Meja pak Leo sebentar lagi benar-benar akan mendapat giliran berdiri untuk menyebut dari perwakilan daerah mana timnya berasal. Meja undangan yang berjumlah kurang lebih dua puluh sembilan, sesuai dengan jumlah kabupaten di Jawa Timur, hampir semua telah berdiri. Tinggal beberapa meja di deret belakang saja yang belum.
"Assalamu'alaikum. Selamat malam. Kami dari Telkom kota Kartoharjo. Mewakili Telkom kabupaten Madiun. Terimakasih." ucap salah seorang yang mewakili Telkom kabupaten Madiun saat berorasi perkenalan anggota tim secara bergiliran. Mereka yang serempak berdiri berlima, telah kembali duduk dengan lega dan gembira.
Ratria mengambil nafas berulang kali demi menghalau debar dan degub yang berlebih dari jantung di dadanya. Telah tiba giliran di mejanya.
Pak Leo telah berdiri diikuti bu Siska, Hendra dan Galih. Dengan anggota terakhir yang berdiri dari kursi di meja itu adalah Ratria. Kelima wajah dengan setengah badan itu sangat jelas terpampang di layar depan sana. Ratria tersenyum tenang memandang kameramen yang berjalan merekam berterusan.
"Assalamu'alaikum. Selamat malam. Kami dari Telkom kota Wlingi. Mewakili Telkom di kabupaten Blitar. Terimakasih," ucap pak Leo dengan jelas. Mereka sedikit membungkuk dengan kompak. Yang kemudian duduk kembali di kursi hampir bersamaan. Tak terkecuali juga Ratria yang kembali duduk dengan lega dan tegang.
Perlahan mencuri pandang ke depan. Merasa agak lega namun penasaran. Manager cerah dan tampan itu nampak duduk sangat tenang. Seperti tidak peduli dengan adanya Ratria. Dan bahkan sedang mengobrol dengan petinggi telkom di sampingnya. Ah, rasanya jadi selamat sementara. Ingin segera selesai dan keluar hati-hati.
MC terus lanjut berbicara dan menggiring kepada beberapa sambutan singkat dari pihak PT Telkom. Dan berlanjut dengan plan sambutan singkat dari PT Air Asia.
Ratria kembali merasa tegang. Pihak penyambut dari Air Asia telah diambil sendiri oleh Syahdan. Lelaki itu tidak menyambut dengan duduk, tapi berdiri. Dan mulai bersalam sapa serta berpatah kata sangat lancar dengan suara yang menggema. Syahdan mulai berpidato penyambutan. Para undangan tengah terhipnotis oleh gaya bicara dan wajahnya. Terlihat sebagai lelaki dengan aura yang menawan luar biasa.
Semakin berdebar rasanya, manager menawan itu telah keluar dari kursi dan berjalan menyelip di antara meja para undangan. Dengan terus berbicara sambil sesekali melempar senyum hangat kepada orang-orang di meja.
Yang dicemaskan Ratria terjadi, manager itu telah sampai di barisan meja belakang dan berhenti tepat di samping meja timnya sambil terus berbicara. Dengan melempar senyum serta tatapan hangat pada pak Leo, Galih, bu Siska dan Hendra.
Hanya Ratria yang dipandang sekilas tanpa senyum dan tatap hangat dari Syahdan. Wajah cantik berkerudung itu dilewatinya begitu saja. Lelaki itu berbalik dan berjalan cepat menuju ke aula depan kembali. Dan telah mengakhiri pidato singkatnya dengan ramah dan senyumnya yang menawan. Mungkin setelah ini, maskapai penerbangan Air Asia akan kebanjiran orderan.
"Rat cepat habiskan saladmu, acara akan berakhir. Hampir pukul sebelas," tegur Hendra yang melirik kotak salad buah milik Ratria belum disentuh dan utuh. Panitia dari pihak Air Asia telah membagikan kotak salad buah serta sebotol teh kemasan pada tiap-tiap kepala di meja satu jam yang lewat.
"Iya, mas." Ratria menyadari jika acara akan berakhir sebentar lagi. Penyampaian kerangka materi yang sepenuhnya akan disampaikan esok hari telah mendekati poin-poin yang terakhir. Ratria berusaha cepat untuk menyendok sebagian irisan buah nikmat miliknya.
"Tidak usah buru-buru, Rat. Bawa saja kotak saladmu ke kamar. Ini masih fresh dan baru. Sayang jika ditinggal," ucap bu Siska lirih di telinga Ratria.
"Iya, bu. Akan kubawa saja. Lagian ini rasanya sangat enak," ucap Ratria jujur sambil terus mengunyah.
