Dua

"Zara, nanti mungkin abang nggak bisa jemput. Kamu pulang sendiri nggak apa-apa ya?" Ucap Affan sambil melepaskan helm Zara setibanya mereka di sekolah gadis itu. Zara hanya menjawab dengan anggukan kepala. Hal itu sudah biasa bagi Affan juga bunda Rhea, Zara memang tidak terlalu banyak bicara. Apalagi diawal pernikahan bunda Rhea dan ayah Bobi mereka jarang sekali mendengar suara Zara. Namun baik bunda Rhea maupun Affan tak pernah menyerah, mereka selalu bercerita apapun pada Zara meski respon gadis itu hanya anggukan atau gelengan kepala. Jika pun menjawab hanya kata-kata singkat yang terucap.

"Beneran nggak apa-apa?" Tanya Affan lagi, sengaja agar Zara menjawab.

"Iya nggak apa-apa bang" Affan tersenyum karena berhasil membuat Zara mengeluarkan suaranya. Affan memang selalu mengantar jemput Zara sekolah kecuali jika bertabrakan dengan jadwal kuliahnya.

Memiliki anggota keluarga lain selain sang bunda adalah impian nya sejak dulu. Ayah kandungnya dan bunda Rhea telah bercerai sejak ia bayi, Affan tak terlalu paham mengenai penyebab perceraian kedua orang tuanya juga tak berniat bertanya pada sang bunda karena tak ingin membuat bundanya merasa tak nyaman. Ia hanya tau bahwa sang ayah telah memiliki keluarga baru dan seolah tak pernah peduli akan keberadaan nya. Karena itu ketika Zara hadir di hidupnya ia begitu bahagia dan selalu memastikan Zara nyaman bersama mereka.

"Doain abang ya, hari ini abang mau ngungkapin perasaan abang ke cewek yang uda 3 bulan ini abang incar. Nanti abang kenalin ke Zara, dia sangat baik dan juga cantik. Zara pasti suka" Ucap Affan bersemangat hingga tak menyadari perubahan wajah Zara.

"Iya bang, Zara masuk dulu sebentar lagi bel masuk" Ucap Zara yang langsung berjalan tanpa menunggu jawaban Affan.

"Hei Zara, nggak salim dulu sama abang?" protes Affan sambil mengejar dan meraih lengan Zara.

"Maaf Zara lupa" Zara meraih tangan Affan dan meletakkan di keningnya, setelah itu Zara kembali berbalik dan berjalan meninggalkan Affan yang hanya menatap sang adik sambil menggelengkan kepalanya. Meski begitu sikap Zara tersebut sama sekali tak masalah bagi Affan, karena Zara memang selalu seperti itu.

Dengan santai Affan naik ke atas motor nya lalu meninggalkan sekolah Zara menuju kampusnya.

Zara berjalan sambil menundukkan kepalanya, perasaannya berubah kacau. Selama ini Affan selalu menceritakan semua yang ia alami setiap harinya, namun pria itu tak pernah bercerita sedang dekat dengan perempuan manapun. Lalu hari ini tiba-tiba kakak tirinya itu mengatakan sedang mengincar sorang gadis. Zara tak menyangka hatinya akan merasakan sakit yang begitu menusuk, ia merasa tak rela namun juga tak berdaya secara bersamaan. Mendadak Zara kehilangan semangat nya, ia merasa begitu sedih.

"Hei Zara mau ke mana?" Suara teriakan serta tarikan tangan menghentikan langkah Zara. Gadis itu mengangkat kepalanya dan mendapati Chelsea satu-satunya teman yang ia miliki menatap heran padanya. Seketika Zara juga menyadari bahwa ia sudah berjalan melewati kelasnya.

"Makanya kalo jalan jangan sambil melamun Za" Ucap Chelsea sambil menekan kening Zara.

"Aku nggak ngelamun Chel, aku emang mau ke toilet dulu" Elak Zara.

"Toilet juga uda lewat kali Za" Ucap Chelsea karena toilet siswa berada sebelum kelas mereka. Zara memaksakan senyumnya, lalu tanpa bicara berbalik dan berjalan menuju kelas nya.

"Kamu kenapa Zara? kamu lagi sedih ya?" cecar Chelsea sambil berusaha mensejajari langkah Zara.

"Enggak kok" Tak ada siapapun yang Zara izinkan untuk tau tentang perasaan nya. Meski ia dan Chelsea sudah berteman sejak menengah pertama namun Zara tak pernah membagi kisah pribadinya dengan gadis itu apalagi tentang perasaan terlarang yang ia miliki untuk abang tirinya. Sebisa mungkin ia menyimpan perasaan itu rapat-rapat bahkan untuk menulis di buku harian saja Zara tak memiliki keberanian. Rasa yang ia miliki untuk Affan hanya akan ia simpan di hati yang paling dalam.

Namun Zara cukup bersyukur meski ia begitu tertutup Chelsea tak meninggalkannya, gadis itu tetap bertahan di sampingnya meski Chelsea kerap kali mengeluh akan sikap Zara tersebut.

Hari ini Zara benar-benar kehilangan semangat belajar, ia begitu sulit memfokuskan diri pada pelajaran yang diberikan oleh guru. Karenanya Zara merasa sangat lega ketika bel tanda pulang berbunyi.

"Zara kamu dijemput nggak?" tanya Chelsea ketika keduanya berjalan keluar dari kelas. Mendapat pertanyaan Chelsea hati Zara terasa kelu, ia teringat kembali pesan Affan tadi pagi.

