Bab 19 Keguguran

"Die, kemarin itu kakekmu?" tanya Rima.

"Dia kakek suamiku," jawab Oddie sembari mengambil tasnya yang dia simpan di loker.

"Oh," kata Rima.

Semua orang tahu rumah tangga Oddie tidak baik-baik saja. Jadi untuk menjaga perasaan Oddie, Rima tidak ingin bertanya lebih jauh dan lebih melanjutkan menikmati cemilan pedas yang sudah dia makan sejak tadi.

"Apa itu enak?" tanya Oddie.

Mungkin Oddie sedang ngidam. Karena hanya dengan mendengar bunyi kriuk dan melihat Rima menikmati cemilan itu sudah membuatnya menahan liur agar tidak turun.

"Mau?" tanya Rima dengan menyodorkan sekantong cemilan yang dia pegang.

"Wah, ini sangat enak!" puji Oddie setelah mencicipi rasanya.

"Kalau begitu makanlah lebih banyak. Tidak perlu sungkan," kata Rima.

Maklum, biasanya Oddie akan mengambil sedikit dan mengembalikan sisanya. Untuk itulah Rima memintanya mengambil lebih banyak. Tapi rupanya Oddie malah memakan semuanya tanpa sisa. Tentu saja itu membuat si pemilik cemilan bengong dan menjilat jarinya yang masih belepotan bumbu. Rima bukannya tidak rela. Hanya saja dia merasa aneh.

"Die, masih mau?" tanya Rima.

"Apa masih ada?" tanya Oddie.

Rima tidak hanya menyodorkan satu bungkus lainnya. Dia juga sudah membuka bungkusnya agar Oddie memakan satu-satunya cemilan yang tersisa. Selagi Oddie makan, Rima memperhatikan Oddie dari atas hingga bawah. Mata Rima membesar saat mengerti sesuatu. Meksipun dirinya sendiri belum pernah hamil, tapi setelah melihat perubahan Oddie Rima sangat yakin Oddie sedang hamil.

"Die, kau hamil kan?" tanya Rima setelah Oddie menghabiskan cemilan keduanya.

Oddie yang tiba-tiba mendapatkan pertanyaan seperti itu langsung salah tingkah. "Darimana Rima tahu?" batin Oddie.

Oddie menggaruk pipinya. Sementara Rima mulai memegang pipi Oddie karena tidak sabar menantikan jawaban dari Oddie. Sebenarnya Oddie ingin merahasiakannya. Tapi perubahan pada bentuk tubuh dan selera makannya tidak bisa dia tutupi. Selain semakin berisi, Oddie memang lebih sering merasa lapar.

Oddie akhirnya mengangguk pelan, dan itu membuat Rima memberikan hujan ciuman dan pelukan untuk Oddie. Dia juga menyampaikan doa dan harapan mereka untuk Oddie agar tetap sehat, tidak ada satu apapun yang terjadi sampai melahirkan dan hidup bahagia.

"Hadiahnya nyusul ya, sayang? Bibi akan memberimu hadiah setelah gajian nanti," kata Rima dengan mendekatkan wajahnya ke perut Oddie.

"Tidak perlu hadiah. Kau sendiri adalah hadiah untukku. Aku belum pernah mengatakannya selama kita kenal. Tapi aku sangat berterimakasih karena kau sudah mau jadi temanku," kata Oddie berkaca-kaca.

Sumpah, kalimat itu membuat Rima ingin menggulung bumi. Dia benci air mata. Dia benci seseorang menangis seperti ini. Tapi kalau Oddie yang menangis, entah kenapa itu sangat menyentuh hatinya.

"Jangan bicara seperti itu. Aku tidak ingin menangis," kata Rima.

Oddie langsung tersenyum. Segera menghapus air matanya dan memegang tangan Rima. "Bisakah, aku minta tolong?" tanya Oddie.

"Apa?" tanya Rima.

"Tolong jangan beritahu siapapun. Sementara ini, bisakah menjadikan ini sebagai sebuah rahasia?" pinta Oddie.

