"Dean, kau salah orang lagi!" kata Oddie.
Nathan yang sudah melonggarkan dasi menyunggingkan senyum tipis. Dia memang mabuk, tapi dia masih sadar siapa wanita yang ingin dia tiduri malam ini. Terlebih, tidak ada orang lain lagi yang memanggilnya dengan sebutan Dean selain Oddie.
"Bukankah ini dirimu, Die? Apa aku salah?" tanya Nathan dengan menyentuh wajah Oddie.
Oddie hanya bisa membuka matanya lebar-lebar. Apa Nathan benar-benar sadar apa yang sedang dia lakukan. Selama ini Nathan sudah menyiksa lahir dan batinnya sampai separah ini. Lalu sekarang, apa Nathan masih akan mencuri perawannya juga?
Nathan segera memulainya dengan ciuman. Tapi dengan sigap Oddie menepis ciuman itu. Tentu saja penolakan Oddie membuat Nathan marah. Bukankah dia suaminya, bukankah sah-sah saja jika Nathan ingin tidur dengan Oddie. Tapi kenapa Oddie menolaknya?
Oh, Nathan tahu sekarang. Bukankah Nathan juga harus membayar jika ingin tidur dengan istrinya sendiri? Nathan akhirnya bangkit. Mengambil kembali jas miliknya yang sempat dia buang untuk mengambil sesuatu.
"Apa ini cukup?" tanya Nathan dengan meletakkan semua uang yang dia bawa ke genggaman tangan Oddie.
Oddie hanya menelan ludahnya dengan kasar melihat apa yang Nathan lakukan. Apa Nathan benar-benar menganggapnya seperti wanita malam?
"Masih tidak cukup?" tanya Nathan lagi.
Kini Nathan mengeluarkan dompetnya yang sudah tidak ada selembar uang pun di dalamnya. Tapi bukan uang yang Nathan cari, melainkan sebuah kartu dari sekian banyaknya kartu yang dia punya.
"Seharusnya ini sudah cukup kan, Die? Jadi cepatlah!" kata Nathan.
"Dean, jangan keterlaluan! Aku bukan wanita seperti itu!" tolak Oddie dengan melemparkan uang dan kartu itu ke wajah Nathan.
Nathan meringis, tapi juga tersenyum disaat yang sama. Selama ini tidak ada satupun wanita yang menolaknya. Dan Oddie yang cacat ini, berani sekali dia menolaknya disaat sudah berada di bawahnya.
"Bukan wanita seperti itu, apa kau baru saja bilang kau ini masih perawan, Die?" tanya Nathan.
"Aku tidak akan memberitahumu!" jawab Oddie.
Oddie mencoba mendorong Nathan meskipun tidak ada perbedaan jarak diantara mereka. Malahan Nathan semakin mengungkungnya dan berhasil mendaratkan ciuman di tengkuk Oddie yang membuat Oddie meremang.
"Die, kau tidak bisa lari malam ini. Jadi patuhlah dan nikmati saja," bisik Nathan dengan senyum yang penuh nafsu.
"Tolong jangan lakukan ini, Dean! Aku mohon!" pinta Oddie dengan wajah memelas.
Tapi Nathan sama sekali tidak menghiraukan permohonan Oddie. Karena saat ini, tangannya yang terampil sudah membuat Oddie kehilangan sebagian besar pakaiannya. Puas? Tentu saja tidak, karena yang membuat Nathan puas adalah melihat semuanya dan menikmati bagaimana rasanya.
Nathan memperhatikan tubuh polos yang masih meninggalkan beberapa ukiran bekas luka. Oddie kira dia akan aman setelah Nathan melihatnya, nyatanya Oddie salah besar. Karena Nathan malah semakin tertarik untuk segera menyalurkan hasratnya yang lama tidak dia salurkan.
Malam itu, Oddie hanya bisa pasrah saat Nathan memainkannya sesuka hatinya. Pasrah saat Nathan terus mencumbunya. Tentu saja Oddie juga hanya bisa pasrah saat Nathan benar-benar merenggut kesuciannya.
"Die, kau menyukainya bukan?" tanya Nathan diakhir pertempuran panjang yang bisa dibilang malam pertama untuk mereka.
.
.
.
Oddie membuka mata ketika hembusan nafas Nathan terus-terusan mengenai leher belakangnya. Hanya membuka mata saja, tanpa bergerak karena seluruh tubuhnya terasa sakit. Sampai Oddie menyadari tangan kekar Nathan masih memeluknya dari belakang sana, barulah Oddie memaksakan diri untuk bangkit.
Oddie memungut kembali pakaiannya yang dirusak Nathan. Lalu membuangnya ke tempat sampah sebelum masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya di bawah guyuran air dengan memeluk lututnya sendiri.
"Dean, kau benar-benar brengsek!" batin Oddie dengan air mata yang mengalir sederas guyuran air yang jatuh di kepalanya.
Sementara itu, gemericik air dari kamar mandi berhasil membuat Nathan membuka matanya. Berbeda dengan Oddie yang langsung bangkit, Nathan memilih bermalas-malasan di ranjang. Matanya menelisik seluruh ruangan, tidak percaya dia baru saja bercinta di rumah yang di matanya bagaikan gubuk reyot yang hampir rubuh.
Nathan mengusap wajahnya dengan kasar. Merutuki kebodohannya sendiri karena tergoda dengan wanita yang ingin dia hancurkan sehancur-hancurnya. Tapi tunggu, sepertinya Nathan melihat darah saat Oddie mengeluh sakit kemarin. Nathan segera menyibak sprei untuk memastikan bahwa matanya tidak salah. Benar saja, bercak darah yang membekas itu telah membuktikan bahwa Oddie masihlah seorang perawan sampai tadi malam.
