Pak Leo kembali ke tempat para anggota tim menunggu dengan cepat. Proses konfirmasi daftar ulang itu sangat lancar dan tidak berbelit. Membawa lima kunci bernomor urut yang berbeda, serta lima bungkus paket lengkap makan malam. Dan dibagikan pada ke-empat anggotanya masing-masing satu kunci dan satu bungkus kotak makan.
"Kita istirahat sebentar sambil menunggu maghrib di kamar masing-masing. Lepas isya, kita berkumpul lagi. Info detailnya, akan kukirim via whatsapp," terang pak Leo sambil berjalan memimpin.
Bu Siska mengikuti di belakangnya. Hendra dan Galih berpandangan saling senyum penuh arti. Dan Ratria mengikuti mereka dengan berjalan di belakang. Tidak tahu menahu dengan letak asrama bandara yang tengah dituju.
Kamar mereka berada di asrama bandara lantai tiga dan menghadap keluar. Pemandangan aspal hitam menghampar dan berbatasan dengan persawahan yang berhektar-hektar luasnya tersuguh di hadapan. Rasanya sangat sejuk dan nyaman. Dengan sesekali nampak pesawat yang landing mendarat atau juga lepas landas mengudara di lapangan aspal yang luas. Dan itu adalah kesempatan serta tontonan langka bagi Ratria.
"Ratria, jika mau ke mana-mana bilang dulu. Kirim pesan ke whatsappku. Nanti kutemani." Hendra berpesan pada Ratria setelah mengantar gadis cantik itu mencari nomor kamarnya. Kamar mereka berlima saling berpencar serta saling berjauhan.
"Iya, mas Hendra. Terimakasih." jawab Ratria sambil mengangguk.
Hendra tersenyum dan berbalik badan menuju kamarnya yang entah di mana, Ratria tidak tahu. Lelaki itu mengutamakan memcari nomor kamar di kunci yang dipegang Ratria.
🍃🍃🍃
Pak Leo baru saja mengirim kabar bersama di grup pesan yang baru dibuat dan beranggota mereka berlima. Meminta segera keluar kamar lima belas menit lagi, untuk menghadiri acara saling sosialisasi yang akan dimulai tepat pukul delapan malam itu.
Tetap dengan kostum berkerudungnya, gadis gunung milenial itu terlihat menarik dan cantik. Tidak lagi mengenakan kemeja seragam tempat kerja, tapi baju bebas yang anggun dan modis pilihannya sendiri dengan sedikit bantuan dari mbak Lusi. Dengan hiasan sebuah pin bulat berlogo tanda PT Telkom Wlingi di kerudung.
"Jaga matamu, Lih. Pacarmu hanya lima kilometer dari sini. Dan baru tadi siang kamu apelin. Ingat itu,!" seru Hendra saat Galih berjalan lambat-lambat membingungkan. Melirik Ratria dan berniat sejajar berjalan. Sedang lorong di teras asrama bandara itu tidak lebar. Ratria telah berjalan sejajar dengan Hendra.
"Iyalah, Ndra, meski keberadaanku yang sempurna ini selalu mengancam. Tapi spesial kamu, aku ngalah. Mundur sajalah aku, Ndra," ucap Galih pura-pura serius. Tapi senyum-senyum pada Ratria sambil berjalan melambat dan mundur ke belakang sendiri.
"Bye, Rat..Jangan galau, kita jumpa lagi di dalam," bisik Galih saat mundur tepat melewati Ratria.
"Jangan denger, Rat. Biasa,, dia lagi di Surabaya, habitat dia. Buaya tebar pesona," ucap Hendra tersenyum, rupanya terdengar olehnya canda Galih pada Ratria.
Gadis yang dimaksud juga tersenyum. Merasa terhibur dengan kekonyolan para seniornya yang santuy.
Pak Leo dan bu Siska telah membawa mereka memasuki aula pertemuan di bandara Juanda. Aula sewa yang sangat luas lengkap dengan set meja dan kursi di dalamnya. Berbagai spanduk perlambang maskapai penerbangan PT Air Asia dan PT Telkom terpasang menempel di hampir tiap sisi dinding di Aula. Mulai dari pintu masuk penyambutan hingga bagian yang dalam.
Pertemuan dengan misi saling bersosialisasi itu berlangsung santai dan nyaman. Duduk di tiap meja sesuai anggota dari daerahnya masing-masing. Ratria telah duduk aman di antara bu Siska dan mas Hendra. Pak Leo di samping bu Siska dengan Galih di sampingnya berposisi paling tepi.
