Oddie sangat ketakutan saat Nathan membawanya ke kamar. Dua tahun terakhir, jika Nathan sudah membawanya seperti ini, adegan selanjutnya pastilah berujung dengan penyiksaan brutal dari Nathan. Oddie terus menunduk, pasrah dengan pukulan yang kapan saja bisa mendarat di tubuhnya.
Tapi sepertinya hari ini sedikit berbeda. Karena Nathan hanya diam saja tanpa melakukan apa-apa. Pria itu berdiri membelakangi Oddie. Mencoba menahan amarahnya karena saat ini mereka sedang di rumah kakeknya. Jika tidak, pasti bertambah lagi ukiran luka di bagian tubuh Oddie yang sudah penuh cela.
"Apa kau tahu kesalahanmu?" tanya Nathan.
Suara itu masih datar dan dingin seperti biasanya. Membuat Oddie seolah terkuliti meskipun Nathan tidak sedang melihatnya.
"Aku tahu," jawab Oddie.
Meskipun Oddie tidak salah, tapi di mata Nathan Oddie akan selalu salah dan selamanya akan tetap begitu. Jadi daripada mengelak dengan mengatakan Kirana sengaja mendorongnya sehingga membuat Nathan marah, Oddie lebih memilih untuk mengalah.
"Apa?" tanya Nathan.
"Membuatmu malu," jawab Oddie.
"Lain kali kau tidak akan seberuntung ini. Apa kau mengerti?" tanya Nathan.
Nathan berbalik arah, mendekati Oddie yang masih mencermati apa yang Nathan katakan. Sementara Oddie, untuk pertama kalinya memberanikan diri untuk menatap wajah suaminya dan menjawab pertanyaan Nathan dengan jawaban yang lebih panjang. "Aku juga tidak ingin membuatmu malu. Jadi, lain kali jangan membawaku kemanapun," jawab Oddie.
Nathan yang mendengar jawaban itu tersenyum dengan mengangkat satu alisnya. "Lain kali jangan membawamu kemanapun? Apa kau pikir aku akan membawamu pergi denganku lagi lain kali?" tanya Nathan.
"Aku hanya mengingatkan. Siapa tahu kau lupa," jawab Oddie. Oddie melepaskan jas yang Nathan berikan untuknya. Memberikannya pada Nathan tanpa mengucapkan sepatah kata pun dan berbalik arah membelakangi Nathan yang semakin marah.
"Aku pulang," pamit Oddie.
Oddie sudah melangkah beberapa langkah. Tapi keinginannya untuk pulang sepertinya harus ditunda karena seseorang sudah lebih dulu mengetuk pintu kamar. Dia adalah Leah, orang kepercayaan Kakek Moeis yang sengaja dikirim oleh Kakek Moeis. Orang itu tidak sendirian, karena di belakangnya ada empat maid yang membawa peralatan mandi sekaligus baju ganti untuk Oddie.
"Kenapa kalian kemari?" tanya Nathan.
"Tuan Besar meminta kami mengantar baju ganti untuk Nona Oddie, Tuan Muda!" jawab Leah.
"Letakkan saja disana!" kata Nathan.
Leah yang tahu betul bagaimana temperamen Nathan hanya tersenyum. Kemudian meminta keempat maid itu meletakkan barang yang mereka bawa. Tapi setelah itu Leah tidak langsung pergi karena ada tugas yang diberikan Kakek Moeis untuknya.
"Tuan Muda Nathan, Tuan Besar memanggil Anda sekarang," kata wanita bernama Leah itu dengan sopan.
"Dimana?" tanya Nathan.
"Di ruang pribadi beliau," jawab Leah.
"Aku akan segera kesana," kata Nathan. Nathan sempat melirik Oddie sebelum pergi menemui sang kakek. Memberikan sebuah kode ancaman lewat tatapan matanya jika dia berani bicara sembarangan.
"Bantu Nona Oddie mandi," kata Leah setelah Nathan keluar dari kamarnya.
Empat maid itu menuruti titah Leah, tapi Oddie menolak dengan sopan. "Tunggu, itu tidak perlu. Aku bisa mandi sendiri!" kata Oddie.
"Maaf, tapi ini perintah!" kata Leah.
"Tapi, tapi,-"
"Jangan takut, kami hanya membantumu membersihkan diri dan mengganti pakaian basah agar tidak masuk angin," potong Leah.
Oddie tidak bisa lagi menolak. Dia hanya bisa pasrah saat empat maid itu membawanya ke kamar mandi dan mulai melepaskan pakaian luarnya.
Leah memperhatikan Oddie dengan seksama, mendekat dan mengelilingi Oddie untuk memeriksa tubuh yang penuh dengan bekas luka. Kakek Moeis sebenarnya bukan hanya meminta Leah untuk mengirimkan pakaian ganti. Tapi juga memeriksa Oddie.
"Bantu dia mandi. Setelah itu bawa dia menemui Tuan Besar," kata Leah.
