Tujuh Belas

"Kenapa kakak jadi cuek sama Zara? bukan nya kakak sayang banget ya sama dia?" tanya Alya yang rupanya melihat bagaimana Affan membuang muka dengan wajah kesal saat melihat Zara.

"Nggak apa-apa" jawab Affan dingin, pria itu pura-pura menikmati makanan nya.

"Waktu aku ke rumah kakak juga, kakak kayak nggak peduli sama Zara. Ada masalah apa sebenar nya?" Alya masih tak ingin menyerah, diam-diam ia memperhatikan bagaimana perubahan sikap kekasihnya. Alya merasa heran karena setau gadis itu Affan sangat menyayangi dan sangat peduli pada Zara.

Affan menghembuskan nafasnya dengan kasar untuk mengusir rasa sesak di dadanya.

"Nggak apa-apa. Kakak hanya terlalu berduka kehilangan bunda makanya kakak sering kehilangan fokus. Kakak nggak ada niat buat cuek dan nggak peduli pada Zara." Entahlah Affan tak sampai hati menceritakan penyebab kemarahannya pada Zara. Meski hatinya terluka dan kecewa akan sikap Zara dan keluarganya ia tetap tak bisa membiarkan Alya memberi label buruk pada Zara maupun ayah Bobi juga kakek dan nenek Zara.

Bagi Affan cukuplah ia sendiri yang mengetahui fakta menyakitkan itu. Ia tak mau siapapun menghakimi Zara sedalam apapun luka yang telah mereka hujam kan ke hatinya.

"Aku tau kakak bohong, tapi aku juga nggak akan maksa kakak untuk cerita kalo emang kakak nggak mau" ucap Alya sambil menggenggam tangan kekasihnya. Ia tau Affan sedang menyembunyikan sesuatu, namun ia berusaha menghormati keputusan Affan untuk menyimpannya sendiri. Meskipun Affan adalah kekasihnya bukan berarti ia harus tau semua hal dan melangkahi privasi yang coba dijaga pria itu.

"Makasih kamu uda mau ngertiin aku Al, kalo bukan karena kamu mungkin aku uda benar-benar kehilangan minat untuk hidup" Ucap pria itu, Affan menatap Alya dengan penuh cinta. Ia merasa sangat beruntung memiliki Alya yang sangat dewasa berbeda dengan perempuan kebanyakan yang hanya menuruti perasaan nya sendiri. Alya mampu memberikan kenyamanan pada dirinya. Karena Alya pula lah ia seperti menemukan semangat hidupnya kembali meski hanya sedikit. Keberadaan Alya di sisinya membuat Affan merasa berharga dan merasa diinginkan.

"Iya kak sama-sama. Oh ya kak, Zara uda tau kakak uda diterima kerja?" tanya Alya kemudian.

"Iya uda tau kok" Affan sengaja berbohong agar Alya tidak membahas Zara lebih lanjut. Karena ia merasa tak nyaman, luka di hatinya seakan kembali basah jika mengingat semua hal tentang Zara dan keluarganya. Kalau bukan karena pesan dari bunda nya untuk mencoba berdamai dengan segala kesakitan yang ia rasakan mungkin Affan akan memaksa Zara untuk segera pergi dari rumah bagaimanapun caranya.

"Uda ditraktir juga?"

"Zara kan tinggal sama kakak Al, walaupun nggak ditraktir secara khusus nanti juga pasti dia ikut menikmati gaji kakak" Balas Affan.

"Iya kak nggak usah kesal gitu, biasa aja dong sayang" Alya mengusap lengan Affan sambil tertawa.

"Kakak nggak kesal Al" Affan balas tersenyum meski terlihat sangat dipaksakan.

"Tapi muka kakak tegang gitu, kelihatan banget loh kalo lagi sebel. Jangan sering kayak gitu kak nanti ganteng nya hilang" Goda Alya lagi.

🍁🍁🍁

"Bang, Zara uda siapin makan malam. Abang makan dulu ya?" Zara bersyukur Affan tidak pulang terlalu malam. Tidak sia-sia ia memasak untuk pria itu. Zara sangat berharap kali ini Affan mau memakan masakannya meski tadi pagi pria itu menolaknya mentah-mentah.