Rima melepaskan satu tangannya dari genggaman Oddie. Lalu menyentuh pipi Oddie dengan tangan itu. Rima yakin, Oddie mempunyai alasan sehingga menyembunyikan kehamilannya. Rima juga tahu Oddie sudah melewati hari yang berat. Jadi untuk permintaan kecil seperti itu, sudah pasti Rima tidak akan menolak.

"Aku janji tidak akan mengatakan pada siapapun," janji Rima.

Dua sahabat itu berpelukan. Oddie sudah tentu menangis. Tidak menyangka masih ada orang-orang baik yang masih peduli dengannya. Sementara Rima, dia benci mengakui ini. Tapi barusan dia benar-benar sudah menangis.

"Die, karena kau hamil. Bagaimana kalau kita ke pasar malam. Aku tahu kau masih lapar," kata Rima antusias.

Oddie mengangguk dengan cepat. "Kali ini biarkan aku yang mentraktirmu ya?" pinta Oddie.

"Aku yang mengajakmu tentu saja aku yang harus mentraktirmu. Jangan sampai anakmu nanti mengataiku pelit saat dia lahir," tolak Rima.

"Sstt! Jangan keras-keras!" kata Oddie.

Rima segera menutup mulutnya. Lalu secepat kilat membawa Oddie pergi ke pasar malam sebelum rekan-rekannya yang lain mendengar mulutnya yang ember.

.

.

.

"Siapa?" tanya Ray dengan nafas memburu.

"Calon suamiku," jawab Kirana dengan nafas yang tersengal-sengal.

Kirana hanya melihat layar ponselnya saat Nathan menelepon. Lalu mengaktifkan mode silent agar pria itu tidak mengganggu kesenangannya dengan Ray.

Siapa Ray? Tentu saja pria lain yang memberikan Kirana belaian selain Nathan. Pria bajingan yang menerima darah perawan milik Kirana sekaligus pria yang harusnya bertanggungjawab atas janin yang ada di perut Kirana. Seorang pria yang saat ini sedang berada di atas Kirana yang tidak memakai selembar benangpun ditubuhnya. Menikmati sisa-sisa kenikmatan yang baru saja mereka rengkuh seperti hari-hari biasa.

"Tidak mengangkatnya?" tanya Ray lagi.

"Nafasku masih begini. Apa kau mau hubungan kita ketahuan?" jawab Kirana.

Ray tersenyum sinis. Lalu bangkit dan memakai piyamanya sebelum menyalakan sebuah rokok di balkon hotel. Sementara itu, Kirana yang sudah menguasai dirinya juga bangkit untuk membersihkan dirinya agar Nathan tidak curiga setelah dia pulang nanti.

Lima belas di kamar mandi, Kirana akhirnya keluar juga. Tapi dia mendapati isi tasnya berserakan memenuhi meja. Kirana tidak tahu apa yang terjadi. Tapi Ray yang beberapa menit lalu terus memuji saat menungganginya sudah memasang wajah datar.

"Apa hanya ini yang kau punya?" tanya Ray setelah mengambil uang tunai milik Kirana.

Kirana yang belum menyadari dirinya dalam bahaya malah mendekat. "Sayang, aku akan segera mentransfer untukmu."

Kirana mengambil ponselnya. Tapi ekspresinya langsung berubah ketika menyadari saldonya sudah berada di batas minimal. Setelah mengecek histori, Kirana mendapati seluruh uang yang dia dapatkan dari Nathan sudah ditransfer ke berbagai rekening selama Kirana ada di dalam kamar mandi.

"Apa yang kau lakukan, Ray?" bentak Kirana dengan memukuli dada Ray.

"Hanya uang segitu saja apa perlu marah. Itu bahkan sangat jauh dari kata cukup!" Hardik Ray.

"Apa?" tanya Kirana.

Kirana mulai tersulit emosi. Uang sebanyak ratusan juta itu apa belum cukup?

