Sepuluh

Pov Affan

Sejak mulai mengenal dunia, di dalam hidupku aku hanya melihat bunda dan aku merasa kami hidup berdua dengan bahagia. Tak pernah terfikir dalam benak ku bahwa ada yang tak lengkap dari hidupku, cukup dengan bunda ada di sisiku aku merasakan kesempurnaan itu.

Namun saat kakiku menapaki jenjang pendidikan sekolah dasar aku mulai sadar diriku berbeda, ketika hampir semua teman-teman di sekolah ku diantar jemput secara bergantian oleh ibu dan ayahnya maka aku hanya bundaku saja. Ketika teman-teman bercerita tentang ayah maka kisah yang tercetus dari bibirku hanya seputar bunda.

"Ayah kamu mana? kok bunda kamu terus yang antar jemput" bukan hanya sekali pertanyaan itu terlontar dari bibir teman-temanku. Jika sudah begitu aku hanya bisa tersenyum dan mengalihkan pembicaraan.

Meski demikian adanya namun entahlah lidah ini terlalu kelu untuk bertanya pada bunda kenapa teman-teman ku memiliki 2 orang tua sementara aku hanya satu. Aku merasa pertanyaan ku hanya akan menghilangkan senyum di bibir bunda. Lagipula aku merasa baik-baik saja, lalu kenapa aku harus memikirkan sesuatu yang hanya akan membuatku tidak bersyukur atas kebahagiaanku yang terasa sempurna dalam ketidak sempurnaan ini.

Tahun-tahun berganti, semakin besar aku mulai menginginkan sosok seorang ayah hadir dalam hidupku dan bunda. Apalagi saat ada tugas sekolah yang harus menceritakan tentang anggota keluarga.

"Bun sifat ayah gimana?" Untuk pertama kalinya pertanyaan tentang sosok pria bergelar ayah meluncur dari bibirku, namun pertanyaan itu semata hanya untuk mengisi tugas sekolah ku. Aku kesulitan menggambarkan sosok yang tak pernah hadir di hidupku tersebut. Diam-diam aku menantikan dengan tidak sabar jawaban dari pertanyaan itu, ku teliti wajah bunda yang tampak berusaha santai dengan pertanyaan yang aku lontarkan.

"Tulis aja baik, pekerja keras dan penyayang" balas bunda sambil tersenyum.

"Apa ayah memang baik dan penyayang bun?" Tanyaku sambil menulis agar bunda tak dapat melihat luapan rasa ingin tau di mata ku tentang ayahku.

"Iya ayah orang yang baik sayang" ucap bunda sambil mengusap punggungku.

"Terus kata bunda ayah itu penyayang, apa ayah juga sayang sama Affan?" Tanyaku lagi.

"Tentu saja"

"Tapi kenapa ayah nggak pernah datang ke sini dan menemui Affan kalau ayah memang sayang?" tanyaku akhirnya.

"Ayah sibuk cari uang" Jawab bunda. Tapi aku pernah tak sengaja mendengar bunda bercerita dengan temannya bahwa bunda selalu berusaha untuk mempertemukan aku dengan ayah, tapi ayah selalu beralasan untuk menerima permintaan bunda tersebut. Karena nya di usia ku yang sudah menginjak angka 9 tahun aku belum pernah bertemu secara langsung dengan ayah, aku tau wajah dari foto yang bunda perlihatkan padaku.

"Bun, kalo deskripsi adik Affan jawab apa?" Aku langsung beralih pada soal selanjutnya, mengusaikan pembahasan tentang ayah. Karena belakangan hatiku merasa tak nyaman ketika sudah memikirkan tentang pria itu, ada rasa rindu akan kehadirannya namun juga rasa kecewa yang juga turut serta.

"Kosongin aja nak, kan emang kenyataan nya Affan nggak punya adik" Jawab bunda.

Jawaban bunda membuat setitik rasa kecewa di hatiku, tapi aku cepat-cepat menepisnya. Tapi salahkah jika aku berharap memiliki keluarga yang lengkap? tidak hanya ada aku dan bunda.

"Ehem atau enggak tulis aja tentang adik Sera" Ucap Bunda sambil mengulum senyum.

"Nggak mau!" Aku langsung mencebik malas, Sera adalah anak dari ayahku bersama istri barunya yang sering kami lihat di media sosial. Andai ayah tak mengabaikan ku, mungkin aku bisa menerima Sera sebagai adikku.

