Dua Belas

Affan menyeret langkahnya dengan lunglai memasuki rumah, jiwanya terasa hampa dan kosong. Rasa kecewa dan marah teramat sulit untuk ia redakan. Affan telah mengikhlaskan jalan hidupnya yang tak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ayah, melupakan semua impian-impian nya asalkan sang bunda bahagia. Namun ia tak akan bisa menerima jika sang bunda terkhianati. Bunda Rhea terlalu tulus untuk menerima perlakuan sekeji itu.

Zara yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan Affan menatap sendu pada pria itu, perasaannya berkecamuk tak menentu. Perlahan Zara mulai menyadari hubungan ayahnya dengan Affan memang tidak terlihat layaknya seorang ayah dan anak, ayah tak pernah menunjukkan perhatiannya pada Affan seperti ayah memperhatikan dirinya. Secercah rasa bersalah menyusupi hatinya, jika dirinya bisa mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari orang tua lengkap ternyata Affan tidak merasakan hal serupa. Affan tidak mendapatkan perlakuan yang adil.

Zara menangkap keterkejutan Affan atas keberadaan dirinya.

"Kamu kenapa nggak ikut pulang?" tanya Affan, Zara terganggu dengan nada bicara Affan yang datar dan dingin, tak seperti selama ini. Tak ada senyuman sedikitpun di bibir pria itu, bahkan Affan menggunakan kata 'kamu' kata yang tidak pernah digunakan abang tirinya tersebut selama ini. Biasanya Affan akan menyebut namanya di saat berbicara.

"Zara ketinggalan" Karena terlalu kaget dengan apa yang ia dengar dan ia saksikan Zara hanya bisa terpaku menonton apa yang terjadi, hingga lupa bahwa seharusnya ia mengejar langkah ayah Bobi dan bunda Rhea.

Tanpa merespon, Affan melanjutkan langkah menuju kamarnya.

"Abang apa benar ayah bersama perempuan lain?" tanya Zara yang berhasil menghentikan langkah Affan. Pria itu membalikkan badannya, menatap Zara masih tanpa ekspresi.

"Menurutmu?"

"T-tapi ayah pernah merasakan sakitnya dikhianati bang, rasanya nggak mungkin ayah akan melakukan kesalahan yang ia sudah sangat tau bagaimana rasanya" ucap Zara, selama ini ayah adalah sosok sempurna tanpa cela di mata Zara, maka ia tak bisa menelan mentah-mentah kecurigaan Affan yang bisa saja terjadi karena kemarahan pria itu pada ayahnya.

Affan tersenyum sinis "Lantas apa menurutmu aku yang mengada-ada? apa menurutmu aku akan tega menyakiti hati bunda ku, satu-satunya harta yang aku miliki dengan mengatakan lelucon semacam itu? tapi aku tidak akan pernah memaksamu untuk percaya karena dia adalah ayah mu" Affan melanjutkan langkahnya, fikiran buruk mengambil alih diri Affan. Jika selama ini dia begitu menyayangi Zara berbeda dengan saat ini, Affan merasa Zara sama saja dengan ayah Bobi. Gadis itu tidak pernah menerima dirinya, jika selama ini Affan memaklumi sifat pendiam Zara namun kali ini ia menyimpulkan berbeda. Dingin nya sikap Zara selama ini bisa saja karena gadis itu memang tak menganggap keberadaan nya. Affan tersenyum getir, mungkin dirinya memang seburuk itu hingga tak ada yang mau menerima keberadaan nya selain bunda. Bahkan ayah kandung nya saja tak peduli. Kepercayaan diri Affan merosot tajam, benarkah ia tak pantas diterima dengan baik?

Sementara itu Zara terpaku menatap punggung Affan yang semakin menjauh darinya. Hatinya begitu perih, di satu sisi ia ingin mempercayai ucapan Affan namun di sisi lain begitu sulit baginya untuk percaya bahwa sang ayah akan melakukan apa yang Affan tuduhkan. Tapi mata Affan terlihat penuh luka, tak nampak sedikit kebohongan di sana. Zara benar-benar dilanda gundah.