"Bukankah Dean Nathan itu banyak uang. Apa hanya ini yang bisa kau ambil darinya?" bentak Ray.

Kirana mulai ketakutan sekarang. Ini pertama kalinya seorang pria membentaknya. Seorang Dean Nathan, pria kaya yang selama ini menjadi sumber penghasilannya bahkan tidak pernah melakukan ini padanya. Lalu Ray, pria brengsek yang kerjanya hanya mabuk, atas dasar apa dia berani membentaknya meskipun Kirana mencintainya. Setelah Kirana merelakan diri untuk menjadi budak pelampiasan hasratnya selama ini, inikah balasannya?

"Cepat hubungi Dean Nathan. Katakan padanya kau butuh uang dan memintanya mentransfer sebanyak satu milyar sekarang juga!" perintah Ray kasar.

Kirana tersenyum sinis mendengar permintaan Ray yang semakin kelewatan. "Apa kau gila. Aku ini belum menikah dengannya,-"

"Makanya cepat minta dia menikahimu. Lalu minta uang sebanyak-banyaknya dan berikan padaku. Sudah berapa tahun kau hidup dengannya. Kenapa kau sangat tidak berguna. Kau pikir apa alasanku mengirimmu pada Dean Nathan kalau tidak demi uang, hah?" bentak Ray.

"Apa?" tanya Kirana.

Kirana hampir tumbang. Selama ini, dia selalu menurut dengan apa yang Ray perintahkan. Memberinya uang, melayaninya, mencukupi semua kebutuhannya. Dan berkorban banyak hal untuknya. Semua itu dia lakukan karena Kirana cinta mati dengan Ray. Dia rela menjual dirinya dengan melayani Dean Nathan. Tapi sepertinya seorang Ray hanya memanfaatkannya saja. Karena sudah begini, Kirana pun memutuskan untuk meminta Nathan segera menceraikan Oddie dan menikahinya. Kemudian menghancurkan Ray dengan menggunakan orang-orang milik Nathan.

"Aku tidak mau!" tolak Kirana.

"Kau berani?" bentak Ray.

"Kenapa tidak berani?" tanya Kirana.

Dan pertanyaan itu membuat Ray memberikan tamparan keras berkali-kali untuk Kirana. Bukan hanya itu, Ray juga mendorong Kirana hingga terjengkang di lantai. Ray siap memukulinya lagi, tapi berhenti ketika Kirana mengeluh sakit dan melihat darah segar mengalir di sela-sela kakinya.

"Ray, tolong anak kita!" pinta Kirana.

Sial, Ray sebenarnya tidak peduli. Dia masih ingin menghajar Kirana yang sangat tidak berguna. Tapi anak itu harus tetap hidup sampai Kirana mendapatkan uang yang banyak dari Nathan.

Ray pun segera membawa Kirana ke rumah sakit. Tapi sayangnya benturan itu terlalu keras sampai membuat calon bayi itu harus lahir lebih dari awal. Iya, Kirana sudah mulai mendapatkan karmanya. Karena baru saja dokter menyatakan Kirana sudah keguguran.

...***...

Terpopuler

Comments

Sri Wahyuni

Sri Wahyuni

smoga d angkat rahim y s kirana

2023-01-09

0

Ila Latifah

Ila Latifah

aku berharap, kirana pendarahan dan angkat rahim. jadi batal nikah. biar oddie tetap satu2nya isteri nathan. karma baru 1. kirana ga punya sala apa2 sama kamu, disiram air keras. ayo rey siksa kirana ampe babak belur. biar nathan menyelidiki

2023-01-09

1

MIKU CHANNEL

MIKU CHANNEL

mampus kau Kirana, Noh Nathan kau hanya diperalat olh Kirana, sbnrnya dia tdk mencintaimu, Hanya uangmu yg dia inginkan, kau tdk ubahnya seperti mesin pencetak uang bg Kirana, nikmati kemalanganmu Nathan

2023-01-09

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!