Delapan Belas

Zara yang sedang menikmati senja sembari membaca buku memasang senyum terbaik nya ketika melihat Affan yang baru turun dari mobil. Gadis itu merasa senang karena Affan telah pulang, ia mengira Affan akan pulang malam seperti biasanya. Meski kemarin Affan menghantam nya dengan ucapan yang menyakitkan namun Zara berusaha untuk tak menyimpannya di dalam hati.

"Abang capek?" tanya Zara ketika Affan sudah berada di dekat nya. Namun seperti biasa pria itu tak menimpali ucapan Zara. Pria itu tetap berjalan menuju pintu untuk masuk ke dalam rumah.

Namun suara deru mesin kendaraan menghentikan langkah Affan, pria itu menoleh ke arah sumber suara. Pria itu menatap tajam ke arah mobil yang tak ia kenali itu. Seperti hal nya Affan, Zara juga tampak menatap bingung pada mobil yang berhenti di pekarangan rumah mereka.

"I-ibu" ucap Zara terbata saat melihat seorang wanita yang turun dari mobil. Affan menatap ke arah Zara ketika mendengar suara lirih gadis itu, keningnya berkerut mendapati wajah pucat adik tirinya, Zara terlihat begitu ketakutan.

"Zara lama gak bertemu, kamu nggak kangen sama ibu yang sudah mempertaruhkan nyawa melahirkan kamu? kenapa Zara melupakan ibu hem?" ucap wanita itu sambil mendekat ke arah Zara yang terlihat bergetar. Ibu Zara datang bersama laki-laki yang Zara tau adalah selingkuhan ibunya. Entah bagaimana hubungan mereka kini, Zara juga tak berminat untuk mencari tau. Laki-laki yang datang bersama ibu Zara hanya diam di dalam mobil, sepertinya tak berniat untuk ikut masuk.

"Kontak ibu kamu blokir kan? kenapa sayang, kamu tau kan kalo apa yang kamu lakukan itu sangat menyakiti hati ibu?" Lanjut wanita itu lagi. Tak ada pelukan hangat layaknya seorang ibu yang lama tak berjumpa dengan buah hatinya. Karena itu Zara meragukan kasih sayang ibu terhadapnya.

"I-ibu kenapa datang ke sini?" tanya Zara, Affan dapat melihat gadis itu begitu resah dan kalut.

"Apa? tega banget kamu nanya kayak gitu nak. Kamu nggak suka ibu kandung mu ini datang?" Ucap wanita yang sudah melahirkan Zara tersebut sambil memasang ekspresi sedih yang terlihat dibuat-buat.

Zara menghela nafas kasar, ia lelah menghadapi sikap kekanakan ibunya yang seolah begitu ingin menunjukkan bahwa dialah ibu kandung yang paling berhak untuk mendapatkan bakti dan rasa hormat serta kasih sayang dari Zara meski ia sendiri tak memberikan hak Zara sebagai seorang anak.

Affan masih tak bereaksi, ia hanya mengamati interaksi antara Zara dan ibu kandung nya.

"Ibu capek Zara, kamu nggak mempersilahkan ibu masuk" Tanya wanita itu dengan wajah pongah. Sebelum Zara menjawab ibunya langsung berjalan masuk ke dalam rumah melewati Affan.

"Maaf bang" Bisik Zara dengan mata berkaca-kaca. Gadis itu segera menyusul ibunya.

"Ibu ada apa datang kemari" Tanya Zara, gadis itu duduk di hadapan ibunya.

"Apa seorang ibu kandung harus memiliki alasan untuk datang menjenguk putrinya? ibu mengkhawatirkan mu Zara, ibu dapat kabar ayah dan ibu tiri mu meninggal. Ibu berniat untuk tinggal di sini menemani kamu" Affan yang awalnya tak peduli dan berniat masuk ke dalam kamar mengurungkan niat nya, ia memutuskan untuk ikut duduk bersama Zara.

"Ibu rasa tak apa kan jika ibu ikut tinggal di sini? karena kamu nggak punya siapa-siapa lagi selain ibu" Zara begitu gusar, ia menatap takut pada Affan yang tampak tersenyum sinis.

"Tapi maaf saya keberatan tante" Ucap Affan, ibu Zara menatap tak suka pada Affan.

