Bab 9 Jangan Pergi

Setelah kepergian Oddie, Nathan kembali masuk ke kamar. Melihat amplop yang diberikan Oddie dengan ekspresi datar sebelum memasukannya ke laci tanpa melihat berapa isinya. Sesekali pria itu batuk-batuk. Tapi dia tetap mencoba menyelesaikan pekerjaannya yang tertunda.

Sebenarnya alasan Nathan ada di rumah di jam seperti ini karena dia sedang kurang enak badan.

Setelah cukup lama berjibaku, tanpa terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Pekerjaan Nathan belum selesai tapi kepalanya terlalu berat untuk melanjutkannya. Akhirnya Nathan memutuskan untuk menyudahi semuanya dan berbaring ke ranjang.

"Kemana dia pergi. Kenapa masih belum kembali juga?" batin Nathan ketika menyadari Kirana belum pulang ke rumah.

Nathan mencoba memejamkan matanya. Entah kepalanya, matanya, atau pikirannya. Semuanya terasa berat malam ini. Baru juga berbaring selama sepuluh menit, tapi Nathan kembali membuka mata karena tenggorokannya terasa kering. Sayang sekali air minumnya sudah habis. Jadi mau tidak mau Nathan harus turun kebawah.

Dapur adalah tujuan Nathan saat ini. Jujur saja sebenarnya Nathan sudah lupa kapan terakhir kali mengunjungi dapur. Tapi suasananya masih tetap sama seperti yang dulu. Sepi, hening, dan bersih.

"Den Nathan tumben kemari," tegur Lastri setelah melihat siapa yang ke dapur.

"Mengambil air minum," jawab Nathan singkat.

"Den, saya bikinkan susu kunyit ya? Biar batuknya reda!" tawar Lastri saat menyadari Nathan batuk.

"Tidak perlu. Aku akan minum obat setelah ini," jawab Nathan setelah membasahi tenggorokannya dengan air putih hangat yang terasa pahit.

Pria itu berbalik arah, ingin kembali ke kamarnya untuk minum obat dan beristirahat karena sudah sangat lelah. Tapi hampir terjatuh karena penyakitnya tidak bisa diajak berkompromi.

"Den?" teriak Lastri saat melihat Nathan sempoyongan. Wanita paruh baya itu pun berteriak memanggil Maman agar segera membantu Nathan.

"Bawa ke rumah sakit saja, Las! Badannya panas begini," kata Maman saat menyentuh kulit Nathan.

"Tidak perlu, aku hanya perlu istirahat," tolak Nathan.

Maman dan Lastri akhirnya membantu Nathan kembali ke kamar. Disaat Maman merebahkan Nathan di ranjang, Lastri dengan cekatan menyiapkan seember air dan handuk kecil. Tentu saja dengan pengukur suhu tubuh juga. Niatnya untuk mengecek suhu badan dan mengompres Nathan tapi Maman membisikkan sesuatu ke telinga Lastri sehingga membuat Lastri ragu.

"Den, di periksa dulu suhu tubuhnya, ya?" ijin Lastri.

Nathan yang ditanya tidak menjawab apapun. Terus terang saja, sebenarnya Nathan tidak suka disentuh dan dilayani orang lain selain Kirana. Untuk itulah Maman memperingatkan Lastri untuk tidak menyentuh sembarangan tadi.

"Sepertinya Den Nathan sudah tidur," kata Maman ketika Nathan tidak menjawab pertanyaan Lastri. Badannya juga tidak bergerak sama sekali selain nafasnya yang kembang kempis.

"Terus kita harus bagaimana ini, Man?" tanya Lastri mulai bingung. Nathan bahkan belum sempat minum obatnya. Tanpa minum obat dan tanpa di kompres, bagaimana kalau demamnya semakin tinggi.

"Biar Non Oddie saja yang merawatnya, Las!" kata Maman.

Lastri yang mendengar usul dari Maman langsung memukul pria itu. Nathan kan benci Oddie. Nathan pasti marah kalau tahu Oddie merawatnya. "Kalau Den Nathan memukul Non Oddie lagi bagaimana?" tanya Lastri.

"Den Nathan kan tidur. Asalkan Non Oddie segera keluar setelah selesai seharusnya tidak masalah," jawab Maman.

"Aman dengkulmu! Bagaimana kalau besok pagi Den Nathan bangun dan melihat ada kompresan di dahinya?" tanya Lastri lagi.

"Oh, iya juga ya?" jawab Maman.

Dua orang itu jadi ragu dengan apa yang harus mereka lakukan. Nathan tidak mau dibawa ke rumah sakit. Mau mengompres tapi tidak berani menyentuh. Tapi sekarang Nathan sudah mulai mengigau karena demam yang terlalu tinggi.

