Sedikit ragu, tapi Oddie menyambut uluran tangan Aarav dengan seulas senyum yang tersungging di bibirnya.
"Kau pernah menolongku yang terluka saat kita masih sama-sama duduk di bangku SMP. Terimakasih atas kebaikanmu hari itu," lanjut Aarav.
Oddie termenung sebentar. Mencoba mengingat sosok Aarav meskipun sama sekali tidak bisa mengingatnya. Tapi seharusnya Aarav tidak berbohong karena saat masih SMP Oddie memang anggota PMR yang sering memberikan pertolongan kepada teman-temannya yang terluka.
"Bukan masalah," jawab Oddie.
Aarav tersenyum puas, lalu memperhatikan Oddie dengan seksama. Gadis itu masih sama seperti yang dulu. Masih cantik, manis dan baik. Tapi senyum Aarav sedikit pudar ketika menyadari mata Oddie yang berbeda dan mengingat bagaimana cara Oddie berjalan. Tapi apa yang terjadi sampai membuatnya seperti ini?
"Die, apa kau baik-baik saja?" tanya Aarav.
Oddie langsung menunduk. Jujur saja, pertanyaan ini adalah pertanyaan yang Oddie benci. Jika ada yang bertanya bagaimana keadaannya, Oddie selalu ingin menjawab baik-baik saja. Tapi apa Oddie bisa membohongi mata mereka yang melihat bagaimana mata dan kakinya yang sudah rusak?
"Die?" panggil Aarav ketika Oddie tak kunjung menjawab pertanyaannya.
"Belum lama ini aku kecelakaan. Mata dan kakiku terluka sehingga membuatku menjadi seperti ini. Meskipun aku sedikit pincang dan penglihatanku menurun, tapi aku baik-baik saja," jawab Oddie.
Aarav mengangguk tanda mengerti. Mempercayai apapun yang Oddie katakan tanpa menaruh curiga sedikitpun. Pria itu melihat sekeliling, menyadari Oddie yang berjalan sendirian malam-malam Aarav pun tidak ragu untuk memberikan tumpangan.
"Ngomong-ngomong kau mau kemana?" tanya Aarav.
"Aku mau pulang," jawab Oddie.
"Kalau kau tak keberatan aku bisa mengantarmu," tawar Aarav.
Aarav tahu sedikit tidak sopan langsung menawarkan bantuan disaat Oddie bahkan tidak mengingatnya. Tapi hari sudah larut dan Oddie berjalan sendirian. Jadi mana mungkin Aarav meninggalkan Oddie begitu saja. Terlebih setelah dia berhasil menemukan Oddie setelah sekian lama mencarinya.
"Terimakasih, tapi tidak perlu repot-repot mengantarku. Kau pulang saja, aku bisa pulang sendiri," tolak Oddie sopan.
"Die?" tahan Aarav.
"Tolong jangan begini. Suamiku bisa salah paham," kata Oddie saat Aarav menahan tangannya untuk tidak pergi.
"Suami? Apa kau sudah menikah, Die?" tanya Aarav.
Suara itu sangat pelan. Sungguh, Aarav tidak tahu harus bagaimana sekarang. Dia senang akhirnya bisa menemukan Oddie tapi kenapa hatinya langsung di patahkan tepat saat dia baru menemukan Oddie.
"Aku sudah menikah," jawab Oddie.
Oddie melepaskan tangan Aarav yang masih menahan tangannya. Lalu melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda. Tapi sepertinya Tuhan merestui Aarav mengantarkan Oddie pulang malam ini karena tiba-tiba hujan turun dengan derasnya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Oddie saat Aarav kembali menarik tangannya.
"Maaf, tapi aku tidak bisa meninggalkanmu sendirian disaat turun hujan begini," jawab Aarav.
"Tapi,-"
Oddie belum sempat melanjutkan kata-katanya. Tapi Aarav sudah lebih dulu membawa Oddie masuk ke mobil sebelum hujan semakin deras. Oddie sedikit tegang. Ini adalah pertama kalinya dia berduaan dengan pria selain suaminya. Lebih tegang lagi saat memikirkan apa yang akan dia katakan saat dia sampai rumah nanti. Tapi Aarav tidak membiarkan Oddie tegang terlalu lama karena saat ini dia mulai mengajak Oddie ngobrol untuk mencairkan suasana.
Setelah pembicaraan singkat itu, Aarav akhirnya tahu Oddie sedang mencari pekerjaan. Aarav juga tahu Oddie tidak berani melamar pekerjaan di perusahaan karena keadaannya. Jadi Aarav menawarkan sebuah pekerjaan yang pasti bisa dilakukan Oddie.
"Die, baru-baru ini aku membuka sebuah restoran cabang. Kebetulan masih ada beberapa posisi yang belum terisi. Apa kau tertarik?" tawar Aarav.
"Restoran?" tanya Oddie.
Sudah lebih dari satu minggu Oddie mencari pekerjaan tapi tidak ada satupun yang mau menerimanya. Sebelum ini dia juga sudah ditolak berkali-kali meskipun hanya melamar sebagai pelayan. Karena untuk posisi pelayan, mereka bilang butuh seseorang yang kakinya tidak pincang.
"Bagaimana, Die?" tanya Aarav.
