Tujuh

Tidur Zara terganggu mendengar suara Affan yang seperti sedang merintih. Gadis itu membuka matanya dan melirik ke arah sofa di mana sang kakak tengah tertidur, pria itu memang tidur di kamarnya. Affan memaksa untuk menemani Zara tidur karena takut gadis itu ketakutan jika ditinggal sendirian.

Setelah cukup mengumpulkan nyawa, Zara beranjak turun dari ranjang, dan berjalan mendekat pada Affan untuk memastikan apa yang terjadi pada pria itu. Zara berfikir mungkin Affan tengah mengalami mimpi buruk.

Zara menajamkan penglihatannya untuk memastikan apa yang ia lihat tidak salah. Zara mendapati tubuh Affan menggigil seperti kedinginan padahal ada selimut tebal yang membalut tubuh pria itu.

Rintihan kecil pria itu kembali terdengar, Zara mengamati wajah Affan yang terlihat begitu pucat. Dengan panik Zara menempelkan tangannya di kening Affan. Gadis itu sangat terkejut ketika merasakan suhu tubuh pria itu begitu tinggi, ternyata sang kakak tengah mengalami demam.

Seketika Zara merasa bersalah, ia yakin Affan demam pasti karena kehujanan tadi sore. Gadis itu bergegas menuju dapur menyiapkan air hangat untuk mengompres Affan juga mengambil kotak obat.

"Abang, minum obat ya" Zara membangunkan Affan sambil menepuk lembut pipi pria itu, namun sang kakak tak merespon. Setelah beberapa kali mengguncang tubuh Affan akhirnya mata pria itu terbuka dengan sayu menatap pada Zara.

"Abang demam, badan abang panas minum obat dulu ya bang?" Ucap Zara. Affan hanya menurut, dengan dibantu Zara pria itu mencoba bangkit dan duduk. Ia menerima obat yang diberikan sang adik dan menelannya. Zara dengan telaten membantu Affan meminum air putih yang telah ia siapkan.

"Pindah ke ranjang aja ya bang, biar tidurnya nyaman" Zara tak tega membiarkan Affan tidur di sofa dalam kondisi sakit seperti ini.

"Nggak usah Zara, abang tidur di sini aja" Tolak pria itu sambil kembali merebahkan tubuhnya di sofa.

"Pindah aja bang, nanti makin parah sakitnya" Ucap Zara lagi, setengah sadar akhirnya Affan mengangguk karena Zara terus meminta dirinya untuk pindah ke ranjang. Zara membantu Affan bangun dan berjalan dengan membopong tubuh pria itu, walaupun sebenar nya tubuh mungilnya tak akan mampu menopang tubuh Affan jika pria itu ambruk.

Zara mengatur nafasnya beberapa saat setelah berhasil membantu Affan merebahkan tubuhnya di ranjang. Gadis itu merapikan selimut yang menutupi tubuh pria itu.

Zara mengambil air hangat dan mulai mengompres sang kakak, berharap panas nya segera turun. Ia sangat mengkhawatirkan kondisi Affan, apalagi kedua orang tua mereka sedang tidak ada di rumah. Mungkin Affan mengalami demam selain karena kehujanan pria itu juga kelelahan karena padatnya aktivitas yang Affan jalani.

Zara memandangi wajah teduh Affan yang terpejam, momen itu seolah dimanfaatkan dengan baik oleh Zara untuk memandangi wajah sang kakak dan menyimpan setiap lekuk wajah pria itu dalam kenangan nya. Karena saat pria itu tengah sadar Zara tak pernah memiliki keberanian untuk memandangi wajah Affan dengan lama.

"Abang ada apa?" Lirih Zara ketika menangkap mata Affan tampak berair. Ada gumaman dari bibir Affan, namun Zara tak berhasil menangkap apa yang pria itu ucapkan. Mungkin karena demam tinggi Affan jadi mengigau. Zara mendadak terenyuh, melihat air mata yang keluar dari sudut mata Affan serta gumaman pria itu membuat Zara seolah bisa merasakan kalau Affan tengah terluka dengan begitu dalam.

Zara tak berani membangunkan Affan, ia hanya bisa terus mengompres kakak tirinya tersebut dan menghapus air mata yang meleleh di pipi pria itu.

