Zara menghela nafas lelah ketika membuka pesan yang ibunya kirimkan. Selama 7 tahun ini Zara hidup dalam tekanan ibunya meski raga mereka jauh terpisah.
Ibunya berhasil mengontrol dan merampas kebebasan Zara lewat pesan-pesan yang ia kirimkan sejak hari pertama ia dipertemukan oleh sang ayah dengan bunda Rhea.
"Zara seneng ya mau punya ibu baru, nanti pasti lupa sama ibu kandung yang sudah melahirkan Zara. Ya nggak apa-apa lupain aja, anggap tak pernah memiliki ibu karena di mata Zara ibu adalah wanita yang jahat kan?"
Entah sudah berapa ribu pesan bernada serupa yang ibunya kirimkan sepanjang 7 tahun ini. Di satu waktu ibunya mengatakan jangan hubungi dia lagi, namun di saat Zara tak mengabarinya beberapa jam saja ibunya akan mengirimkan pesan lainnya yang akan menyudutkan gadis itu.
"Zara sudah benar-benar melupakan ibu ya? kenapa nggak pernah telfon ibu? kenapa nggak balas pesan ibu? Zara nggak kangen sama ibu, ingat Zara ibu ini adalah ibu yang bertaruh nyawa untuk melahirkan mu ke dunia ini"Ibunya benar-benar berubah menjadi sosok yang labil dan kekanakan.
Nyatanya pesan-pesan memuakkan itu tanpa sadar berhasil membuat Zara merasa harus tetap menjaga jarak dengan bunda Rhea meski sang bunda telah begitu baik dan selalu berusaha mengambil hatinya.
Pesan manipulatif yang ibunya kirimkan membentuk Zara menjadi sosok tertutup dan pendiam, sudut hatinya seolah menghakimi dan memvonis dirinya sebagai anak yang durhaka andai ia merasa bahagia dan menikmati hidup bersama keluarga barunya. Karena itu Zara terus menerus membentengi hatinya agar tak terpengaruh pada kebahagiaan serta kehangatan yang keluarga barunya ciptakan.
Zara tak mengerti kenapa ibu yang telah melahirkannya itu begitu tega menekannya agar tak memberikan ruang pada sosok lain yang coba masuk dalam kehidupan Zara. Padahal saat mereka bersama dulu, sang ibu selalu sibuk sendiri dan tak pernah menunjukkan kasih sayang padanya. Namun sekarang wanita itu bersikap seolah-olah menjadi ibu terdzolimi yang dicampakkan oleh putrinya.
Zara pernah memblokir nomor ibunya karena merasa tak kuat lagi dengan teror-teror yang ia kirimkan, namun sang ibu selalu saja mencari cara agar tak pernah putus komunikasi dengannya, Zara benar-benar dibuat tak bisa berkutik. Karena itu Zara hanya bisa pasrah pada keadaan ini.
"Zara, abang baru ingat kalau abang belum cerita sama kamu" Zara terhenyak saat tiba-tiba Affan sudah duduk di sampingnya yang tengah menikmati udara malam di teras rumah. Zara segera memasukkan ponsel yang sejak tadi hanya ia pandangi ke dalam saku piyama nya.
"Cerita apa?" tanya Zara saat Affan tak kunjung memulai pembicaraan lagi. Hal seperti ini sama sekali tak asing bagi Zara, karena Affan memang selalu mengajaknya bercengkrama saat ada kesempatan.
"Tentang gadis yang abang ceritakan ke kamu tadi siang" jawab Affan bersemangat, wajahnya terlihat berbinar, tentu saja hal itu sangat bertentangan dengan apa yang Zara rasakan. Sungguh Zara tak ingin mendengar cerita Affan yang ia yakini akan sangat menyakiti hatinya, namun Zara tak mampu untuk menyatakan penolakannya.
"Namanya Alya, dia adik tingkat abang di kampus. Anaknya pintar dan cantik, yang paling penting dia gadis yang baik. Abang yakin kamu akan cocok berteman sama Alya. abang juga sering cerita tentang kamu ke dia. Dan kabar baiknya abang diterima Zara, Alya bersedia jadi pacar abang" ucap Affan antusias. Zara memalingkan wajahnya, takut Affan akan menyadari luka yang begitu sulit ia sembunyikan karena setiap kata yang Affan ucapkan bagai torehan pisau tajam yang merobek hatinya dengan kejam.
