Hyuna menatap sendu Jimin yang sejak tadi terus menundukkan kepalanya. Pemuda itu menjadi satu-satunya orang yang tidak menyapa dirinya saat dirinya sadar dari pingsan. Entah apa yang ada dipikiran Jimin, Hyuna pun tak tau.
“Jim,” panggil Hyuna. Gadis itu tertegun saat melihat wajah Jimin yang sudah penuh dengan luka lebam dan air mata yang mengalir deras. “Lu kenapa?” tanya Hyuna. Seingatnya saat perkelahian tadi Jimin bisa mengimbangi pertarungan, jadi kenapa wajah Jimin lebam sebanyak itu?
Tanpa pikir panjang Jimin langsung bersujud di kaki Hyuna. Pemuda itu menangis sembari terus mengucapkan kalimat maaf karena sudah membuat Hyuna dalam bahaya. Jimin juga mengatakan alasan ia tidak berani menatap wajah Hyuna karena ia masih merasa bersalah, ia merasa gagal menjadi laki-laki karena tidak bisa melindungi Hyuna dari bahaya. Sweet banget🤧 Author mau Jimin pokoknya.
“Jim, sudah. Lu nggak perlu....”
“Gue nggak peduli apa kata orang, Na. Yang gue peduliin sekarang cuma elu,” ucap Jimin yang membuat Hyuna tersipu.
“Duh, mata gue ternodai.” Jimin segera berdiri, sementara Hyuna langsung memalingkan wajahnya saat mendengar perkataan Namjoon. “Ngapa lu berdua?” tanya Namjoon.
“Hyung, ngapain ke sini segala sih.”
“Seokjin Hyung manggil, katanya sarapan udah siap.”
Mereka bertiga berjalan ke arah meja makan yang sudah hampir penuh dengan manusia, eh salah, ralat, maksudnya penuh dengan vampir.
“Baby, gimana keadaan lu?” tanya Taehyung saat melihat Hyuna berjalan ke arah meja makan bersama Jimin dan Namjoon.
“Gue baik, kok. Makasih ya udah peduli sama gue,” tutur Hyuna. Gadis itu memilih duduk di kursi yang sudah disediakan oleh Seokjin yang kebetulan bersebelahan dengan kursi Jimin.
“Selamat makan,” ucap semuanya. Setelahnya hanya denting peralatan makan yang saling beradu. Tidak ada yang membuka pembicaraan selama makan malam berlangsung dan hal itu cukup membuat Hyuna tenang.
“Baby, gue minta maaf ya nggak bisa nganterin lu balik. Gue ada kelas pagi hari ini,” sesal Taehyung. Sejujurnya ia sangat ingin mengantar Hyuna kembali ke rumahnya dengan selamat, tapi apa daya, hari ini dia ada kuliah pagi ditambah lagi dosen akan mengadakan kuis.
“Santai aja. Lagian Seokjin Oppa nggak ngizinin gue balik sekarang, kok.”
“Sumpah!” teriak hampir seluruh penghuni rumah.
“Benar. Jimin minta gue buat nggak ngizinin Hyuna pulang dulu, karena dia takut vampir itu bakalan nyerang Hyuna di rumahnya.” Semua mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Seokjin.
Mereka tidak tau siapa yang mereka incar dan apa yang mereka incar, jadi menurut mereka akan lebih aman jika Hyuna tetap berada di rumah keluarga Taehyung. Lagi pula dengan begitu mereka bisa bergantian menjaga Hyuna dari bahaya.
Semua nampak setuju dengan keputusan yang diambil Seokjin, tapi tidak dengan Hyuna. Gadis itu kekeh ingin pulang dengan alasan ia tidak ingin tinggal berlama-lama dengan para bujang yang bisa saja memperkosanya kapan saja.
“Besok pagi gue balik,” ucap Hyuna.
“Siapa elu? Nggak ada ya lu balik ke rumah. Kalau vampir itu datang lagi trus nyerang lu gimana?” tanya Jungkook.
“Benar kata Jungkook, Na. Elu bisa sementara tinggal di sini, biar kita bisa sekalian jagain elu.” Jimin mencoba meyakinkan sahabatnya agar mau tinggal sementara di rumahnya. Namun, bukan Hyuna namanya jika menurut dengan perkataan para sahabatnya yang sebenarnya khawatir dengan keadaan gadis itu.
“Elu nggak takut apa kalau vampir itu datang lagi? Gimana kalau orang-orang dari kerajaan yang waktu itu datang lagi?” tanya Jungkook yang membuat semua orang yang ada di ruang makan itu tertegun.
“Apa maksud lu orang-orang dari kerajaan, Kook?” tanya Seokjin.