'Luka seperti apa yang sedang abang rasakan?' bisik Zara di dalam hati, gadis itu lekat memandang wajah Affan yang masih memejamkan matanya. Entah mengapa Zara merasa yakin jika dibalik keceriaan Affan selama ini diam-diam pria itu menyimpan kesedihan.

🍁🍁🍁

Affan mengusap rambut Zara yang tampak tertidur dalam posisi duduknya dengan kepala menelungkup di ranjang. Affan melirik jam dinding yang menunjukkan hari masih sangat pagi.

"Zara bangun" Suara serak pria itu mencoba membangunkan sang adik, ia merasa iba melihat Zara tidur dalam posisi tersebut, ia yakin Zara merasa tidak nyaman.

Affan mencoba mengingat apa yang terjadi tadi malam sehingga ia bisa membajak ranjang Zara dan membuat gadis itu tidak bisa tidur dengan nyaman.

"Abang uda bangun, abang uda mendingan?" Tanya Zara sambil menyentuh kening Affan ketika ia terbangun karena merasakan pergerakan dari kakaknya.

"Syukurlah panasnya udah turun" Ucap Zara lega. Matanya terlihat sendu menandakan kantuk masih menggelayuti dirinya.

"Memangnya abang kenapa?" tanya Affan, ia tak mengingat apa yang terjadi dengannya tadi malam.

"Semalam abang demam, pasti karena kemaren abang hujan-hujanan" Ucap Zara berusaha menghilangkan kantuk dan pegal-pegal di tubuhnya.

"Maafin abang jadi ngerepotin Zara. Ayo sekarang Zara lanjutin tidurnya di ranjang" Affan yakin Zara menjaganya hingga ketiduran. Pria itu hendak bangkit namun Zara menahannya.

"Nggak usah bang, abang aja yang lanjutin tidur. Zara mau masak bubur buat abang" Tolak gadis itu.

"Sayang, gimana keadaan kamu" Affan dan Zara dikejutkan oleh kedatangan bunda Rhea yang dengan tergesa mendekat ke arah mereka. Sementara Ayah Bobi mengikuti dari belakang.

Bunda Rhea menyentuh kening Affan dengan punggung tangannya. Terlihat sekali jika sang bunda sangat mengkhawatirkan Affan.

"Bunda kenapa bisa ada di sini?" tanya Affan heran, karena seharusnya sang bunda baru akan pulang besok.

"Semalam Zara ngechat bunda, ngasih tau kalo kamu demam. Makanya bunda sama ayah langsung memutuskan pulang" ucap sang bunda.

"Iya Zara bingung dan takut terjadi apa-apa sama abang makanya Zara ngabarin bunda tadi malam" Timpal Zara saat Affan menatap ke arahnya.

"Tapi abang uda baik-baik aja bun" ucap Affan yang merasa tubuhnya cukup ringan.

"Beneran uda baik-baik aja? nggak perlu ke rumah sakit?" Tanya ayah Bobi yang diangguki oleh Affan.

"Semalam Zara emang uda kasih obat penurun panas, tapi apa nggak sebaiknya abang ke rumah sakit aja untuk lebih memastikan kondisi abang?" tanya Zara yang masih mengkhawatirkan kondisi Affan.

"Nggak usah Zara, abang nggak apa-apa. Istirahat sebentar pasti abang uda sehat lagi" tolak Affan.

"Lagian kamu kenapa bisa demam nak, kamu pasti kelelahan. Makanya kurang-kurangin kegiatan di kampus kalo nggak terlalu penting" ucap bunda Rhea yang begitu panik ketika Zara menghubunginya tadi malam, karena itu mereka berangkat dini hari.

"Kemaren abang kehujanan di jalan, abang buru-buru pulang karena khawatir pada Zara yang sendirian di rumah bun" Ucap Zara, ia merasa berkewajiban menjelaskan karena tak suka bunda Rhea mengomeli sang kakak.

🍁🍁🍁

Sorry baru update 🥰

Terpopuler

Comments

Abie Mas

Abie Mas

akhirnya pulang jg emaknya

2023-07-24

0

Siti Komariah

Siti Komariah

akankah cinta mereka bersatu?

2023-01-15

1

Siti Komariah

Siti Komariah

akankah cinta mereka bersatu?

2023-01-15

2

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!