Bab 18 Positif

Oddie duduk termenung di ruang tunggu sembari menunggu namanya dipanggil. Tersenyum nanar saat mengingat Nathan yang pergi begitu saja dan menghilang bagaikan setan setelah mencuri sesuatu yang paling berharga yang dimilikinya. Memang itu hak Nathan, memang salah jika Oddie menolak. Tapi tidak bisakah meninggalkan satu atau dua patah kata sebelum pergi?

Tapi ya sudahlah! Percuma saja membahas ini sementara Nathan saja sangat membencinya. Jangankan bicara, melihat Oddie lebih lama saja Nathan enggan kecuali malam itu.

"Apa sih yang ku pikirkan. Dia tidak memukulku lagi saja bukankah itu sudah cukup?" batin Oddie dengan menghapus air matanya yang nyaris jatuh.

Ngomong-ngomong, jika beberapa pekan ini Nathan menghabiskan waktu dengan bekerja dan mengurus Kirana, maka Oddie menghabiskan waktu dengan menunggu satu tamu yang tidak kunjung datang sampai hari ini. Tamu itu jelas bukan Nathan, melainkan datang bulannya yang terlambat satu bulan terakhir.

"Nona Oddie, silahkan masuk!" panggil suster.

Panggilan itu membuyarkan lamunan Oddie. Oddie yang dipanggil pun segera menemui dokter di ruangannya untuk diperiksa. Oddie mengatakan semua keluhannya dengan perasaan was-was. Sangat besar harapannya agar hasil pemeriksaan nanti menunjukkan hasil negatif meskipun kemungkinannya kecil. Tapi harapan Oddie sepertinya tidak dikabulkan Tuhan, karena setelah melalui serangkaian pemeriksaan Oddie benar-benar di nyatakan positif hamil.

"Aku hamil?" tanya Oddie.

Dokter itu dengan ramah menunjukkan dimana letak janin yang ada di dalam perut Oddie. Bukan dokter itu yang hamil, tapi dia terus-terusan tersenyum seolah dia yang hamil. Oddie melihat janinnya dengan teliti. Memang masih sangat kecil, tapi janin itu benar-benar sudah mulai berkembang disana.

"Jaga kesehatan baik-baik. Bagaimanapun juga ini adalah kehamilan pertamamu," pesan Dokter diakhir pertemuan.

"Terimakasih, Dokter!" kata Oddie.

Oddie keluar dari ruangan itu dengan wajah kusut. Berjalan di koridor rumah sakit dengan memandangi hasil USG yang membuatnya tidak tahu harus senang atau sedih. Seharusnya Oddie senang, karena ada anak yang akan menemaninya kelak. Tapi juga sedih setelah memikirkan bagaimana nasib anaknya nanti jika dia lahir dengan situasi yang seperti ini.

Bagaimana cara Oddie membesarkan anak itu dengan kondisinya yang cacat, sendirian dan dibawah tekanan Nathan?

Lalu apa yang akan Nathan katakan seandainya tahu dirinya hamil. Mungkinkah Nathan tidak akan mengakui bahwa anak itu adalah darah dagingnya? Nathan tidak akan memintanya menggugurkan anak itu dan lebih memilih anak yang berasal dari perut Kirana, kan?

Air mata Oddie sudah hampir tumpah lagi. Jujur saja, Oddie sangat patah hati saat mendengar kabar dari Lastri bahwa Kirana hamil dan mendapatkan perlakuan luar biasa dari Nathan. Oddie tidak berharap banyak diperlakukan seperti itu, hanya saja bisakah lebih lunak padanya?

"Aku harus bagaimana?" batin Oddie.

Oddie menyimpan hasil USG miliknya dengan pikiran kacau. Meskipun tidak tahu yang dia lakukan benar atau salah. Tapi Oddie sudah memutuskan untuk merahasiakan kehamilannya sementara waktu. Lalu bekerja lebih keras agar saat dia memiliki lebih banyak uang, dia bisa kabur ke tempat yang jauh agar terbebas dari Nathan. Karena jika Kirana juga hamil, tidak ada kesempatan untuk anaknya bisa menikmati hidup layaknya anak-anak yang lain.

Oddie segera keluar dari rumah sakit. Tentu saja tujuannya adalah restoran milik Aarav dan bekerja seperti biasanya.

.

.

.

"Kakek?" sapa Oddie ketika melihat Kakek Moeis berbincang dengan Aarav.

Sebelumnya, saat Oddie baru mengganti bajunya dengan baju kerja, salah seorang teman mengatakan bahwa dia diminta untuk pergi ke salah satu ruangan VIP untuk menemui seseorang. Oddie sama sekali tidak mengira yang mencarinya adalah Kakek Moeis.

"Kau darimana saja, Die? Kakekmu sudah menunggumu sejak tadi," tanya Aarav yamg menemani Kakek Moeis selagi menunggu Oddie.

Oddie tidak menjawab pertanyaan Aarav selain sebuah senyuman. Melihat itu Aarav pun segera pamit karena sadar diri dia hanyalah orang luar. "Ngobrol lah dengan kakekmu. Tidak perlu buru-buru," kata Aarav.

Aarav menyunggingkan senyum kepada Kakek Moeis. Dan dibalas dengan anggukan oleh Kakek Moeis.

"Duduklah, Die!" perintah Kakek Moeis.

