Enam Belas

Zara berjalan untuk melihat-lihat lingkungan kampus setelah menyelesaikan semua urusan administrasi bersama Chelsea. Ia bersyukur sahabatnya itu diterima di jurusan dan tempat kuliah yang sama dengannya, dengan begitu ia tak perlu repot-repot untuk mengenal orang baru karena hal itu akan sangat sulit baginya.

"Kamu harus berubah Zara" Ucap Chelsea tiba-tiba.

"Berubah gimana?" tanya Zara heran, ia tak mengerti ke mana arah pembicaraan Chelsea.

"Kita uda lepas masa SMA artinya uda mulai dewasa, kamu harus mulai membuka diri. Jangan terus seperti ini" ucap Chelsea serius.

"Emang aku kenapa?" tampak kilat gemas di mata Chelsea kala Zara bertanya demikian.

"Kamu itu terlalu tertutup, nggak bisa bergaul, teman kamu cuma aku doang Zara, kamu terlalu asik sama dunia kamu sendiri. Gimana mau dapat jodoh kalo kamu kayak gini terus" celoteh Chelsea yang membuat Zara mengulum senyum. Tiba-tiba wajah Affan terbayang membuat hati Zara berdesir namun kelu secara bersamaan. Hanya pria itu yang ada di dalam hati dan fikiran Zara saat ini, khayalan tentang masa depan gadis itu hanya berporos pada sosok kakak tirinya itu, tak pernah terbesit dalam benak Zara bahwa ia akan hidup bersama pria lain, dan Zara tak yakin bisa menyukai dan mencintai sosok lain selain Affan. Namun mengingat bagaimana hubungan mereka kini, Zara mendadak hilang semangat. Rasanya mustahil ia akan mendapatkan hati Affan.

"Kuliah aja belum mulai masa uda mikirin jodoh segala Chel" Ucap Zara sambil terkekeh untuk mengusir resah yang mencoba menguasai perasaan nya.

"Tapi kamu uda mulai lebih ekspresif si sekarang, baguslah mulai ada perkembangan. Nggak kayak kemaren muka kamu tu datar aja" Balas Chelsea lagi. Zara membuang nafas perlahan, ia merasa sudah saat nya melepaskan diri dari kungkungan doktrin ibunya. Ia merasa berhak bahagia dengan jalannya sendiri. Ia tak mau terus hidup dalam racun fikiran ibunya yang egois yang pada akhirnya semakin menyengsarakan dirinya, andai saja dulu ia bisa lebih tegas mungkin Affan tidak akan salah paham padanya, ia juga tak perlu merasa bersalah karena menjaga jarak dari bunda Rhea

"Di sini nanti pergaulan kita akan jauh lebih luas Za, kita akan menemukan banyak karakter ketimbang saat kita masih SMA. Rugi kalo kamu tetap dengan kepribadian kamu yang kuper ini" Ucap Chelsea sambil terkekeh melihat raut kesal di wajah Zara mendengar ledekan nya.

Sebenarnya, Zara nyaman dengan kehidupannya yang seperti ini. Tidak memiliki banyak teman rasanya jauh lebih menyenangkan, setidaknya untuk meminimalisir konflik. Karena Zara sadar menghadapi kerumitan dirinya sendiri saja Zara kerap kesulitan apalagi harus menghadapi banyak orang dengan karakter yang beragam.

Rasanya dengan memiliki Affan walaupun kelak hanya ditakdirkan sebagai kakak sudah cukup bagi Zara. Gadis itu sadar semenjak Affan mendiamkannya dunia nya seakan remuk dan tak berarah.

"Tuh kan kamu tu bisa nya melamun aja, mending toleh kanan kiri depan belakang tuh banyak cowok cakep. Rugi banget nggak sih dilewatin gitu aja" Celoteh Chelsea yang membuat Zara berdecak sembari menggelengkan kepalanya.

"Pokoknya aku nggak mau tau ya Za, nanti saat kita uda mulai kuliah kamu harus dapat pacar" Ucap Chelsea lagi.

"Chel aku mau kuliah, cari ilmu, dapat ijazah biar aku bisa cari kerja bukan buat cari jodoh. Kamu tau sendiri sekarang aku cuma punya abang semenjak ayah dan bunda pergi. Aku nggak mau ngecewain dia yang uda biayain hidup aku" ucap Zara, Chelsea tersenyum salah tingkah. Ia tak berniat mendebat Zara karena ia tau sahabatnya itu masih berduka.

