Nathan baru saja keluar dari sebuah minimarket setelah membeli sebotol minuman. Pria itu berlari dengan langkah tergesa untuk menembus hujan yang mulai turun.
"Aish! Kenapa tiba-tiba hujan begini?" gumam Nathan setelah masuk ke mobil.
Pria itu membersihkan bajunya dari air hujan. Lalu segera membasahi kerongkongannya yang kering sebelum memakai sabuk pengaman untuk melanjutkan perjalanannya. Belum juga menyalakan mesin, Nathan sudah menangkap sosok Oddie yang berjalan tepat di depan mobilnya. Berjalan susah payah dengan meletakkan tasnya di atas kepala untuk melindungi dirinya dari hujan yang turun semakin deras. Tapi secepat apapun Oddie berjalan, tetap saja sebagian besar bajunya harus basah. Dia kan pincang.
"Sudah tahu hanya ada dua musim di negara ini. Kenapa masih tidak membawa payung? Dasar bodoh!" gerutu Nathan.
Pria itu membuang mukanya. Tidak tertarik untuk memberikan tumpangan meskipun hujan sedang turun lebat-lebatnya. Mesin mobil sudah Nathan nyalakan. Meluncur melewati Oddie begitu saja tanpa peduli bagaimana cara Oddie pulang. Mobil itu sudah berjalan beberapa puluh meter kedepan tapi sesuatu yang tidak terduga terjadi karena Nathan menepikan mobilnya disana.
"Sial!" umpat Nathan.
Nathan masih sangat marah mengingat Oddie yang menamparnya tempo hari. Tapi melihat Oddie yang menyedihkan seperti itu tiba-tiba muncul perasaan iba di benaknya. Terlebih saat dirinya tidak sengaja melihat wajah Oddie yang pucat dengan tangan yang terus memegangi perutnya. Nathan memukul kemudinya. Lalu putar arah untuk kembali ke tempat tadi. Tapi pria itu masih enggan turun meskipun sudah berada di tempat tadi dan melihat Oddie dengan sangat jelas.
"Ck, kenapa juga aku harus menolongnya. Dia kan baru menamparku kemarin," gumam Nathan.
Nathan masih terpaku di tempatnya. Terjebak diantara dua pilihan untuk menolong atau tidak. Saat Nathan masih ragu untuk turun, saat itulah Nathan melihat sebuah mobil berhenti tepat di depan mobilnya. Pintu mobil itu terbuka, lalu seorang pria turun dari mobil dan menghampiri Oddie yang mulai kedinginan. Nathan bahkan mendengar percakapan mereka dengan jelas setelah membuka sedikit kaca mobilnya.
Pria itu adalah Aarav. Pria yang sebelumnya sempat menawarkan tumpangan tapi ditolak Oddie dengan alasan bisa pulang sendiri.
"Apa suamimu tidak menjemput lagi malam ini?" tanya Aarav.
Pria itu sudah berdiri di depan Oddie. Memandangi Oddie dengan rasa iba karena tidak pernah diperhatikan suaminya. Aarav ingat bagaimana mewahnya rumah yang Oddie tinggali. Seharusnya pemilik rumah itu banyak uang. Tapi apa yang terjadi sampai Oddie harus bekerja meskipun kondisinya seperti ini?
Oddie yang kenal suara itu mendongakkan kepalanya. Lalu segera mencari alasan yang cocok untuk menutupi aib rumah tangganya. "Suamiku sangat sibuk," jawab Oddie.
"Apa dia selalu sibuk seperti ini, Die?" tanya Aarav lagi.
"Eum," jawab Oddie.
"Pantas saja kalian belum punya anak meskipun sudah menikah selama dua tahun," kata Aarav.
Oddie tidak tahu harus menjawab apalagi. Akhirnya hanya seulas senyum yang dia berikan untuk menanggapi pendapat Aarav barusan.
Aarav yang melihat Oddie seperti ini hanya bisa geleng-geleng kepala. Kalau saja dia yang jadi suami Oddie, pasti dia tidak akan membiarkan Oddie selalu sendirian seperti ini. Kemanapun Oddie pergi, Aarav pasti akan mengantarnya. Sayangnya Oddie bukan istrinya. Bahkan meskipun Aarav ingin Oddie jadi istrinya itu adalah hal yang sudah tidak mungkin terjadi.
Aarav melihat Oddie sekali lagi. Melihat wanita yang semakin pucat karena nyeri haid dan kedinginan diwaktu yang bersamaan.
"Die, apa kau sedang datang bulan?" tanya Aarav.
Wajah Oddie langsung memerah. Mendengar lawan jenisnya menanyakan perihal datang bulan kepadanya rupanya membuat Oddie malu.
"Ah, i-itu darimana kau tahu?" tanya Oddie.
"Aku punya adik perempuan. Dia sama sepertimu ketika sedang datang bulan," jawab Aarav.
