Video dan foto-foto yang diambil demi kepentingan dokumentasi data dan report, jauh tidak sesuai dengan kenyataan yang berlaku kemudian. Dokumentasi yang diabadikan, perjalanan dinas berjumlah lima orang itu menaiki satu mobil dinas bersama di dalamnya.
Dan nyatanya, di dalam mobil dinas itu hanya tinggal mas Hendra dan Ratria. Satu orang berangkat sendiri menaiki motor sportnya. Sedang yang dua orang juga memisah mengendarai mobil pribadinya sendiri kemudian.
"Kenapa hanya tinggal kita saja yang naik mobil dinas ini, mas,?" tanya Ratria terheran. Mas Hendra samar tersenyum.
"Galih, dia ingin ngebut. Mau mampir sebentar ke rumah pacarnya di Sidoarjo. Rumah pacarnya di tepi jalan raya yang dilewati," terang mas Hendra tersenyum.
Lelaki itu juga fokus dengan pandang matanya ke depan. Mobil telah meluncur dengan kecepatan sedang meninggalkan kota Wlingi menuju arah jalur Malang, dan akan menyambung ke kota Surabaya.
"Lalu yang dua orang tadi,?" tanya Ratria lagi.
Meski sudah paham jika dinas keluar bisa saja ditunggangi dengan kepentingan pribadi, masih penasaran dengan ragam alasan yang membuat mereka sedikit bermanipulasi.
"Mereka pak Leo dan bu Siska, entah apa kepentingan mereka. Yang jelas mereka sudah sama-sam memiliki keluarga sendiri," terang Hendra dengan senyum masamnya.
"Padahal pak Leo adalah kepala tim kita..." gumam Ratria tak sadar. Mungkin berburuk sangka memang naluri alami yang ada dihampir setiap kepala manusia. Hanya berbeda bagaiman cara berekspresi dan menyikapi.
"Kamu berfikir seperti itu,?" timpal mas Hendra tiba-tiba.
Lelaki itu menoleh pada gadis yang sedang pias di sampingnya. Tapi lelaki tampan itu justru tertawa. Bahkan sudah pasti Hendra telah tahu, alasan apa hingga dua orang itu harus semobil bersama. Dan pasti juga sudah menjadi rahasia umum di antara pegawai tempat mereka bernaung.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Perumahan mega cluster yang megah itu terang benderang dengan pemantauan super aman di beberapa titik pos jaga. Begitu juga rumah keluarga Adam beserta anak-anak lelakinya di dalam.
"Mau ke mana, Dan,?!" seru bu Anisa dari ruang televisi dan cinema keluarga. Syahdan sedang menuruni tangga dan berkemeja sangat rapi. Jas warna senada dengan celana, tersampir asal di lengan tangannya.
"Ke Juanda, ma. Ada penyambutan tamu sekaligus makan malam." Syahdan menjawab sambil menghampiri bu Anisa.
"Acara apa? Kamu tidak pulang,?" tanya bu Anisa. Syahdan sedang mengenakan stelan jas ke badannya.
"Kerja sama sosialisasi antara maskapai penenerbangan Air Asia dan seluruh Telkom di Jawa Timur," terang Syahdan. Jas itu telah menutup tubuh atasnya yang tegap.
"Tidak pulang,?" bu Anisa mengulangi pertanyaannya. Syahdan memandang ibunya sebentar.
"Mungkin saja tidak. Jika larut, aku ke rumahku saja,ma," jawab Syahdan dan terdengar ragu-ragu.
"Baiklah, hati-hati. Salam buat Judith, suruh main ke sini. Mama ingin mengajak Judith ke tunjungan," pesan bu Anisa pada Syahdan untuk gadis incaran putranya. Lelaki itu mengangguk.
"Assalamu'alaikum," pamit Syahdan bergegas meninggalkan ruang keluarga. Keluar rumah dengan sapa tanpa menyalam tangan ibunya.
"Wa'alaikumsalam, Dan,,!" seru bu Anisa pada Syahdan yang berjalan cepat menghampiri pintu rumah.
Memandang punggung putra pertamanya dengan bermacam perasaan. Syahdan adalah anak sulung yang sangat disayangi ibu dan ayah bu Anisa, alias almarhum nenek dan kakek Yakub. Sebab Syahdan lah yang masa kecil paling sering dan sangat suka di ajak ke Blitar untuk berlibur.
Dan bahkan beberapa kali meminta ditinggal di sana sendiri untuk menemani sang kakek di saat liburan sekolah yang panjang. Meskipun mengaku hanya tinggal di Vila saja. Tapi Syahdan begitu suka dengan suasana perkebunan dan hutan yang sejuk.