“Hyung tau kan kalau bau Raja, Ratu dan anaknya berbeda dengan bau kita semua?” tanya Jungkook yang diangguki oleh semua saudaranya terkecuali Hyuna yang hanya diam sembari memasukkan makanan ke dalam mulutnya. “Jadi, beberapa hari yang lalu setelah pertengkaran antara kedua Hyung tercinta gua gara-gara rencana Jimin Hyung yang akan membawa Hyuna jalan-jalan. Kami sempat pergi ke rumah Hyuna, dan di sana aku mencium bau orang-orang dari kerajaan.”
“Apa lu yakin soal itu?” tanya Seokjin lagi. Jungkook mengangguk dengan sangat pasti, karena penciumannya tidak akan pernah salah. Apalagi soal mengenali orang-orang yang sudah menyebabkan kehancuran klan mereka.
“Kalau begitu Hyuna, lu tetap di rumah ini sampai semuanya benar-benar aman.”
“Nggak bisa gitu, dong.” Tanpa sadar Hyuna menggebrak meja makan, dan hal itu sukses membuat Seokjin dan yang lainnya menatapnya aneh. Pasalnya, tidak biasanya gadis itu sampai menggebrak meja. “Oppa, Hyuna bisa jaga diri. Oppa nggak perlu khawatir,” tutur Hyuna. Gadis itu masih terus berusaha membujuk Seokjin dan para saudaranya agar membiarkannya pulang besok pagi.
Seokjin membuang napas kasar. “Baiklah, lu boleh balik dengan syarat lu harus jawab jujur pertanyaan gue. Gimana?”
Meski tidak tau apa yang akan ditanyakan oleh Seokjin, tentang apa? Siapa? Atau apa yang lainnya. Gadis itu memilih untuk menyetujui persyaratan Seokjin, karena baginya saat ini yang paling penting adalah bisa pulang ke rumah.
“Siapa yang menemui mu sewaktu Jimin dan vampir itu berkelahi?” tanya Seokjin.
“Mampus! Kenapa harus pertanyaan ini yang keluar. Nggak ada pertanyaan lain apa, kayak semalam lu makan apa? Lu mimpi apa? Atau apa kek gitu. Jangan yang ini,” batin Hyuna. Gadis itu tidak tau harus menjawab apa, karena jawaban aslinya bisa memicu perang dunia.
“Hyuna,” panggil Seokjin.
“Hyuna nggak tau dia siapa, karena apa Hyuna lagi menepi tiba-tiba dia datang jilat leher Hyuna, habis itu bilang ‘di taring dan cakar vampir itu terdapat racun. Menurutmu apa yang akan terjadi pada Jimin kalau sampai terkena racun itu?’ Dia bilang begitu. Trus, karena Hyuna khawatir makanya Hyuna dorong Jimin sampek nyungsep tapi sialnya malah gue yang kena.” Penjelasan panjang kali lebar kali tinggi yang Hyuna ucapkan membuat mereka semakin bingung. Siapa dalang di balik ini semua? Dan apa tujuannya? Belum lagi soal orang-orang di kerajaan yang ada di rumah Hyuna. Semua hal itu membuat kepala Seokjin ingin pecah.
Taehyung diam di tempatnya. Sedikit banyak pemuda itu merasa cemburu dengan kedekatan Hyuna dan Jimin, dalam hati ia menyesal karena sudah mengizinkan Hyuna pergi bersama dengan Jimin yang memang pada dasarnya juga jatuh hati pada gadis cantik itu.
Taehyung memperhatikan gerak-gerik Jimin yang sejak tadi diam kursinya. Wajah penuh luka lebamnya masih begitu terlihat, mungkin pukulan Taehyung terlalu keras makanya bekas lebamnya sulit hilang. Tapi pemuda itu tidak peduli, Taehyung menganggap itu bayaran yang pantas untuk membayar kebodohan saudaranya.
Tarikan napas panjang Seokjin membuat Hyuna menghentikan acara makannya. Gadis itu menanti apa yang akan diputuskan oleh saudara Jimin yang paling tua itu. Dan senyumnya seketika merekah saat mendengar Seokjin mengatakan, “ok, Oppa kasih izin Hyuna buat balik ke rumah.”
Hyuna tersenyum senang dan langsung memeluk tubuh Seokjin yang ada di hadapannya.
“Terima kasih, Oppa.”
“Hyung, bukannya terlalu berbahaya membiarkan Hyuna sendiri?” tanya Jungkook tiba-tiba. Hyuna yang mendengar itu langsung melemparkan garpu miliknya yang untungnya tidak mengenai wajah Jungkook. Bisa bahaya kalau sampai aset berharganya kena lemparan garpu.
“Nggak apa, Oppa. Hyuna bisa sendiri, kok. Lagian kan Tae-hee juga sering ke rumah, jadi Hyuna bakalan baik-baik aja.” Mati-matian Hyuna mencoba meyakinkan Seokjin kalau tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Dan anggukan Seokjin pagi itu menjadi satu-satunya hal yang bisa membuat Hyuna tersenyum bahagia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 42 Episodes
Comments