"Besok abang kenalin Zara deh, mau ya abang kenalin?" Tanya Affan, pria itu terlalu fokus pada bunga-bunga cinta yang tengah bermekaran di hatinya hingga ia tak peka pada pancaran mata Zara yang penuh luka.
"Iya, Zara pamit ke kamar ada tugas yang harus Zara kerjakan" ucap Zara langsung beranjak dari duduk nya. Mati-matian ia menahan air mata yang sedikit lagi akan tumpah.
Zara sadar cepat atau lambat luka ini akan ia rasakan karena nekat menaruh hati pada kakak tirinya sendiri, terlebih pria itu begitu menyayanginya sebagai seorang adik. Namun Zara tak pernah menyangka rasanya akan sesakit ini.
Zara menghempaskan tubuhnya di ranjang, air mata yang ia tahan kini menyeruak dengan bebas mencumbu setiap bagian wajahnya.
"Kamu berharap apa dari perasaan mu itu? berharap bang Affan membalas perasaanmu? pernahkah kamu berfikir tentang perasaan ayah dan bunda jika tau kegilaan yang kamu lakukan ini Zara! Sejak awal kamu sudah tau konsekuensi dari perasaan mu ini!" Zara memaki dirinya agar segera tersadar dari kesalahan yang tengah ia lakukan.
🍁🍁🍁
"Zara beneran nggak mau ikut ke rumah nenek" Tanya bunda Rhea saat sedang mempersiapkan perlengkapan untuk mengunjungi mertuanya. Zara menggelengkan kepalanya. Di satu sisi ia ingin menghindar sejenak dari Affan namun di sisi lain ia juga tak bersemangat jika harus berjarak dengan pria itu.
"Kalau Zara butuh apa-apa jangan takut bilang sama abang ya?" Ucap bunda Rhea lagi.
"Iya bun" balas Zara.
"Sudah siap belum sayang?" Ayah Bobi yang baru selesai menyiapkan mobil mendekati istri dan putrinya.
"Sudah mas, tapi berangkatnya nunggu Affan pulang dulu ya. Dia uda di jalan katanya" Bunda Rhea memasukkan barang terakhir ke dalam tas.
"Kita berangkat sekarang aja, takut kemalaman" Ayah Bobi mengangkat barang yang akan mereka bawa. Zara dan Bunda Rhea mengikuti langkah pria itu menuju mobil yang sudah terparkir di depan rumah.
"Kasihan Zara sendirian kalo nggak nunggu Affan dulu"
"Nggak apa-apa bun" jawab Zara, ia berusaha meyakinkan bunda Rhea agar tak khawatir akan kondisi dirinya.
"Iya sayang, Zara bukan anak kecil lagi. Affan juga pasti akan segera sampai" timpal ayah Bobi uanh mau tidak mau membuat bunda Rhea setuju.
"Baiklah kalo gitu, bunda sama ayah pergi dulu ya sayang. Ingat kalau butuh apa-apa bilang aja sama abang" Bunda Rhea memeluk dan mencium Zara dengan tulus. Zara bisa merasakan betapa bunda Rhea menyayanginya. Terkadang ia merasa bersalah karena terus menjaga jarak dari wanita baik itu. Namun tiap kali ia ingin mencoba untuk meruntuhkan tembok yang ia bangun, pesan-pesan manipulatif ibunya berputar-putar memenuhi benaknya hingga membuat ia kembali menciptakan jarak.
"Ayah dan bunda hati-hati di jalan" Ucap Zara setelah bergantian memeluk kedua orang tuanya.
Mata Zara tak lepas menatap mobil kedua orang tuanya yang mulai bergerak meninggalkan pekarangan rumah. Ini kali pertama ia tinggal berdua saja dengan Affan, membayangkan hal itu wajah Zara terasa memanas dan jantungnya berdegup cepat.
🍁🍁🍁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Abie Mas
hati2
2023-07-24
0
Ning Vian
sabar ya bunda Rhea
2023-04-17
0
Staylish Immo
angel wes angel..
2023-04-13
0