Zara ingin segera kembali ke kamarnya, takut tak bisa menahan perasaan nya yang terluka karena ucapan Affan. Namun apa yang Affan lakukan selanjutnya membuat Zara terpaksa mengurungkan niatnya, pria itu mengeluarkan sebuah kado berwarna jingga dengan pita manis menghiasinya.
"Semoga Zara suka, maaf hanya hadiah kecil. Zara tau sendiri abang belum kerja jadi belum bisa kasih hadiah yang mahal. Doain skripsi abang lancar dan cepat wisuda supaya bisa cari kerja. Kalo abang uda kerja nanti abang akan kasih semua yang Zara minta" ucap Affan.
"Tapi abang beli kado itu dari hasil abang bikinin tugas kuliah teman, jadi bukan uang dari minta ke bunda" Ketulusan Affan membuat Zara tak bisa mencegah hatinya untuk tidak terharu.
"Makasih bang" Zara menerima bingkisan yang Affan berikan, gadis itu memandangi kotak yang tak terlalu besar yang kini berada di tangannya.
"Sama-sama Zara, ayo dibuka" Ucap pria itu. Zara mengangguk, tangan mungilnya mulai membuka kotak tersebut. Sudut bibir Zara terangkat membentuk senyuman melihat sebuah jam tangan imut berbentuk prisma berwarna biru sesuai dengan warna kesukaan gadis itu.
"Zara suka?" mata Affan berbinar, pria itu tampak bahagia melihat ekspresi Zara yang menunjukkan bahwa gadis itu menyukai hadiah pemberiannya.
"Suka, makasih bang" Zara tersenyum, terlihat begitu manis. Affan memandang lekat sang adik, pria itu tampak terpana. Karena melihat senyum Zara yang setulus dan selepas ini adalah momen yang cukup langka.
"Abang senang kalau Zara suka. Nggak sia-sia Abang begadang ngerjain tugas teman supaya bisa beliin kamu hadiah itu" ucap Affan bersemangat. Hati Zara terenyuh, sikap Affan membuatnya terperosok semakin dalam pada perasaan cinta nya. Hatinya berbunga namun terluka secara bersamaan kala tersadar bahwa semua pengorbanan yang Affan lakukan tak lebih hanya pengorbanan seorang kakak pada adiknya.
"Harusnya abang nggak perlu repot melakukan itu" lirih Zara, menatap sendu pada Affan.
"Nggak apa-apa sayang, sudah kewajiban abang menyenangkan hati Zara" Darah Zara berdesir cepat mendengar panggilan sayang dari pria itu, ia segera menunduk menyembunyikan rona kemerahan di wajahnya. Jantungnya semakin berdebar ketika Affan meraih tangannya, ternyata pria itu memasangkan jam tangan itu ke pergelangan tangannya.
"Cantik, sangat cocok di tangan kamu Zara" Ucap Affan, Zara begitu sulit mengontrol perasaannya apalagi Affan tak kunjung melepaskan tangannya.
"Oh ya Zara, pada ulang tahun kali ini apa yang Zara minta dalam doa Zara barusan?" tanya Affan tampak penasaran. Zara tersenyum tipis dengan mata menerawang.
'Meminta agar perasaan Zara pada abang berubah sebagaimana seharusnya. Zara berharap bisa mencintai abang sebagai adik kepada kakaknya' ucap Zara di dalam hati.
"Rahasia ya?" Tanya Affan karena Zara hanya membisu. Zara menggeleng, gadis itu tersenyum tipis pada Affan.
"Zara berdoa semoga keluarga kita selalu utuh dan bahagia seperti saat ini, selalu saling menjaga dan menyayangi satu sama lain" Ucap Zara, kening Zara berkerut menangkap ekspresi aneh abang tirinya itu. Ia melihat senyum Affan tampak dipaksakan. Lalu pria itu memalingkan tatapannya dari Zara seolah tengah menyembunyikan sesuatu.
"Sudah malam, Zara lanjutin tidurnya ya. Abang doakan semoga semua yang menjadi harapan Zara dikabulkan oleh Tuhan" Ucap Affan beberapa saat kemudian. Seperti biasa Zara hanya mengangguk.
Affan menarik tubuh Zara ke dalam dekapannya dan mencium puncak kepala gadis itu.