Syahdan tidak pernah terlihat berpacaran. Hanya beberapa kali terpergok mendapat hadiah dari beberapa teman perempuan yang diterima Syahdan dengan wajah yang cerah. Dan yang paling mencolak adalah gadis yang terakhir, Judith.
Bahkan putranya sudah membeli sebuah cincin yang rencanya digunakan untuk menembak Judith dan menyatakan perasaannya. Tapi hingga sekarang, cincin itu masih juga disimpan oleh Syahdan di laci kamarnya.
Sedang Khairy, 27 tahun, anak lelaki ketiga, meski lebih banyak bicara dibanding Syahdan. Tapi Khairy adalah lelaki yang sholeh dan serius. Setiap menyukai perempuan, sasaran utamanya adalah menikahi. Bukan berpacaran, meski itu hanyalah sebentar.
Dan berujung pada penolakan, sebab meskipun cinta tersambut serta tidak bertepuk sebelah tangan, si gadis merasa tidak siap jika tiba-tiba harus menikah dalam waktu yang dekat.Tapi anehnya Khairy tidak menginginkan cara ta'ruf. Kahairy tidak ingin dijodohkan.
Begitu pun niatnya kepada gadis jelita asal Jakarta yang sedang diincar, Judith. Khairy telah mengungkap niatnya secara terbuka kepada keluarganya. Dan berujung pada nasihat sang ayah untuk menjauhi gadis itu.
Sedang putra ke empat, si bungsu Kahfi, 24 tahun, adalah lelaki yang luar biasa badungnya. Pacarnya bertukar tiap bulan, mungkin juga diam-diam pacar mingguan pun ada juga. Melebihi arisan ibu-ibu saja semangat Kahfi dalam hal perempuan. Dan Kahfi adalah anak band yang grubnya cukup populer di kota Surabaya.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Perjalanan yang ditempuh dengan waktu kurang lebih empat jam akhirnya berakhir. Tim yang sempat terpencar itu telah menyatu kembali di dekat pintu penyambutan.
Galih adalah anggota tim pertama yang sampai dan menunggu dengan lima lembar formulir di tangannya.
"Ini formulir peserta dari pihak Air Asia. Isilah," sambut Galih sambil menyerahkan pada Ratria dan Hendra masing-masing selembar.
"Lumayan, data kita tersimpan. Kapan-kapan naik pesawat Air Asia, kita dapat diskon enam puluh persen. Aku mau ke Bali," terang Galih dengan wajah cengengesan.
"Kau hanimun,?" tanya Hendra sambil memyimpan formulir data ke dalam ranselnya. Dan Ratria pun meniru. Meski merasa heran kenapa Hendra tidak langsung mengisinya, Ratria enggan menanyakan.
"Hanimun di awal. Tidak akan jadi ke Bali jika nunggu hanimun habis nikah," terang Galih tersenyum. Melirik sekilas pada Ratria yang nampak menyimak. Hendra hanya mengedik bahu menanggapi ucapan Galih yang mesum.
"Jangan vulgar, hargai adanya kami yang mentahan di sini," timpal Hendra bercanda. Melirik Ratria yang nampak berpaling wajah darinya.
"Hust diem, hot kapel datang," bisik Galih pada Hendra dan Ratria.
Yang dimaksud Galih sebagai hot couple mungkin adalah pak Leo dan bu Siska. Mereka berjalan mendekat dan langsung disodori dua formulir oleh Galih.
Dan Hendra meminta pada pak Leo untuk segera mendaftarkan tim mereka sekali lagi guna mendapat kamar di asrama bandara. Merasa diri sangat pegal dan ingin segera duduk atau merebah dan istirahat dengan nyaman.
Sebab hanya pak Leo yang sebagai ketua tim lah pemegang undangan resmi dari pihak PT Air Asia kepada PT Telkom Wlingi. Undangan yang berkuota maksimal lima orang.
Dengan menunjuk undangan itu, pak Leo akan mendapat lima kunci untuk lima kamar berbeda yang akan ditempati kelima anggota di timnya. Serta mendapat pelayanan selama di asrama bandara oleh pihak Air Asia.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
hania putri
mentahan itu maksud nya apa ya kk?
maaf aku ga paham
2023-01-01
1
As Lamiah
😱😱😱 sadar g ya ratria kalok nanti ada pak syahdan tapi itupun kalok syahdan juga liat ratria bakal bikin ada rasa yg aneh antara ratria dan syahdan nih di tunggu kejutan dari mu tour 💪💪 semangat tour semoga sehat selalu 💖😘 semangat
2022-12-17
1
Ayu Fatimah
bakalan ketemu nih. bikin si syahdan pas rat, nda usah pedulikan dia
2022-12-17
1