Lima Belas

"Zara minta maaf nggak bisa pulang kek, Zara harus kuliah di sini" Ucap Zara pada kakeknya yang meminta Zara untuk pulang ke desa dan tinggal bersama mereka.

"Kamu bisa kuliah di kecamatan Zara, kamu nggak perlu menempuh jarak terlalu jauh" Ucap sang kakek di ujung telefon. Sepertinya kakek Zara mengkhawatirkan keadaan cucunya yang hanya tinggal berdua dengan Affan.

"Jurusan yang Zara mau nggak ada di universitas yang ada di kecamatan kek. Lagipula Zara diterima di universitas terbaik di kota ini, jadi sayang kalau Zara lepas gitu aja" Zara berusaha memberikan pengertian pada kakek dan neneknya. Hari di mana kecelakaan maut menimpa kedua orang tuanya adalah hari pengumuman tes masuk perguruan tinggi dan Zara termasuk salah satu yang beruntung. Sayang hari yang seharusnya membahagiakan itu tertutupi oleh rasa sakit akibat tragedi kehilangan dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya.

"Tapi kamu dan Affan itu orang lain Zara, tidak ada ikatan darah diantara kalian berdua. Apalagi sekarang kedua orang tua kalian sudah meninggal, Sangat tidak baik jika kalian tinggal bersama apalagi cuma berdua" balas pria berusia senja itu.

"Kakek nggak usah khawatir, bang Affan dari dulu sangat baik sama Zara. Meski kami hanya saudara tiri tapi abang memperlakukan Zara seperti adik kandung nya sendiri kek" Zara menutupi hubungannya dan Affan yang saat ini tengah memburuk. Zara juga menutupi fakta bahwa Affan menginginkan kepergiannya dari rumah itu.

"Ya sudah kalau begitu Zara, kalaupun nanti kamu mau pulang kakek akan dengan senang hati menerima kamu, kalau ada apa-apa kamu harus cepat kabarin kakek" ucap kakek Zara menyerah karena Zara begitu kukuh pada keputusannya yang mau tidak mau membuatnya pasrah.

Zara memandangi layar ponselnya setelah panggilan dengan kakek terputus. Tekad Zara benar-benar bulat, saat ini ia hanya ingin tinggal bersama dengan Affan. Ia ingin memperbaiki hubungan nya dengan pria itu dan meluruskan semua kesalah pahaman diantara mereka. Ia tak bisa meninggalkan Affan yang masih memeluk erat luka batinnya. Zara akan merobohkan segala jarak yang ia bangun selama ini, ia bertekad untuk melawan semua doktrin buruk yang ibu kandungnya berikan.

Zara melirik jam di dinding, hari sudah sore mungkin sebentar lagi Affan yang sedang pergi entah ke mana akan pulang. Zara berniat menyiapkan makan malam untuk pria itu.

Zara meletakkan ponselnya, gadis itu segera beranjak menuju dapur untuk memasak makanan yang disukai oleh Affan. Zara berharap kebekuan diantara mereka berdua akan segera mencair, meski tak bisa memiliki cinta Affan sebagai seorang pria setidaknya Zara ingin Affan kembali mencintainya sebagai saudara.

Zara begitu bersemangat meracik bumbu masakan yang akan ia hidangkan untuk Affan, ia merindukan senyum dan tatapan hangat sang kakak, berharap makanan itu mampu membawa kembali senyuman di bibir Affan yang sudah beberapa hari ini menghilang.

Hampir 2 jam Zara berkutat di dapur, ia menghela nafas lega ketika masakannya akhirnya rampung. Zara menata makanan itu di atas meja, menatap dengan puas hasil tangannya yang terlihat menggugah selera.

Setelah memastikan semuanya selesai tanpa ada yang ketinggalan, Zara masuk ke dalam kamar untuk membersihkan dirinya, ia ingin menyambut Affan dengan penampilan terbaik. Semoga usahanya untuk merajut kembali hubungan yang sempat memanas berhasil, ia yakin ayah Bobi dan bunda Rhea akan bahagia di atas sana jika ia dan Affan bisa hidup dengan damai dan penuh kasih sayang.

🍁🍁🍁

Zara mengernyit ketika terbangun dari tidurnya, ia meneliti ruangan ternyata ia berada di dalam kamarnya.

Seingat Zara tadi malam ia menunggu Affan di meja makan hingga jam 10 malam tapi pria itu belum pulang. Setelah itu Zara tak mengingat apa-apa lagi. Tapi Zara tak merasa dirinya berjalan ke kamar tadi malam, apa mungkin Affan yang memindahkannya?