"Bun, Affan nggak apa-apa kalau bunda mau menikah lagi. Supaya Affan bisa punya adik" Ujar ku pada suatu ketika, bunda hanya menanggapinya dengan tertawa. Bunda mengira aku hanya bercanda.

Namun aku selalu meyakinkan bunda untuk mencari pengganti ayah meski nampaknya bunda belum berniat membuka hati.

Menginjak usia 14 menjelang 15 tahun aku begitu bahagia ketika bunda mulai dekat dengan seorang laki-laki, aku sangat bersemangat itu artinya aku akan segera memiliki ayah. Aku sudah tidak sabar untuk menunjukkan pada teman-temanku bahwa aku memiliki ayah, aku akan meminta ayah mengantarku ke sekolah setiap hari.

Aku sudah membayangkan hari-hari indah setelah kehadiran ayah, aku bisa bermain bola, mengobrol atau berdebat dengan ayah, bahkan meski aku bukan anak kecil lagi, aku masih berharap bisa bercanda seperti anak-anak yang sering aku lihat bersama ayah nya. Aku akan segera merasakan momen hangat yang selama ini hanya bisa aku saksikan dengan rasa iri.

"Namanya om Bobi, dia punya anak namanya Zara, usianya 10 tahun. Affan yakin mengizinkan bunda menikah lagi?" Tanya bunda ketika itu.

"Jadi selain ayah Affan juga akan langsung memiliki adik?" Tanyaku antusias. Aku yakin bunda dapat melihat binar kebahagiaan di mataku.

"Iya" Ucap bunda sambil mengangguk.

"Affan uda nggak sabar bun, jadi kapan bunda akan menikah?" tanyaku, kulihat bunda tersenyum malu-malu.

"2 bulan lagi" jawab bunda. Aku berfikir sejenak, menghitung rentang waktu menuju kehidupan sempurnaku.

"Kelamaan bun, kenapa nggak dipercepat aja?" Bunda terkekeh lagi.

"Banyak yang harus disiapkan sayang" Bunda memelukku dan mengusap punggungku.

"Bunda tetap akan menyayangiku walaupun sudah memiliki suami dan anak yang baru nanti?" Tanyaku, hampir 15 tahun kami hanya memiliki satu sama lain. Aku rasa sangat manusiawi jika aku tiba-tiba merasa takut.

"Bunda membuka hati semata karena ingin Affan merasakan hidup yang lengkap. Affan tetap prioritas bunda, kalau Affan minta bunda untuk batalin pernikahan bunda nggak keberatan" Ucap bunda menatap dalam padaku

"Affan nggak keberatan bun, Affan malah sangat bahagia" Jawabku sambil tersenyum.

Hari di mana bunda melepas status janda nya adalah hari terbahagia dalam hidupku, mungkin begitu juga bagi Zara adikku meski Zara hanya diam saja dengan ekspresi datar nya. Yah sejak pertama bertemu Zara sudah seperti itu, mungkin adikku adalah sosok yang sangat pemalu.

Kami bahkan tidur berempat di malam pertama setelah ayah dan bunda meresmikan hubungan mereka. Kata bunda agar kami bisa merasakan kehangatan keluarga yang lengkap. Untuk malam seterusnya barulah kami tidur di kamar masing-masing.

Harapanku untuk kebahagiaan keluarga baru kami membumbung setinggi langit, aku berfikir bahwa kebahagiaanku begitu sempurna dan aku tak akan pernah lagi merasakan kehampaan atau kesepian.

Bukankah demikian adanya? Dulu aku hanya memiliki bunda dan sekarang aku memiliki ayah dan seorang adik yang cantik bahkan aku juga memiliki kakek dan nenek dari pihak ayah Bobi, bukankah kasih sayang yang akan aku terima nantinya begitu berlimpah?

🍁🍁🍁🍁

Terpopuler

Comments

Abie Mas

Abie Mas

sirna harapan

2023-07-24

0

Julio Stevaning

Julio Stevaning

impian tak seindah kenyataan

2022-12-22

3

d'she wu

d'she wu

akh..betul sekali fan 👌🏻 krn mungkin jika kau tanyakan hanya akan menambah beban pikiran bundamu 😔

2022-12-21

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!