Sebab di kamar sudah terfasilitasi dan hampir semua ada, Ratria merasa tidak perlu lagi menjelajah isi vila. Bahkan lemari pendingin mini pun berisi sajian lengkap lima sempurna di dalam. Hanya nasi yang tak ada, tapi terganti dengan bakery tawar dan juga bakery yang berselai. Mbak Lusi lah yang kemarin meng up date isi dalam kulkas.
Mungkin sebelumnya, kamar itu juga diperuntukkan bagi tamu bisnis atau pun kolega jauh yang bermalam di pabrik. Mengingat Sirah Kencong juga dikomersilkan sebagai destinasi Wisata di Blitar, tentu daya tarik kebun teh yang menghampar serta beberapa titik objek kunjung yang menarik, adalah penawan bagi mitra pabrik untuk bermalam.
Apalagi almarhum kakek Yakub hanya sendiri tanpa keluarga di Vila. Pasti banyak kolega yang bersimpati dan tertarik untuk on stay barang semalam di Sirah Kencong.
🍃
Ratria terbangun sejak tadi dan belum bisa tidur lagi. Sedang waktu masih menunjuk di angka satu dini hari. Jika tidak menyambung tidur walau barang sebentar, rasanya rugi sekali. Mesin penghangat di kamar juga sudah dinyalakan, tapi merasa tidak puas serta tetap kurang nyaman.
Dan Ratria paham apa yang diinginkan dirinya jika terbangun kedinginan. Membuat susu putih hangat bertabur sedikit kopi, atau murni coklat hangat dengan bertabur sedikit gula. Bagi Ratria, pengganjal perut yang nikmat seperti itulah pengantar pasti agar matanya rapat kembali.
Ratria ingin mencari dapur sendiri. Pesan yang dikirim pada mbak Lusi belasan menit lalu, tidak juga dibaca. Mungkin wanita itu sedang tidur pulas sebab kelelahan berkemas. Juga tidak paham di kamar mana mbak Lusi bermalam.
Lampu yang menyala terang di tengah gelap vila, adalah tempat yang sedang dituju Ratria. Dan seperti yang disangka, kelancangannya tidaklah sia-sia. Dapur luas bernuansa modern telah berhasil dipijak.
Tidak susah mencari barang yang diinginkan. Sebab mbak Lusi juga menyukai minumam yang digemari Ratria, meski tidak doyan membuatnya malam-malam. Mbak Lusi merasa jika dirinya sangat gemuk. Jadi bahan minuman itu tersedia mudah di alamari.
Merasa was-was jika kedapatan tuan pemilik vila, Ratria begegas. Membawa cangkirnya menuju kamar dan ingin menikmatinya dengan nyaman. Bayang dingin Syahdan sangat membuatnya tidak tenang.
"Ratria,!"
Degh,,! Seperti beku saja jantung Ratria. Kaki yang akan membelok menuju pintu kamar, berhenti cepat sebab suara yang sangat ingin dihindari.
"Apa yang kamu bawa,?" tanya Syahdan mendekat. Lelaki itu lebih nampak sebagai bayang hitam dalam remang.
"Kopi," jawab Ratria tergesa.
"Kopi,? Ini bukan bau kopi," sahut Syahdan dalam remang.
"Kopi dengan susu," ralat Ratria cepat. Tidak ingin lagi berdebat. Ingin segera melesat dalam kamar.
"Lalu, kenapa tidak diminum,?" Syahdan terus bertanya.
"Ingin kubawa dalam kamar. Permisi," pamit Ratria bergegas melanjut langkah ke pintu.
"Ratria," Syahdan masih berniat menahan.
"Jangan bawa minuman bergula dalam kamar. Kembalilah ke dapur," larang Syahdan dengan tegas. Dan lelaki itu berjalan lurus melewati Ratria menuju lampu terang yang terdapat dapur di sana.
Gadis itu malas bersikeras. Damai dengan tuan vila saat malam senyap dan gelap ini adalah lebih baik. Cepat berbalik badan, laju melangkah kembali ke dapur. Duduk di meja makan dan meniupi isi cangkir. Ingin segera dihabiskan dan kembali ke kamar. Berdua dengan lelaki yang sama sekali tidak akrab, sangatlah merisaukan.
"Kenapa bajumu tidak tukar,?" tanya Syahdan mengamati. Ratria memakai baju panjang dan kerudung seperti yang dipakainya saat datang pagi kemarin ke vila.
"Baju yang disiapkan mbak Lusi semuanya pendek," terang Ratria. Memandang sekilas pada lelaki yang sedang duduk sambil meletak cangkir susu di meja. Syahdan cukup cekatan membuat sendiri susu berkopinya.
"Bukankah mbak Lusi menyiapkan sesuai kesukaanmu,?" sambung Syahdan. Lelaki itu sudah duduk berseberangan meja menghadap Ratria.
"Iya, tapi bukan untuk kupakai di rumah orang," Ratria cepat menyahut. Nadanya cukup ketus.
Wajah tampan yang seketika berkerut merut dengan alis tebal bertaut, sangat jelas di bawah lampu dapur yang terang. Tapi ekspresi itu kembali ke semula dengan cepat.
"Apa kerudungmu itu juga tidak akan kamu lepas jika di rumah orang,?" tanya Syahdan kemudian. Tidak lupa dengan penampilan Ratria saat tidak berkerudung di rumah dinas.
"Tidak selalu," sahut Ratria jujur.
"Lalu kenapa tidak kamu lepas saja,?" usik Syahdan pada Ratria yang tengah meneguk isi cangkirnya beberapa kali sambil meniup
"Hanya sedang tidak ingin." Ratria kembali meniup susu dalam cangkir dan meneguknya agak lama.
"Kenapa,?" Kejar Syahdan dengan nada ingin tahu.
"Tidak tenang." sahut Ratria sambil berdiri. Menuju wastafel dan mencuci gelas buru-buru. Susu bercampur kopi yang cepat dingin setelah ditiup itu telah habis diminumnya.
"Aku kembali ke kamar, pak," pamit Ratria sambil menyambar selembar tisu dari atas meja dapur.
"Ratria,!" Syahdan kembali berseru lirih memanggil gadis berkerudung yang belum telalu jauh berjalan.
Ratria berhenti tapi tidak menoleh.
"Ikutlah aku ke Surabaya pagi ini," kata Syahdan tiba-tiba.
Dan tentu saja Ratria merasa terkejut bukan main. Hal yang paling dikhawatirkannya baru saja terdengar. Dengan cepat berbalik badan memandang tajam pada Syahdan.
"Pagi ini adalah first dayku di Telkom. Hari pertamaku bekerja di tempat pilihanku. Bahkan aku tidak bisa tidur lagi sebab senang. Aku tidak akan ikut denganmu ke Surabaya," sahut Ratria terengah. Kembali merasa kesal yang memuncak.
Berbalik badan lagi dan melangkah cepat menuju ke arah kamarnya. Sangat cemas jika Syahdan mengejar kemudian memaksa dirinya untuk ikut ke kota Surabaya pagi ini. Lelaki pemaksa itu benar-benar membuat Ratria sangat resah.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
M akhwan Firjatullah
gerecep pisan eui
2023-01-10
0
Anna Kusbandiana
syahdan 😡, cinta bilang bos!
2022-12-15
0
Ety Destha
duaaa....lanjuut kak😍
2022-12-15
0