Nathan melihat Oddie dari atas hingga bawah. Memastikan tampilannya pantas untuk diperlihatkan kepada sang kakek. Inilah keajaiban make up, bekas luka di wajah Oddie tertutup sempurna oleh riasan yang memoles seluruh wajahnya. Matanya juga terlihat sempurna, Nathan yakin tidak akan ada yang sadar bahwa mata itu mengalami penurunan fungsi.
"Sayang sekali kaki itu pincang. Jika tidak, mungkin dia akan tampil memukau dan menyihir semua orang!" batin Nathan.
Oops! Nathan memijit keningnya sebentar. Apa yang dia katakan, apa dia baru saja memuji Oddie dan menyayangkan kakinya yang cacat?
"Pak Nathan, ada apa? Apa Anda tidak puas dengan riasan dan gaunnya?" tanya pemilik butik setelah melihat Nathan memijit keningnya dan berpikir keras.
"Oh, tidak. Saya puas!" jawab Nathan.
Nathan segera mengeluarkan kartunya. Membayar tagihan secepatnya karena saat ini mereka sudah benar-benar terlambat.
"Ayo, kita sudah terlambat!" kata Nathan.
Dua anak manusia itu meninggalkan butik dengan mengendarai mobil yang dikemudikan oleh Maman. Maman tersenyum ketika melihat Oddie yang akhirnya memiliki baju yang layak. Meskipun tidak memiliki ikatan keluarga, entah kenapa Maman merasa bahagia.
"Non Oddie, kedepannya teruslah dandan seperti itu. Biar Den Nathan membuka matanya dan melihat bahwa Kirana itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Non Oddie," batin Maman gemas.
.
.
.
"Die, harus berapa kali aku mengatakan kita sudah terlambat. Bisakah berjalan lebih cepat?" tanya Nathan. Pria itu sudah sampai di ujung tangga. Sementara Oddie tertinggal jauh belakangnya.
"Maaf!" jawab Oddie.
Oddie semakin mempercepat langkahnya. Meskipun sudah dibantu Maman yang memapah, tapi itu tidak memuaskan seorang Dean Nathan. Sebelum Nathan marah lagi, akhirnya Maman memberanikan diri untuk bersuara.
"Den, kenapa tidak di gendong saja biar lebih cepat?" saran Maman.
"Kenapa aku harus menggendongnya?" tanya Nathan. Masih berdiri santai tanpa ekspresi sembari memasukkan satu tangannya ke saku celana.
"Karena Non Oddie kan istrinya Den Nathan. Atau kalau boleh biar saya saja yang menggendong sampai atas. Saya kasihan lihatnya, Den!" jawab Maman menawarkan diri.
Oddie yang mendengar itu melotot. Kenapa Maman sangat lancang. Kalau Nathan marah, mereka akan kena imbasnya nanti. "Tidak perlu, aku bisa berjalan sendiri. Dean, kau duluan saja," kata Oddie.
Oddie segera melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda masih dibantu Maman. Wajah cantik itu kembali menunduk untuk melihat jalan. Sementara Nathan yang masih berdiri di atas sana mulai mengeratkan giginya karena ingin menelan Maman hidup-hidup karena sudah berbicara lancang. Maman mau menggendong Oddie? Dia hanya seorang sopir. Siapa yang memberinya kepercayaan diri mengatakan hal seperti itu di hadapannya?
"Man, kau naiklah dan siapkan kursi roda!" perintah Nathan.
Entah kapan Nathan turun. Tapi pria itu sudah berdiri tepat di depan Oddie dan Maman.
"Den, t-tapi bagaimana kalau Non Oddie jatuh?" tanya Maman sembari menelan ludahnya dengan kasar.
"Bukankah kau yang menyuruhku menggendongnya? Lain kali kalau kau berani memerintahku lagi, lebih baik kau mati saja!" jawab Nathan.
Tanpa membuang waktu, Nathan langsung mengangkat Oddie di pelukannya. Langkah kakinya mantap menaiki anak-anak tangga seolah tidak membawa beban. Sementara Maman hanya bisa menepuk jidatnya dan membatin, "Den Nathan kan bosnya. Kalau menolak menggendong Non Oddie pun saya tidak berani marah. Tapi kenapa harus menyumpah saya mati segala?"
Sesampainya di atas sana, semua mata mengarah ke pintu masuk. Rupanya adegan gendong-gendongan itu cukup menyita perhatian keluarga besar Nathan. Termasuk Kirana yang terbakar cemburu karena Nathan memperlakukan Oddie semanis itu. Nathan yang sadar jadi pusat perhatian langsung menurunkan Oddie dan menyuruhnya duduk di kursi roda dan kembali bersikap acuh seperti biasanya.
"Kami datang!" kata Nathan dan Oddie sampai di hadapan kakek dan ayahnya.
"Apa kabar, Kakek? Apa kabar, Ayah?" sapa Oddie.
