Hari terang benderang dan jam dinding menunjuk pukul delapan. Alarm di ponsel Ratria telah memanggil. Memaksa pemiliknya untuk bangun dan mandi. Dengan terpaksa gadis cantik bermata sayu mengantuk itu menurut pada algojo ciptaannya sendiri. Tidak lama berdandan, hanya merias diri ala kadarnya dan wajar.
Badan tinggi tegap di dapur cukup mengejutkan Ratria. Lelaki yang disangka masih tidur, ternyata telah necis dan rapi. Pagi tadi kakak tiri belum bangun. Jadi baru saat inilah bersua.
Rio sedang membuat kopi di cangkir putih yang kecil. Bau kopi yang menghembus, menggelitik hidung indah Ratria. Bayang nikmat dari panas kopi, telah menghangatkan kepalanya.
"Hai,as Rio, apa kabar?" sapa Ratria dengan kikuk. Lelaki itu mendongak saat dirinya masuk ke dapur.
"Hem, baik. Sudah bangun?" tanya lelaki muda sambil memandang sekilas, kemudian kembali menunduk.
"Sudah, Mas. Mau cepat turun ke Wlingi." Ratria menjelaskan tanpa ditanya. Merasa senang dengan sikap kakak tirinya yang berubah sedikit hangat kali ini.
"Barengan saja. Aku juga akan turun ke kota," jawab Rio. Sendok untuk mengaduk kopi diletak di tepi tatakan cangkirnya.
Rio tidak lagi menunggu jawaban Ratria. Telah berbalik badan dan melangkah cepat meninggalkan dapur. Mungkin pergi ke kamar untuk persiapan turun ke kota.
Ratria menghela nafas dan membuang rasa tegang. Heran dengan perubahan sikap kakak lelaki tiri yang biasa cuek dan tidak peduli, kini ada kebaikan untuknya. Ini adalah pertemuan pertama kali di lima bulan yang terakhir. Rio jarang mendapat liburan dari agency penerbangannya di Juanda.
🍃🍃🍃
Gadis modis dengan berkerudung rapi, simetris dan manis, telah diturunkan kakak lelaki tiri tepat di depan sebuah gedung megah bertulis PT Telkom-Wlingi. Mengulur helmet yang baru dilepas dari kepala pada kakak tirinya.
"Terimakasih, ya, Mas," ucap Ratria dengan senyum yang manis.
"Titipkan saja helmet ini pada penitipan di dalam. Jika selesai kirim pesan padaku. Kamu akan kuambil," ucap Rio mengejutkan. Tawaran baik yang tidak disangka oleh Ratria. Dan ini adalah percakapan pertama mereka semenjak keluar dari dapur di rumah.
"Aku tidak punya nomormu, Mas," terang Ratria. Berharap Rio memberikan nomornya.
"Keluarkan ponselmu," pinta Rio tanpa memandang pada Ratria.
Rio menulis dengan cepat nomor ponsel miliknya di ponsel Ratria dan menyimpankan. Lalu dikembalikan pada yang punya dengan diam. Dan meluncur pergi tanpa pamit sepatah pun pada adik tirinya.
🍃🍃🍃
Ratria sedang duduk tegak dengan hati berdebar. Panggilan interview yang cukup lama ditunggu, akhirnya tiba juga. Ketegangan dengan duduk diam, menunggu di depan seorang pria berkacamata tebal itu akhirnya berakhir.
"Selamat bergabung bersama kami di PT Telkom Cabang Wlingi, Ratria," kata pria itu akhirnya, setelah berbicara dan bertanya pada Ratria dengan beberapa pembahasan.
"Jadi, saya sudah diterima, Pak?" tanya Ratria setengah tak percaya, terlebih saat lelaki itu mengangguk serius padanya.
Ternyata mudah sekali mendapat kerja. Untuknya... Belum tentu orang lain akan semudah dirinya.
"Sebetulnya kamu direkomendasikan khusus oleh sesorang, Ratria," respon pria itu. Pria dengan nama Sofyan pada name tag yang menempel di dada kanannya.
"Saya direkomendasi khusus? Siapa yang telah sangat baik merekomendasikan saya, Pak?" tanya Ratria dengan mata jernih yang melebar.
"Mas Hendra. Kamu boleh konfirmasi langsung padanya. Tapi tiga hari ini, Mas Hendra sedang keluar kota." Sofyan memandang Ratria seksama. Lalu mengulur dua buah bungkusan yang transparant. Seperti kemeja warna merah.
"Masuk dua hari lagi dan temui saya. Ini adalah seragam kamu. Hanya atasan saja. Segala size. Untuk bawahan dan kerudung, kamu bisa menyesuaikan sendiri," jelas Sofyan menerangkan. Gadis berkerudung di depannya sedang mengangguk-angguk menanggapi.
"Baiklah, Ratria. Ada yang kamu tanyakan? Jika tidak, saya akan menerima peserta interview setelah kamu," kata Sofyan. Memandang Ratria dan menunggu. Dan gadis itu menggeleng dengan yakin.
"Sementara tidak, Pak. Terimakasih. Saya permisi. Assalamu'alaikum," pamit Ratria sambil berdiri. Menyambut ulur tangan dari Sofian sebelum pergi meninggalkan ruangan.
