Affan menatap sekilas pada Zara yang meringkuk di kursi teras saat pria itu akan pergi ke rumah Alya, ia berencana mengajak Alya kencan mumpung week end. Pria itu mengernyit, sudah 2 hari sejak kedatangan ibu kandungnya Zara kembali ke dalam mode diam nya. Gadis itu terlihat banyak merenung dan melamun.
Affan ingin menyapa namun ia mengurungkan niatnya. Ia menepis segala tanya yang ingin masuk ke dalam benaknya. Pria itu melangkah cepat menuju mobilnya tanpa menoleh pada Zara lagi.
Namun karena penasaran sebelum melajukan mobilnya pria itu menoleh ke arah Zara, ternyata gadis itu sudah berdiri di ujung teras dan menatap sendu padanya. Tampak senyum kecil yang terlihat dipaksakan di bibir gadis itu.
"Hati-hati ya bang" Ucapnya dengan sangat lirih hingga tak sampai ke telinga Affan, pria itu hanya menangkap gerak bibir Zara. Affan menghela nafas kasar, ia tak menjawab pertanyaan Zara. Ia segera memalingkan wajahnya. Matanya fokus ke depan dan melajukan mobilnya. Ia tak suka melihat kesedihan di mata Zara, Affan tak ingin rasa kasihan nya pada gadis itu membuatnya menjadi lemah kembali. Sudah cukup baginya mengalah pada Zara selama 7 tahun ini, ia dan bunda sudah tulus memberikan kasih sayang nya namun Zara selalu mengabaikannya.
Affan meremas setir dengan kuat, rasa marah kembali menguasainya mengingat bagaimana ketulusan yang telah dirinya dan bunda Rhea berikan tidak dihargai oleh Zara dan ayah Bobi.
Karena Affan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dalam waktu singkat pria itu tiba di kos-kosan yang tergolong mewah tempat Alya tinggal selama kuliah di kota ini karena orang tuanya tinggal di kota berbeda. Affan menghela nafas berkali-kali untuk menenangkan hatinya yang sempat gusar. Ia tak ingin Alya merasakan keresahan hatinya. Saat bersama sang kekasih Affan ingin fokus dan berbahagia, karena hanya Alya saat ini yang bisa membuatnya nyaman dan tentram.
Setelah merasa cukup tenang, Affan turun dari mobilnya. Ia berharap Alya ada karena sejak semalam gadis itu tak bisa dihubungi. Affan mengetuk pintu kamar kos kekasihnya. Pria itu menghela nafas lega saat mendengar suara pintu akan di buka, itu artinya kekasihnya ada di rumah.
Namun Affan tertegun ketika mendapati sosok di balik pintu, seorang pria yang Affan ingat adalah salah satu juniornya yang satu angkatan dengan Alya di kampus. Mungkin Affan akan berusaha berfikir positif andai pria di hadapannya ini berpenampilan normal dengan pakaian lengkap. Bisa saja ia dan Alya tengah mengerjakan tugas kampus atau organisasi. Tapi pria di hadapannya kini terlihat bertelanj*ng dada dan hanya mengenakan celana kolor pendek. Mau tidak mau otak Affan berfikir yang tidak-tidak tentang pria itu dan Alya. Ia yakin Alya dan Affan sudah melakukan hal-hal yang telah melamapui batas
Pria itu sama terkejutnya dengan Affan, ia yang sebelumnya tampak santai berubah gugup.
"Se-selamat pagi kak Affan apa kabar lama nggak ketemu" ucap pria yang Affan ingat bernama Gandhi itu.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Affan dengan tatapan menghunus tajam.
"Ehem aku sama Alya baru selesai mengerjakan tugas dari dosen" jawab Gandhi ragu-ragu
"Sayang makanan nya uda datang?" Suara Alya terdengar mendekat sebelum Affan sempat menjawab pertanyaan Gandhi. Pertunjukkan yang tak kalah mengejutkan harus Affan saksikan kembali, bagaimana Alya memeluk Gandhi dari belakang dan gadis itu hanya mengenakan handuk yang melilit tubuhnya. Karena terhalang tubuh Gandhi Alya tak menyadari sosok Affan yang terlihat menegang, rahangnya mengeras dengan tangan terkepal.
