Dua Puluh

Sepanjang hidup Affan tak pernah menyentuh minuman keras, namun kali ini kepahitan yang ia rasakan sudah tak terbendung hingga untuk pertama kalinya Affan menyentuh minuman haram tersebut sebagai pelarian dari segala kesakitan nya. Ia benar-benar kehilangan arah dan tak menemukan cara untuk mengurangi rasa sakit di hatinya.

Entah sudah berapa tegukan yang mengaliri tenggorokan nya, Affan tidak suka rasa minuman itu tapi ia terus saja meminumnya. Berharap ia bisa mendapatkan ketenangan dari setiap teguk minuman yang terasa membakar tenggorokannya.

Affan mulai menceracau dan mengumpat. Wajah bunda Rhea, ayah Bobi, Zara lalu Alya saling bergantian membayang dalam benaknya. Mengalirkan rasa sakit yang luar biasa menghujam jantungnya.

"Bunda, nggak ada yang bisa menerima Abang selain bunda. Hanya bunda yang menyayangi Abang di dunia ini. Tapi kenapa bunda ninggalin abang bun, abang sendirian di sini bun, abang kangen sama bunda" air mata menetes menandakan besarnya luka yang tengah pria itu rasakan. Sekilas bayangan ayah Bobi melintas, membuat wajah kelu Affan berubah geram.

"Kenapa? aku sudah berusaha untuk menjadi anak yang baik untukmu. Ternyata kasih sayang mu begitu mahal hingga aku tak pernah berhasil mendapatkannya. Kenapa kau bawa bunda ku pergi bersama mu huh! belum cukupkah penolakan mu selama ini? kenapa kau rebut bunda ku juga?" Kemarahan, kekecewaan juga kesedihan berpadu, begitu pahit untuk Affan kecap.

Affan terkekeh ketika wajah ayah Bobi berganti Zara.

"Kamu juga, sama saja seperti ayahmu! tak pernah menerima aku dan bunda dengan baik. Kamu terlalu sibuk dengan duniamu sendiri. Lalu sekarang kenapa kamu ngeyel untuk tetap tinggal di sisiku padahal aku begitu muak padamu. Kenapa tak ikut ibumu saja? kamu bertahan seolah kamu menginginkan ku di sampingmu. Tapi aku tidak akan terkecoh Zara, kamu sama saja dengan ayahmu. Saat melihatmu aku merasa muak dan sakit" Umpat Affan, pria itu telah kehilangan akal sehatnya. Kesadarannya terbang dari fikiran nya.

"Hei kenapa kamu ikut-ikutan hadir huh?! Aku sangat membencimu, aku benci pada diriku yang sempat tertipu pada pesona mu. Nyatanya kamu tak lebih hanya pela*ur Alya! kenapa kamu lebih tertarik pada Gandhi itu? aku menjaga mu dengan baik tapi kamu malah melemparkan tubuhmu seenaknya pada pria seperti Gandhi. Bodoh kamu alya, mura*han!" Untuk beberapa saat Affan terus mencaci mereka yang bergantian hadir dalam bayangannya.

Affan tak menyangka hidup bahagianya begitu cepat berganti kesedihan yang bertubi-tubi. Affan tak tau harus melanjutkan hidup atau berhenti di detik ini juga, karena percuma rasanya hidup di dunia ini. Ia merasa benar-benar sendiri.

🍁🍁🍁

Zara memucat saat mendengar ketukan pintu, padahal hari sudah beranjak tengah malam dan Affan belum pulang. Zara begitu mengkhawatirkan pria itu, berulang kali ia berusaha menghubungi Affan namun panggilannya tidak tersambung.

Karena ketukan tak berhenti, Zara memberanikan diri keluar dari kamarnya menuju pintu rumah. Hatinya begitu ciut, tak ia pungkiri dirinya merasa ketakutan.

Dengan tangan bergetar Zara membuka kunci dan memutar handle pintu, gadis itu tercengang mendapati seorang pria yang tengah membopong Affan yang tampak begitu kacau.

"Abang, abang kenapa? " Tanya Zara panik sambil berusaha untuk mengambil alih membopong kakak tirinya.

