Bab 3 Selembar Uang Terakhir Oddie

Mama Rindi memperhatikan Oddie dengan seksama. Melihat dengan teliti inci demi inci bagian-bagian Oddie yang masih sama saja. Sudah dua tahun Oddie menikah. Kenapa Oddie masih belum hamil juga? Apa Nathan tidak ingin segera memiliki anak?

Mama Rindi tidak yakin akan mengatakannya. Tapi dia tidak bisa menahannya lagi. Dua tahun yang lalu Nathan mendatanginya dan mengatakan ingin menikahi Oddie. Mama Rindi kira itu adalah pembuktian cinta Nathan untuk Oddie. Jadi Mama Rindi mengatakan asal Oddie bersedia, maka mereka bisa menikah.

Tapi yang membuat Mama Rindi penasaran adalah kenapa Oddie semakin kurus dari hari ke hari. Pakaiannya juga tidak semewah yang digunakan Nathan. Oddie, meskipun masih terlihat cantik tapi sudah tidak terlalu terawat seperti dulu lagi. Selain itu, kenapa mereka tidak pernah datang bersama saat berkunjung. Apa Oddie benar-benar bahagia?

"Die, apa Nathan memperlakukanmu dengan baik?" tanya Mama Rindi.

"Apa?" tanya Oddie. Dia sedikit kaget dengan pertanyaan mamanya yang tiba-tiba menyebut Nathan.

"Apa Nathan baik padamu?" ulang Mama Rindi.

"Dia baik," jawab Oddie.

"Baguslah kalau Nathan memperlakukanmu dengan baik. Tapi Die, saat Nathan tidak sibuk apa tidak sebaiknya kalian pergi ke dokter?" saran Mama Rindi.

"Kenapa aku harus ke dokter? Oddie kan baru dari dokter," tanya Oddie tidak mengerti.

"Die, sudah dua tahun. Mama bukannya berpikir aneh-aneh. Hanya saja apa kalian tidak ingin memeriksakan diri untuk memastikan kalian berdua sehat? Kalau kalian sehat, mama juga ikut senang. Mungkin hanya belum waktunya kalian diberi momongan. Tapi seandainya tidak, bukankah sebaiknya kalian mencari cara untuk membuat kalian tetap mempunyai anak?" jawab Mama Rindi.

Oddie hanya terpaku mendengarnya. Anak ya? Bagaimana seorang anak bisa lahir tanpa dibuat? Bagaimana mereka bisa membuat anak sementara tidak ada cinta diantara mereka. Lagipula seharusnya Nathan akan tetap punya anak meskipun itu bukan dari dirinya. Kirana, sekretaris cantik yang bersinar terang dan selalu bersama Dean Nathan itu pasti akan memberikan anak untuk Nathan dengan senang hati. Lalu Oddie, dia hanya akan membusuk layaknya seonggok sampah di sudut bumi tergelap.

"Ma, kami masih sangat muda. Kami tidak terburu-buru untuk memiliki anak. Dean sangat sibuk dan aku tidak siap jadi ibu. Jadi biarkan saja seperti ini," jawab Oddie beralasan.

"Die, Nathan selalu bekerja. Diluar sana dia pasti bertemu dengan banyak perempuan cantik. Apa kau tak takut suamimu tertarik dengan perempuan lain? Setidaknya jika sudah ada anak diantara kalian itu akan membuatnya lebih betah di rumah. Apa kau mengerti?" jelas Mama Rindi.

"Aku mengerti, Ma!" jawab Oddie.

Mereka tidak mengatakan apa-apa lagi selain itu. Hanya terus tersenyum dan saling memandang satu sama lain sampai seorang sipir mengatakan waktu kunjungan sudah habis.

"Kembalilah, Nak! Layani suamimu dengan baik. Sekarang sudah hampir waktunya makan siang. Bukankah seharusnya kau pergi untuk membawakannya bekal?" tanya Mama Rindi kemudian berlalu.

Oddie hanya mengangguk sembari tersenyum, tapi belum ingin beranjak dari tempatnya sampai mamanya tak terlihat lagi.

Dean Nathan tidak pernah mengakuinya sebagai istri. Mereka memang menikah tapi pernikahan itu seperti sebuah rahasia yang tidak diketahui oleh siapapun selain mereka. Jadi kenapa dia harus ke kantor membawakan bekal untuk Dean Nathan. Sudah bagus kalau Dean hanya membuang bekalnya atau membanting pintu. Bagaimana kalau Dean marah dan menghajarnya karena berani menginjakkan kaki disana? Bagaimana kalau dia kehilangan penglihatan mata kanannya juga?

Oddie akhirnya bangkit. Meninggalkan rumah tahanan itu untuk pergi ke tempat tujuannya berikutnya, pemakaman papanya.

.

.

.

Setelah dari pemakaman, Oddie singgah di sebuah taman bermain untuk melihat anak-anak yang berlarian di sana. Senyum yang sudah lama hilang itu akhirnya kembali muncul meski hanya sesaat.

"Kakak?" panggilan seorang anak kecil membuyarkan senyuman Oddie.

Oddie tidak menyahut, tapi sekelompok anak kecil lainnya turut menghampiri Oddie ketika melihat Oddie duduk sendirian dan terlihat kesepian.

"Kakak kenapa?"

"Apa ini sakit?"