"Aku tertarik. Tapi kakiku,-"
"Kalau begitu kau bisa bekerja mulai besok," potong Aarav.
"Besok?" tanya Oddie.
"Kalau terlalu cepat, kau bisa memulai lusa atau minggu depan," jawab Aarav.
"Kau serius?" tanya Oddie. Oddie yang awalnya sedikit tertutup sepertinya mulai terbuka. Dia juga sudah lebih berani menampilkan ekspresinya.
"Aku serius," jawab Aarav dengan menyunggingkan senyum.
"Tapi kenapa kau menerima pelayan berkaki pincang?" tanya Oddie.
Aarav menoleh, Aarav memang menawarkan sebuah pekerjaan. Tapi Aarav tidak ingin Oddie jadi pelayan. Karena dengan kakinya yang cacat itu, Aarav ingin memberikan pekerjaan yang tidak terlalu menyusahkan Oddie.
"Die, kau tidak akan bekerja sebagai pelayan. Tapi sebagai kasir," jawab Aarav.
Aarav bisa saja memberikan pekerjaan yang lebih ringan dan posisi yang lebih tinggi. Tapi Aarav tahu Oddie pasti akan menolak jika dia melakukannya. Jadi hanya posisi itulah yang bisa Aarav tawarkan.
"Bolehkah aku bekerja mulai besok saja?" tanya Oddie.
"Tentu saja boleh," jawab Aarav.
.
.
.
Tak terasa Oddie sudah bekerja selama satu bulan lamanya. Di tempatnya bekerja ini, Oddie bertemu dengan teman-teman yang baik dan memperlakukannya dengan baik pula. Bahkan meskipun kondisinya seperti itu, mereka tidak sedikitpun mengucilkan Oddie. Malahan Oddie merasa di perlakukan layaknya adik kesayangan mengingat Oddie lah yang paling muda diantara mereka.
Malam ini, Oddie pulang dengan wajah berbinar. Dia sudah mengantongi gaji pertamanya meskipun tidak banyak. Gaji yang sedikit itu sudah Oddie pisah-pisah. Sebagian besar untuk diberikan kepada Dean Nathan. Lalu sisanya yang sedikit untuk dirinya sendiri.
Kebetulan sekali Nathan sedang ada di rumah saat Oddie pulang. Kebetulan juga Kirana sepertinya sedang tidak ada. Jadi Oddie memutuskan untuk segera memberikan uang yang tidak seberapa itu sesuai janjinya.
Tok
Tok
Tok
Oddie memberanikan diri mengetuk pintu kamar suaminya. Nathan yang saat itu sedang sibuk dengan laptopnya tahu yang berdiri di depan pintu sana pasti Oddie. Meskipun malas tapi Nathan tetap bangkit untuk membuka pintu.
"Apa?" tanya Nathan.
Pria itu sudah berdiri di depan Oddie. Bersandar di gawang pintu dengan memasang wajah yang datar.
"Aku ingin mengganti biaya rumah sakit waktu itu. Aku tahu jumlahnya kurang, tapi aku akan memberikannya lagi nanti saat aku punya uang," jawab Oddie masih dengan kepala yang menunduk.
Oddie menyodorkan amplop tipis itu kepada Nathan. Tapi Nathan hanya melihat dan meremehkan uang yang di matanya sama sekali tidak berharga. Biaya rumah sakit Oddie hari itu sejujurnya tidak mengurangi kekayaan Nathan meskipun hanya seujung kuku. Nathan tidak mengharapkan uang itu dikembalikan tapi Oddie bersikeras menggantinya, dicicil pula. Entah kenapa Nathan tidak suka itu.
"Die, aku tidak butuh uangmu yang tidak seberapa itu. Apa kau menganggapku sebagai pengemis yang menerima uang dari perempuan cacat sepertimu?" tanya Nathan.
Nathan melihat Oddie dengan tatapan kebencian. Sebelum mulai bergerak untuk menutup pintu dan mengusir Oddie keluar. Tapi Oddie memberanikan diri sekali lagi untuk menahannya.
Oddie menahan pintu itu, lalu meraih tangan Nathan untuk pertama kalinya dan segera menyerahkan amplop yang dia bawa. "Aku tahu kau sangat kaya dan uang ini tidak seberapa. Tapi aku sudah berjanji untuk mengembalikan biaya rumah sakit. Jadi tolong jangan menolaknya," kata Oddie.
Oddie segera melepaskan tangan Nathan. Lalu mundur beberapa langkah sebelum hilang dari pandangan Nathan.
...***...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 27 Episodes
Comments
MIKU CHANNEL
bgmn Oddie melanjutkan hidupnya, dgn kondisi yg cacat seperti itu, apakah luka itu akan sembuh seperti sedia kala, dan apakah dia bisa berjalan normal seperti sebelumnya, malang sekali nasib nya Oddie ini, tolong dong thor buat muka dan kakinya pulih lg, dan buat kirana menerima karmanya krn sdh membuat Oddie cacat
2023-01-02
1
Ila Latifah
dari arah mana karma akan datang untuk nathan dan kirana? siapakah yg nantinya jadi penolomg oddie? kirana kakinya harus buntung dan mukabya harus cacat. maen siram pada irang yg tdk salah
2023-01-02
1