Belasan jam lalu pada hari yang sama di pabrik teh perkebunan..
Seorang lelaki berkacamata berusia hampir enam puluh tahun, sedang berkeringat di pelipis meski hawa di bukit perkebunan sangat sejuk saat itu. Menemui boss baru pengganti boss lama yang baru saja meninggal dunia karena sakit mendadak. Mereka tengah berada di ruang kerja milik almarhum boss besar di pabrik.
"Keuangan atas nama Yakub Achmad di Bank Central Asia, tidak bisa dikeluarkan untuk akhir bulan ini, Pak Syahdan," lapor lelaki berkacamata pada lelaki tampan dan tampak maih muda.
Lelaki itu berkerut dahi sejenak.
"Kenapa, bukankah pembayaran untuk seluruh karyawan pabrik biasanya dikeluarkan oleh bank itu? Sedang aku sudah bertanda tangan di peluncuran salary bulan ini," ucap lelaki bernama Syahdan dengan tenang.
"Pihak bank mengatakan, tanda tangan Anda belum sah. Untuk mendapat penjelasan, Anda harus bertemu dengan pengacara pribadi kakek Anda, Pak Syahdan," terang Pak Andi pada boss barunya.
"Tolong panggilkan pengacara pribadi kakekku secepatnya, Pak Andi," kata Syahdan pada Pak Andi yang berusia jauh lebih tua darinya.
"Anda ingin memanggilnya datang atau bertemu di kota,?" tanya Pak Andi memastikan. Mengamati calon boss muda yang juga sedang menatap lekat padanya.
"Minta datang ke pabrik, Pak Andiii," ulang Syahdan seolah sedang menyabarkan diri saat berkata pada asisten warisan sang kakek.
"Baik, Pak Syahdan. Akan segera saya kabari. Permisi." Pak Andi undur diri. Berbalik badan menuju pintu dan lenyap di sana.
Syahdan menatap pintu dengan ekspresi yang seolah bisa menembusi kayu itu dengan kedua bola matanya. Dengan tangan memegang pena yang diketuk-ketukkan ke meja.
Ingin segera menyelesaikan masalah pembayaran pekerja pabrik dan kebun bulan ini. Bulan pertama setelah sang kakek tiada, sebab stroke mendadak setelah terjatuh di kamar mandi.
Syahdan terpaksa datang ke tempat terpencil di area perhutani dengan paksaan dari ayahnya. Demi iming-iming jika kebun dan pabrik telah diberikan seluruhnya pada Syahdan oleh sang kakek. Yang jika diuangkan, tentu tidak akan habis di belanjakan hingga beberapa keturunan.
Namun, ternyata tanda tangan yang dibubuhkan di selembar kertas berisi instruksi kepada bank untuk penarikan dana pabrik sedang bermasalah. Dana yang seharusnya sudah masuk ke rekening tiap-tiap pegawai tengah hari ini sebagai gaji bulanan, terpaksa di pendingkan.
#
Kepala berambut tebal dengan potongan sangat pendek itu perlahan menoleh pada benda yang berbunyi dan menyala di ujung meja. Mengambil dan memegangnya sejenak. Lalu membawanya rapat ke telinga.
"Ya, halo. Assalamu'alaikum, Judith." Syahdan fokus pada suara di ponsel tanpa kedip sekali pun.
"Akan aku usahakan. Sedang ada masalah kecil di perusahaan kakek yang kudatangi ini." Syahdan berkata sambil menyandar. Meletak kepala di pucuk kursi. Kursi kerja kesayangan kakeknya semasa bertahta di perkebunan.
"Iya. Sekali lagi akan aku usahakan. Jika terpaksa tak bisa datang. Kamu harus tetap bersemangat, Judith," ucap Syahdan sambil menghela napas panjang.
"Apa ...? Hanya aku yang membuatmu bersemangat? Ha...ha.... Bukankah Khairy bilang juga datang?" Wajah lelaki dewasa itu tampak pias. Meski lawan bicaranya sedang di seberang, Syahdan terlihat tidak tenang. Lelaki itu berdiri sebentar lalu duduk kembali dan tersenyum.
"Baiklah, tunggu saja. Aku akan datang," tukas Syahdan dengan wajah kian cerah. Terdiam fokus dengan bayang senyum di bibir.
"Iya, Judith. Hati-hati. Wa'alaikumsalam." Syahdan memberi balas salam sebelum menjauhkan ponsel dari telinga. Duduk menyandar dengan memandangi layar ponsel. Ada wajah jelita yang tersenyum manis di layar ponsel. Wallpaper.
🍃🍃🍃🍃🍃
Pengacara pribadi yang masih muda. Bahkan lebih muda dari klien. Pengacara pengganti sang ayah yang sudah angkat tangan dari segala tugas di arsipnya. Kini tengah memandang lurus pada Pak Andi dan Pak Syahdan.
"Seperti itulah," kata pengacara muda itu setelah membunyikan wacana.
"Jadi untuk sementara, harus ada tanda tangan perempuan yang bernama Ratria?" tanya Syahdan pada pengacara muda di depannya.
"Seperti itulah," kata pengacara muda yang dingin dengan kalimat dan nada sama persis.
