"Zara, abang mau bicara" ucap Affan ketika Zara sedang termenung di teras rumah. Zara mengangguk, ia berusaha tampak biasa meski sebenar nya ia merasa terpana karena Affan tiba-tiba memanggilnya dan mengajaknya nya berbicara setelah sempat mendiamkannya.
Keheningan menyelimuti keduanya beberapa saat karena Affan masih belum memulai pembicaraan nya. Zara melihat tatapan kosong Affan dan beberapa kali pria itu menghela nafasnya dengan berat. Sejatinya perasaan mereka saat ini sama, mereka tengah menanggung luka berat kehilangan.
"Seperti yang kita tau, bunda dan ayah kamu uda nggak ada" Suara Affan bergetar, menandakan betapa pria itu masih merasa begitu pahit untuk menerima kenyataan bahwa sang bunda telah tiada.
"Uda nggak ada lagi ikatan diantara kita Zara, mungkin sudah saatnya kamu pergi dari sini" ucap Affan. Zara tersentak, gadis itu menatap cepat pada Affan yang menatap dingin padanya.
"M-maksud abang?" Yah tentu Zara tau rumah ini adalah peninggalan bunda Rhea dan dia tak memiliki hak apapun untuk tetap tinggal di rumah ini karena seperti yang Affan katakan bahwa mereka sudah tidak terikat apapun lagi setelah kepergian kedua orang tua mereka. Tapi benarkah Affan setega itu mengusir dirinya?
"Kamu tau apa yang aku maksud Zara, aku tidak sebaik itu untuk membiarkan orang yang tak pernah menerima kehadiran ku dan bunda tetap tinggal di sini" ucap Affan, suara nya kembali terdengar bergetar.
"Bunda sudah berusaha menjadi ibu yang baik buat kamu, tapi kamu nggak pernah menghargai usaha nya Zara. Kamu selalu mengabaikan perhatian-perhatian nya. Begitupun dengan ku, kakek nenekmu, ayahmu dan kamu pun sama tak pernah menghargai keberadaan ku. Ingat seberapa sering kamu tak menjawab pertanyaan ku dan bunda? seberapa sering kamu mendiamkan kami? seberapa sering kamu mengabaikan usaha kami untuk mengambil hatimu? kamu selalu membangun jarak baik dengan ku maupun bunda" Mata Affan memerah, entah karena menahan tangis atau karena menahan kemarahan yang meluap.
"B-bukan begitu abang, Zara nggak pernah berniat seperti itu. Ab-abang salah paham" air mata berhamburan membasahi wajah Zara. Ia tak menyangka sikap nya selama ini bagaikan menimbun bom waktu yang akhirnya meledak dan menghancurkan dirinya. Zara akui sikapnya selama ini salah terutama pada bunda Rhea.
"Tak perlu menjelaskan apapun Zara, selama ini aku berusaha memaklumi sikap kamu. Tapi belakangan aku menyadari sikap kamu itu menunjukkan bahwa kamu nggak pernah menerima aku dan bunda dalam hidup kamu. Kamu hanya bertahan karena ayahmu kan? dan sekarang kamu boleh pergi Zara, ayahmu sudah tidak ada lagi. Tak ada yang bisa menghalangi mu" Ucapan Affan begitu tajam menghunus hati Zara, namun ia tak berdaya. Akan percuma menjelaskan semuanya pada Affan saat ini. Hati pria itu masih diselimuti duka dan prasangka, semua penjelasannya akan sia-sia.
"Abang, izinkan Zara tetap tinggal di sini. Zara nggak punya siapa-siapa lagi di dunia ini selain abang" mohon Zara dengan wajah memelas.
"Kamu masih memiliki ibu, kakek dan nenek. Kamu bisa tinggal bersama mereka. Ingat aku tidak memiliki tanggung jawab apapun terhadapmu" air mata akhirnya tumpah dari mata Affan, membuat Zara menerka perasaan Affan yang sebenarnya. Zara yakin masih tersimpan kebaikan dan kasih sayang di dalam hati Affan, hanya saja semua tertutupi akibat rasa kehilangan yang tengah pria itu rasakan.
"Zara nggak tau ibu ada di mana, lagipula Zara nggak mau tinggal sama ibu bang. Zara juga nggak bisa tinggal sama kakek dan nenek, terlalu jauh karena Zara harus kuliah di sini" ucap Zara, hati nya benar-benar menolak untuk pergi dari rumah itu. Ia tak bisa menjauh dari Affan.
