Pak Andi menyeruput cangkir berisi teh manis yang tadi berkebul uap panas kini telah menghangat sangat cepat. Hawa perkebunan benar-benar dingin menusuk malam ini.
"Pak Andi, apa penyebab saya dikawin gantung oleh pak Syahdan,?" tanya Ratria terheran. Memperhatikan pria yang berkharisma itu meneguk teh hangat dengan nikmat. Yang kemudian mengangguk padanya.
"Mbak Lusi, tolong ceritakan pada Ratria kronologi waktu itu," ucap pak Andi menoleh dan memandang mbak Lusi.
Ratria menatap mbak Lusi yang sedang juga memandang wajahnya. Wanita berkerudung lebar itu nampak mempersiapkan diri untuk memulai berbicara. Nafas yang tadi begitu jelas panjang ditarik, kini telah kuat dihembuskan dari dua lubang hidungnya.
Dan mbak Lusi mulai bercerita.
Meski pak Andi sudah hafal di luar kepala, tapi wajah berkacamata itu tetap menyimak cerita mbak Lusi dengan serius. Tak kalah dengan Ratria. Gadis itu sangat fokus menatap dan mendengar suara mbak Lusi yang sedang berkisah pada kejadian delapan belas tahun yang lalu. Kejadian menyedihkan yang membuat Ratria direlakan oleh ibu dan neneknya untuk dikawin gantungkan dengan pak Syahdan.
"Jadi, ayahku sakit dan kemudian meninggal, setelah merawat keluarga mereka, mbak,?" tanya Ratria dengan wajah yang sedih.
"Iya, Rat. Ayahmu adalah mantri muda yang sangat baik, tidak peduli saat itu tengah lockdown. Ayahmu datang demi mendengar ada keluarga pendatang yang terisolir dan sedang sakit di villa pabrik." Mbak Lusi menjelaskan kembali.
Mata Ratria berkaca air, mencoba mengingat kejadian sedih kala dirinya masih kecil. Seperti yang baru mbak Lusi katakan. Saat sebuah wabah virus yang dianggap ganas menyerang seluruh pelosok negeri. Tak terkecuali seluruh penjuru di Blitar.
Yang akhirnya pemerintah mengambil tindakan darurat sementara. Yaitu tindakan lockdown serentak di seluruh daerah tanah air. Begitu dianggap menyeramkan ancaman keganasan wabah virus waktu itu.
Hingga seluruh pemerintahan mematuhi aturan pembatasan dari pusat sampai ke pelosok terpencil sekalipun. Tak terkecuali di lingkungan masyarakat yang tinggal di daerah perhutani Sirah Kencong.
Dan tibalah hari itu, hari-hari yang lengang di saat berlaku masa lockdown. Hari saat bos besar sekaligus pemilik pabrik teh di perkebunan turun ke kampung dan mencari bantuan. Ada tiga anggota keluarganya yang tiba-tiba sakit dan mungkin sedang kritis.
Dokter pribadi keluarga yang ditelepon, sedang di luar negri dan terpaksa tidak bisa menolong. Dan seluruh pegawai pabrik dan villa, serta sopir keluarga yang berasal dari luar kota juga sedang diliburkan.
Bos besar mendatangi rumah ketua kampung. Dan oleh ketua kampung diajak mendatangi rumah ayah Ratria yang seorang mantri muda sekaligus perawat tetap di RSUD kota Wlingi.
Singkat cerita, ayah Ratria berhasil menyembuhkan pasangan suami istri yang merupakan anak dan menantu dari bos besar perkebunan dan pabrik teh. Namun sayang sekali, istri dari bos besar yang mulanya memang sudah sering sakit. Tidak mampu diselamatkan lagi oleh ayah Ratria.
Satu minggu setelah peristiwa, ayah Ratria ternyata juga sakit keras tanpa disangka dan tidak berhasil mengobati dirinya. Nyawanya tidak tertolong lagi meski sudah dilarikan oleh ambulance ke rumah sakit umum daerah di kota Wlingi.
Dan lebih menyedihkan, belum ada satu bulan, kakek Ratria juga sakit keras dan meninggal dunia secara mendadak sebelum sempat dilarikan ke rumah sakit.
Jadilah sejak saat itu, Ratria tinggal bersama ibu dan sang nenek di rumah dinas. Rumah peninggalan kakek yang seorang pegawai perhutani Sirah Kencong. Rumah yang hanya boleh ditinggali tapi tak bisa dimiliki.
Beberapa minggu setelahnya, boss besar perkebunan tiba-tiba datang mencari ayah Ratria. Ternyata ingin menyampaikan terimakasih. Merasa sangat terkejut, bukan ayah Ratria yang ditemui namun justru kabar duka yang dijumpainya.
