"Aku ingin cerai," kata Oddie.
Mendengar Oddie menyebut kata cerai dengan mudahnya membuat dua pria itu saling diam. Kakek Moeis paham kenapa Oddie meminta cerai. Sejujurnya dia juga mendukung keputusan Oddie, tapi semuanya kembali lagi kepada Nathan karena bagaimanapun juga dialah kepala keluarganya.
"Bagaimana denganmu?" tanya Kakek Moeis kepada Nathan.
Apapun pilihan Nathan nanti, Kakek Moeis sudah memutuskan untuk berada di pihak Oddie. Bahkan jika Nathan tidak ingin bercerai sekalipun, Kakek Moeis akan mencari cara agar Oddie hidup lebih layak.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Karena selamanya, aku tidak akan pernah menceraikan Oddie."
Hati Oddie langsung remuk ketika mendengar jawaban dari Nathan. Jika mereka adalah pasangan yang saling mencintai, jawaban seperti itu pasti akan membuat Oddie berbunga-bunga. Tapi mereka berbeda karena tidak ada cinta dari mereka.
Oddie tertunduk lesu. Satu-satunya harapan yang dia punya untuk hidup bebas sepertinya telah sepenuhnya hilang. Kakek Moeis yang menjadi pihak ketiga hanya bisa menarik nafas panjang. Dia tahu situasi ini akan terjadi, tapi masih belum ingin menyuarakan pendapatnya karena pembicaraan Oddie dan Nathan masih belum selesai.
"Kenapa?" tanya Oddie.
"Bukan urusanmu!" jawab Nathan.
Nathan bangkit dari duduknya. Meraih tangan Oddie untuk membawanya pergi. Tapi langkahnya tertahan karena Oddie masih ingin tinggal. "Kalau begitu ijinkan aku bekerja!" pinta Oddie.
Nathan melihat Oddie dengan senyum sinis. Memangnya pekerjaan apa yang bisa dia lakukan dengan tubuh cacat itu?
"Bekerja? Memangnya pekerjaan apa yang bisa kau lakukan? Perusahaan mana yang akan menerimamu?" tanya Nathan dengan tatapan dan nada merendahkan.
Oddie kembali menunduk. Menggigit bibirnya sendiri atas pertanyaan Nathan barusan. Memang tidak akan ada perusahaan yang akan menerima karyawan cacat. Tapi dia butuh uang untuk hidup. Jadi, Oddie akan tetap bekerja sebagai apapun untuk mendapatkan uang.
Kakek Moeis yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara. Dia tahu Oddie adalah anak terpelajar. Meskipun belum pernah bekerja di perusahaan manapun, tapi Kakek Moeis yakin Oddie pasti punya kemampuan. Lalu soal Oddie yang cacat, itu tidak akan jadi masalah karena Kakek Moeis akan membuat Oddie jadi orang kepercayaannya di perusahaan.
"Bekerja saja di perusahaan kakek. Kakek akan mencarikan posisi yang layak untukmu," tawar Kakek Moeis.
Jawaban itu membuat Nathan mengepalkan tangannya. Atas dasar apa. Kenapa Oddie harus bekerja di perusahaan kakeknya. Apa kata orang-orang jika mereka tahu seperti inilah penampakan istri Dean Nathan?
"Aku tidak setuju!" tolak Nathan.
"Apa kakek membutuhkan persetujuan darimu?" tanya Kakek Moeis.
"Kek?" protes Nathan.
Melihat hubungan kakek dan cucu yang menjadi buruk karena dirinya akhirnya membuat Oddie angkat bicara. "Terimakasih, Kek! Tapi Oddie akan mencari pekerjaan untuk Oddie sendiri," tolak Oddie.
Menjadi bagian dari perusahaan besar milik Kakek Moeis adalah cita-cita Oddie. Tapi itu dulu. Dulu sekali saat dia masih berada di bangku kuliah. Sekarang, jangankan menjadi bagian perusahaan besar itu, menginjakkan kakinya saja Oddie merasa tidak layak.
"Die?" panggil Kakek Moeis. Dia ingin mempertahankan keputusannya. Tapi Oddie sekali lagi menolaknya.
"Maaf, Kek! Tapi Oddie tahu Oddie tidak pantas," kata Oddie.
"Bagus kalau kau sadar diri," kata Nathan.
Karena tidak ada lagi yang mereka bicarakan, Nathan langsung menarik Oddie keluar. Membawanya dengan kasar dan mendorongnya ke mobil dengan kasar pula. Bahkan teriakan dari Kakek Moeis untuk pelan sedikit diabaikan oleh Nathan. Pria itu langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Meninggalkan Kirana yang sebenarnya menunggunya untuk pulang bersama.
BRUK
Nathan mendorong Oddie ke lantai dengan kasar. Mengunci pintu kamar, melepaskan jas dan menggulung lengan bajunya hingga ke siku. Oddie yang terbiasa dengan itu hanya bisa meringkuk ke tembok, melindungi dirinya sembari meminta pengampunan.