🍃🍃🍃
Ratria tidak langsung pulang. Tapi membawa kakinya berjalan nenyusuri trotoar setelah keluar dari gerbang Kantor Telkom. Menuju taman hijau di jantung kota Wlingi yang luas dan rindang.
Puluhan pohon raksasa yang tua memenuhi taman dan sangat sejuk hawanya. Angin semilir yang terus berhembus, menyapa dan mengelus setiap pengunjung yang datang.
Tebaran arena permainan, spot wifi, kolam ikan, kolam sembur, mushola dan bermacam satwa dalam kurungan, adalah daya tarik tersendiri untuk pengunjung. Selain tidak ada pungutan apapun untuk masuk. Kecuali biaya retribusi parkir dua ribu.
Ratria benar-benar ingin menikmati moment turun gunungnya. Menghabiskan waktu hampir dua jam di dalam taman kota. Jika tidak ingat mungkin Rio sudah pulang dan terjebak maghrib saat pulang. Gadis itu belum ingin beranjak.
Kakak tiri sudah sampai di gerbang taman setelah mencoba dikiriminya pesan sepuluh menitan yang lalu. Membenarkan benaman helmnya dan melajukan motor kesayangan setelah Ratria juga memakai helmnya, lalu naik baik-baik di boncengan.
Seperti biasa, perjalanan selalu bisu tanpa satu kata pun perbincangan. Bahkan Rio juga tidak menanyakan hasil lamaran kerjanya. Ratria tentu saja tidak heran, itu memang sudah sifat abang tiri. Hanya sedang sangat bersyukur, Rio masih di kota dan belum naik gunung meninggalkannya.
Motor trail khas gunung dengan dua penumpang, melaju sangat kencang. Motor kesayangan Rio yang didapat semenjak SMP. Dan baru dua kali inilah Ratria berkesempatan naik dan dibonceng pemiliknya.
Yang pertama dulu saat baru mendaftar kuliah dari kota Malang. Ratria terpaksa jalan kaki saat pulang. Sebab kemalaman dan tidak ada tumpangan. Ojek pangkalan di persimpangan sedang kosong. Telah lama ditunggu, tak ada satu ojek pun yang datang. Ojol... di sana ... tidak ada!
Sedang Pak Eko masih mengantar penumpang ke luar kota. Setelah gagal menghubungi siapa pun, dirinya nekat dan berniat jalan kaki menembusi perhutani tujuh kilometer menuju perkebunan. Tidak ingin kian malam terjebak perjalanan. Jalan kaki terdesak seperti itu memang sudah biasa bagi anak perkebunan. Tak terkecuali si cantik Ratria.
Di setengah jarak tempuh, tiba-tiba Rio yang sedang libur kuliah, lewat dan berhenti di sampingnya. Kemudian mengangkut Ratria di boncengan. Seperti biasa, mereka senyap tanpa ada perbincangan di sepanjang perjalanan. Dulu dan sekarang yang tidak jauh berubah.
🍃🍃🍃
Maghrib sudah hampir menjelang. Tiba-tiba di separuh perjalanan, motor trail itu berhenti tiba-tiba. Sudah banyak kali dicoba nyalakan dengan berbagai cara, mesin tidak juga berfungsi.
"Jika ada kendaraan lewat, hentikan saja," kata Rio singkat.
Ratria mengangguk, paham maksud kakaknya. Ini adalah hal sangat biasa di perjalanan menuju perkebunan. Berharap tumpangan. Seperti sudah jadi sumpah mitos. Jarak tempuh di setengah perjalanan perhutani menuju kebun itu sering terjadi masalah. Mungkin sebab tikungan tajam yang dilalui sebelumnya.
"Kita jalan," kata Rio sambil berjalan ke depan menuntun motor yang macet. Merasa menyerah dan gagal setelah mencoba menyentuh mesin di beberapa titik penting.
"Iya, kak!" sambut Ratria bersemangat. Merasa sudah lama tidak berjalan dengan kaki menempuh jalan dan membelah hutan di perhutani. Lupa jika waktu hampir maghrib.
Mereka berjalan tergesa mengejar mahhrib beriringan. Ratria berjalan cepat di depan kerena disuruh kakaknya. Sedang Rio berjalan menuntun motor dengan pandangan lurus sambil sesekali menunduk.
Tin!
Terdengar bunyi klakson dari jauh di belakang mereka. Rio segera menyangga motor dan bergeser sedikit ke jalan. Menunggu adanya kendaraan yang akan muncul di balik tikungan.
Ciiiitt..!!!
Kendaraan itu mengerem mendadak. Rio bersikeras tidak menepi saat membaca gelagat jika kendaraan itu ingin tidak peduli pada lambaian tangannya.
🫛🫛
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
M akhwan Firjatullah
ealah hati kok Yo ga sabar banget Yo...bacane perlahan ae oke...
2023-01-10
1
Siti aulia syifa Az_zahra
trus klo sama si pengacara muda klo ganteng judulnya pengacara kulkas pencuri hati, kebanyakan baca novel jadi ngglambyar😅😅😅😅😅
2023-01-06
1
Siti aulia syifa Az_zahra
below b3lom dah oleng gue kenapa para figuran laki2nya punya sifat kyak pemeran utama di novel2 lain???
ini klo sama kakak tiri judulnya Kakak tiriku jodohku
2023-01-06
2