Acara yang telah dibuka oleh MC itu diawali dengan penyambutan kedatangan beberapa direksi dan petinggi dari Telkom. Mereka duduk di kursi khusus yang disediakan di depan. Berhadapan dengan para undangan dari Telkom dan beberapa orang dari Air Asia sendiri.
Kemudian MC berlanjut memimpin untuk menyambut masuk kepada para petinggi dari cabang Air Asia di Surabaya. Undangan yang mulanya riuh, kini berubah tenang seketika. Menyimak segan kepada para petinggi direksi yang nampak berwibawa dan juga berkharisma. Selaku penyelenggara inti dari acara sosialisasi kerjasama.
Begitu juga Ratria. Terlebih sebagai pegawai magang tak punya pengalaman dan baru saja lulus sekolah, ini sangatlah menarik dan menyenangkan. Begitu menyimak pada setiap wajah dengan jabatan apa yang telah disandang.
Dan Ratria sedang mematung sekarang. Perhatiannya terhenti pada manager muda dari PT Air Asia yang baru datang dan duduk dengan tenang. Terlihat paling menyolok di antara seluruh petinggi yang duduk sejajar di depan sana.
Manager lelaki itu nampak lebih berwibawa dan berkharisma dari yang Ratria lihat selama ini. Ratria sangat yakin, manager super cerah yang tampan itu adalah Syahdan, boss baru di pabrik teh dan perkebuanan. Alias lelaki yang sudah menikahinya dengan sah beberapa minggu lalu di Sirah Kencong.
Ratria tercekat, merasa susah bergerak dan susah bernafas. Berdebar dengan rasa yang masih tak percaya. Melihat lelaki itu dengan tidak terduga. Ada rasa was-was jika Syahdan menemukan wajahnya dan lalu mengenalinya. Mengingat lelaki itu sempat kesal saat Ratria menolak ikut ajakannya ke Surabaya.
Ratria berusahaa duduk merendah dari barisan orang-orang yang duduk di depan. Bersyukur dengan sang ketua tim yang memilih duduk di barisan terbelakang. Dan itu membuat Ratria merasa sedikit cukup aman sementara.
"Mas, apa para petinggi Air Asia itu juga tunggal di asrama bandara,?" tanya Ratria pada Hendra di sampingnya. Lelaki itu nampak sambil shoot dokumentasi.
"Ha,,ha,, ya enggaklah, Rat. Mana level, mereka dapat jatah rumah sendiri di sekitar bandara. Kenapa,?" tanya Hendra sambil terus dokumentasi.
"Enggak. Penasaran saja, mas." Ratria terdiam. Merasa lebih lega.
"Tapi untuk sebagaian pramugara, juga banyak yang menginap di asrama bandara," terang Hendra kemudian.
"Oh, begitu ya, mas." Ratria mengangguk dan diam. Teringat tiba-tiba pada Vario, kakak tirinya yang seorang pramugara. Di maskapai apa dia, di mana dia tinggal,,,? Ratria tidak sempat bertanya, dan Vario tidak pernah bercerita.
"Eh, kalian yang sedang mojok! Siap-siap, sebentar lagi kita berdiri berkenalan. Asyik ngibul saja kamu, Ndra,!" seruan mengejutkan itu dari Galih. Lelaki itu tersenyum puas. Berhasil menciptakan wajah kaget pada Ratria dan Hendra bersamaan. Pak Leo dan bu Siska juga ikut tersenyum.
Apa tadi kata Galih,, Ratria kembali fokus ke depan. Mengamati sejenak dan dadanya kembali berdegup.
MC telah meminta pada seluruh undangan di tiap meja untuk bergiliran berkenalan. Harus berdiri dengan salah satu dari mereka yang berbicara. Hanya untuk menyebut asal daerah dan menampakkan wajah seluruh anggota tim kepada para petinggi di depan.
Sisip perkenalan itu tidak lama, hanya perlu waktu sekian detik saja yang diperlukan tiap tim menunjukkan dirinya. Dan sebentar lagi adalah giliran di meja anggota tim pak Leo.
Meski meja pak Leo di belakang, wajah mereka akan terpampang jelas di layar samping depan. Para petinggi perusahaan itu akan dengan mudah mengamati sesi perkenalan mereka di layar dan dekat.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
1 Vote readers dari Ntoon tiap Isnin,
sangkutin aja di sini yaa... arigato...😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
M akhwan Firjatullah
aku deg deg an
2023-01-10
1
aning purwasih
kayak terancam ketahuan selingkuh ya Rania,,?? 🤭🤭🤭
2023-01-06
1
hania putri
jan ampe kemakan gombalan si hendra buaya buntung ya rat, plis jaga iman mu.
2023-01-01
1