"Apa hak mu melarang saya? oh kamu anak tirinya Bobi kan? ingat kamu hanya anak tiri, tidak berhak atas peninggalan Bobi. Seharusnya kamu yang pergi dari sini"

"Ibu jangan seperti itu" ucap Zara panik. Namun Affan tampak begitu tenang, pria itu malah tertawa meremehkan.

"Anda salah, rumah ini adalah rumah peninggalan ibu kandung saya, dibangun dari hasil keringat nya jauh sebelum menikah dengan ayah Zara. Apa perlu saya memperlihatkan sertifikat rumah ini?" Ucap Affan sinis. Wajah ibu Zara tampak memucat, ia menatap ke arah Zara untuk memastikan apa yang Affan ucapkan adalah benar. Melihat putrinya mengangguk membuat wanita itu menciut. Sementara Zara menyesali ucapan ibu kandungnya yang membuatnya merasa kehilabgan muka di hadapan Affan.

"Silahkan kalau mau membawa Zara keluar dari rumah ini, saya tidak akan melarang karena anda ibu kandung nya yang memang berkewajiban merawat putri anda" lanjut Affan. Sontak Zara menatap pada Affan sambil menggelengkan kepalanya. Air mata nya tumpah tanpa mampu ia tahan. Zara benar-benar tak sanggup harus tinggal bersama ibu yang tak pernah memperdulikan dirinya.

"Zara nggak bisa ikut ibu bang, Zara harus kuliah" Ucap Zara memberanikan diri.

"Kamu dengar sendiri? saya sebenarnya ingin sekali membawa Zara pergi. Tapi saya tidak mau memaksakan kehendak pada putri saya" Zara lega namun kecewa secara bersamaan. Ternyata ibunya tetap sama, tak pernah berusaha mempertahankan dirinya. Dulu saat ayah Bobi membawa dirinya, ibu Zara sama sekali tak keberatan. Sekarangpun demikian, Zara semakin meragukan kasih sayang wanita itu padanya.

"Bukankah seorang ibu kandung tak mungkin sepasrah itu melepaskan putri kandung nya begitu saja?" Tanya Affan dengan penuh penekanan, wanita itu mendecih sinis.

"Saya hanya ingin putri saya bahagia dengan pilihannya" Zara begitu muak, jika memang ibunya memberikan kebebasan dalam memilih jalannya sendiri kenapa selama 7 tahun ini ibunya harus mengekang Zara lewat chat-chat yang berhasil merusak jiwanya. Zara ingin sekali melampiaskan kekesalan dan kekecewaan yang ia rasakan, namun semua kata yang ia rangkai tertahan di tenggorokan.

Affan akan kembali menjawab namun ibu Zara mengangkat tangannya, memberi kode pada Affan agar diam dan tak melanjutkan perdebatan. wanita itu beralih menatap pada Zara. "Zara, apa ayah mu meninggalkan aset berharga untuk mu melanjutkan hidup?" Tanya wanita itu. Zara menggeleng perlahan, ia menatap sedih pada ibunya yang tampak begitu tak berperasaan. Ternyata benar ibunya sama sekali tak peduli padanya, kedatangan wanita itu kemari hanya demi memperoleh keuntungan semata.

"Sejak dulu ayahmu memang nggak berguna" ucap ibu Zara, tanpa basa basi wanita itu beranjak pergi meninggalkan Zara dan Affan.

Zara menghela nafas dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Ia benar-benar terlihat lelah. Rasa sakit begitu menusuk hati Zara, sejak dulu ibu selalu saja mengumpati ayahnya bahkan sekarang saat ayah Bobi sudah tidak ada di dunia ini ibunya masih begitu melakukannya.

"See, kamu masih memiliki ibu. Tidak sepertiku yang hanya sebatang kara semenjak ayahmu membawa bundaku pergi dari dunia ini. Harusnya kamu ikut saja dengan ibumu Zara" ucap Affan dingin sebelum pria itu meninggalkan Zara yang mulai terisak.

🍁🍁🍁

Terpopuler

Comments

km3004

km3004

Affan gak salah si

2025-01-27

1

Ning Vian

Ning Vian

kalau aku jadi zara...aku akan tinggal dengan kakeknenek saja....daripada sama affan...harga diri di injak

2023-04-19

5

stela

stela

sedih lanjut

2023-03-02

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!