"Itu urusan mu Zara, jangan melibatkan aku untuk hal-hal yang bukan menjadi tanggung jawabku" balas Affan lagi. Entahlah seberapa menyakitkan pun ucapan Affan sama sekali tak membuat Zara ingin meninggalkan pria itu.
"Bang tolong jangan usir Zara, izinkan Zara tetap tinggal di rumah ini. Zara akan membantu abang mengurus rumah, Zara rela melakukan apapun asalkan abang bersedia memberi tumpangan pada Zara" Mohon Zara lagi. Menyadari betapa banyak kesakitan yang Affan rasakan membuat Zara bertekad untuk merawat luka pria itu hingga sembuh. Anggaplah apa yang ia lakukan sebagai penebus dosa atas kesalahan yang ayahnya perbuat terhadap Affan.
Affan tertegun melihat Zara yang bersimpuh di hadapannya. Ia mulai gusar, di satu sisi ia tak tega melihat Zara memohon seperti ini, namun karena luka hatinya yang menganga membuat Affan tak berdaya menepis perasaan nya.
"Baiklah terserah kamu saja, tapi jangan berharap apapun padaku Zara. Karena hanya dengan melihatmu saja hatiku terasa amat sakit" Ucap Affan sebelum pria itu beranjak meninggalkan Zara yang masih terisak.
🍁🍁🍁
"Bunda sedang apa? abang di sini kebingungan bun. Abang mau nyusul bunda aja ya?" Affan mengusap foto sang bunda, pria itu beralih memandangi barang-barang yang terakhir dipakai oleh sang bunda di hari kecelakaan itu.
Dengan tangan bergetar Affan meraih ponsel sang bunda, ia baru memiliki keberanian untuk menyentuhnya setelah 10 hari berlalu sejak kepergian bunda Rhea untuk selama-lamanya.
Seolah ada yang menuntun, ibu jari Affan menyentuh aplikasi catatan pada ponsel sang bunda. Kening pria itu mengernyit, mendapati sebuah catatan yang jika dilihat dari tanggal tertera ditulis pada malam sebelum kecelakaan menimpa.
Jantung Affan berdetak dengan kencang, tubuhnya bergetar ketika membuka catatan itu. Matanya terasa memanas ketika mulai membaca pesan yang memang ditulis sang bunda untuk dirinya.
Dear Affan Zayendra Putra kebanggan bunda...
Terimakasih karena Affan telah hadir menyempurnakan hidup bunda, banyak kesakitan dan luka yang telah kita lewati berdua, Affan adalah sahabat terbaik bunda...
Tidak hanya kasih sayang, ada banyak hal berharga yang bunda dapatkan dari hadirnya kamu nak...
Maaf untuk ketidak sempurnaan bunda hingga membuat mu harus mengecap banyak luka. Maafkan bunda nak, bunda bahagia memilikimu...
Berbahagialah selalu anakku, raih kebahagiaan dengan caramu sendiri karena ternyata bunda gagal membuatmu bahagia dengan cara yang bunda pilihkan...
Jangan menyesali apapun yang pernah terjadi, berdamailah dengan semua kesakitan itu sayang agar hatimu tenang. Maafkan ayahmu juga kakek dan nenekmu, bunda yakin hati Affan memiliki kesabaran seluas samudera.
Ada dan tiadanya raga bunda, kasih sayang bunda akan terus mengalir untuk mu putra kebanggan bunda...
Bunda selalu mencintai mu
Affan tersedu membaca setiap kata yang bunda Rhea tuliskan, sang bunda seolah telah memiliki firasat bahwa hidupnya akan segera berakhir.
Tidak hanya itu, bunda Rhea juga menuliskan hal-hal penting yang ia tujukan pada Affan seperti Pin atm, buku tabungan atas nama Affan, serta hal-hal pendukung yang dapat membantu kehidupan Affan ke depan. Sepertinya bunda Rhea benar-benar telah menyiapkan semuanya agar Affan tak mengalami kesulitan setelah kepergiannya.
"Affan nggak butuh ini semua bun, Affan hanya butuh bunda" Lirih pria itu.
🍁🍁🍁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
COOL_I4N
thor bagus banget cerita nya. ini karya kedua author yg aku baca setelah after bachelor party. bagu semua thor novel nya. you are one of my favorite author. mau baca semua karya author. please selalu buat karya yg bagus ya.
2023-09-09
0
Sri Wahyuni
gue jjur ga ksian sm s zara klau jrs d jdikan bufak napsu s affan itu karma krna tdk bsa menghargai orang yg sdah baik pda y
2023-01-24
3
Ennyyl
AQ kadang bingung cerita bagus tp yg ngelike kok sedikit
2023-01-16
1