Hari ini sidang skripsi Affan digelar setelah beberapa bulan pria itu berkutat menyelesaikan tugas akhirnya tersebut untuk sebuah gelar sarjana yang akan ia persembahkan untuk sang bunda.
Pria itu berharap satu pencapaiannya akan membuat bunda Rhea bahagia, meski untuk sampai pada titik ini ia harus merasakan lelah dan beberapa kali menemui kendala. Namun kesulitan yang ia alami tak sedikitpun menyurutkan semangatnya, senyum bahagia bunda Rhea adalah harga yang pantas ia bayar dengan perjuangan paling berat sekalipun.
Di mata Affan bunda Rhea adalah segalanya, selama 14 tahun bunda Rhea menjadi ibu tangguh yang selalu berusaha memberikan kebahagiaan dan kasih sayang untuknya, sang bunda selalu memenuhi setiap kebutuhan nya, selalu memastikan bahwa dirinya tak merasakan kekurangan.
Affan tau hal itu sangat tidak mudah mengingat saat itu sang bunda adalah seorang single mom, namun bunda Rhea tak pernah menunjukkan sedikitpun kesulitannya pada Affan. Dan sekarang saatnya Affan mengambil alih peran yang diemban oleh bunda nya.
"Selamat ya sayang, tadi kakak keren banget" Ucap Alya menyambut Affan yang baru keluar dari ruang sidang. Ia memberikan buket bunga pada sang kekasih.
"Makasih ya Al, makasih juga untuk pengertian kamu yang nggak pernah mengeluh atas kesibukan aku selama ini" Affan merangkul pundak Alya, gadis yang sudah ia pacari beberapa bulan ini. Ia cukup bersyukur Alya bisa memahami kesibukannya yang terkadang tak memiliki waktu untuk gadis itu. Bahkan beberapa kali Affan membatalkan kencan mereka.
Alya mengangguk sambil tersenyum manis pada Affan.
"Aku beruntung banget punya pacar yang baik dan pengertian seperti kamu" ucap Affan sambil mencubit pipi Alya dengan gemas.
"Aku juga beruntung banget punya pacar yang tampan, baik dan bertanggung jawab seperti kak Affan" Balas Alya sambil tersipu, ia tak menyangka bisa memenangkan hati Affan yang merupakan idola para mahasiswi di kampus mereka. Affan terkekeh mendengar gombalan Alya, pria itu kembali mencubit pipi sang pacar yang begitu menggemaskan.
"Kita makan dulu yuk, kakak lapar." Setelah selesai melaksanakan sidang Affan mendadak merasa lapar berbeda dengan beberapa hari ini, pria itu kehilangan selera makannya akibat rasa gugup menghadapi hari penting nya.
Mereka memilih kafe yang terdapat di depan kampus. Kafe itu adalah favorit mereka karena menyimpan banyak kenangan saat pendekatan dulu.
"Al kalo kakak uda lulus dan uda dapat kerja, terus kakak mau lamar kamu gimana? kamu mau nggak?" Tanya Affan saat ia dan Alya tengah menikmati makan siang mereka.
Alya tampak terkejut, wajah nya merona mendapatkan pertanyaan dari Affan. Ia tak menyangka jika Affan benar-benar serius padanya, padahal mereka baru 3 bulan menjalin kasih dan pria itu sudah memiliki niat untuk melamarnya. Tak salah jika Affan banyak wanita.
"Aku tentu saja mau kak, tapi sayang nya aku kan baru semester 4. Mama dan papa maunya aku lulus kuliah dulu baru mikirin nikah, jadi aku nggak yakin mereka akan kasih izin" ucap Alya dengan raut wajah menyesal.
"Nggak apa-apa, ada bagusnya juga kamu selesaikan dulu kuliah. Sambil nunggu kamu lulus kakak bisa fokus kerja dan nabung dulu yang banyak" ucap Affan sambil terkekeh. Pria itu mengusap punggung tangan Alya untuk menenangkan kekasihnya karena melihat wajah bersalah Alya membuat Affan tak tega, mungkin ia terlalu tergesa.
"Jadi kakak bersedia nunggu aku?" tanya Alya dengan tatapan tak percaya.
"Iya, lagian cuma 2 tahun aja kan? 2 tahun itu nggak lama Al" ucap Affan yang membuat wajah Alya merona.