"Iya,bawalah. Punyaku malah sudah habis dari tadi, Rat. Enak," timpal bu Siska. Ratria tersenyum dan mengangguk.
Acara pembukaan sosialisasi itu telah benar-benar ditutup dengan pembacaan doa oleh pihak yang bertugas. Dan akan bersambung pada pembahasan materi inti esok hari. Para undangan telah dipersilahkan dengan hormat untuk meninggalkan ruang aula.
Ratria berjalan keluar di antara Galih dan Hendra dengan pelan. Sebab antri dengan para undangan lain yang seolah tak ingin saling mengalah.
Berjalan agak dekat di depan para petinggi yang masih duduk. Ada yang berbincang dan sebagian juga diam. Begitu juga dengan Syahdan. Manager tampan itu diam tidak mengobrol. Tapi fokus memandang setiap orang yang berjalan keluar melewatinya. Dan Ratria tidak lagi berniat memandang. Berusaha berjalan lebih cepat dengan memalingkan wajah ke arah yang berlainan.
Berharap lelaki itu tidak mempedulikan dan tidak berkepentingan mengusiknya. Berharap urusan mereka telah selesai dan hanya sebatas di perkebunan Sirah Kencong. Tapi hari itu, untuk apa Syahdan mengajaknya ikut ke Surabaya,,? Dada Ratria kembali merasa was-was dan cemas.
"Cepat tidur, Rat. Besok acara lanjut lagi. Assalamu'alaikum," pamit Hendra di depan kamar Ratria.
"Wa'alaikumsalam. Iya, mas. Terimakasih, ya," Ratria tersenyum dan kemudian masuk ke dalam kamarnya. Hendra berjalan lurus melewati kamar Ratria menuju kamarnya di ujung.
Gadis cantik tapi istri orang itu baru selesai menghabiskan salad buah yang dibawanya dari aula. Berniat rebah dengan lelah saat pintu kamarnya diketuk seseorang di luar. Didiamkan dan tak berminat membuka,,, tapi ketukan di pintu terus saja berulang..
Dengan sedikit resah, Ratria bergegas menghampiri pintu kamar. Berharap seseorang di luar adalah salah satu rekan kerja atau siapa saja, asal bukanlah orang gila.
Setelah membuka pintu, ekspresi wajah cantik itu seperti sedang menatap hantu saja pucatnya. Berdiri kaku sebab terkejut yang sangat. Tak menyangka jika orang yang tengah berdiri menjulang di depan pintu kamarnya adalah seorang manager Air Asia yang terhormat.
"Boleh aku masuk sebentar, Ratria,?" tanya lelaki di depan pintu. Menahan nafas dengan penampilan pemilik kamar yang telah berubah dari yang dilihat belasan menit lalu di aula.
"Untuk apa masuk?! Ini tengah malam, tidak sopan,!" bisik Ratria berseru menghardik.
"Aku ingin bicara," tegas manager Air Asia tampan itu yang tak lain adalah Syahdan.
"Di sini saja. Ada cctv. Aku tak ingin mencemari nama baik timku dan juga diriku sendiri." balas tegas Ratria.
"Orangku sudah take down cctv di asramamu. Ada waktu dua puluh menit bicara. Akan ada orang lalu lalang jika di sini. Cepatlah, Ratria," desak Syahdan mulai tidak sabar.
"Tidak masalah, pak. Katakan cepat-cepat saja di sini. Ada apa,?" Ratria terus kukuh bersitegas menolak.
Namun Syahdan tidak sabar. Mungkin sudah sifat bawaan, sekali lagi rela menunjuk jika dirinya adalah lelaki yang pemaksa.
Ratria tak menduga, jika manager Air Asia yang berwibawa di depan aula tadi sangat nekat menerobos masuk kamar dengan sedikit kuat mendorong dirinya. Dan dalam detik saja, pintu kamar telah dikunci oleh lelaki pemaksa itu yang sambil mendekap dirinya.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Kasih bintang padaku yaa...
Klik 5 bintang di bawah atau di cover depan dan kirim ya.. Jangan kurang dari 5 ya..😘😘
.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
M akhwan Firjatullah
jangan kasih masuk ratria soale Mase g ngakuin km bojone
2023-01-10
0
Imayura
assalamu'alaikum thor, aku sll hadir
2023-01-10
1
As Lamiah
semangat Ratria tetap pada pendirian mu jangan mudah luluh biyar kan syahdan hapuskan kesombonganya dan jd orang yg sabar dan penyayang semangat tour semoga sehat selalu 💪💪💪😘 semangat
2022-12-21
1