengambil kunci mobilnya yang berada di sebelah sahabatnya.
“Gue ne....”
Ting tong
Bel pintu rumah Hyuna dipencet oleh seseorang, membuat kedua sahabat itu menghentikan acara membahas vampir.
“Siapa, Na?”
“Paket kali? Kemarin gue beli beberapa barang lewat online.” Tae-hee hanya ber-oh ria menanggapi ucapan sahabatnya. “Tolong bukain pintu. Gue mau ambil duit bentaran,” pinta Hyuna yang diangguki oleh Tae-hee.
Tubuhnya mematung. Matanya membola sempurna dengan mulut yang terbuka lebar. Itulah beberapa hal yang dilakukan Tae-hee sesaat setelah membuka pintu berwarna coklat dengan ukiran berbentuk pintu yang terbuka.
“Nonna, ini paketnya mau diletakkan di mana?” tanya si kurir entah sudah ke berapa kali. Karena sejak tadi gadis di hadapannya itu hanya diam. “Mbak,” panggil si kurir lagi sembari melambaikan tangannya di wajah Tae-hee.
“Bawa masuk aja, Mas.”
“Oh, baik.”
Si kurir bersama seorang teman membawa barang yang Hyuna pesan setelah mendapatkan perintah. Hyuna segera menyelesaikan pembayaran, sementara Tae-hee masih tidak percaya dengan apa yang dibeli oleh sahabatnya.
“Lu mau hibernasi?” tanya Tae-hee saat kesadarannya kembali ke tubuhnya.
“Itu semua buat stock di rumah. Emang lu nggak nyadar kalau makanan udah hampir kosong,” gerutu Hyuna sembari menata cemilan dan beberapa mie instan serta beberapa susu dan minuman bersoda.
“Habis berapa duit lu belanja sebanyak ini?” tanya Tae-hee. Tangan gadis itu gesit menata cemilan dan membuka beberapa untuk dimasukkan ke dalam mulutnya.
“Nggak sampek bikin gue miskin juga,” sarkas Hyuna yang dibalas cibiran oleh Tae-hee.
Kedua sahabat itu serempak menata makanan ringan yang beru dibeli Hyuna dengan diselingi candaan agar tidak terasa lelah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments