Enam

Affan memarkirkan motornya dengan asal setelah tiba di rumah. Ia segera berlari ke dalam rumah tak sabar untuk segera bertemu Zara. Pria itu benar-benar mengkhawatirkan sang adik. Ia tak berani membayangkan bagaimana ia harus menghadapi bunda Rhea andai terjadi sesuatu yang buruk pada Zara.

"Zara, abang pulang! Zara di mana?" panggil Affan. Ia berlari menuju kamar Zara tak peduli pada rasa dingin yang mulai menyelimuti tubuhnya efek terkena hujan dalam waktu yang cukup lama.

Kerika Affan membuka pintu kamar Zara, benar saja pria itu mendapati Zara tengah meringkuk di sudut ranjang sambil memeluk lutut dan menelungkup kan kepalanya. Affan dapat melihat tubuh gadis itu bergetar menandakan ia sedang menangis juga merasa sangat ketakutan.

"Zara ini abang. Abang uda pulang sayang" panggil Affan sambil mengusap rambut sang adik. Namun Zara masih menunjukkan reaksi apa-apa.

"Sayang..." Bisik Affan lagi. Perlahan Zara mengangkat kepalanya, Affan terenyuh melihat wajah pucat yang bersimbah air mata itu. Menyadari kedatangan Affan sontak Zara menghambur ke dalam pelukan pria itu.

"Maaf abang terlambat, harusnya abang pulang lebih cepat" Ucap Affan penuh rasa bersalah sembari memeluk erat tubuh Zara yang masih bergetar.

"Zara tenang ya, ada abang sekarang. Jangan takut lagi oke?" Bisik Affan mengusap rambut Zara dengan penuh kasih sayang. Sementara hujan di luar semakin deras, petir beberapa kali menyambar. Dara semakin memeluk erat Affan dan menyesap kan kepalanya ke dalam dada pria itu tiap kali mendengar suara petir yang menggelegar.

Affan tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Zara andai ia lebih mementingkan kencannya dengan Alya. Ia bersyukur telah mengambil keputusan yang tepat.

Affan memeluk dan menenangkan Zara dalam waktu yang cukup lama hingga perlahan hujan mulai sedikit mereda.

"Ma-maaf bang" Ucap Zara ketika melepaskan pelukan nya setelah dirinya sudah cukup tenang dengan keberadaan Affan di sisinya.

"Jangan takut lagi ya? abang nggak akan ninggalin Zara sendirian" Ucap Affan sambil menangkup kedua pipi Zara lalu menghapus air mata yang membasahi pipinya. Gadis itu mengangguk, ia tak berani bertemu tatap dengan Affan. Mengingat bagaimana dirinya begitu lancang memeluk Affan membuat Zara mengutuki dirinya yang sempat tak terkendali efek rasa takutnya yang berlebihan.

"Ba-baju abang basah, abang kehujanan?" tanya Zara terbata. Ia merasa bersalah karena dirinya sudah membuat Affan menerobos hujan.

"Iya, Zara juga jadi basah" balas Affan terkekeh.

"Sekarang Zara ganti baju dulu ya, nanti masuk angin. Abang juga mau ganti baju" Ucap Affan. Namun tatapan ketakutan di mata Zara membuat pria itu tampak berfikir. meski bibir Zara tak mengatakan apapun Ia tau sang adik takut sendirian dan tak ingin ia tinggal. Apalagi hujan masih belum benar-benar reda.

Affan akhirnya membalikkan badannya ke arah pintu "Abang akan tetap di sini, Zara buruan ganti baju. Jangan takut abang nggak akan lihat" Ucapnya. Zara masih terpaku, tampaknya ia sedikit ragu.

"Tenang aja abang nggak akan ngintip kok Zara, buruan ya. Abang juga mau ganti baju, abang mulai merasa kedinginan" ucap Affan sambil tertawa kecil. Mendengar bahwa Affan kedinginan membuat Zara segera mengambil pakaian di lemari dan menanggalkan pakaian nya yang basah lalu menggantinya dengan baju yang kering dengan cepat. Zara tak ingin Affan sakit hanya karena dirinya.