"Tunggu!" kata Oddie.
"Ada apa, Nona Oddie?" tanya Leah.
"Aku hanya jatuh dari tangga. Jadi jangan salah paham," jawab Oddie.
Leah hanya tersenyum kemudian memberikan kode kepada keempat orang itu untuk melanjutkan tugasnya. "Jangan khawatir!" kata Leah.
Leah segera keluar dari kamar mandi. Membiarkan Oddie dimandikan sementara dirinya menyiapkan pakaian yang akan dikenakan Oddie setelah ini. Tentu saja dengan melaporkan apa yang dia lihat kepada Kakek Moeis melalui sebuah pesan singkat.
Tok
Tok
Tok
"Masuk!" sahut Kakek Moeis saat mendengar pintu diketuk.
"Kenapa kakek memanggilku?" tanya Nathan. Pria itu langsung duduk di depan kakeknya dan meminum segelas teh yang memang sengaja disuguhkan untuknya tanpa permisi.
"Nathan, kakek membebaskanmu dalam hal memilih istri. Kakek juga tidak pernah mengikatmu dengan sebuah perjodohan. Kakek hanya penasaran, kenapa kau menikah dengan Oddie. Apa karena kau mencintainya?" pancing Kakek Moeis.
Nada bicara itu keluar dari mulut Kakek Moeis dengan lembut. Sangat berbeda dengan perlakuannya pada Kirana yang juga sempat dia tegur habis-habisan sebelum mengusirnya tadi.
Sementara itu, Nathan tahu kakeknya menemuinya bukan tanpa alasan. Nathan juga tahu alasan kakek memanggilnya pasti ada hubungannya dengan Oddie. Jadi, daripada kakeknya terus memberondongnya dengan pertanyaan yang sama, lebih baik Nathan bicara jujur saja sekarang.
"Aku tidak mencintainya," jawab Nathan.
Jawaban itu membuat Kakek Moeis larut dalam lamunannya. Dia ingat pernah melihat Oddie sebelumnya meskipun lupa kapan dan dimana tempatnya. Tapi yang jelas saat itu Oddie tidak pincang. Kakek Moeis pun menghubungkan jawaban Nathan dengan laporan Leah yang mengatakan ada banyak bekas luka yang menghiasi seluruh tubuh Oddie
"Apa ini ulah Nathan? Apa Nathan sengaja menikahi anak itu hanya untuk balas dendam karena kesalahan orangtuanya? Jika iya, bukankah ini sangat tidak adil untuk anak itu?" batin Kakek Moeis.
Sama seperti Nathan, Kakek Moeis memang marah besar dengan pengkhianatan yang dilakukan orangtua Oddie. Tapi menghukum anak penjahat dengan mengikatnya dalam sebuah pernikahan sampai membuatnya cacat juga sangat tidak di benarkan.
Pria tua itu menghela nafas panjang sebelum meminum teh miliknya setelah tahu apa yang harus dia lakukan.
.
.
.
"Bagaimana denganmu, Die?" tanya Kakek Moeis.
Saat ini Oddie sudah duduk di samping Nathan memenuhi panggilan Kakek Moeis. Jari-jarinya saling terpaut, menandakan betapa cemasnya Oddie, terlebih saat dirinya mendapatkan pertanyaan seperti itu di depan Dean Nathan.
"Die, kau belum menjawab pertanyaan kakek. Apa kau mencintai Nathan?" ulang Kakek Moeis.
"Tidak!" jawab Oddie.
Setelah memantapkan hatinya akhirnya kalimat itu meluncur juga. Kakek Moeis langsung memijit keningnya. Menghela nafas panjang sebelum memberikan pertanyaan lainnya.
"Kalau kalian tidak saling mencintai. Lalu kenapa kalian menikah?" tanya Kakek Moeis. Berpura-pura tidak tahu apa tujuan Nathan agar Nathan tidak curiga.
Suasananya menjadi hening setelah Kakek Moeis mengucapkan pertanyaan terakhirnya. Baik Nathan ataupun Oddie dua-duanya memilih diam. Berbeda dengan Nathan yang diam karena tidak ingin mengatakan tujuannya menikahi Oddie adalah untuk balas dendam, Oddie malah sedang mengumpulkan keberanian untuk mengatakan sesuatu yang tidak pernah berani dia katakan sebelumnya.
"Kakek, aku ingin bercerai!" kata Oddie.
"Apa yang baru saja kau katakan, Die? tanya Nathan.
"Tidak ada cinta diantara kita. Bukankah lebih baik kita bercerai? Selanjutnya, kau menikah saja dengan wanita yang kau cintai," jawab Oddie.
"Apa kau serius dengan apa yang kau katakan?" tanya Kakek Moeis.
"Aku serius, Kek!" jawab Oddie.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
@Kristin
Lebih baik.begitu dari.pd Odie menderita...
2023-01-23
0
Nur Ain
yes
2022-12-23
0