"Aku sudah bilang nggak usah repot-repot masak buat aku. Cukup buat kamu aja" jawab Affan ketus.

"Abang uda makan?" Zara mencoba untuk tetap tersenyum meski Affan memasang wajah tak bersahabat dengannya.

"Bukan urusan mu" balas Affan lagi. Pria itu melanjutkan kembali langkahnya. Zara hanya bisa menatap sendu pada Affan, gadis itu sangat ingin menangis namun ia mencoba menahan nya. Mungkin dulu Affan dan bunda Rhea sering menahan perasaan sedihnya karena ia kerap kali tak merespon saat diajak bicara, bisa jadi sikap Affan saat ini adalah balasan untuk nya. Zara mencoba menerimanya dengan hati lapang.

"Oh ya Zara kamu harus tau aku paling nggak suka dibohongi" ucap Affan, pria itu menghentikan langkahnya dan menatap tajam pada Zara yang tampak bingung, ia tak mengerti arah ucapan sang kakak.

"M-maksud abang?" Tanya Zara takut-takut.

"Kamu bilang hari ini mau ke kampus, tapi nyatanya kamu malah asik nongkrong haha hihi sama teman-teman kamu. Walaupun itu sebenar nya urusan kamu dan aku nggak peduli kamu mau melakukan apapun tapi aku nggak suka karena kamu sudah berbohong sama aku" Zara terhenyak, lagi-lagi Affan salah paham padanya.

"Tapi Zara nggak bohong bang, tadi Zara benar-benar ke kampus. Setelah urusan Zara selesai Chelsea ngajak makan ke sana karena mau nyobain tempat baru katanya. Zara uda coba nolak karena mau langsung pulang aja, tapi Chelsea maksa bang" Zara berharap Affan percaya padanya, namun wajah pria itu begitu datar hingga Zara tak bisa menebak apakah pria itu percaya atau tidak pada penjelasannya.

"Terserah kamu! oh ya Satu lagi Zara, aku nggak peduli kamu mau punya teman laki-laki atau pacar sekalipun. Tapi tolong jaga sikap, kamu yang memaksa untuk tetap tinggal di rumah ini. Dan yang orang lain tau kamu adalah tanggung jawab ku. Jadi tolong jangan melampaui batas yang akhirnya menambah beban untukku. Jangan jadi perempuan muara han" ucap Affan yang berhasil membuat hati Zara patah dan remuk.

"Yang tadi duduk semeja sama Zara bukan pacar Zara atau teman Zara bang, tiba-tiba aja dia datang dan minta gabung. Zara cuma punya satu teman yaitu Chelsea. Jadi abang nggak usah takut Zara akan macam-macam" Mungkin tadi Affan melihat Yuda duduk bersama mereka dan beranggapan yang tidak-tidak. Zara tak menyangka Affan akan berfikir seburuk itu tentang nya, Zara tak bisa menahan laju air mata nya.

"Baguslah kalau begitu, kamu harus tau diri. Kalau kamu nggak mau mengikuti aturan dari aku silahkan kamu keluar dari rumah ini." ucap Affan sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar nya. Pria itu menghembuskan nafas nya dengan kasar, ada rasa sesal di hatinya karena sudah berucap terlalu kasar pada Zara terlebih saat melihat air mata gadis itu. Namun pria itu juga tak mengerti kenapa saat melihat Zara ia tak bisa menahan rasa sakit di hatinya. Terlalu sulit untuk bersikap baik pada gadis itu.

Sementara itu Zara menelungkupkan kepalanya di meja, gadis itu terisak. Ia sudah berusaha untuk tidak mengambil hati ucapan Affan, tapi gagal. Hatinya terasa begitu sakit.

🍁🍁🍁

Terpopuler

Comments

Nuraini

Nuraini

kalo aku jadi zara, keluar rumah itu, kerja sambil kuliah. dan merubah sifat agar jd lbh terbuka. drpd dipandang sebelah mata sama affan

2023-07-16

7

stela

stela

ZAra udah km pergi aja de dari pada di diamin terus aku yg sakit hati ni liat kamu 😭😭😭😭

2023-03-02

0

~jingGA

~jingGA

aq aja bacanya sakit hati, id gimana Zara?

2023-02-18

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!