"Maaf nona, anda tidak akan kuat. Sebaiknya saya saja yang membawa nya masuk ke dalam kamar kalau anda tidak keberatan. Tuan ini sedang mabuk berat" Lagi-lagi Zara ternganga, ia tak menyangka Affan akan melakukan hal ini karena seingatnya Affan adalah pria baik-baik yang tak tertarik pada dunia gelap tersebut.

"Bagaimana nona?" tanya pria yang sedang membopong Affan, dari pakaian yang ia kenakan Zara menebak bahwa pria itu adalah pegawai club di mana Affan menghabiskan waktu untuk mabuk.

"I-iya silahkan pak" Zara menuntun pria itu menuju kamar Affan. Setibanya di sana Affan ditidurkan ke ranjang oleh pria itu.

"Terima masih sudah mengantar abang saya pak" Zara membungkuk sopan. Ia tak bisa membayangkan andai Affan pulang sendiri dan menyetir mobil dalam keadaan mabuk, sungguh luka hati akibat kehilangan bunda Rhea dan ayah Bobi masih basah, Zara tak akan sanggup andai kejadian buruk serupa menimpa Affan.

"Sama-sama nona, sudah kewajiban kami untuk memastikan bahwa pelanggan kami baik-baik saja. Saya pamit undur diri" Pria itu mengeluarkan kontak mobil Affan dari sakunya dan memberikan nya pada Zara.

Selepas kepergian pria itu Zara mendekat pada Affan yang tampak memejamkan mata namun mulutnya tak berhenti memaki dan mengumpat. Sesekali pria itu menangis namun di detik berikutnya terlihat begitu marah.

Hati Zara merasa tercubit melihat kondisi Affan. Ia merasa begitu perih melihat kakak tirinya yang begitu terpuruk, di sisi lain Zara juga merasa kebingungan harus bagaimana menghadapi orang yang sedang mabuk.

"Abang kenapa bisa begini? kenapa abang ngelakuin hal bodoh ini?" Zara mengusap peluh yang memercik di kening Affan. Melihat wajah lelah penuh kesedihan pria itu membuat Zara merasa begitu sedih namun juga tak berdaya untuk melakukan apapun.

"Maafin Zara kalau abang menderita sejak hadirnya Zara dalam hidup abang dan bunda" Lirih Zara dengan mata berkaca-kaca.

"Zara sangat menyayangi abang, maaf jika sikap Zara selama ini membuat abang berprasangka buruk pada Zara. Percayalah bang Zara sangat menyayangi abang dan juga bunda" lirih gadis itu. Entah kenapa ketika melihat wajah rapuh Affan membuat Zara tanpa sadar mengungkapkan isi hatinya, namun Zara bersyukur saat itu Affan tengah mabuk dan tak akan bisa mencerna ucapannya.

Zara tercekat ketika Affan membuka mata dan menatap padanya sembari terkekeh.

"Hai kenapa dari tadi bayangan kamu ini nggak hilang-hilang padahal aku sudah berkali-kali mengusir kamu huh? oh ya tadi kamu bilang apa? kamu bilang sayang sama aku? ah mustahil sekali, sangat sulit dipercaya. Bukannya kamu nggak suka ya sama aku dan bunda, aku yakin kamu ini jahat seperti ayahmu" Affan mencubit hidung dan pipi Zara bergantian. Melihat dari cara bicara dan tatapannya serta perilaku pria itu Zara yakin Affan masih mabuk.

"Zara benar-benar sangat menyayangi abang, Zara nggak bohong bang" Zara hanya berharap Affan akan melupakan apa yang ia ucapkan setelah pria itu sadar keesokan harinya

"Sayang? mana mungkin!" Affan tersenyum sinis.

"Iya Zara sangat menyayangi abang, percayalah apa yang Zara ucapkan ini benar adanya. Zara nggak pernah menolak keberadaan abang seperti yang seringkali abang tuduhkan" Balas Zara untuk lebih meyakinkan pria itu, Zara tak mengerti mengapa ia begitu berani mengungkapkan ini semua pada pria itu

🍁🍁🍁

Terpopuler

Comments

Sri Wahyuni

Sri Wahyuni

s affan jga jd cwo ko cengeng bnget mudah prustasi

2023-01-24

1

maulida Syafitri

maulida Syafitri

greget ma sikapnya zara thor pengen tak tabok😅😅

2023-01-21

2

Yulla_Gv

Yulla_Gv

Bahaya mengancammu Zara..

2022-12-29

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!