Gadis berambut barbie, panjang dengan ovale cut dan bergelombang di ujung, sedang melipat mukena selepas sujud subuh. Bergerak tergesa merapikan tas yang baru dijejali baju dan kerudung. Berjalan keluar kamar sambil menguncir rambut tebalnya.
"Lho, mau ke mana, Rat?" tanya Mbak Lusi terheran. Wanita itu masih bermukena, baru kembali dari mushola di bawah sana.
"Mbak, aku mau ke rumah ibuku. Kalo nggak pagi-pagi, keduluan dia ke kantin," pamit Ratria sambil memgunci pintu kamar.
"Kok bawa tas juga, Rat?" Mbak Lusi menyelidik.
"Aku nanti ada jadwal wawancara, mbak. Berangkat dari rumah ibuk. Jadi isinya baju melamar." Ratria menjawab dengan menepuk tas ransel kecil di punggung.
"Kamu nggak pakai kerudung?" tanya Mbak Lusi mengingatkan. Ratria memandang segan mbak Lusi. Lalu menggeleng.
"Aku buru-buru, mbak. Ngejar ibuku. Malas jika harus nyusul turun ke kantin," jawab Ratria. Duduk di meja makan, mengambil air putih dan meneguk habis.
"Malas ngadepin para fans kamu?" Mbak Lusi tersenyum menggoda. Ratria nyengir.
"Iya, Mbak. Mereka pantang menyerah. Ditolak satu tumbuh sepuluh. Aku ingin cepat kerja, Mbak. Biar nampak sibuk, nggak ada yang nanyain," terang Ratria dan berdiri.
"Embak gorengin telur, sarapan dulu ya, Rat, " bujuk Mbak Lusi. Tapi yang dibujuk menggeleng dan terus berjalan.
"Nggak papa, Mbak. Aku sarapan di rumah ibuk saja," sahut Ratria yang sudah di pintu memakai sepatu.
"Rat, kamu pulang jam berapa? Kalo Pak Andi dan Pak Syahdan datang, bagaimana?" tanya Mbak Lusi dengan gusar.
"Nggak tau lah, Mbak. Entah selesai jam berapa nanti interviewnya. Tapi jika orang pabrik itu datang, ya biarkan saja lah, Mbak. Wong bukan aku yang butuh. Aku nggak minat dengan perjodohan kawin gantung ini. Masa depanku masih panjang, Mbak," terang Ratria bersemangat.
"Tapi Pak Syahdan itu sekarang bos besar pabrik, Rat. Dia kaya raya. Kamu nggak tergoda?" Mbak Lusi mengingatkan di pintu. Ratria sudah berdiri di luar.
"Masak jodohku sebatas orang pabrik, Mbak. Bosan. Ingin ngerasa jatuh cinta dan pacaran dulu. Aku sudah tidak sekolah. Ingin punya pacar sambil kerja. Ingin punya pacar orang kota, Mbak," Ratria senyum-senyum bercanda.
"Pak Syahdan itu bukan orang sini, Rat. Dia juga orang kota dan kamu belum ketemu. Kalo ketemu, bisa jadi kamu langsung suka," seloroh Mbak Lusi sambil tersenyum.
"Ha... ha.... Mbak ... Mbak, aku berangkat dulu, assalamu'alaikum!" Ratria tertawa abai dan kemudian berpamitan.
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati, Nduk!" seru Mbak Lusi.
Ratria telah berlalu dan mencapai pintu pagar. Gadis itu berjalan cepat menuju rumah sang ibu. Rumah ayah tiri lebih tepatnya. Tidak terlalu jauh dari rumah dinas yang ditinggali Ratria. Beda beberapa blok saja. Ayah tiri Ratria adalah seorang mandor petik teh di kebun. Sedang ibunya adalah karyawan di kantin area perhutani.
Ibunya memilih menikah lagi dengan ayah tiri setelah dua tahun ayahnya Ratria meninggal. Meninggalkan gadis kecil itu tinggal sendiri dengan sang nenek. Ibu dari almarhum suami alias ibu mertuanya.
Ibu kandung meninggalkan putri kandung untuk diasuh nenek dari ayah. Pergi bersama suami barunya ke rumah yang tidak terlalu jauh dari rumah ibu mertua. Lebih menyedihkan bagi Ratria, ibu kandung memilih membesarkan anak tiri yang dibawa suami barunya.
Hal itu membekas hingga sekarang. Namun Ratria merasa sudah dewasa. Meski sakit dan kecewa jika ingat, berusaha abai demi berhubungan baik dengan sang ibu. Satu-satunya silsilah darah yang dimiliki Ratria di perhutani saat ini.
🍃🍃🍃🍃🍃
"Sudah makan apa belum kamu, Rat?" tanya wanita berusia lima puluh tahun dan masih nampak ayu.
"Aku buru-buru ke sini, jadi tidak sempat makan di rumah, Buk," jawab Ratria pada ibunya.