Ketika melirik jam di nakas jarum jam sudah bertengger diangka 6.30, Zara segera bergegas bangkit dari tempat tidur, ia membersihkan dirinya dengan cepat lalu berjalan ke luar menuju dapur. Ia memeriksa meja makan, sebersit rasa kecewa menyusupi hatinya karena masakannya kemaren sore masih utuh. Itu artinya Affan tidak menyentuh makanan yang yang ia buat.

"A-abang mau ke mana?" Tanya Zara saat melihat Affan yang sudah rapi. Pria itu menoleh sekilas namun tanpa menjawab ia melanjutkan langkahnya. Zara mengejar Affan yang hampir mencapai pintu.

"Abang nggak sarapan dulu? makanan yang semalam Zara masak masih bagus belum tersentuh sama sekali. Zara panasin sebentar ya bang" ucap Zara.

"Tidak usah" jawab Affan singkat. Pria itu akan kembali melanjutkan langkahnya tapi Zara kembali menahan nya.

"Tadi malam abang nggak makan, sekarang mau pergi tanpa sarapan. Nanti abang sakit" ucap Zara menatap takut-takut pada Affan yang kini memasang ekspresi kesal padanya.

"Nggak usah sok peduli Zara, urusi saja apa yang menjadi urusan kamu. Oh iya satu lagi, kamu nggak usah repot-repot masak buat aku. Aku bisa urus diri aku sendiri!" Balas pria itu dengan ketus.

"I-iya bang" hati Zara begitu sedih namun ia berusaha menahannya.

"Abang" Panggil Zara lagi yang membuat Affan kembali menatap kesal padanya.

"Apa lagi!?"

"Zara cuma mau izin, nanti siang Zara mau pergi ke kampus" Ucapnya lirih.

"Barusan aku uda bilang kan? silahkan lakukan semua nya sesukamu, nggak usah repot-repot izin segala. Karena aku sama sekali nggak peduli!" ucap Affan penuh penekanan.

Zara menatap sedih pada Affan, pria itu segera memalingkan wajahnya tak ingin bersitatap dengan adiknya tersebut.

Setelah nampak berfikir sejenak, Affan berbalik berjalan ke arah kamarnya, meninggalkan Zara yang masih termangu sendirian. Tidak berapa lama pria itu kembali lagi dan menghentikan langkahnya tepat di hadapan Zara.

"Aku nggak tau kamu butuh berapa untuk biaya daftar ulang dan kebutuhan lainnya, silahkan ambil sesuai keperluan kamu. Nanti aku kirim pin nya" Affan menyerahkan kartu atm pada Zara. Gadis itu tercekat, ia menatap tak percaya pada Affan.

Affan segera pergi sebelum Zara sempat mengucapkan sepatah kata pun. Gadis itu tertegun memandangi kartu atm di tangannya. Hatinya menghangat, meski sikap Affan begitu buruk namun setidaknya pria itu masih sangat peduli akan kebutuhannya. Zara yakin suatu saat kebaikan hati yang saat ini coba Affan sembunyikan akan kembali muncul seperti sedia kala seiring pulihnya luka hati pria itu. Zara semakin yakin pada keputusannya untuk tetap berada di sisi Affan. Tak apa untuk sedikit bersabar menerima sikap buruk Affan saat ini, Zara yakin semua yang pria itu tampakkan saat ini tidak berasal dari dalam hatinya.

🍁🍁🍁

Terpopuler

Comments

km3004

km3004

Kok rada greget ya sama zara, dia bisa ngekost loh kalo emang dia mau kuliah biar biaya nya di tanggung keluarganya, kalo gini jatuhnya bener sih rada ngerepotin Affan secara mereka statusnya udah bukan saudara dan affan gak punya tanggung jawab ke zara dan seakan akan disini cuma dia yg jadi korban sedangkan affan yg jahat. Padahal wajar aja affan masih marah dan kecewa karna secara sadar gak sadar orang tuanya meninggal emang karna keluarga zara kan,ya walopun ajal gaada yang tau ya cuma secara logika emang pure kesalahan dari pihak zara🤷‍♀️

2025-01-27

2

stela

stela

apa yg km harapkan Zara dari nya bisa tertersapai ya 💪💪💪💪

2023-03-02

2

Sri Wahyuni

Sri Wahyuni

s zara ga tau malu

2023-01-24

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!