Bab 13 Rumah Reyot

Hari ini Nathan sudah kembali dari perjalanan bisnisnya. Dia masuk ke halaman rumah dengan percaya diri sembari menenteng kantong berisi minuman yang dia beli di minimarket. Senyumnya mengembang, berharap mamanya dan Kirana menyambutnya saat dia membuka pintu nanti.

Nathan memang berharap seperti itu. Tapi sayangnya yang terjadi bukan begitu karena tidak ada siapapun yang menyambutnya di lantai bawah. Karena tidak mendapati siapapun, Nathan memutuskan untuk keatas. Benar saja, disana dia melihat semua penghuni rumah berkumpul kecuali Oddie. Kirana sedang menangis, sementara Mama Maureen berdiri di hadapan Lastri, Maman dan dua satpam yang bersimpuh di lantai.

"Ada apa. Kenapa semuanya berkumpul disini?" tanya Nathan. Pria itu segera meletakkan barang-barangnya ke meja. Lalu menghampiri Kirana yang langsung memeluknya.

"Sayang, satu set perhiasanku hilang," kata Kirana dengan berlinangan air mata.

Nathan melirik kearah keempat pembantunya. Sekarang Nathan tahu apa alasan mereka berlutut disana. Nathan mengerutkan keningnya sebentar. Selama ini rumahnya bisa dibilang aman karena tidak pernah kehilangan barang atau ada pencuri yang masuk. Tapi kenapa tiba-tiba Kirana kehilangan perhiasan? Meskipun tidak terlalu dekat dengan keempat pembantunya, tapi Nathan cukup percaya mereka bukanlah seorang pencuri.

"Ki, ingat-ingatlah dulu. Mungkin kau lupa menaruhnya," hibur Nathan.

"Nathan, aku yakin menaruhnya di tempat biasa. Aku masih melihatnya kemarin malam. Tapi aku tidak bisa menemukannya hari ini meskipun sudah mencarinya di semua tempat," adu Kirana.

Nathan melihat sekeliling. Kamar mereka memang sangat berantakan. Bukti bahwa Kirana sudah mencari perhiasannya di seluruh tempat. Disaat Nathan lengah, Kirana langsung memberikan sebuah kode kepada Mama Maureen yang masih diam saja. Berharap wanita itu segera angkat bicara untuk melakukan rencana selanjutnya.

"Nathan, pasti ada pencuri di rumah ini. Karena mereka tidak ada yang mengaku, kenapa tidak menggeledah kamar mereka. Pasti perhiasan Kirana ada di salah satu kamar mereka," kata Mama Maureen.

Tanpa menunggu lama akhirnya mereka menggeledah kamar atau tempat yang mereka curigai digunakan untuk menyembunyikan perhiasan Kirana. Tapi tidak ada satupun yang mereka temukan meski sudah mengobrak-abrik seluruh tempat.

"Kau sudah lihat, kan? Tidak ada pencuri di rumah ini. Sekarang minta maaf pada mereka," kata Nathan.

"Tidak! Aku yakin pasti ada pencuri di rumah ini," tolak Kirana.

"Ki?" kata Nathan.

"Nathan, perhiasan itu adalah pemberianmu. Aku tidak tenang jika tidak menemukannya kembali. Bukankah masih ada satu tempat yang masih belum kita periksa?" tanya Nathan.

"Benar. Kita belum menggeledah kamar wanita rendahan anak koruptor itu. Pasti dia pencurinya," kata Mama Maureen.

Wanita paruh baya itu segera masuk ke kamar Oddie. Bersama Kirana mengobrak-abrik semuanya bahkan menghancurkan satu benda kesayangan Oddie pemberian ayahnya ketika Oddie masih kecil.

Lastri, Maman dan kedua satpam yang sedari tadi diam mulai saling pandang. Entah kenapa firasat mereka mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Tidak mungkin Oddie mencuri, tapi apapun bisa terjadi. Karena Kirana dan Maureen sudah bergerak, pasti sudah ada jebakan yamg mereka pasang untuk mengusir Oddie.

"Ketemu!" kata Kirana setelah membongkar lemari terbawah dan melihat kotak perhiasan miliknya.

Tepat saat itu, saat Kirana menemukan perhiasannya Oddie pulang kerumah. Gadis itu sudah berdiri di belakang keempat pembantu yang berdiri di depan pintu. Menerka-nerka apa yang sedang mereka lakukan di kamarnya. Lalu, apa yang ketemu?

"Apa yang kalian lakukan?" tanya Oddie saat melihat kamarnya berantakan.

Semua orang menoleh kebelakang. Melihat Oddie dengan tatapan yang berbeda-neda setiap orang. Keempat pembantu itu menatap Oddie dengan tatapan iba. Maureen dan Kirana menatapnya dengan tatapan kebencian dan Nathan menatapnya dengan tatapan yang tak biasa.

"Dasar pencuri!" teriak Kirana.

Kirana bergegas mendekati Oddie. Langsung menampar Oddie yang tidak tahu apa-apa.

Tangan Kirana bahkan sudah terangkat lagi. Siap memberikan sebuah tamparan untuknya. Tapi Nathan menghentikannya. "Hentikan, Ki!"

