Vila besar beratap tinggi mengerucut di samping pabrik dengan paduan cat putih dan silver itu nampak megah dari kejauhan. Dan semakin terlihat indah saat didekati.
Ada beberapa set bangku taman di samping kanan kiri dan bagian depan vila. Terlihat sangat nyaman, sejuk dan menggoda untuk duduk santai barang sebentar.
Ratria sempat beberapa kali ikut almarhum nenek datang ke vila untuk beberapa urusan yang gadis itu tidak minat untuk tahu. Dirinya lebih memilih menunggu dengan bermain sendiri di luar vila yang asri. Hanya sekarang mulai paham dan menduga, apa saja urusan sang nenek hingga sering datang ke vila megah pabrik. Pasti sebab dirinya..
Ada tiga pintu besar yang terlihat di bagian sisi depan vila. Pak Andi membawa Rio dan Ratria menuju pintu yang bagian tengah. Lalu dibukanya dan mereka bertiga masuk beriringan. Hawa segar ruangan tidak kalah segar dengan hawa alami di luaran. Ruang dalam vila juga sangat terawat dan terjaga kebersihannya.
Dua orang lelaki berjas rapi nampak menyambut dengan tatapan menunggu. Mereka adalah pak Syahdan dan pengacara muda yang dingin. Duduk di set meja sofa dan ada meja serta kursi besar di belakangnya. Dan itu adalah meja kerja pak Syahdan, boss besar baru di pabrik.
"Silahkan duduk, mas Rio dan Ratria. Pak Syahdan, ini adalah kakak lelaki Ratria," ucap pak Andi mengenalkan.
Syahdan segera mengulur tangan kepada Rio yang disambut cepat oleh kakak lelaki Ratria. Mereka bersalam erat dengan menyebut nama masing-masing. Keduanya nampak saling hangat bersikap.
Pengacara dingin itu juga mengulurkan tangan pada Rio. Namun tidak menyertakan nama mereka. Pengacara itu sudah mendengar nama Rio, tapi tidak menyebutkan namanya. Dan tdak juga mengulur tangan pada Ratria. Mereka berlima duduk dalam hening sesaat.
"Maaf, pak Syahdan. Karena Ratria sudah datang, sebaiknya kita minta segera bertanda tangan di tumpukan kertas itu. Agar berkasnya bisa segera saya bawa ke kantor BCA. Dan gaji untuk karyawan segera bisa dikeluarkan." Pak Andi menyela cepat-cepat.
Bagaimana pun, dirinya sudah begitu paham dengan kemauan dan kegembiraan para pekerja pabrik dan perkebunan. Almarhum pak Yakub, akan merasa sangat tidak tenang jika tidak sengaja mengundur pembayaran sebab suatu masalah. Dan boss besar itu tidak akan bisa tidur dan makan kenyang sebelum menyelesaikannya hingga tuntas memuaskan.
"Serta penjelasan lain-lain akan di sampaikan oleh mas Haris pada Ratria," pungkas pak Andi memutuskan. Merasa tidak sabar dengan ketenangan Syahdan di saat genting seperti ini. Boss muda itu justru kedapatan sibuk mengamati Ratria.
Sebab pungkasan pak Andi, Syahdan pun terkesiap. Merasa lalai pada tanggung beban yang lazim ada di dua pundaknya sendiri.
Tanpa berkata, segera menarik tumpukan lembar-lembar kertas yang telah disiapkan dari kemarin. Menyerahkan pada Ratria dengan memandang lagi wajah anggun berkerudung yang duduk di seberang.
"Aku sudah menandatangani semuanya. Segera tanda tangani di bawah namamu sendiri," terang Syahdan saat mengesan ekspresi bingung di wajah cerah Ratria.
Mata bulat jernih itu menatap Syahdan sebentar lalu mengamati beberapa lembaran kertas di tumpukan yang teratas. Dan mendongak lagi pada pak Andi dan Syahdan.
"Jujur saya kurang paham dengan apa saja yang tertulis di tumpukan sebanyak ini. Hanya karena rasa terimakasih pada almarhum pak Yakub yang sangat baik serta menjamin pendidikan saya selama ini, saya berbaik sangka pada pak Syahdan. Saya akan menanda tangani semua lembar berkas ini sekarang juga. Dan semoga ini semua bermanfaat untuk para pegawai,,juga untuk saya sendiri.." ucap Ratria dengan memandang pak Syahdan serta pak Andi bergantian.