🍁🍁🍁

Jiwa Affan remuk, dunianya seakan tamat. Tubuhnya hampir ambruk ketika mendapati sang bunda terbujur kaku di kamar jenazah rumah sakit. Beberapa menit yang lalu ia mendapat kabar bahwa bunda Rhea dan ayah Bobi mengalami kecelakaan dalam perjalanan pulang setelah 2 hari mengunjungi nenek Zara. Kecelakaan itu merenggut nyawa keduanya.

Pukulan berat yang Affan rasakan membuat pria itu bahkan tak bisa mengeluarkan suaranya. Ia hanya bisa menatap terpaku dengan pandangan mengabur wajah bunda yang selama ini selalu berseri dan penuh senyum kini hanya membeku dengan bibir pucat dan mata terpejam. Affan sungguh tak kuat menerima kenyataan ini, rasanya ia ingin mengakhiri hidup detik ini juga.

Affan merasa tenggorokan nya begitu sakit hingga untuk bernafas pun susah. Kenangan masa kecil bersama bunda berputar-putar dalam benaknya, air mata pria itu berhamburan dan nafasnya tersengal.

Ia benar-benar tak sanggup menerima kenyataan pahit ini. Ia ingin menentang takdir dan menukarnya dengan apapun asal bundanya tetap di sisinya.

"Affan uda bilang jangan pergi kan bun, dia jahat kenapa bunda masih menuruti dia bun. Dia merebut bunda dari sisi abang, katakan abang harus bagaimana sekarang bun? abang sendirian di dunia ini. Bunda tau kan di dunia ini abang nggak punya siapa-siapa selain bunda" Keluh Affan terbata, kata-kata yang ia ucapkan terasa berhenti di tenggorokan. Pria itu terus menangisi wanita yang begitu ia cintai itu. Affan dilanda penyesalan yang dalam, andai 2 hari yang lalu ia berjuang lebih keras melarang bunda nya pergi pasti kejadian menyakitkan ini tak perlu terjadi. Saat ini ia pasti masih bisa merasakan dekapan hangat wanita yang teramat ia cintai itu.

Tak jauh berbeda dengan Affan, Zara terisak di hadapan jenazah ayahnya. Begitu banyak kepahitan yang sudah ia lewati, ia begitu tegar namun kali ini rasa pahit itu terasa berkali lipat hingga membuat Zara merasa tak ingin hidup lagi, ia merasa hancur dan remuk. Malaikatnya telah pergi untuk selama-lamanya. Tubuhnya terasa begitu lemah, gadis itu hanya mampu berbisik memanggil-manggil sang ayah. Zara merasa dunianya begitu kelam, tak berani membayangkan bagaimana ia akan menjalani hidup tanpa ayahnya.

Zara beralih menatap pada bunda Rhea, rasa bersalah membuncah memenuhi dadanya.

'Maaf tak sempat menjadi putri yang baik untuk bunda, maaf sering mengabaikan perhatian dari bunda' andai ia tau kebersamaan mereka tidak akan berlangsung lama Zara akan berusaha membuka hati seluas-luasnya untuk bunda Rhea, ia tak akan membiarkan doktrin ibu kandungnya menguasai dirinya. Kini Zara hanya bisa memohon pengampunan atas sikapnya yang terkesan menutup diri dari semua kebaikan bunda Rhea padanya.

Hati Zara kian hancur saat mendapati Affan hanya terpaku menatap sang bunda dengan air mata yang mengalir deras. Ingin sekali rasanya memeluk pria itu, berbagi kepedihan berdua. Zara tak menampik ada rasa bersalah pada Affan, pria itu menahan penderitaan selama bertahun-tahun semenjak kehadiran dirinya dan sang ayah, lalu sekarang satu-satunya harta berharga yang pria itu miliki telah terenggut darinya.

Zara semakin takut melanjutkan hidupnya, ia tidak hanya harus menanggung kesedihan atas kehilangan ayah dan bunda Rhea namun ia juga harus merasakan penyesalan yang dalam terhadap bunda dan Affan.

🍁🍁🍁

Terpopuler

Comments

yourfreyaa_

yourfreyaa_

udh gue duga

2023-05-07

1

stela

stela

😭😭😭

2023-03-02

0

Nur Yanti

Nur Yanti

duh kayanya hidup zara tragis apalagi selanjut affan akan menyakitinya..

2023-01-11

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!