Dan hati tuanya tersentuh dengan pemandangangan mengharukan. Gadis cilik yang sangat cantik tengah menangis tersedu dengan dipangku sang ibu, menyebut rindu sang ayah. Yang ibunya juga tak kalah sedunya menangis, menyebut sedih sang suami.
Sang nenek pun tak kalah mengharukan. Menangis sesenggukan mengingat dua lelaki tercinta yang lebih dulu berpulang meninggalkannya. Sosok suami dan juga sosok anak lelaki semata wayangnya.
Dan bermula dari pemandangan sedih itulah kesepakatan kawin gantung antara gadis mungil, Ratria, dengan lelaki kecil, Syahdan itu terjadi. Persetujuan dua keluarga untuk menikahkan anak-anak kecil mereka demi rasa terimakasih tak bertepi dari bos besar, dalam sebuah ikatan yang kekal dan abadi.
"Jadi kata pak Andi itu benar, mbak? Aku telah dikawin gantung dengan cucu pemilik perkebunan dan pabrik,?" tanya Ratria pada mbak Lusi. Meski sudah paham dengan alasan dan mulai percaya, gadis itu ingin memastikan akan kebenaran hal itu sekali lagi.
"Benar sekali, Rat. Mungkin kamu sudah lupa, saat kamu umur hampi tujuh tahun, ibumu menikah lagi dengan ayahmu yang sekarang itu. Aku datang mengasuhmu selama dua tahun. Sebab kamu hanya diasuh oleh nenekmu yang saat itu agak kerepotan," terang mbak Lusi.
"Jadi sebelum ini, mbak Lusi pernah datang dan tinggal bersama kami?" tanya Ratria.
"Iya, Rat. Mengasuh kamu selama dua tahun.Dari umur tujuh sampai sembilan tahun." terang mbak Lusi. Dan Ratria terdiam, tidak bertanya apa-apa lagi.
"Pak Andi," panggil Ratria pada lelaki yang konon adalah asisten pak Syahdan.
"Siapa sebetulnya yang memintamu datang ke sini malam-malam begini? Bukankah kudengar, bos besar perkebunan telah meninggal hampir tiga minggu yang lalu?" tanya Ratria.
"Pak Syahdan yang memintaku untuk menerangkan ini, Ratria. Sebab dalam waktu dekat, entah besok atau lusa, pak Syahdan akan datang dan membawa kamu ke villa di pabrik," jelas pak Andi.
"Apakah pernikahan ini berguna untuk pak Syahdan, pak? Bagaimana jika aku keberatan? Sebab aku merasa masih sangat muda, belum ingin menikah, baru lulus sekolah dan masih ingin merasa bagaimana mencari rupiah. Aku benar-benar kaget dan shock, pak Andi," terang Ratria menyiratkan keberatan dirinya. Dan pak Andi mengangguk.
"Maaf, Ratria. Aku paham maksudmu. Tapi di sini, peranku hanya sekedar menyampaikan padamu. Tentang keberatan dan pendapatmu, kamu bisa membicarakan hal itu dengan pak Syahdan secara langsung. Mencoba tidak ada salahnya, Ratria," jawab pak Andi mendukung. Memahami perasaan gadis muda yang baru menyelesaikan bangku kuliahnya bulan lalu.
"Baiklah, sebab malam sudah larut, kurasa kedatanganku cukup seperti ini dulu sementara. Aku akan datang kembali dengan membawa pak Syahdan. Beliau sedang pulang sebentar ke kota Malang," terang Pak Andi sambil menutup rapat tas hitam miliknya. Bersiap berdiri untuk segera pergi keluar dari rumah.
"Jika tiba-tiba ada yang membingungkan, kamu bisa menanyakan apa saja pada mbak Lusi. Barangkali dia bisa menjawab segala apapun rasa ingin tahu kamu sementara," sambung pak Andi menerangkan dengan berdiri.
Ratria hanya memandang lekat dengan mematung dan bungkam. Masih begitu bingung dan bimbang. Hingga pak Andi benar-benar telak menghilang dari pandangan, dan pintu telah ditutup kunci lagi oleh mbak Lusi rapat-rapat.
🍃🌱🍃🍃🍃🍃
Vote me, please... Love you...
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
M akhwan Firjatullah
lha apakah akan ada pernikahan ulang Yo...klo g emange sah ya...
2023-01-10
1
M akhwan Firjatullah
wehhhh ini cerita untuk belasan tahun ke depan opo Thor...lockdown barang lho...Corona opo bukan yo
2023-01-10
1
Novelable uwwu
tahu tahu udah naksir syahdan duluan nih akyuuu...
2023-01-07
1