"Tolong jangan pukul aku lagi!" pinta Oddie.
Tapi itu tidak membuat Nathan berbelas kasih karena sebuah tamparan keras sudah mendarat di pipi Oddie hingga memerah. Oddie memegangi pipinya yang seperti terbakar. Entah hatinya atau pipinya, dua-duanya semakin hancur tak berbentuk. Sebenarnya Oddie tidak ingin menangis tapi tamparan itu terlalu keras. Setetes darah bahkan mengalir dari sudut bibirnya.
"Menangis lagi? Apa hanya menangis yang bisa kau lakukan, Die?" tanya Nathan.
Nathan menarik rambut Oddie ke belakang. Mengabaikan teriakan Oddie yang kesakitan kemudian menyeka darah dari mulut Oddie dengan tangannya sebelum mengoleskannya ke mulut Oddie. "Kalau kau berani mengatakan perceraian lagi. Aku benar-benar akan membuat dua matamu buta dan dua kakimu pincang!" ancam Nathan lalu melepaskan Oddie hingga tersungkur ke lantai.
Oddie menggenggam mengepalkan tangannya erat-erat. Melihat ujung sol sepatu Nathan dengan pandangan mata yang kabur karena air mata yang tertahan. Kapan penderitaannya yang seperti ini akan berakhir? Apa Nathan tidak akan berhenti sampai dia benar-benar buta dan lumpuh? Daripada hanya membuatnya buta dan lumpuh, kenapa tidak membunuhnya saja sekalian?
"Apa salahku. Kenapa kau sangat kejam padaku?" tanya Oddie dengan mulut bergetar.
"Salahmu adalah lahir dari pasangan koruptor itu," jawab Nathan.
Oddie menyeka air matanya yang tumpah. Memberanikan diri melihat Dean Nathan dan memegang satu kakinya. "Berapa banyak yang harus ku bayar. Berapa banyak uang yang harus kuberikan padamu agar kau membebaskanku?" tanya Oddie.
"Apa maksudmu, Die?" tanya Nathan.
"Aku akan bekerja. Aku akan membayar kembali uang yang diambil orangtuaku. Jadi, bisakah mengatakan berapa banyak yang harus ku bayar agar aku bebas?" jawab Oddie.
Nathan merendahkan tubuhnya. Mencengkeram pipi Oddie dan menjawab, "Seumur hidupmu sekalipun, kau tidak akan pernah sanggup untuk membayarnya, Die! Bahkan meskipun hanya 1% nya saja."
"Meskipun begitu aku akan tetap mencoba membayarnya. Seumur hidupku, aku berjanji akan memberikan seluruh uang yang kupunya untukmu. Jadi bisakah kita bercerai? Aku mohon padamu, Dean Nathan!" kata Oddie.
Nathan semakin mengeratkan cengkeraman tangannya. Dia tahu Oddie mengalami gangguan penglihatan. Tapi dia juga tahu Oddie tidak tuli. Jadi apa masih belum jelas kalimat yang dia ucapkan tadi?
"Die, aku mengingatkanmu untuk yang terakhir kalinya. Kalau kau berani mengatakan cerai lagi. Aku benar-benar akan bertindak kejam!" kata Nathan.
.
.
.
"Oddie?" sapa seorang pria dengan menurunkan kaca mobilnya.
Oddie yang dipanggil hanya diam saja. Lalu memperhatikan pria yang sekarang turun dari mobil dan mendekatinya.
"Die, apa kabar?" tanya pria itu lagi.
"Apa kau mengenalku?" tanya Oddie.
Pria itu tersenyum lebar. Tentu saja dia kenal dengan Oddie. Dia kan teman Oddie saat SMP. Mereka memang bukan teman dekat. Mereka juga tidak sekelas. Mereka hanya saling kenal karena Oddie dulunya adalah anggota PMR. Sedangkan pria yang saat ini menyapa Oddie adalah anak basket yang terluka dan mendapatkan pertolongan pertama dari Oddie.
"Aku sangat mengenalmu," jawab Pria itu.
Pria itu menyodorkan tangannya. Dulu dia tidak pernah punya kesempatan untuk memperkenalkan diri kepada Oddie. Sebenarnya bukannya tidak punya kesempatan. Hanya saja dia tidak percaya diri. Dia hanya anak basket yang minim prestasi. Sangat berbeda dengan Oddie dengan segudang prestasinya. Tapi, karena sekarang sudah bertemu, maka sekaranglah waktunya untuk memperkenalkan dirinya.
"Namaku Aarav. Kau tidak mengenalku. Tapi aku sangat mengenalmu," kata Aarav.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
@Kristin
kejam sungguh perlakuan mu Natan..
😡
2023-01-23
0
Sri Wahyuni
knp peran s odie jd cwe oon ya
2022-12-27
0