Sempat ragu saat menyebut nama mereka dengan panggilan kakek dan ayah. Tapi Oddie menepis keraguannya. Oddie ingin bangkit dari kursi roda untuk menunjukkan kesopanannya, tapi Kakek Moeis dan Papa Erlangga lebih dulu melarangnya.
"Tidak perlu berdiri. Duduk sajalah!" kata Kakek Moeis dengan senyum mengembang.
"T-terimakasih," kata Oddie tersipu.
"Namamu siapa?" tanya Papa Erlangga.
"Saya Oddie," jawab Oddie dengan senyum tipisnya.
"Nama yang cantik. Sama cantiknya dengan wajahmu. Pantas saja Nathan tetap ingin menikahimu meskipun keluarga besar kami banyak yang tidak setuju," kata Kakek Moeis yang diamini Papa Erlangga.
Kalimat itu membuat jantung Oddie berdesir. Memang kedatangannya sama sekali tidak disambut disini. Dari sekian banyak anggota keluarga, hanya Kakek dan ayah mertuanya saja yang berkenan menyambut Oddie. Mungkin karena Oddie hanyalah anak seorang koruptor yang cacat di perusahaan besar milik mereka.
Setelah berpikir sejenak, akhirnya Oddie memaksakan diri untuk bangkit lalu menundukkan kepalanya sedalam yang dia bisa. Kesempatan ini sangat langka, jadi kenapa tidak menyampaikan permintaan maaf mewakili orangtuanya?
"Kakek, Ayah, tolong maafkan kesalahan orangtua Oddie. Maaf karena mereka telah mengkhianati kepercayaan yang telah kakek dan ayah berikan."
Permintaan maaf yang tulus itu menyentuh hati keduanya. Mereka memang sempat marah dan kecewa, tapi orangtua Oddie sudah mendapatkan hukumannya jadi masih adakah alasan untuk membenci Oddie yang tidak tahu apa-apa?
Sayangnya tidak semua anggota keluarga berhati besar seperti Kakek Moeis dan Papa Erlangga. Bahkan Nathan yang saat ini berdiri di samping Oddie sangat muak mendengar Oddie minta maaf. "Apa kau pikir cukup hanya dengan minta maaf, Die? Kakek dan ayahku mungkin bisa memaafkanmu. Tapi aku tidak," batin Nathan kemudian membuang muka.
"Sudahlah, kami sudah memaafkannya. Ayo!" ajak Kakek Moeis.
Akhirnya mereka bergabung dengan yang lainnya. Lalu segera memulai makan malam sebelum menghabiskan waktu dengan bersantai.
Ditempat ramai itu Oddie sendirian dan dikucilkan. Terlebih saat Kakek Moeis dan Papa Erlangga membawa Nathan dan semua pria keatas karena ada urusan. Oddie bahkan disuruh membantu pekerjaan maid di rumah super mewah itu. Jalannya yang pincang pun tak lepas jadi bahan tertawaan mereka. Sangat berbeda dengan Kirana yang sangat diterima dan diperlakukan layaknya menantu sungguhan dan mendapatkan ribuan pujian terutama dari Mama Maureen.
Saat ini Kirana sedang bersenang-senang dengan Mama Maureen. Tapi saat melihat Oddie berjalan tidak jauh dari kolam, dia pun segera mendekatinya. "Oops, sapu tanganku jatuh. Bisakah mengambilnya untukku, Die?" kata Kirana.
Oddie yang saat itu memegang nampan hanya melihat Kirana. Oddie berencana menolak tapi ibu mertuanya memintanya segera mengambil sapu tangan itu. "Apa kau tuli. Kenapa masih berdiri saja disana?" bentak Mama Maureen.
Oddie menurut. Dia segera meletakkan nampannya lalu mengambil sapu tangan milik Kirana. Tapi sesuatu yang tidak Oddie kira terjadi. Disaat Oddie berusaha keras menjaga keseimbangannya untuk berdiri, Kirana sudah lebih dulu mendorong Oddie sehingga membuat Oddie terjatuh ke kolam.
BYUR
"Tolong, aku tidak bisa berenang!" teriak Oddie tapi hanya disambut tatapan sinis dan jijik oleh mereka yang hadir disana.
Sementara itu di atas sana anggota keluarga pria melihat kebawah termasuk Nathan. Wajah Nathan bahkan sudah merah padam saking marahnya.
"Kenapa masih diam saja, cepat tolong Oddie!" titah Ayah Erlangga saat melihat Nathan lambat bereaksi.
Nathan segera turun ke bawah meskipun terlambat karena Oddie sudah ditolong oleh beberapa bodyguard yang langsung bertindak. Jujur saja Nathan malu setengah mati, tapi dia tetap harus bersikap baik kepada Oddie di hadapan kakeknya.
"Ikut denganku sekarang!" kata Nathan setelah menutupi tubuh Oddie yang basah kuyup dengan jas miliknya.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
@Kristin
Koq didorong sih... kasian Odie nya...🤭
2023-01-23
0
Nur Ain
belum up thor
2022-12-23
0