"Ratria adalah perempuan penting bagi Anda, Pak Syahdan," ucap Pak Andi meluruskan. Syahdan melirikkan mata sekilas.
"Jika aku tidak menikah kembali dengan perempuan itu, apa yang terjadi?" tanya Syahdan dengan ekspresi tidak puas.
"Tujuh puluh persen dari perkebunan serta aset pabrik yang harusnya jadi milik Anda, akan batal. Harus di bagi rata dengan ketiga saudara anda yang lainnya. Namun, selama Anda belum mengambil keputusan, segala hal yang berkaitan dengan dana di kebun dan pabrik, harus ada tanda tangan dari pemilik nama Ratria di bawah nama anda." Pengacara muda itu mengambil lembaran kertas berlaminating dari meja. Berisi mandat almarhum boss besar yang baru saja dibaca oleh Syahdan.
"Semua lembar dana apa pun, harus ada tanda tangan perempuan itu? Bukankah sangat merepotkan?" tanya Syahdan bergumam.
"Seperti itulah," sahut pengacara dingin, kembali dengan kalimat yang sama. Dua kata lempeng itu terdengar menyebalkan di telinga lebar Syahdan.
"Jadi, silahkan anda memilih bagaimana baiknya, Pak Syahdan," kali ini adalah suara pak Andi. Tapi tetap terdengar tidak nyaman bagi Syahdan.
"Tak ada kebaikan yang patut kupilih, Pak Andi," kata Syahdan dengan sinis.
"Jangan lupa. Ratria adalah anak gadis dari seseorang yang sangat berjasa untuk Anda. Jika bukan karena ayahnya Ratria, mungkin sekarang Anda tidak memiliki orang tua. Bahkan Ratria juga kehilangan ayah serta kakeknya setelah datang dan merawat keluarga anda waktu itu, Pak Syahdan. Selain sebab takdir dari yang di atas tentunya." ulas panjang sang pengacara dingin.
"Lalu, apa hak gadis itu setelah menikah denganku? Selain seluruh biaya hidup dan sekolah yang sudah ditanggung oleh kakekku?" tanya Syahdan dengan wajah yang masam.
"Akan memiliki hak penuh pada rumah dinas yang ditempatinya itu. Tentu anda wajib memberinya nafkah lahir dan batin." Pengacara berbicara dengan acuh sambil menunjuk lembar lainnya pada Syahdan.
Syahdan menyambar cepat dan laju membaca. Berisi kepemilikan rumah dinas yang ditempati Ratria. Berbunyi sama dengan yang baru dijelaskan oleh pengacara padanya.
"Bagaimana jika gadis itu menolak?" tanya Syahdan dengan wajah agak cerah. Berharap ada celah penyelamat agar terbebas dari syarat berat sang kakek.
"Seperti tadi, sama dengan jika Anda menolak. Hanya gadis itu masih berhak tinggal di rumah dinas hingga dia menikah dan ikut suaminya," jelas pengacara dingin.
"Kenapa kakek menyulitkanku?" tanya Syahdan nampak kesal.
"Bukan menyulitkan Anda. Tapi hanya mengajarkan Anda untuk lebih memahami balas budi," tegas pengacara.
"Kenapa aku, bukankah ada adik-adikku yang juga lelaki?" tanya Syahdan kurang puas.
"Apa anda tidak malu... sebagai anak lelaki tertua, membiarkan adik anda yang memikul beban keluarga?" tegas pengacara kembali.
"Apa ditulis di sana, jika yang menikah dengan gadis itu adalah salah satu dari adikku?" tanya Syahdan. Kembali mencari celah.
"Tidak. Tapi saya akan memberi solusi dengan sama jika anda menolaknya," sahut tegas pengacara.
Syahdan menghempas punggung di sandaran kursi kerja. Memandang tajam pengacara yang nampak acuh dan terus membuka lembar-lembar yang entah apa isinya. Lalu memandang asisten Andi cukup lama. Syahdan tengah berfikir dengan gundah gulana.
"Pak Andi, temui gadis itu di rumah dinas secepatnya. Aku akan ke Malang habis ini. Setelah itu ke Surabaya. Mungkin akan datang kembali besok dan paling lambat lusa." kata Syahdan dengan tegas.
"Tapi para pekerja harus segera mendapat gajinya, Pak Syahdan." Pak Andi keberatan.
"Akan kupercepat kedatanganku," kukuh Syahdan tak terpatahkan.
"Baiklah, Pak Syahdan. Akan kuberitahu gadis itu di rumahnya," sahut Pak Andi dengan pasrah. Berharap para pekerja kebun dan pabrik mau bersabar. Setidaknya mengundur pembayaran keringat mereka dua hari ke belakang. Dan siang ini akan ditemuinya Ratria.
Sedang gadis yang bernama Ratria dan akan ditemui pak Andi, tengah turun ke kota untuk melamar kerja di PT Telkom Wlingi..
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Bunda Nian
Ha ha ha... Aku suka gaya pengacara nya.
2023-02-02
3
aning purwasih
eh,, pengacaranya keren ternyata
2023-01-06
2
Ety Destha
duaaaa......dminta lanjutkan up kk kwkwkwkww...semangaaat
2022-12-06
1