"Darimana kakek tahu Oddie bekerja disini?" tanya Oddie yang saat ini sudah duduk dengan sopan di hadapan Kakek Moeis.

"Kakek tahu semuanya, Die!" jawab Kakek Moeis.

Jujur saja kedatangan Kakek Moeis kali ini adalah untuk membawa Oddie pulang kerumahnya. Kakek Moeis sudah tahu semuanya. Oddie yang diusir Nathan, Nathan yang tinggal dengan Kirana sampai wanita itu hamil, termasuk menantunya yang memperlakukan Oddie dengan buruk.

Sejauh ini Kakek Moeis sudah tahu semuanya. Yang tidak Kakek Moeis tahu mungkin hanyalah tiga hal. Uang nafkah yang tidak sampai di tangan Oddie, anak Kirana bukan anak Nathan, dan Oddie yang hamil saat ini.

"Ikut kakek pulang sekarang. Kau tidak keberatan kan?" tanya Kakek Moeis.

Oddie tidak langsung memberikan jawaban. Oddie ingat bagaimana tatapan anggota keluarga itu saat melihatnya hari itu. Meskipun rumah besar itu tidak setiap hari di kunjungi keluarga besar, tapi tetap saja Oddie harus bertemu dengan mereka sesekali kan? Dan itu membuat Oddie tidak nyaman.

Jadi lebih baik Oddie tidak pergi. Terlebih, Nathan pasti akan marah saat dia tahu bahwa dirinya tidak lagi tinggal di rumah tua itu. Oddie memang berencana kabur. Tapi tempatnya kabur bukanlah rumah Kakek Moeis karena Oddie tidak ingin memperkeruh hubungan antara Nathan dan Kakek Moeis yang bisa saja menjadi renggang hanya karena dirinya.

"Kek, terimakasih sudah sangat perhatian pada Oddie. Tapi Oddie tidak ingin tinggal di rumah kakek," jawab Oddie.

Kakek Moeis hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam. Dia tahu jawaban Oddie akan begini. Bukan karena Oddie bodoh. Bukan karena Oddie tidak ingin terbebas dari Nathan. Oddie hanya terlalu baik hati dan lebih memikirkan orang lain daripada dirinya sendiri. Memikirkan bagaimana jika dia tiba-tiba pergi dan membuat hubungan Nathan dan Kakek Moeis memanas.

Karena Oddie sudah menolak, maka tidak ada banyak hal yang bisa Kakek Moeis lakukan. Kakek Moeis tidak bisa memaksa lagi selain menghormati keputusan Oddie. Tapi, Kakek Moeis tidak menyerah begitu saja. Karena dia masih ingin membuat kesepakan lainnya.

"Die, kalau kakek memberikan tempat tinggal yang hanya dihuni olehmu, bukankah kau mau?" tanya Kakek Moeis.

Oddie yang sejak tadi murung menjadi lebih cerah. Tentu saja Oddie mau. Tapi begitu ingat bahwa ayahnya adalah seorang koruptor, Oddie kembali murung. Apa dia pantas mendapatkan kebaikan seperti ini. Bagaimana kalau Nathan semakin mengamuk.

"Oddie tidak pantas menerimanya," jawab Oddie.

"Hanya jawab saja pertanyaan kakek. Kau mau atau tidak?" tanya Kakek Moeis.

"Oddie mau," jawab Oddie.

"Tapi untuk itu ada hal lain yang kakek ingin tahu bagaimana jawabanmu," lanjut Kakek Moeis.

"Apa itu, Kek?" tanya Oddie.

"Seandainya Nathan mengijinkanmu pergi dengan syarat dia boleh menikahi Kirana. Apa jawabanmu?" tanya Kakek Moeis.

Kakek tahu persis bagaimana perasaan Oddie saat ini. Dia pasti sedih meskipun tidak mencintai Nathan. Tapi seharusnya Nathan tidak akan melepaskan Oddie begitu saja kecuali ada hal lain yang ingin dia dapatkan bukan. Menikahi Kirana misalnya. Jujur saja Kakek Moeis sangat tidak setuju seandainya Nathan menikah dengan wanita itu. Tapi jika dengan memberikan mereka restu untuk menikah dapat menukarnya dengan membebaskan Oddie, maka Kakek Moeis akan membiarkan mereka menikah. Bukan karena Kakek Moeis menginginkan pernikahan mereka, tapi karena ingin menolong Oddie.

"Maka biarkan saja mereka menikah," jawab Oddie.

"Kau yakin?" tanya Kakek Moeis. Pria tua itu bahkan hampir menangis melihat ketegaran Oddie.

"Oddie yakin, Kakek!" jawab Oddie.

Kakek Moeis akhirnya bangkit. Memeluk Oddie layaknya cucunya sendiri dan mencium dahinya sekali. "Kalau begitu Kakek akan bicara baik-baik dengan Nathan," kata Kakek Moeis.

...***...

Terpopuler

Comments

Nur Ain

Nur Ain

lepaskan saja Odie...biar org tu menyesal..bawak anakkamu

2023-01-09

0

Nur Hayati

Nur Hayati

pergi saja lah Odie yg jauh . klaw Nathan menyesel ..biar aj jgn maafkn

2023-01-09

0

Bilbina Shofie

Bilbina Shofie

nyeselkan gak di awal

2023-01-09

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!