POV Affan
Secara fisik ayah Bobi memang hadir dalam hidupku, namun secara batin dan jiwa aku tak merasakan keberadaan nya. Tak ada yang berbeda, meski anggota keluarga telah bertambah. Jiwaku tetap timpang, hanya kehadiran Zara yang membuat hidupku sedikit berbeda dari sebelumnya. Setidaknya pernikahan bunda membuatku memiliki seorang adik.
"Ini Affan anaknya Rhea istrinya Bobi, dan ini cucuku Zara anaknya Bobi" atau " Ini Affan anak nya Rhea istriku, dan ini Zara anakku" kata yang selalu aku dengar setiap kali ayah Bobi atau kakek dan nenek memperkenalkan kami pada tamu ataupun keluarga jauh yang datang berkunjung ke rumah saat diadakan pesta pernikahan ayah Bobi dan bunda di desa di mana kedua orang tua ayah Bobi tinggal. Pengalaman itu berhasil mematahkan hatiku dengan sangat dalam dan membuatku trauma. Aku tak lagi berminat menapakkan kaki di rumah kakek dan nenek Zara, pengalaman itu benar-benar buruk hingga aku tak kuat meski hanya sekedar mengingat.
Aku kecewa dengan cara mereka memperkenalkanku, bukankah artinya bagi mereka aku tetaplah orang asing? aku merasa pernikahan itu hanya menyatukan ayah Bobi dan bunda. Sementara aku tetaplah seorang Affan Zayendra yang hanya memiliki bunda dalam hidupku. Mereka tidak menerima keberadaan ku.
Ayah Bobi hanya menganggap ku sebagai anak dari wanita yang ia peristri, tidak seperti bunda yang selalu mengakui dan memperlakukan Zara sebagai putrinya. Aku tersenyum getir ketika mengingat list impianku ketika hadir sosok ayah di hidupku sepertinya akau harus mencoret semuanya. Tak pernah ada obrolan hangat antara ayah dan anak laki-lakinya seperti harapan ku, ayah Bobi hanya mengajakku berbicara seperlunya.
Namun satu hal yang aku syukuri, bunda tak pernah mendengar dan melihat bagaimana mereka memperlakukan ku. Mereka memang tidak berlaku jahat, namun sikap mereka sangat berbeda dari harapanku. Aku kira aku akan dianggap bagian dari mereka meski tak ada pertalian darah namun ternyata aku hanya orang lain yang mereka perlakukan layaknya tamu. Tapi mereka tidak salah, nyatanya aku ini memang hanya orang lain. Tak apa, akan aku telan kepahitan ini.
Selagi bunda bahagia, aku akan menerima kekecewaan ku sendiri. Menyimpannya rapat-rapat lalu melupakannya, harapanku untuk memiliki sosok ayah juga telah aku kubur dalam-dalam, aku tak akan lagi memimpikan kehadirannya.
Meski ayah Bobi tak bisa hadir dalam jiwaku namun setidaknya bunda memiliki pundak untuk tempatnya bersandar. Tak lagi sendiri seperti selama ini, selagi bunda bahagia maka tak masalah jika aku sedikit berkorban.
Aku kira akan menerima kasih sayang yang berlimpah, namun nyatanya tidak. Aku malah harus berbagi pada mereka satu-satunya kasih sayang yang aku miliki yaitu kasih sayang bunda.
Baiklah mungkin dalam buku takdirku, memang tak pernah tertulis kehadiran sosok ayah sebagai jatahku.
Pov Affan End
🍁🍁🍁
Setelah memacu motornya dengan gila, Affan akhirnya tiba, dalam kegamangan hatinya ia melangkah cepat ke dalam rumah. Ia belum bisa memutuskan akan mengatakan apapun pada bunda Rhea mengenai kelakuan ayah Bobi.
Namun setibanya di dalam rumah, ia mendapati bunda Rhea mendekat ke arahnya dengan wajah khawatir.
"Bang, nenek sakit. Kita pulang ke desa ya ayah sedang dalam perjalanan untuk membawa kita pulang ke desa" ucap bunda Rhea. Affan hanya bisa terpaku menatap sang bunda, otaknya berperang sengit. Antara menceritakan kelakuan ayah Bobi atau menyimpannya untuk sementara waktu.
"Bun ada yang mau abang bicarakan" ucap Affan ragu-ragu.
"Penting banget nggak? ini bunda lagi siap-siap. Kamu juga buruan siap-siap ya?" Ucap bunda Rhea.
"Abang nggak bisa ikut ke desa bun, maaf" Affan kesulitan harus mulai dari mana mengungkap apa yang ia lihat tentang kelakuan ayah Bobi.
