Nathan masih memeluk Oddie dari belakang. Mendekapnya dengan erat karena mengira yang dia peluk adalah Kirana.
"Ki, kenapa tidak membalas pelukanku?" tanya Nathan.
"Apa kau marah? Apa aku melakukan kesalahan? Apa kau ingin membeli tas atau sepatu baru? Aku akan memberikan uangnya besok. Jadi tolong jangan marah dan peluk aku," kata Nathan saat Oddie tidak bereaksi.
Nathan terus memohon. Tidak hanya memeluk Oddie tapi juga ingin mencium Oddie. Tapi Oddie memalingkan muka dan segera melepaskan pelukan Nathan meskipun gagal.
"Apa kau menolakku, Ki?" tanya Nathan.
"Kau ini memang benar-benar brengsek!" batin Oddie.
Sudah salah mengenali orang, lalu dengan mudahnya berjanji akan memberikan uang untuk menyenangkan selingkuhannya. Sementara Oddie, sepeserpun tidak pernah mendapatkan nafkah dari Nathan. Oddie memang sudah terbiasa diabaikan Nathan. Terbiasa dipukul dan hidup layaknya pembantu. Tapi jujur saja, mendengar apa yang Nathan katakan nyatanya masih melukai hati dan perasaannya.
"Singkirkan tangan dan kepalamu dariku. Kau salah memeluk orang, Dean!" kata Oddie.
Oddie menggunakan seluruh kekuatannya untuk melepaskan diri. Lalu segera bangkit dan meninggalkan Nathan meskipun Nathan bilang jangan pergi. Tapi pria itu mengejarnya sampai harus terjerembab ke lantai dengan memeluk kaki Oddie. Tentu saja Oddie juga harus terjatuh karena kakinya tidak memiliki keseimbangan yang baik setelah pincang.
"Ki, bukankah aku sudah minta maaf. Kenapa kau masih marah. Apa yang harus kulakukan agar kau tidak marah?" tanya Nathan.
Oddie semakin jengkel dibuatnya. Kesabarannya habis juga karena Nathan terus-terusan memanggilnya dengan nama Kirana. Akhirnya Oddie mendaratkan sebuah tamparan di pipi Nathan agar pria itu sadar. "Dean, buka matamu itu lebar-lebar! Aku ini Oddie. Jadi biarkan aku pergi."
"Auch!"
Nathan memegangi pipinya yang ditampar Oddie. Telinganya mendengung keras dan kepalanya bertambah sakit. Tapi akhirnya dia bisa melihat siapa yang sebenarnya dia peluk tadi. "Oddie?" ucap Nathan lirih.
Tapi Oddie tidak menjawab apapun dan memilih pergi. Meninggalkan Nathan terbaring di lantai begitu saja tanpa belas kasihan. Sementara Nathan, dia hanya bisa melihat Oddie meninggalkan kamarnya tanpa menoleh.
Nathan masih tergeletak di lantai yang dingin. Bukannya tidak ingin bangun, tapi tidak memiliki kekuatan untuk bangun. Sampai pandangannya mulai kabur dan kehilangan kesadarannya tanpa ada yang menolong.
Malam itu, Nathan menghabiskan malam dengan tidur di lantai. Lalu sadar dengan sendirinya keesokan harinya. Sementara Oddie tidur dengan nyenyak di kamarnya yang meskipun sangat sederhana tapi memberikan kehangatan dan rasa nyaman.
.
.
.
"Kenapa aku tidur di lantai?" gumam Nathan.
Nathan akhirnya bangun setelah mendengar suara ayam berkokok. Karena merasa dingin, Nathan akhirnya bangkit dan pindah ke ranjang sambil mengingat kembali apa yang membuatnya tidur di lantai.
Pria itu tersenyum tipis setelah mengingat kejadian semalam. Saat dia memeluk Oddie, mengejar Oddie, ditampar Oddie dan ditinggalkan begitu saja oleh Oddie.
"Die, satu tamparan ini. Aku pasti akan membalasnya nanti," kata Nathan sembari memegangi pipinya yang ditampar Oddie semalam.
BRAK
Lagi-lagi Nathan membanting pintu saat menemui Oddie di kamarnya. Oddie yang tengah bersiap pun terperanjat saking kagetnya.
"Bagus sekali yang kau lakukan padaku semalam, Die?" kata Nathan.
Nathan sudah berdiri di belakang Oddie yang duduk di depan meja rias. Lalu bersama-sama melihat pantulan wajah mereka masing-masing dari pantulan cermin. Pandangan mereka saling bertemu dan Oddie bisa melihat Nathan sudah menyeringai seolah siap membalas perlakuan Oddie semalam. Oddie langsung berbalik arah. Lalu memberikan tongkatnya kepada Nathan tanpa melihat wajahnya lagi.
"Pukul aku!" kata Oddie dengan menyodorkan dua tangannya kepada Nathan.
"Kenapa?" tanya Nathan.
"Karena aku menamparmu semalam," jawab Oddie.