"Mimpi indah ya" Bisik Affan sambil mengusap pipi Zara setelah melepaskan dekapannya. Zara benar-benar limbung mendapat perlakuan tiba-tiba dari Affan, kakinya terasa begitu lemas. Namun ia memaksa menyeret langkahnya menjauh dari pria itu, agar Affan tak mencurigai respon aneh dirinya.
🍁🍁🍁
"Al, aku harus pulang. Nonton nya kita tunda besok sore aja ya?" ucap Affan pada Alya, padahal mereka tinggal menunggu 30 menit lagi film yang mereka pilih akan diputar. Pria itu juga tampak mengetik pesan di ponselnya.
"Kok gitu si kak? film nya kan sebentar lagi diputar" Tanya Alya yang tampak kecewa karena Affan tiba-tiba membatalkan rencana menonton mereka.
"Di luar uda gelap banget Al, adik aku sendirian di rumah. Dia takut hujan lebat apalagi petir. Maafin aku ya Al? aku janji besok kita nonton lagi" Affan memaklumi jika gadis yang baru 2 hari resmi menjadi pacarnya itu kecewa karena ini adalah kencan pertama mereka, namun ia malah membatalkannya.
Tapi Affan benar-benar tak tenang jika membiarkan Zara sendirian di rumah dalam cuaca buruk seperti ini. Bunda Rhea pernah bercerita kalau Zara ada trauma terhadap hujan dan petir, karena Zara pernah ditinggal sendirian di rumah oleh ibunya pada malam hari dalam kondisi hujan lebat yang disertai petir. Zara hanya bisa memeluk baju sang ayah sambil menangis dalam ketakutannya.
"Emang nggak ada siapa-siapa yang bisa diminta buat nemenin dia?" Affan menggelengkan kepalanya.
"Aku uda kirim chat ke Zara minta ditemenin Chelsea sahabatnya. Tapi Chelsea lagi liburan bareng keluarganya" Ucap pria itu berusaha memberikan pengertian pada sang pacar.
"Ya udah mau gimana lagi,kita pulang aja kalo gitu" Ucap Alya dengan berat hati.
"Oh ya Al, berhubung sebentar lagi hujan. Kamu pulang naik taxi online nggak apa-apa ya? kalau ikut aku naik motor takutnya kehujanan di jalan" Ucap Affan dengan raut wajah bersalah. Alya terlihat menghela nafas untuk mengusir rasa kesalnya.
"Iya" Jawab Alya singkat, Affan tau Alya benar-benar kesal padanya. Tapi ia tak bisa membuang waktu untuk membujuk kekasihnya saat ini. Nanti setibanya di rumah setelah memastikan Zara aman Affan berniat untuk menelfon dan meminta maaf pada kekasihnya.
"Maafin aku ya Al, aku duluan" Ucap Affan sambil mengusap rambut Alya. Pria itu mengeluarkan dua lembar uang kertas berwarna merah di dompetnya dan memberikan pada gadis itu. Pria itu bergegas menuju parkiran motornya meninggalkan Alya yang menatap kecewa padanya.
Buru-buru Affan memacu motornya membelah jalanan dengan kecepatan tinggi. Affan berusaha untuk segera sampai di rumah sebelum hujan turun. Affan tidak ingin adiknya ketakutan, juga tak ingin sang bunda kecewa karena ia tak menepati janji untuk menjaga adiknya dengan baik selama kedua orang tua mereka tak di rumah. Mengecewakan bunda Rhea dan membuatnya sedih adalah hal yang tak akan pernah Affan lakukan. Karena bunda Rhea adalah segalanya bagi pria itu.
Namun sial, masih setengah perjalanan hujan turun dengan deras mengguyur bumi. Dalam sekejap tubuh Affan basah kuyup. Namun pria itu sama sekali tak berniat menghentikan kendaraan nya. Ia semakin memacu motornya menembus hujan. Ia hanya ingin segera sampai ke rumah, rasa dingin yang menyapa tubuhnya pun sama sekali tak ia gubris. Bayangan wajah Zara yang tengah meringkuk ketakutan di rumah membuat Affan mengabaikan semuanya.
🍁🍁🍁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Abie Mas
hujan
2023-07-24
0
stela
lanjut kepo ni
2023-03-02
1
Siti Komariah
aduubduuuhhhh..masa iy saling nyimpen oerasaan sih🙄🙄
2023-01-15
1