"Dia benar-benar masih perawan?" gumam Nathan.
Nathan segera bangkit. Bukan untuk menyusul Oddie, melainkan untuk memakai kembali pakaiannya. Lalu meninggalkan rumah itu tanpa pamit dan tanpa mengatakan apa-apa. Memangnya apa yang harus dia katakan. Soal dia yang meniduri Oddie yang masih perawan bukankah itu bukan masalah besar. Nathan tidak perlu bertanggungjawab karena bagaimanapun juga dia memiliki hak untuk melakukannya. Bahkan jika dia ingin meniduri Oddie setiap malam sekalipun, tidak akan ada yang berani menentangnya karena mereka adalah suami istri yang sah.
.
.
.
"Kau darimana saja?" tanya Mama Maureen ketika melihat Nathan pulang.
Nathan yang sudah naik beberapa anak tangga menoleh. Melihat ibunya sekilas sebelum menjawab pertanyaan itu dengan singkat. "Nathan ada urusan semalam."
Mama Maureen hanya bisa geleng-geleng kepala. Memangnya urusan apa yang membuatnya sampai mematikan ponselnya. Terlebih tidak ada rapat penting atau acara khusus yang mengharuskannya lembur kemarin malam. Tapi daripada marah-marah dengan Nathan, lebih baik dia segera meminta Kirana pulang untuk memberikan hadiah yang dia siapkan secara pribadi.
Daripada terus menagih Nathan membeli hadiah dan membuatnya marah, lebih baik dia saja yang lebih dulu memberikan hadiahnya. Lagipula uang yang dia gunakan untuk membeli hadiah itu adalah uang nafkah dari Nathan untuk Oddie yang Mama Maureen curi selama dua tahun ini. Jadi bisa dikatakan Mama Maureen tidak mengeluarkan uang sama sekali.
"Bagaimana, apa kau suka?" tanya Mama Maureen setelah Kirana sampai dan memberikan hadiah berupa tas yang cukup bermerk kepada Kirana.
Maklum uang hasil rampasan dari Oddie tidak cukup untuk membeli tas yang lebih mewah dari ini. Wanita itu juga sengaja tidak membeli tas yang lebih mahal meskipun dia mampu. Membeli untuk apa toh belum tentu Kirana hamil anak laki-laki. Sampai ketika Kirana dinyatakan mengandung anak laki-laki, barulah Mama Maureen bersedia merogoh koceknya sendiri. Karena dimatanya, dia hanya membutuhkan pewaris bayi laki-laki, bukan perempuan.
"Kirana suka, Ma!" jawab Kirana tanpa curiga.
Meskipun tahu harga tas itu tidak semewah pemberian Nathan seperti biasanya, tapi Kirana cukup puas. Anggap saja ini kado pembuka yang murah. Lalu seiring berjalannya waktu Kirana akan melakukan segala cara untuk semakin merebut hati Mama Maureen dan mendapatkan hadiah yang jauh lebih berharga lagi.
"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya Nathan yang baru turun.
"Memberikan hadiah untuk Kirana. Kalau kau tidak sibuk, segera belikan hadiah untuknya sebelum anakmu lahir," jawab Mama Maureen.
Nathan hanya tersenyum dan mengangguk. Lalu segera mengajak dua wanita itu makan karena dia sudah sangat kelaparan.
"Ya sudah, ayo segera makan. Ki, kau harus makan yang banyak agar anak di perutmu tumbuh sehat," kata Nathan.
"Eum," jawab Kirana.
"Sayang, makanlah ini!" kata Mama Maureen.
"Terimakasih, Ma!" kata Kirana
Meskipun pelit soal hadiah tapi Mama Maureen tidak pelit perhatian. Berkali-kali dia meminta Kirana berhati-hati, berkali-kali juga dia meminta Nathan untuk lebih perhatian.
Kirana yang di manja-manja sudah pasti sangat senang. Dan Nathan yang mengira Kirana hamil anaknya memperlakukan Kirana lebih spesial daripada sebelumnya. Sepertinya Nathan benar-benar sudah lupa siapa istrinya sebenarnya. Dan lebih parahnya sepertinya Nathan juga sudah lupa dengan apa yang sudah dia lakukan pada Oddie semalam.
Selama berminggu-minggu Nathan menghabiskan waktunya untuk memanjakan Kirana. Nathan juga selalu pulang sesegera mungkin untuk merawat Kirana. Dokter terbaik, makanan terbaik dan fasilitas terbaik, semuanya telah Nathan berikan agar kandungan Kirana terjaga. Nathan juga selalu melayani Kirana sepenuh hatinya dan berharap anak itu segera lahir agar dia bisa secara resmi jadi seorang ayah.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
Nadinda Pratiwi
maunengo sambunggannya ko g bisa
2023-01-08
1
Sri Wahyuni
s odie ga ada niat pergi yg jauh apa nyebelin
2023-01-08
1
MIKU CHANNEL
emang dasar Gila nih Nathan udah tau Oddie masih perawan eh dia main tinggal aja, udah gitu kok malah gundiknya yg diurusin, Oddie cacat juga karena km gila, ini si Oddie bnr2 ngak bisa kabur apa, terus kakek nya Nathan diem aja gitu liat keadaan Oddie yg cacat, dioperasi kek kan uangnya banyak,
2023-01-08
1