Sembilan

"Zara cantik pakai baju itu" Ucap Affan ketika keduanya sama-sama baru keluar dari kamar. Affan tak berbohong, Zara tampak begitu cantik dan anggun dengan mini dress berwarna putih yang ia kenakan. Rambut panjangnya ia biarkan tergerai dengan hiasan bando pita yang juga berwarna putih.

"Makasih bang" ucap Zara, ia memalingkan wajahnya. Tak ingin Affan menyadari wajahnya yang merona. Zara tak bisa mengingkari bahwa pujian yang Affan lontarkan begitu membahagiakan hatinya.

"Kalo abang gimana, ganteng nggak?" Tanya Affan. Zara memejamkan matanya sejenak, pertanyaan Affan membuatnya benar-benar salah tingkah. Namun mau tak mau Zara memandang ke arah Affan, gadis itu menatap Affan dari atas hingga ke bawah. Ia tengah berpura-pura mengoreksi penampilan pria itu.

"Iya, ganteng" Ucap Zara beberapa saat kemudian, tentu saja itu ungkapan tulus dari hati Zara. Karena nyatanya pria itu memang sangat tampan meski penampilannya terlihat santai. Saat itu Affan memakai kaos berkerah yang secara kebetulan juga berwarna putih yang ia padukan dengan jeans panjang.

"Beneran ganteng? kok kita bisa samaan gini pake putih-putih. Nanti pasti banyak yang ngira kita ini sepasang kekasih bukan kakak adik" ucap Affan sambil menaik turunkan alisnya, Affan sepertinya tak menyadari bahwa ucapan tersebut sangat berpengaruh pada hati Zara meski mungkin bagi pria itu apa yang ia ucapkan hanya sebuah candaan. Beruntung bunda Rhea datang membuat Zara benar-benar merasa lega.

"Ayok kalian kenapa lama banget, ayah uda nunggu di mobil dari tadi" ucap bunda Rhea yang langsung mendapat anggukan patuh baik dari Zara maupun dari Affan.

Ketiganya berjalan sedikit tergesa, tak ingin ayah Bobi menunggu terlalu

Bunda Rhea mengambil posisi di sisi ayah Bobi sementara Affan dan Zara duduk kursi belakang.

"Nggak ada yang ketinggalan?" tanya ayah Bobi memastikan sebelum melajukan mobilnya.

"Nggak ada kayaknya mas" jawab bunda Rhea.

Setelah memastikan semuanya aman, ayah Bobi menghidupkan mesin dan melajukan mobil, membawa mereka menuju restoran yang sering mereka kunjungi saat merayakan momen tertentu.

Tak membutuhkan waktu yang lama, mereka akhirnya tiba di restoran yang mereka tuju. Mereka semua bersiap untuk turun.

Affan mengulurkan tangannya ke arah adiknya, ia ingin membantu Zara turun dari mobil. Beberapa kali Zara menghela nafas untuk menetralisir detak jantung nya yang tak menentu atas sikap baik kakak nya.

Ia sungguh kewalahan namun tak juga bisa menyalahkan Affan karena sikap peduli dan penuh perhatian adalah sifat dasar pria itu. Dibesarkan oleh seorang ibu tunggal berhasil membentuk diri Affan menjadi sosok yang berhati lembut.

Affan dan Zara berjalan di belakang bunda Rhea dan ayah Bobi yang saling bergandengan tangan. Sekilas mereka tampak seperti keluarga bahagia yang harmonis.

Pelayan membawa mereka menuju meja yang sudah dipesan oleh ayah Bobi sebelumnya.

Setelah mereka mengambil posisi duduk, pelayan memberikan buku menu.

"Zara pasti mau pesan steak dan kentang goreng kan" Ucap Affan.

"Kok abang tau?" tanya Zara heran.

"Setiap kita makan ke sini kan Zara selalu pesan itu, abisnya di sini kan nggak ada pecel lele" ucap Affan sambil terkekeh. Zara tersenyum sambil mengangguk, Affan memang sangat hafal akan selera maka dirinya, oh tidak sepertinya hampir semua hal tentang Zara abangnya mengetahui dengan baik.