"Tapi bang, nenek sakit. Masa kamu nggak mau besuk. Masa kamu nolak terus tiap mau ke desa, kalo kemarin-kemarin nggak apa-apa lah kamu nolak, tapi sekarang kondisinya nenek lagi sakit bang" Kali ini wajah bunda Rhea terlihat kesal dan kecewa.
"Nenek juga pasti nggak mengharapkan kehadiran abang bun" ucap Affan yang membuat bunda Rhea terhenyak. Bunda Rhea menatap tak percaya pada Affan, ia tak menyangka putranya akan berkata demikian. Terlebih saat menyadari suaminya sudah berada di rumah dan mendengar ucapan Affan. Ia takut suaminya akan kecewa pada sikap Affan.
"Apa maksud kamu bang, jangan berkata seperti itu." Ucap Bunda Rhea berusaha menahan amarah.
"Udah sayang, nggak usah diperpanjang. Kalau Affan nggak mau ikut nggak apa-apa. Nggak usah melebar ke mana-mana" Ucap Ayah Bobi sambil menatap datar pada Affan.
Sikap ayah Bobi menyulut amarah pada diri Affan. "Kenyataan nya memang begitu bun, selama ini kakek dan nenek Zara tak pernah benar-benar menganggap abang ini cucunya, dulu mereka memperkenalkan abang sebagai anaknya Rhea bukan sebagai cucu mereka seperti halnya saat mereka memperkenalkan Zara. Artinya abang nggak berarti apa-apa bagi mereka" Tiba-tiba Affan merasa begitu muak hingga tak bisa lagi menahan lidahnya.
Bunda Rhea ternganga, ia terlihat bingung atas ucapan Affan. Zara yang ikut mendengar pembicaraan itu juga tampak terhenyak.
"Affan, sudahlah jangan membahas hal yang tidak penting saat genting begini. Kalau kamu nggak mau ikut nggak apa-apa. Nggak usah menyudutkan kakek dan nenek seperti itu" Balas ayah Bobi yang kian memancing amarah Affan.
"Anda juga sama dengan kedua orang tua anda! aku tidak bermaksud menyudutkan siapa-siapa, aku hanya berbicara fakta! tapi aku menerima dengan lapang dada kenyataan bahwa kalian tak bisa menerima aku layaknya bunda yang menerima Zara asalkan bundaku bahagia. Tapi hari ini aku benar-benar muak! katakan siapa wanita yang makan bersama anda di restoran happy food lalu anda antar ke komplek perumahan permai indah blok A no 3?" Ucap Affan yang berhasil membuat wajah ayah Bobi merah padam.
"Bang apa maksud kamu?" ucap bunda Rhea dengan panik.
"Abang lihat dia bergandengan mesra bersama wanita bun, aku bisa menerima perlakuan anda terhadap ku tapi aku tidak terima anda berbuat curang pada bunda ku!" teriak Affan.
"M-mas apa maksud semua ini?" bunda Rhea menatap penuh tanya pada ayah Bobi yang terlihat salah tingkah. Namun saat bunda Rhea akan kembali bertanya ponsel ayah Bobi berdering. Pria itu segera mengangkatnya, lalu wajah ayah Bobi berubah panik.
"Rhea, kondisi ibu semakin mengkhawatirkan. Kita harus segera pulang" Ucap pria itu
"Pergi saja sendiri, jangan bawa bunda ku!" Teriak Affan, pria yang selama ini selalu bersikap sopan itu berubah seperti bukan dirinya. Bunda Rhea, ayah Bobi dan Zara begitu terkejut mendapati perubahan sikap Affan.
"Kita bahas lagi ini nanti, biarkan kami pulang dulu" Ucap ayah Bobi.
"Nggak, bunda jangan ikut dia bun." Mohon Affan pada bunda Rhea yang tampak gamang.
"Bang, nanti kita bahas lagi oke? tapi biarkan bunda dan ayah menemui nenek dulu" Putus bunda Rhea akhirnya.
Tanpa menunggu jawaban Affan, ayah Bobi langsung membawa bunda Rhea keluar rumah. Keduanya terus melangkah meski Affan terus menolak, Affan bahkan mengejar keduanya dan berniat menghalangi ayah Bobi membawa bunda nya. Namun ia kalah cepat, bunda Rhea dan ayah Bobi telah lebih dulu masuk ke dalam mobil.
"Bun jangan pergi!!"
Affan hanya bisa menatap hampa pada kendaraan roda empat yang terus menjauhi pekarangan rumah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Miss Sgs
padahal dulu d tinggal selingkuh, kok sekarang malah bobi selingkuh
2023-11-02
2
Siti Komariah
potongaja burybg si bobi
2023-01-15
1
Julio Stevaning
Boby sepertinya benar2 selingkuh
2022-12-22
1