"Nggak, aku pulang naik taxi" Ucap Zara lesu.

"Temenin aku cari kado dong buat sepupu aku" Ucap Chelsea.

"Duh Chel maaf banget, tapi aku lagi nggak enak badan" Tolak Zara.

"Nggak lama kok, aku janji" Chelsea mengangkat jari telunjuk dan hari tengahnya. Tatapan penuh harap sahabatnya membuat Zara tak tega, gadis itu terpaksa menyetujui.

"Iya, tapi janji nggak lama" ucap Zara, Chelsea mengangguk dengan semangat.

Chelsea memacu mobilnya menuju pusat perbelanjaan yang tak begitu jauh dari sekolah mereka. Seperti janjinya pada Zara, ia tak berlama-lama memilih kado yang akan ia berikan pada sepupunya, beruntung ia langsung menemukan barang yang cocok yaitu sebuah sling bag yang telah lama diidamkan oleh sang kakak sepupu.

"Karena kamu uda mau nemenin, aku traktir makan ya. Kamu lapar kan?" ucap Chelsea sambil menarik Zara menuju tempat makan tanpa menunggu persetujuan dari gadis itu.

Zara hanya bisa pasrah mengikuti langkah kaki Chelsea. Namun baru saja akan memasuki tempat makan yang dipilih sahabatnya, Zara dibuat terpaku ketika melihat sosok yang ia kenal duduk di sudut kafe tersebut. Affan kakak tirinya ada di sana, tidak sendiri melainkan bersama seorang gadis. Hati Zara berdenyut nyeri melihat Affan menggenggam tangan gadis di depannya, hal itu cukup membuktikan bahwa mereka memiliki hubungan spesial.

"Zara, kok berenti ayo masuk" Ucap Chelsea karena Zara tiba-tiba menghentikan langkahnya.

"Aku mau pulang Chel, perut aku sakit" Zara langsung membalikkan badannya. Ia merasa hatinya tak cukup kuat untuk berada di sana melihat kakak tiri yang ia cintai bersama gadis lain.

🍁🍁🍁

"Jumat lusa tanggal merah kan? jadi besok sore kita mau mengunjungi kakek dan nenek. lumayan bisa 3 hari di sana" Bunda Rhea membuka obrolan di sela makan malam mereka.

Affan menatap pada sang bunda.

"Bun, maaf ya kayaknya abang nggak bisa ikut" Ucapnya dengan raut wajah bersalah. Ini bukan pertama kalinya ia menolak untuk ikut mengunjungi kakek dan nenek yang merupakan orang tua dari ayah bobi yang tinggal di desa. Untuk sampai ke sana mereka harus menempuh perjalanan darat selama kurang lebih 5 jam.

"Kenapa sayang?" bunda Rhea tampak kecewa karena Affan selalu menolak untuk ikut. Selama 7 tahun pernikahan bunda Rhea dengan ayah Bobi, Affan hanya satu kali ikut berkunjung ke desa orang tua ayah Bobi. Setelah itu Affan selalu beralasan ketika kembali diajak untuk mengunjungi mertua dari sang bunda.

"Abang lagi mau mempersiapkan penelitian skripsi abang bun. Maaf ya?" jawab Affan dengan wajah menyesal. Ayah Bobi tampak tak menghiraukan obrolan mereka, ia tetap fokus menikmati makanan di piring nya.

"Zara juga nggak bisa ikut bun" ucap Zara yang membuat Affan segera menatap pada sang adik.

"Lho kenapa Zara jadi ikut-ikutan abang nggak mau pulang ke desa? Zara nggak kangen sama kakek nenek?" timpal bunda Rhea menatap serius pada Zara.

"Senin Zara ada ulangan bun, takut kecapean kalo ikut. Lagian baru bulan kemaren kan kakek dan nenek datang " Jawab Zara. Ia yakin ayah dan bundanya akan mengerti alasan yang ia utarakan karena memang sejak dulu kondisi tubuh Zara tergolong lemah, ia seringkali sakit jika terlalu lelah.

"Ya sudah kalau begitu, ayah dan bunda saja yang pergi" Ucap ayah Bobi setelah makanan di piringnya tandas.

"Zara yakin nggak mau ikut? nggak apa-apa ditinggal?" Tanya bunda Rhea memastikan

"Iya nggak apa-apa bun" Zara tersenyum berusaha meyakinkan.

"Kalo gitu abang harus jagain Zara ya?" Bunda Rhea menatap pada putranya

"Iya bun" Jawab Affan singkat.

"Kenapa abang nggak pernah mau ikut pulang ke desa?" untuk pertama kalinya Zara memberanikan diri bertanya pada Affan setelah kedua orang tua mereka meninggalkan meja makan. Zara sudah lama menyimpan rasa penasaran terkait alasan kakak tirinya itu.

"Bukan sengaja nggak mau, emang waktunya selalu aja nggak tepat makanya abang nggak bisa ikut" Jawab Affan yang sama sekali tak memuaskan hati Zara. Tapi gadis itu tak bertanya lebih lanjut, membiarkan Affan menyimpan alasannya sendiri. Zara tak ingin memaksa jika memang Affan keberatan untuk membagi tau.

🍁🍁🍁

Terpopuler

Comments

Abie Mas

Abie Mas

keberatan

2023-07-24

0

stela

stela

lanjut

2023-03-02

0

Siti Komariah

Siti Komariah

aduuuh..suka sama kaka tiri...sulit ini sih

2023-01-15

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!