Bu Fatimah, nama ibunya, tidak lagi bicara. Tidak juga bertanya apa sebab putrinya datang pagi-pagi.
Tergesa diambilnya piring dan diisi banyak nasi dengan beraneka lauk serta sayur. Meletak di dekat Ratria sambil menyusulkan sendok di atas piring itu.
"Cepat habiskan, biar piringnya sekalian ibu cuci. Habis ini ibu pergi ke kantin, ibu hari ini harus cepat. Kabarnya gajian orang pabrik dan kebun belum masuk. Biasanya mereka akan santai di kantin," terang ibunya. Wanita itu tampak repot hilir mudik di dapur. Entah apa saja yang buru-buru dikerjakannya.
Ratria hanya diam menelan ludah. Ibunya selalu begitu, nampak tergesa di segala kondisi dan situasi. Tidak merasa jika putrinya sedang galau luar biasa.
Niat untuk bercerita serta bertanya beberapa hal, terpaksa Ratria urungkan sementara. Lebih baik datang lagi lain kali. Merasa bukan moment yang tepat untuk berbincang dengan ibunya pagi ini.
"Rat, sudah lama?" sapa sebuah suara lelaki yang serak. Ternyata ayah tiri Ratria, baru bangun tidur dan akan ke kamar mandi.
"Baru saja, Yah." Ratria menjawab tanpa melihat. Lelaki itu telah masuk ke dalam kamar mandi.
"Apa ayah Edi akan ke kebun sepagi ini, Bu?" tanya Ratria pada ibunya yang sibuk menggosok bawah panci.
"Iya, Rat. Berjaga jika para pemetik teh tidak datang hari ini. Ayahmu akan mendatangi rumah-rumah mereka satu-persatu." Jawab sang ibu.
"Apa mereka bermaksud demo, Buk?" tanya Ratria sambil mengumpulkan nasi-nasi di piring. Akan menjadi suapan yang terakhir.
"Iya, mereka paling kesal jika gaji tidak segera dibayarkan," terang ibunya. Wanita itu sedang menyapu lantai dapur.
Ratria sedang mencuci piringnya sendiri. Wastafel telah bersih dan tanpa sebiji sendok kotor pun di sana. Merasa iba dengan ibu kandungnya yang repot.
Ratria mempunyai dua orang adik dari pernikahan ibu dengan ayah baru. Seorang perempuan dan duduk di bangku SMP kelas dua. Sama sekali tidak punya inisiatif untuk membantu ibu di dapur. Juga adik lelaki duduk di bangku SD kelas lima, sangat manja sekali.
Dan terakhir, lelaki dewasa yang umurnya tiga tahun di atas Ratria. Adalah anak yang dibawa suami ibunya dari kawin cerai yang pertama. Bekerja sebagai seorang pramugara lepas di bandara Juanda, Surabaya.
Ratria tidak pernah bisa akrab dengan mereka bertiga. Mungkin juga sebab mereka jarang bertemu dan bersama. Ratria pun juga memilih indekos saat masih kuliah di Malang. Meski sebenarnya sangat sering pulang dan kamar kosnya akan kosong.
🍃🍃🍃🍃🍃
Gadis yang tidur di sofa itu sedang gelisah. Memang seperti itu jika dirinya sedang rindu pada ibu. Datang ke rumah ibunya dan tidak akan punya kamar. Segan untuk bergabung kamar dengan adik perempuan. Sebab memang tidak pernah diberi ajakan untuk sekamar bersama.
Rumah dinas ayah tiri hanya memiliki tiga kamar. Inipun sudah standar rumah mandor. Jadi lebih besar dan ekstra satu kamar. Lebih baik dari rumah dinas biasa yang hanya punya dua kamar. Sedang ketiga kamar di rumah ayah tiri, semua sudah ada yang punya dan sedang digunakan.
Ternyata, kakak tiri Ratria sedang liburan di rumah. Rasanya sangat segan. Seperti tidak ingin berlama-lama jika sedang ada Rio, nama kakak tiri lelakinya. Rio selalu menatap tajam dan dingin pada Ratria. Seperti sangat tidak suka dan akan menelan dirinya bulat-bulat. Rasanya sangat tidak nyaman. Apalagi sang ibu sudah pergi bekerja. Membuat Ratria ingin cepat-cepat pergi saja.
🍃🍃🍃🍃🍃
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Fadiyah Susiana
visualnya dong thor, biar makin cakep and suka ngehalunya🙏😘😘😘😘🥰❤
2023-01-30
0
M akhwan Firjatullah
mulai mudeng... Judith tak pikir lanang
2023-01-10
2
Siti aulia syifa Az_zahra
ntar kakak tirinya naksir Ratria lagi, klo gk sama pengacara muda itu aja Ratria,,!!, kyaknya lucu klo digodain, cuek cuek sekali ngomong langsung ngena sasaran 😁😁😁
2023-01-06
1