"Zara kita nyobain makan di kafe yang baru buka kemarin yuk. Aku yang traktir" Chelsea mengalihkan topik pembicaraan mereka, tak ingin Zara terbawa perasaan mengingat tentang kedua orang tuanya. Chelsea bahkan langsung menarik tangan Zara tanpa menunggu persetujuan gadis itu.

"Chel aku mau pulang aja" rengek Zara yang tak digubris oleh gadis itu. Ia tetap membawa Zara ke mobilnya sehingga Zara mau tidak mau hanya pasrah mengikuti sahabat nya.

🍁🍁🍁

"Hai boleh gabung?" seorang pemuda tampan datang menghampiri meja Zara dan Chelsea.

Zara menoleh sekilas lalu kembali fokus pada makanan nya. Ia tak tertarik untuk menggubris pria itu.

"Boleh silahkan" Jawab Chelsea ramah. Pemuda itu duduk dan menatap ke arah Zara.

"Kenalin aku Yuda" Pria itu mengulurkan tangannya ke arah Zara. Sejenak Zara hanya diam dan menatap tanpa ekspresi pada pria di hadapannya.

"Aku Chelsea" Karena tau Zara tak akan menggubris pria itu dengan mudah Chelsea menarik tangan Yuda untuk bersalaman dengannya.

"Itu sahabat aku Zara, emang agak pendiam dan pemalu sama orang baru" ucap Chelsea yang dibalas anggukan oleh Yuda.

"Kalian masih SMA ya?" tanya pria itu.

"Baru lulus" timpal Chelsea, ia tau Yuda menaruh perhatian pada Zara namun karena tau Zara tak akan merespon pertanyaan pria itu Chelsea memutuskan untuk turun tangan.

"Oh mau kuliah ke mana?" tanya Yuda lagi.

"Di universitas Bima Sakti jurusan fashion design" lagi-lagi Chelsea yang menjawab.

"Wah kebetulan aku juga kuliah di sana, jurusan teknik semester 4" Ucap Yuda bersemangat.

"Za kakak tingkat kita nih, harus ramah sama senior" Ucap Chelsea pada Zara yang membuat Yuda terkekeh.

"Salam kenal kak" Jawab Zara masih tanpa ekspresi namun begitu menggemaskan di mata Yuda.

"Kamu lucu banget, sangat menarik" ucap Yuda sambil tertawa. Sementara Zara hanya mengangguk dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat.

"Iya Zara aslinya menyenangkan kok kak, tapi emang rada pendiam aja. Nanti kalo uda kenal pasti asik orangnya" timpal Chelsea.

Zara memendam kekesalan pada Chelsea yang seolah mempromosikan dirinya. Ia akui Yuda terlihat tampan dan ramah. Namun tidak ada ketertarikan di hati Zara untuk mengenal pria itu lebih lanjut. Ia menulikan telinga nya dari obrolan Chelsea dan Yuda, ia mencoba menikmati makanan nya.

"Chel, pulang yuk" ucap Zara setelah piring nya kosong tak bersisah begitupun piring sahabatnya.

"Bentar dong aku belum abis ni" ucap Yuda yang semakin membuat Zara gusar.

"Ini uda sore, aku harus pulang" Jawab Zara yang membuat Yuda malah tersenyum dan menatap terpesona pada Zara.

"Suara kamu indah banget kalo lagi ngomong" ucap pria itu, Zara tersenyum masam tak berniat menimpali ucapan pria itu. Karena tau Zara sudah tidak nyaman Chelsea akhirnya menyetujui permintaan Zara dan pamit pada Yuda.

"Boleh minta kontak kamu nggak?" Tanya Yuda menghalangi niat Zara dan Chelsea untuk beranjak dari sana.

" Kontak aku aja ya kak" Balas Chelsea sambil menyebutkan nomor ponselnya.

Zara berjalan lebih dulu meski Chelsea masih memberikan kontaknya pada Yuda, ia benar-benar tidak nyaman berada di sana. Namun Zara tersentak kala tatapannya bertemu dengan tatapan tajam pria yang selalu mengganggu perasaan nya.

Affan ada di sana bersama Alya tentu saja. Zara ingin menyapa namun karena Affan engan cepat memalingkan wajahnya membuat Zara mengurungkan niatnya

🍁🍁🍁

Terpopuler

Comments

stela

stela

lanjut

2023-03-02

0

Dien Elvina

Dien Elvina

apakah Affan cemburu dengan Zara, tapi bukankah dia udah pacaran Ama Alya..

2022-12-26

0

nonsk2711

nonsk2711

mgkn Affan lht Zara se meja dgn Yuda,pemikiran nya klo sm Affan jaga jarak tp sm cwo lain ga,byk prasangka nti bs jd cemburu

2022-12-25

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!