Akhirnya mereka sepakat untuk memanggil Oddie untuk merawat Nathan. Sebentar saja, hanya mengecek suhu badannya dan meletakkan kompres saja. Setelah itu biarkan Oddie pergi. Lalu Maman akan mengaku dialah yang meletakkan kompresan agar Nathan tidak marah.

Dan disinilah Oddie sekarang. Berdiri di samping ranjang dengan melihat Nathan yang meringkuk di kasurnya yang mewah. Maman dan Lastri hanya berdiri di belakang. Berencana menemani Oddie lalu keluar bersama-sama setelah Oddie selesai.

Ini adalah kesempatan pertama bagi Oddie untuk merawat Nathan. Tapi meskipun begitu ini tidak membuat Oddie senang. Dia bahkan memeras handuk kecil itu tanpa ekspresi. Oddie hampir meletakkan handuk kecil itu di kening Nathan, tapi gerakan tangannya terhenti ketika mengingat kembali kalimat yang seringkali Nathan ucapkan padanya.

"Jangan pernah menyentuhku. Aku jijik!"

"Lain kali jangan pernah berani masuk ke kamarku lagi. Kamarku ini bukan tempat yang bisa kau masuki sesuka hatimu."

"Aku sangat membencimu, Die!"

Oddie tersenyum tipis, lalu menarik tangannya kembali. Handuk kecil yang awalnya akan dia gunakan untuk mengompres Nathan juga dia kembalikan ke ember. Lalu termometer yang sudah disiapkan juga dia letakkan sebelum bangkit tanpa mengatakan apa-apa.

"Non, ada apa?" tanya Lastri dan Maman bersamaan. Dua orang itu tidak mengerti kenapa Oddie berdiri.

"Aku tidak ingin merawatnya. Aku sudah diperingatkan untuk tidak menyentuh dan masuk kamar ini. Jadi aku pergi saja," jawab Oddie.

"Tapi, Non! Den Nathan kan sedang sakit?" kata Lastri.

"Apa hubungannya denganku. Apa karena dia sakit lalu aku harus merawatnya? Bi, lain kali kalau dia sakit seperti ini lagi tidak perlu mencariku. Karena dia sehat atau sakit aku sama sekali tidak peduli," lanjut Oddie.

Lastri dan Maman tidak bisa berkata-kata lagi selain minggir dan mempersilahkan Oddie lewat, tapi tiba-tiba Nathan bangkit dari tidurnya. Nathan memegangi kepalanya yang masih berat. Lalu mengusir semua orang yang masih berada di kamarnya.

"Apa yang kalian lakukan disini. Bukankah aku sudah bilang aku perlu istirahat?" tanya Nathan dengan memegangi kepalanya yang berat.

"B-baik, Den! Kami akan keluar sekarang," jawab Maman dan Lastri bersamaan.

Dua orang itu segera pergi, lalu disusul Oddie yang berjalan di belakangnya. Entah sadar atau tidak, tapi Nathan menahan Oddie untuk tetap tinggal.

"Kenapa kau juga pergi?" tanya Nathan.

Tangannya dengan cepat meraih Oddie dan menariknya sehingga membuat Oddie duduk di ranjang dengan posisi membelakangi Nathan. Maman dan Lastri yang melihat tindakan Nathan hanya bisa menutup mulutnya rapat-rapat. Tidak tahu harus bagaimana dan melakukan apa. Apa Oddie akan dipukul? Tapi kenapa posisinya aneh seperti ini?

"Biarkan aku pergi!" kata Oddie. Oddie melepaskan diri dari tarikan Nathan, tapi Nathan kembali meraihnya.

"Tidak akan!" tolak Nathan.

Nathan tidak hanya meraih Oddie. Tapi juga melingkarkan tangannya ke perut dan menyandarkan kepalanya yang terasa berat ke pundak Oddie. Dengan posisi seperti ini, mau tidak mau Oddie merasakan juga bagaimana panasnya tubuh Nathan yang sedang demam.

"Bagaimana ini, Las?" tanya Maman panik.

"A-aku juga tidak tahu, Man!" jawab Lastri.

Sepertinya Nathan sedang tidak mengenali siapa wanita yang dia peluk. Sekarang mungkin aman bagi Oddie, tapi bagaimana kalau Kirana tiba-tiba pulang atau tiba-tiba Nathan sadar?

"Kenapa kalian masih berdiri disana? Cepat keluar, aku mau istirahat!" kata Nathan.

...***...

Terpopuler

Comments

MIKU CHANNEL

MIKU CHANNEL

ini laki enaknya diapain ya biar ngak seenaknya giliran sakit dia maunya diurusin, sudah lupakan km tlh membuat Oddie cacat, jgn diurusin Oddie, biar aja kirana yg ngurus, lgan jemana tuh selingkuhannya, mungkin lg seneng2 sm lk2 lain

2023-01-03

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!