"A-Al, ada kak Affan" Ucap Gandhi sambil menarik tangan Alya agar tak memeluk dirinya lagi dan membawa gadis itu ke hadapan Affan. Alya menatap kaget pada sosok Affan yang kini menatap nya dengan tajam.
"K-kak Affan" wajah Alya memucat dengan tubuh menegang.
"Jadi ini yang kamu lakukan di belakang ku Al?" tanya Affan tersenyum pahit.
"A-aku bisa jelasin kak" ucap Alya terbata.
"Apa? mau jelasin kalo kamu dan Gandhi nga ngelakuin apa-apa? jangan mengelak lagi Al, dengan penampilan kamu dan Gandhi seperti ini kamu masih berharap aku percaya kalo kalian nggak ngelakuin apa-apa? ingat ya Al, aku bukan anak kecil yang bisa kamu bohongi. Terima kasih sudah pernah hadir dalam hidupku dan membuat aku sempat berfikir bahwa kamu adalah gadis terbaik yang akan menjadi masa depanku, aku begitu menjagamu karena rasa sayangku, tapi kamu malah bermain gila dengan laki-laki lain. Kamu luar biasa Alya" Ucap Affan. Pria itu tersenyum sekilas sebelum akhirnya berbalik meninggalkan Alya yang masih berusaha untuk memanggilnya.
"Kak jangan pergi, dengerin penjelasan aku dulu" Ucap Alya ketika berhasil meraih tangan Affan dan menghentikan langkah pria itu.
"Mau jelasin apa lagi?" Ucap Affan sinis, matanya memerah menahan amarah.
"Aku sama Gandhi nggak ada hubungan apa-apa, kami juga nggak ngapa-ngapain. Gandhi datang ke kosan aku cuma buat ngerjain tugas" ucap Alya dengan tatapan penuh permohonan.
"Oh ya? tugas apa? tugas untuk memberikan tanda pada tubuh kamu ini?" Tanya Affan dengan senyum pahit. Affan menunjuk beberapa tanda kemerahan di leher Alya.
"T-tanda?" tanya Alya terbata.
"Ini ada banyak tanda kemerahan di leher kamu, ini juga di dada kamu. Mau bilangbkalo kamu digigit serangga?" Ejek Affan yang membuat Alya terdiam.
"Cukup Al! aku nggak percaya sama semua penjelasan kamu, akhiri semua sandiwara kamu. Oh ya satu lagi, Kita putus!" tegas Affan.
Ia segera berlalu dari hadapan Alya yang tertunduk lesu. Ia tak lagi mengejar Affan karena semua sudah berakhir.
Affan berjalan tergesa, ia tak tau entah seperti apa bentuk hatinya sekarang, remuk redam dan berdarah.
Ia tak menyangka Alya yang ia kira seorang perempuan yang baik nyatanya mampu menikamnya dengan sangat kejam.
Dada nya terasa begitu sesak, lagi-lagi ia merasa tak diinginkan. Alya yang ia kira mampu menerima keberadaannya malah bermain hati di belakang nya. Affan mempertanyakan makna nya di dunia ini, kenapa ia selalu mendapatkan penolakan. Hati pria itu benar-benar perih tak terperi.
Harga dirinya kembali terluka dengan sangat parah.
Affan melajukan mobilnya tanpa tentu arah, beberapa kali pria itu berteriak dan memaki. Berharap sesak yang membelitnya sedikit terurai. Ia benci pada kenyataan yang selalu menempatkan nya pada posisi terbuang.
Affan kehilangan rasa percaya diri, ia merasa begitu buruk hingga tak seorangpun menginginkan dirinya, ia kira kasih sayang Alya begitu tulus namun ternyata gadis itu begitu tega menipunya. Affan tak tau lagi harus bagaimana cara membangun rasa percaya diri yang telah hancur berantakan.
🍁🍁🍁
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 55 Episodes
Comments
Bunga Dwi Femina
sudah kuduga
2023-03-10
0
Miamia
Wow alya kejutan ini mah,
2023-01-02
0
🐦Yasmint esty🍆
sippp lah
2022-12-28
0