"Zara uda selesai bang" Affan segera berbalik dan mendapati Zara telah berganti pakaian dengan piyama panjang. Affan akui gadis itu terlihat cantik meski penampilannya terbilang sederhana

"Sekarang ikut ke kamar abang yuk" Affan meraih tangan Zara namun gadis itu mematung dengan sedikit ternganga.

"Jangan mikir macam-macam, abang cuma mau ganti baju. Zara nggak mau kan abang tinggal sendirian di sini" goda Affan yang membuat wajah Zara merah padam.

"Zara nggak mikir macam-macam kok" Elak Zara, ia mati-matian menutupi rasa malunya karena sempat berfikir yang tidak-tidak.

"Yakin nggak mikir yang aneh?" Affan terlihat bersemangat menggoda Zara.

"Ya-yakin. Ayo katanya abang uda kedinginan" Zara memalingkan wajahnya ke sembarang arah. Affan terbahak melihat adiknya yang salah tingkah, namun ia juga merasa lega karena melihat Zara sudah tenang dan tak lagi menunjukkan ketakutan. Ia membawa Zara menuju kamarnya, tangannya mulai merasa kebas akibat rasa dingin yang kian menjadi.

"Zara nggak apa-apa kalau abang tinggal ke kamar mandi? atau Zara mau ikut juga?" Tanya Affan setibanya mereka di kamar pria itu.

"Nggak apa-apa, Zara tunggu di sini aja" jawab Zara cepat. Affan terkekeh lagi melihat reaksi sang adik, ternyata begitu menyenangkan melihat Zara malu-malu dan salah tingkah seperti itu.

Pria itu segera masuk ke dalam kamar mandi untuk membilas tubuhnya dan berganti pakaian. Karena tak ingin Zara menunggunya terlalu lama ia melakukan nya dengan cepat, khawatir Zara akan kembali ketakutan seperti tadi.

Affan tersenyum lega mendapati Zara terlihat baik-baik saja ketika ia telah selesai dengan ritual mandinya. Pria itu melangkah mendekat ke arah sang adik yang duduk di atas ranjang nya.

"Bantuin keringin rambut abang ya" Affan menyerahkan handuk pada Zara. Gadis itu mengangguk pelan.

Affan segera dudu di depan Zara agar gadis itu bisa membantu mengeringkan rambutnya dengan handuk yang ia berikan. Sementara Zara merasa jantungnya berdegup kencang, dengan tangan bergetar ia mulai mengeringkan rambut Affan, ini pengalaman pertama dan berhasil membuat hatinya berbunga-bunga.

"Sudah selesai" Ucap Zara dengan suara yang nyaris tak terdengar ketika dirasa air yang tersisah di rambut Affan sudah hilang.

"Makasih ya" Affan berbalik menghadap pada Zara. Gadis itu tertegun menatap wajah Affan yang terlihat begitu tampan.

"Kamu kok melihat abang kayak lagi terpesona gitu? abang ganteng banget ya?" Zara merasa ingin mengubur diri hidup-hidup karena godaan yang Affan layangkan padanya. Ia kelabakan dan segera memalingkan wajahnya.

"En-enggak" Jawab Zara gugup.

"

Abang nggak ganteng?"

"Ga-ganteng kok" Zara menutup mulutnya yang spontan menjawab.

"Ya ampun kamu lucu banget Zara" Tawa Affan pecah sembari mengacak-acak rambut sang adik. Zara meringis, menyesali kecerobohan dirinya. Tapi ia benar-benar tak berdaya menolak pesona pria itu.

"Oh ya Zara keberatan nggak kalo abang minta tolong?" ucap Affan setelah tawanya mereda.

"Tolong apa bang?"

"Abang lapar, masakin abang mie instan rebus ya?" Affan tiba-tiba merasa tubuhnya tidak begitu fit. Mungkin karena terkena hujan juga karena sempat begitu panik hingga ia baru merasakan efek dari semua itu pada tubuhnya saat kondisi Zara sudah tenang.

"Iya Zara masakin" Ucap Zara sambil mengangguk sembari beranjak dari ranjang. Affan mengikuti langkah sang adik menuju dapur.

🍁🍁🍁

Terpopuler

Comments

Abie Mas

Abie Mas

minta dimasakin

2023-07-24

0

stela

stela

lanjutkan aja

2023-03-02

1

Julio Stevaning

Julio Stevaning

dari manis gini kok nanti bisa berubah

2022-12-22

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!