🍁🍁🍁
Saat membuka pintu kamarnya perhatian Affan langsung tertuju pada setangkai bunga mawar merah yang terletak di atas meja kerja. Karena penasaran pria itu memperlebar langkahnya menuju meja, Affan juga mendapati kartu ucapan selain bunga yang ia lihat sebelumnya.
Selamat atas ujian akhir hari ini bang, Semoga mendapatkan nilai terbaik dan Semoga hari ini menjadi awal kesuksesan abang...
Zara
Affan tersenyum membaca pesan manis dari Zara yang juga baru menyelesaikan ujian akhir sekolah sebagai pertanda berakhirnya masa SMA sang adik.
Meski hanya setangkai mawar dan kartu ucapan sederhana yang Zara berikan namun Affan merasa sangat bahagia, hatinya terasa hangat.
Pria itu bergegas mencari Zara untuk mengucapkan terima kasih atas perhatian gadis itu.
Affan mendapati Zara tengah duduk sendirian di sofa teras rumah yang menghadap pada taman sambil memainkan ponselnya. Sesuai dugaan Affan, Zara pasti berada di sana karena itu merupakan tempat favorit gadis itu selain kamar.
"Zara, makasih bunga nya ya" Affan mengambil tempat duduk di sebelah Zara yang tampak terkejut. Entah karena terlalu fokus pada ponselnya atau sebenar nya Zara memang tengah melamun hingga ia tak menyadari kedatangan Affan.
"Iya bang sama-sama, maaf Zara nggak bisa kasih hadiah apa-apa" ucap Zara tersipu.
"Nggak apa-apa sayang, perhatian dan ketulusan Zara itu jauh lebih berharga dari apapun" ucap Affan yang membuat hati Zara bergetar, kebahagiaan yang terpancar di mata Affan membuatnya merasa terharu. Ia tak menyangka Affan akan terlihat sebahagia itu menerima hadiah darinya yang begitu sedehana.
Obrolan Zara dan Affan terjeda dengan kehadiran bunda Rhea, sang bunda masih mengenakan pakaian kerja menandakan ia baru saja tiba di rumah dan langsung menghampiri mereka. Sementara ayah Bobi biasanya baru pulang menjelang malam
"Gimana ujiannya sayang?" Tanya bunda Rhea pada putranya
"Lancar bun, berkat doa bunda" Ucap Affan.
"Syukurlah, semoga dapat nilai yang bagus ya nak, Zara juga selamat uda selesai ujian. Semoga juga nanti keterima di universitas yang Zara mau ya" Ucap bunda Rhea.
"Makasih bun" Jawab Affan dan Zara bersamaan.
"Oh ya nanti malam sebagai perayaan kita makan malam di luar ya, jadi kalian siap-siap. Kalo ayah uda pulang kita langsung berangkat. Oh ya bang kalau mau ajak Alya juga boleh" ucap bunda Rhea. Affan memang sudah mengenalkan Alya pada sang bunda dan Affan merasa lega karena bunda Rhea tampak menyukai kekasihnya.
"Iya bun, kalau gitu Zara duluan ke kamar" pamit Zara. Mendengar bunda Rhea menyebut nama Alya hati Zara merasa tertikam.
"Iya sayang" bunda Rhea mengusap rambut Zara sebelum gadis itu beranjak.
"Abang juga mau siap-siap ya bun" ucap Affan.
"Mau ajak Alya nggak?" tanya sang bunda sebelum Affan pergi.
"Kayaknya nggak bun, ini kan acara keluarga. Cukup kita aja" tolak Affan yang diangguki sang bunda.
Bunda Rhea menatap kepergian Affan yang terlihat melangkah dengan gontai. Sang putra tampak tak bersemangat. Namun bunda Rhea berusaha menepis perasaan tak enak yang menyusupi hatinya.
🍁🍁🍁
Sorry kemaren sibuk banget, benar-benar nggak sempat buat nulis...
sarangheo ❤️😘🥰
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Mersy Loni
makin penasaran sama affan..
2023-09-25
0
May Keisya
apakah bunda rea sebenernya bukan bunda kandung Affan🤔
2022-12-26
1
Julio Stevaning
masih pada Aby abu
2022-12-22
1