Ratria menyebut asmaNya dalam hati. Berharap dalam pasrah agar tidak dimanfaatkan atau dipermainkan oleh orang berkuasa seperti pak Syahdan di kemudian hari. Dan dicoretkan sign parafnya di lembar demi lembar pada tiap bawah namanya. Semua mata memandang gerak cepat dari tangan indah lentik itu dengan bermacam rasa dan pikiran.
Tiba-tiba kefokusan mereka terhenti saat terdengar dering ponsel yang entah milik siapa. Ternyata dari ponsel Rio di saku kemejanya. Lelaki itu bergegas keluar untuk mengangkat panggilan.
"Sudah selesai, pak Syahdan. Apa saya masih diperlukan? Saya boleh keluar,?" tanya Ratria sambil meletak pena di meja. Semua lembaran telah selesai di parafnya.
Ratria melirik ke arah teras vila. Rio nampak diam memandang Ratria dari sana. Panggilan ponsel baru saja diakhiri. Lelaki itu berjalan cepat memasuki ruangan namun tidak duduk.
"Permisi, apa Ratria masih lama dengan urusannya di sini,?" tanya Rio dengan mata lurus menatap pak Syahdan.
Syahdan memandang pak Andi sekilas dan kembali memandang Rio.
"Ada apa, Vario,?" tanya Syahdan yang sangat yakin jika kakak tiri Ratria masih lebih muda darinya.
"Saya harus cepat turun dari vila. Ada urusan mendadak. Apa bisa urusan Ratria dipercepat,?" tanya Rio tegas tanpa segan. Dan Syahdan merasa kurang suka.
"Tinggalkan saja Ratria di sini. Aku akan mengantarnya. Urus saja kepentinganmu itu, Vario," ucap Syahdan acuh dan tenang.
"Saya ingin turun dengan kakak saya. Bukankah semua sudah saya signkan,?" tanya Ratria pada Syahdan.
"Ada pengacara Haris di sini Ratria. Ada beberapa hal yang akan dia sampaikan sendiri padamu. Tinggallah sebentar, akan kuantar kamu pulang," Syahdan memandang lekat Ratria.
"Baiklah jika seperti itu, pak Syahdan. Tapi saya tidak perlu diantar, masih sangat pagi. Dan jarak vila ini dengan rumahku tidak terlalu jauh," pungkas Ratria. Kemudian menoleh sang kakak.
"Mas Rio, kamu pulung dulu saja, ya. Terimakasih sudah mengantar dan menemaniku," ucap Ratria dengan lembut pada kakaknya yang terus berdiri tegak menunggu. Rio mengangguk, kemudian menatap pak Syahdan.
"Selama Ratria di sini, tolong perlakukan dia dengan baik, pak Syahdan. Permisi." Ucap Rio terakhir kali dengan memandang Ratria serta Syahdan sekilas. Lelaki itu berbalik dan keluar dari vila dengan langkah yang cepat.
Tentu saja Syahdan merasa kembali kurang nyaman dengan ucapan kakak Ratria yang seperti itu. Merasa dianggap jika dirinya adalah lelaki yang terlihat kurang baik. Namun Syahdan mengabaikan sementara dan menyimpan hal itu di kepalanya.
"Pak Andi, sebaiknya segera mengirimkan berkas tertanda Ratria ini ke BCA kota Wlingi secepatnya. Agar upah gaji segera turun siang ini." tegas Syahdan pada asisten tua warisan sang kakek. Dan asisiten itu mengangguk sambil terus membereskan lembaran kertas di meja. Bersiap untuk turun langsung ke kota segera.
"Pengacara Haris, segera katakan apa pun yang seharusnya gadis ini tahu tentang pesan kakekku yang sudah kamu simpan. Jelaskan semua hal dengan sangat jelas pada gadis ini." tegas Syahdan pada pengacara dinginnya. Yang disambut dengan angguk samar dari pengacara bernama Haris itu.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
This on Monday...
Vote me, please...😘😘😘
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Satia
tak kubaca novel ni cepat2..biar tak lelah pula tunggu updatetannya😄
2023-01-12
2
M akhwan Firjatullah
kayaknya semua laki" d novel othor baik semua eh tp Ben enggak Ding....ga papa yg penting happy ending itu yg ku suka dari cerita otor
2023-01-10
1
Novelable uwwu
supportermu ter uwwu hadiiiir
2023-01-08
1