"Kakak, mau bermain dengan kami?"

Mereka tersenyum ceria, bahkan sudah menarik tangan Oddie sebelum Oddie sempat mengiyakan ajakan mereka.

"Kakak, nama kakak siapa?"

"Kakak, apa rumah kakak disekitar sini? Kenapa aku tidak pernah melihat kakak?"

Sekumpulan bocah itu terus memberikan pertanyaan pada Oddie yang baru mereka kenal. Oddie menjawab satu persatu pertanyaan itu dengan sabar kemudian bermain dengan mereka meskipun dengan menahan sakit di kakinya yang pincang. Oddie bahkan sampai rela menggunakan selembar uang terakhirnya untuk membelikan mereka ice cream dan menikmatinya bersama-sama setelah mereka lelah bermain.

Hanya untuk hari ini saja senyum itu terus merekah menghiasi sudut-sudut bibir Oddie. Bukan hanya anak-anak itu yang melihatnya, tapi Dean Nathan pun juga melihatnya meskipun dari kejauhan.

Di seberang jalan sana, di dalam sebuah mobil mewah yang terparkir Dean Nathan sedang memperhatikan apa yang Oddie lakukan. Nathan mencari Oddie bukan karena mencemaskan keadaannya. Dia hanya memastikan Oddie tidak lari dari genggamannya setelah pihak rumah sakit mengatakan bahwa Oddie kabur.

"Apa yang kau lakukan, Die?" tanya Nathan. Entah kapan pria ini datang, tapi Nathan sudah berdiri di belakangnya dengan tatapan jijik seperti biasanya

"A-aku, a-aku,-"

"Pulang sekarang juga!" potong Nathan.

Nathan segera pergi setelah memberikan instruksinya. Melihat Oddie yang berjalan seperti keong dari dalam mobil tanpa belas kasih. "Ingin punya anak dariku? Mimpi sana! Melihatmu saja aku sudah sangat muak!" gumam Nathan setelah mengingat laporan dari bawahannya yang mengatakan apa yang Oddie dan ibunya bahas di penjara.

.

.

.

"Sayang, kau tadi pergi kemana saja?" tanya Kirana sore itu.

Wanita itu baru saja mengerjakan pekerjaan penting di luar dan baru pulang sore hari. Sekretaris wanita yang menjelma menjadi pelakor itu langsung menghambur ke pelukan Nathan. Wajah cantik, ekspresi cemberut, aroma parfum sensual dan pelukan manja itu entah kenapa Nathan tidak menginginkannya saat ini. Hari-hari sebelumnya jika Kirana sudah seperti ini, Nathan akan langsung menyambar bibirnya yang seksi atau mereka akan berakhir dengan adegan panas di atas ranjang.

Tapi kenapa sore ini berbeda? Apa karena Nathan terlalu lelah sampai tidak menunjukkan reaksi apa-apa meskipun Kirana mulai memancing gairah Nathan dengan tangan liarnya?

"Nathan?" protes Kirana.

"Maafkan aku, Ki! Ada banyak pekerjaan yang belum aku selesaikan!" tolak Nathan.

Kirana memasang wajah cemberut. Seharian ini dia bekerja diluar. Siang harinya Nathan membatalkan janji makan siang dan sorenya menolak pelukannya. Untung saja Nathan segera membujuknya agar tidak marah. Karena kalau tidak, sasaran kemarahannya pasti akan dia lampiaskan kepada Oddie.

"Jangan marah seperti ini. Kau sangat jelek kalau marah!" bujuk Nathan.

"Nathan!" rengek Kirana.

"Baiklah, apa yang harus kulakukan agar kau tidak marah?" tanya Nathan.

"Aku ingin tas baru. Aku sudah lama tidak beli tas," jawab Kirana.

Nathan berpikir sejenak. Dua bulan yang lalu dia baru saja memberikan tas branded yang cukup mahal. Tapi karena tidak ingin membuat Kirana marah dan moodnya sedang buruk, akhirnya Nathan langsung mentransfer sejumlah uang ke rekening Kirana agar dia membeli tas yang dia inginkan.

"Apa itu cukup untuk membeli tas baru?" tanya Nathan.

"Cukup," jawab Kirana sumringah setelah melihat jumlah uang yang ditransfer oleh Nathan.

Pelakor itu tidak cemberut lagi. Tapi langsung menciumi Nathan saking bahagianya.

"Kau istirahatlah duluan. Aku harus lembur malam ini!" kata Nathan.

Kirana langsung keluar dari ruangan kerja Nathan. Sementara Nathan segera mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda. Nathan baru saja mengambil satu proposal yang harus dia periksa dan baru membuka lembaran pertama tapi bukan tulisan yang dia lihat, melainkan wajah Oddie yang tersenyum saat bermain dengan anak-anak.

Nathan menutup kembali proposal itu. Membuangnya begitu saja dan bertumpukan dengan proposal lainnya. "Sepertinya pelajaran yang ku berikan masih terlalu ringan untukmu, Die."

...***...

Terpopuler

Comments

Rini Antika

Rini Antika

pengen jahit tuh mulut si nathan..😠

2023-01-11

0

Rini Antika

Rini Antika

kebanyakan makan ati Ma

2023-01-11

0

Rini Antika

Rini Antika

dipegang aja enggak, bagaimana mau punya Anak..🙈

2023-01-11

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!