"Nathan?" protes Kirana.

"Biar aku yang mengurusnya," kata Nathan.

Sungguh, sebenarnya Nathan sangat lelah. Dia hanya ingin istirahat sekembalinya dari luar kota. Tapi tidak menyangka ada hal seperti ini yang menyambutnya di rumah. Pria itu akhirnya keluar dari kamar Oddie. Memilih membawa Oddie ke ruangannya untuk diinterogasi disana.

"Kenapa kau mencuri?" tanya Nathan.

Nathan langsung menuduh Oddie pencuri hanya karena menemukan perhiasan Kirana di kamar Oddie. Menghakimi Oddie tanpa menyelidiki lebih jauh apakah benar Oddie pencurinya. Mungkin, dia terlalu mempercayai dan mencintai Kirana sampai di mata Nathan Kirana selalu benar dan Oddie selalu salah.

Nathan sempat kasihan beberapa waktu lalu. Tapi melihat tingkah Oddie yang dianggapnya semakin kelewatan membuat Nathan kehabisan kesabaran.

"Aku tidak mencuri," jawab Oddie.

"Lalu kenapa perhiasan Kirana ada di kamarmu?" tanya Nathan.

"Aku tidak tahu. Seharian ini aku bekerja lalu pulang-pulang kalian sudah menemukan benda itu di kamarku," jawab Nathan.

"Apa kau pikir kotak itu punya kaki dan pindah sendiri?" tanya Nathan lagi.

"Bukan itu maksudku, Dean!" jawab Oddie.

"Lalu?" tanya Nathan dengan amarah yang siap meledak kapan saja.

"Bagaimana kalau ada orang lain yang memindahkannya selagi aku tidak ada?" jawab Oddie.

Mendengar jawaban Oddie membuat Nathan menggebrak meja dengan kasar. Oddie bahkan langsung mundur kebelakang beberapa langkah karena gebrakan yang terlalu keras.

"Apa kau baru saja menuduh Kirana sengaja meletakkan perhiasan itu di kamarmu? Omong kosong macam apa itu, Die?" tanya Nathan.

Oddie tidak lagi menjawab pertanyaan Nathan. Dia tahu hal seperti ini selalu terjadi. Tidak ada gunanya membela diri karena Nathan selamanya tidak akan pernah mempercayainya.

"Die, aku tahu kau pincang. Aku tahu penglihatan matamu menurun. Tapi aku juga tahu kau tidak bisu dan tuli. Jadi jawab pertanyaanku," desak Nathan.

Oddie menggigit bibirnya ketika mendengar sumpah serapah Nathan yang semakin kelewatan. Apa dia benar-benar sangat tidak ada harganya sampai Nathan tega melakukan semua ini?

"Jawab aku, Die!" bentak Nathan lagi dengan menggebrak meja lebih keras.

Setelah menenangkan diri sesaat, akhirnya Oddie memberanikan diri mengangkat wajahnya untuk melihat Nathan.

"Kau ingin aku menjawab apa?" tanya Oddie. Dia harus bagaimana. Dia sudah berkata jujur tapi Nathan tidak percaya. Apa Oddie harus mengakui kesalahan yang tidak dia lakukan dan berujung ke penyiksaan lagi?

"Kau ini benar-benar!" umpat Nathan.

Nathan melirik kantong minuman yang sempat dia beli di minimarket tadi. Sebenarnya minuman itu adalah minuman yang sengaja dia beli untuk mengganti minuman milik Oddie yang dia banting tempo hari. Tapi karena Oddie selalu mencari masalah, Nathan memutuskan untuk membuangnya ke tempat sampah.

"Ikut denganku sekarang!" kata Nathan.

Nathan menarik Oddie dengan kasar. Membawanya ke kamarnya dan mengemasi barang-barangnya yang tidak seberapa. Oddie kira dia akan diusir ke jalanan. Oddie kira ini adalah awal kebebasannya. Tapi Oddie salah besar. Karena Nathan membawanya pergi ke sebuah rumah tua dan meninggalkannya disana seorang diri.

"Kau tidak cocok tinggal dengan manusia. Jadi tinggal disini saja dan renungi kesalahanmu!" kata Nathan.

"Dean?" panggil Oddie ketika Nathan akan pergi.

Nathan sempat menoleh. Sebelum memperingatkan Oddie untuk tidak macam-macam atau kabur karena Nathan sudah mengatur orang untuk mengawasinya setiap saat. Kerja ya kerja saja. Tapi, Oddie harus tetap kembali ke rumah ini apapun yang terjadi.

...***...

Terpopuler

Comments

@Kristin

@Kristin

Kasihan Oddie kena Fitnah lagi.

2023-02-16

0

@Kristin

@Kristin

Wah siapa maling nya ...

2023-02-16

0

Sri Wahyuni

Sri Wahyuni

emng ga ada cctv d rumah..bca y lma2 tambah kesel sm peran y s odie jg sm kake s nathan yg kta y penguasa tpi msih bsa kalah sm s nathan tmbah darting az bca y..lma2 bukan nya ksian sm s odie yg ada mlh kesel krn sikp nya yg lmah

2023-01-08

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!