🍁🍁🍁

Affan yang baru pulang menjalani wawancara menghentikan laju kendaraan nya. Pria itu menajamkan penglihatannya, ia seperti melihat ayah Bobi bersama seorang perempuan yang baru keluar dari sebuah restoran. Perempuan yang bersama ayah Bobi sepertinya bukan rekan kerja pria itu di kantor karena Affan melihat sang perempuan bergelayut mesra di lengan ayah tirinya. Rasanya sedekat apapun hubungan pertemanan antar rekan kerja tal akan sampai bersikap demikian, di mata Affan semua tampak terlalu berlebihan. Affan didera rasa curiga namun tak ingin langsung mengambil kesimpulan dari apa yang terlihat. Ia masih berusaha berfikir positif.

Affan memilih untuk menepikan motornya ke tempat yang sedikit lebih tersembunyi, ia menunggu hingga mobil ayah Bobi keluar dari pelataran parkir restoran tersebut. Affan berniat mengikuti pria yang sudah 7 tahun ini hadir dalam kehidupan bunda nya. Ia tak ingin dibuat bertanya-tanya, ia harus mencari tau fakta yang sebenar nya.

Affan berusaha menata hatinya yang begitu kacau, ia berusaha menyingkirkan fikiran buruk yang mencoba menguasai dirinya. Ia terus meyakinkan diri bahwa ayah Bobi tidak mungkin mengkhianati bunda Rhea, Affan bisa melihat sikap baik pria itu pada sang bunda selama ini. Ayah Bobi juga selalu bersikap romantis dan penuh kasih, apalagi mengingat kisah hidupnya yang pernah dikhianati rasanya ayah Bobi tak mungkin tega melakukan hal serupa, ayah Bobi pasti tau bagaimana rasa sakitnya.

Namun semakin jauh Affan mengikuti, keyakinan di hatinya bahwa ayah Bobi tak akan berbuat curang kian pudar. Kekecewaan nya pada pria itu semakin memuncak bahkan mulai mengalirkan rasa benci di hatinya.

Mobil memasuki sebuah komplek perumahan, dan berhenti di salah satu rumah yang tak jauh dari gerbang komplek. Affan menghentikan motornya, ia tetap mengawasi dengan hati-hati agar ayah Bobi tak menyadari keberadaan nya.

Di tengah gemuruh dadanya, Affan mengambil foto ayah tirinya dan sang wanita yang tampak semakin mesra setelah turun dari mobil. Ayah Bobi bahkan melingkarkan tangannya di pinggang wanita berambut ikal tersebut ketika berjalan menuju rumah, saat kecupan mendarat di pipi wanita itu kepercayaan Affan pada ayah Bobi benar-benar musnah sudah, ia tak lagi menahan hatinya untuk membenci pria yang selama 7 tahun ini menjadi ayah tirinya itu.

Affan memutar balik motornya ketika sepasang manusia memuakkan itu tak nampak lagi. Affan memacu motornya dengan kecepatan tinggi, dadanya terasa sesak dan air mata berhamburan tanpa bisa ia cegah.

"Bunda..." lirih Affan ketika wajah sang bunda melintas di benak nya. Affan dilanda gundah, ia tak bisa membiarkan bunda Rhea terus berada di sisi pengkhianat itu, namun ia juga tak tega membayangkan betapa hancur hati wanita tercintanya ketika mengetahui fakta menyakitkan tentang suaminya.

"Kumohon katakan padaku apa yang harus aku lakukan, arrghhh brengsek!" Ceracau Affan semakin cepat memacu kendaraan nya.

Affan tak menyangka ayah Bobi akan tega melakukan hal sekotor itu, melihat bagaimana bahagianya sang bunda semenjak menikahi laki-laki itu, Affan bahkan rela mengorbankan hatinya sendiri. Affan kian tergugu menyadari wanita berharga nya akan terluka dengan sangat dalam.

Tapi merahasiakan fakta ini dari bunda Rhea juga bukan pilihan yang akan Affan ambil, rasa muak dan bencinya pada ayah Bobi sudah melampaui batas toleransinya.

🍁🍁🍁

Terpopuler

Comments

Abie Mas

Abie Mas

bobi cari masalah

2023-07-24

0

stela

stela

tega si km boby😭😭😭

2023-03-02

0

Sri Wahyuni

Sri Wahyuni

s zara yg jdi pelampiasan nya s affan

2023-01-24

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!