Nathan membuang tongkat itu begitu saja. Lalu merendahkan wajahnya dan mengangkat wajah Oddie agar melihatnya. "Maksudku adalah, kenapa kau berani menamparku?" tanya Nathan.
Oddie tidak ada pilihan selain melihat Dean Nathan. Tapi alih-alih takut. Oddie bahkan mulai berani menjawab pertanyaan Nathan. "Lalu aku harus bagaimana. Apa aku harus membiarkanmu salah mengenali orang dan terus-terusan memelukku?" jawab Oddie.
"Oh, mulutmu ini ternyata sudah berani bicara seperti itu padaku, Die?" kata Nathan dengan senyum tipis yang semakin melebar.
"Jangan besar kepala hanya karena aku memelukmu semalam. Apa kau pikir aku sudi memeluk tubuhmu yang cacat itu jika aku tidak sakit sampai salah mengenali orang?" tanya Nathan.
"Dean, aku tidak sedang besar kepala. Apa kau pikir dipeluk olehmu adalah hal yang bisa ku banggakan. Asal kau tahu, Dean! Sama sepertimu yang jijik disentuh olehku, aku pun juga jijik disentuh olehmu," jawab Oddie.
Jawaban tegas dari Oddie itu membuat rahang Nathan mengeras. Baru satu bulan Nathan membiarkan Oddie bekerja. Tidak menyangka gadis itu sudah berani ngelunjak dan berani menjawabnya.
"Jijik disentuh olehku? Apa aku tidak salah dengar?" tanya Nathan dengan senyum sinis.
Nathan sangat tampan, perkasa dan sempurna. Apa ada alasan seorang wanita untuk jijik saat mendapatkan pelukan darinya? Di luar sana bahkan ribuan gadis rela melakukan apa saja untuk mendapatkan perhatiannya.
"Karena dalam pelukanmu itu, tertinggal bekas pelukan wanita simpanan itu," jawab Oddie.
Nathan semakin murka mendengar jawaban Oddie. Kenapa Oddie semakin berani melawan. Kenapa Oddie berani mengatai Kirana sebagai wanita simpanan. Baiklah, katakanlah Kirana adalah wanita simpanannya, tapi bukankah Oddie sendiri bahkan lebih rendah karena Oddie hanyalah wanita murahan?
Nathan pernah melihat fotonya sekali. Beberapa foto yang dikirim untuknya tanpa tahu siapa pengirimnya. Beberapa foto yang menampilkan foto mesum yang menunjukkan Oddie lah pemeran wanitanya.
"Lalu, apa kau merasa lebih baik dari Kirana, Die? Bukankah kau jauh lebih buruk darinya? Berapa banyak pria yang sudah tidur denganmu. Jadi jangan sok suci dan jijik hanya karena aku memelukmu. Akulah yang harusnya jijik karena memeluk wanita yang tubuhnya pernah dicicipi oleh banyak pria," bentak Nathan.
DEG
Hati Oddie hancur lebur mendengar bentakan dan tuduhan Nathan. Sekalipun Oddie tidak pernah tidur dengan pria manapun. Meskipun seseorang pernah mencuri ciuman pertamanya saat dirinya masih menjadi seorang mahasiswi dulu, tapi Oddie masih suci sampai sekarang. Foto itu hanyalah fitnah. Tapi apa yang bisa dilakukan Oddie untuk membuktikan dan membuat Nathan percaya sementara kebencian sudah mendarah daging di seluruh bagian Nathan?
"Die, jujur saja. Uang yang kau berikan padaku kemarin. Apa itu bayaran yang kau dapatkan dari hasil menjual tubuhmu?" tanya Nathan lagi.
Sial, padahal Oddie sudah menahan untuk tidak menangis. Tapi air matanya turun juga meskipun langsung dihapusnya.
"Iya, itu uang yang kudapatkan dari menjual diriku. Apa kau puas sekarang?" jawab Oddie.
Oddie menyerah. Lebih baik iyakan saja apa yang Nathan tuduhkan padanya agar semuanya segera berakhir. Oddie mulai menutup matanya. Karena yakin sebuah tamparan akan segera dilayangkan Nathan untuknya.
PLAK
Tamparan keras itu benar-benar mendarat di pipi Oddie. Tidak hanya sekali, tapi dua kali di masing-masing pipinya.
"Dasar wanita murahan!" hina Nathan.
"Iya, aku memang wanita murahan. Maka dari itu segera ceraikan aku!" kata Oddie menutup pembicaraan.
Oddie segera bangkit. Meninggalkan Nathan begitu saja untuk menjemput rezekinya dengan pekerjaan yang sepenuhnya halal di restoran milik Aarav.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
Nur Ain
wah hebat ya pukul isteri...
2023-01-04
1
MIKU CHANNEL
km itu cemburu, merasa dipermainkan, bknya km itu org kaya dan pemimpin sebuah perusahaan bsr, cari tau dong kebenaranya jgn asal percaya sm video yg tdk jls asal usulnya, apa mungkin itu Kirana yg kirim? ini kira2 kaki dan mukanta Oddie bisa sembuh seperti dulu ngak? kasihan liatnya
2023-01-04
1