Aarav melihat sekeliling. Lalu bergegas pergi ke minimarket setelah meminta Oddie menunggu sebentar.
"Minumlah selagi hangat!" kata Aarav sekembalinya dari minimarket.
Pria itu sudah berdiri di depan Oddie lagi. Lengkap dengan segelas minuman hangat dan minuman yang biasanya diminum wanita untuk meredakan nyeri haid untuk diberikan kepada Oddie.
"Oh, terimakasih!" kata Oddie.
Malam itu, Aarav tidak hanya memberikan Oddie minuman hangat dan obat. Tapi juga memberikan tumpangan dan mengantarkan Oddie pulang.
Sementara itu, Nathan yang melihat semuanya hanya bisa memegang kemudinya erat-erat. Menatap kepergian Oddie dan Aarav dengan senyum tipis yang tidak bisa diartikan.
"Benar-benar wanita murahan. Langsung tersenyum kepada pria yang baru ditemuinya bahkan ikut naik ke mobilnya. Siapa dia, Die? pelanggan setiamu?" gumam Nathan dengan amarah yang kembali memuncak.
Dalam marahnya Nathan, dia sudah berjanji untuk tidak akan kembali seperti hari ini lagi meskipun Oddie sangat menderita sekalipun.
.
.
.
"Terimakasih sudah mengantarku pulang," kata Oddie.
"Bukan masalah. Cepat masuk dan beristirahatlah!" sahut Aarav.
"Hati-hati di jalan!" kata Oddie lagi.
Aarav hanya tersenyum. Lalu melambaikan tangan dan segera meninggalkan rumah itu. Selepas kepergian Aarav, Oddie langsung masuk ke rumahnya. Tersenyum kecil dengan melihat obat pemberian Aarav. Tapi senyum itu tidak berlangsung lama karena Nathan sudah menunggunya di dalam.
"Apa kau senang diantar pria asing itu, Die?" tanya Nathan.
Oddie melihat Nathan sekilas. Pria itu duduk di kursi dengan posisi membelakanginya. Tapi dari nada bicaranya Oddie tahu suaminya sedang marah.
"Dia bukan pria asing. Dia temanku," jawab Oddie.
Oddie menjawab pertanyaan itu dengan sopan. Berharap Nathan tidak menamparnya lagi karena tamparan yang kemarin mendarat di pipinya masih terasa sakit.
Nathan bangkit dari duduknya. Bersandar di kursi dengan melipat dua tangannya selagi menginterogasi Oddie.
"Teman atau pelanggan?" tanya Nathan.
Oddie tersenyum tipis. Tidak mengira Nathan akan bicara seperti ini lagi di depannya. "Kenapa kau selalu saja salah paham. Dia hanya temanku," jawab Oddie.
"Teman? Teman seperti apa yang sampai begitu perhatian dan membelikanmu barang seperti ini?" tanya Nathan.
Sekarang, Nathan tidak hanya merampas beberapa minuman obat pemberian Aarav. Tapi juga membantingnya sekuat tenaga sampai pecah. Oddie menutup matanya, bukan takut karena Nathan akan memukulnya. Tapi karena kaget dengan apa yang dilakukan Nathan. Barusan bukan hati Oddie yang dibanting. Tapi hati Oddie ikut hancur layaknya serpihan botol yang berserakan di lantai itu.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Oddie.
"Aku tidak suka kau membawa barang pemberian orang asing masuk ke rumah ini," jawab Nathan.
Mata Oddie memerah. Meskipun tidak menangis tapi air mata itu sudah menggenang di pelupuk matanya. Oddie bukan sedih karena Nathan memarahinya, yang membuat Oddie sedih adalah Nathan menghancurkan obat yang bahkan belum Oddie minum. Memang harganya tidak seberapa, Oddie juga masih bisa membeli dengan uangnya sendiri. Tapi malam ini, obat itu benar-benar Oddie butuhkan.
"Maaf, lain kali aku tidak akan membawa barang pemberian orang lain masuk kerumah ini lagi," kata Oddie.
"Bersihkan lantai yang kotor ini lalu bantu Lastri menyiapkan makan malam. Mamaku akan tinggal disini mulai hari ini!" titah Nathan sebelum pergi ke kamarnya.
Melihat Nathan sudah pergi, Lastri dan Maman yang sedari tadi menguping akhirnya menghampiri Oddie. Maman membereskan lantai itu sementara Lastri membawa Oddie ke dapur.
"Non Oddie kenapa pucat sekali. Sakit?" tanya Lastri.
"Oddie datang bulan, Bi!" jawab Oddie lirih.
"Ya sudah, Non Oddie duduk dulu. Bibi buatkan kunyit asam dulu ya?" kata Lastri.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
@Kristin
semangat up nya 💪
2023-02-15
0
Nur Ain
hampeh udah la kau BG cacat org tu...x mau kenapa x lepas ..
2023-01-08
0