Minggu pagi yang cerah, namun serasa mendung dan kelabu..
Gadis bermuka ayu alami dan berkerudung anggun itu sedang bermuram durja yang sangat. Duduk termangu di sofa ruang tamu tanpa satu orang pun di dekatnya. Hanya mbak Lusi sajalah satu-satunya orang yang senantiasa ada menemani. Dan memang seperti itulah yang diinginkan si gadis.
"Ratria, sabar ya.. Kamu masih marah sama embak, ya,?" mbak Lusi merasa bersalah.
Bagaimana pun, posisinya memanglah serba salah. Setelah boss Yakub meninggal, tentu orang baru yang patut mendapat bakti kerjanya adalah boss Syahdan. Sebab lelaki itu memang masih menghendaki tenaganya. Jadi meski tidak detail, mbak Lusi akan berkata jujur jika diminta dan ditanya sesuatu oleh pak Syahdan mengenai Ratria.
"Enggak lagi, mbak. Aku paham posisimu," terang Ratria sambil menempel-nempelkan tisu basah yang lembut di garis matanya yang lembab.
"Terimakasih pengertianmu, Rat. Ayo, itu pak Andi sudah datang. Semua sudah dibawa,?" tanya mbak Lusi sambil membawa lengan Ratria untuk berdiri. Ratria mengangguk.
Pak Andi sudah mengabari mbak Lusi jika akan mengambil mereka dari rumah dinas untuk dibawa ke vila. Persiapan akad nikah boss pabrik dengan Ratria akan dilaksanakan selepas adzan isya di vila dengan sangat tertutup. Dan itu juga atas permintaan Ratria sendiri.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Selain mbak Lusi yang sedang sibuk di dapur ujung belakang, Ratria lah satu-satunya perempuan yang duduk tegang di sofa. Dikelilingi beberapa lelaki yang sudah dibayar mahal oleh Syahdan untuk datang ke vila. Kecuali pengacara Haris, lelaki itu belum nampak datangnya.
Mereka adalah para pegawai sipil juga KUA yang mengurusi segala bentuk dokumen dan persyaratan pranikah. Sebelum akad nikah resmi benar-bebar dilakukan pada waktu yang sudah disepakati sebelumnya.
Urusan administrasi serta dokumen dengan para pegawai sipil dan agama telah selesai dalam waktu cukup singkat. Hanya menjawab mudah beberapa pertanyaan dan berakhir dengan beberapa tanda tangan.
Mereka berpamitan setelah beramah tamah sebentar dengan calon pengantin lelaki. Serta menyentuh minuman dan beberapa sajian yang disiapkan instan oleh mbak Lusi. Wanita itu memang penggemar makanan instan, di antaranya bermacam bahan dan variasi frozen foods.
"Rat, kamu istirahat dulu. Acaranya kan habis isya. Orang MUA datangnya habis maghrib. Ayo, mbak antarin ke kamar pribadi kamu," mbak Lusi berdiri di samping Ratria saat para tamu telah menepi dari vila, dan tak satu pun tersisa.
"Iya, mbak," sahut Ratria cepat dengan menganggukkan kepalanya.
Sangat tidak ingin bertatap muka berdua-dua dengan Syahdan. Malas untuk membicarakan apapun pembahasan dengannya. Merasa semua tidak akan berguna jika berbicara dengan seorang diktator seperti boss Syahdan.
Lelaki itu masih bersama pak Andi di teras dan sedang berbincang.
Di kamar vila yang berfasilitas serba ada, pemandangan gunung Butak yang serasa di pelupuk mata, bukan penyuap agar Ratria bahagia. Gadis itu belum puas juga menangisi takkdirnya. Meski sudah disabarkan diri selapang mungkin, air mata masih merembes keluar sendiri begitu saja.
Dan tangisan bungkam itu baru berhenti setelah kedua matanya menutup rapat sebab rasa lelah dan tertidur.
Calon pengantin perempuan baru terbangun saat adzan dzuhur sayup terdengar dari mushola perumahan dinas, nun jauh di bawah. Yang sebentar kemudian pintu kamarnya diketuk oleh mbak Lusi. Mengajaknya makan siang setelah menunai shalat dzuhur.
Mbak Lusi sambil mengulur sajadah serta sepasang mukena atas bawah warna putih yang lembut dan sangat wangi baunya. Ratria sama sekali tidak ingin bertanya, apa mukena itu baru,, milik siapa atau juga belinya di mana. Mulut Ratria serasa lekat dan tidak ingin membuka.
Duduk mengiba menghadapNya setelah sujud terakhir, cukup membuat diri Ratria bertenang. Mencoba pasrah dan tidak berburuk sangka pada segala kuasa dan ketentuanNya, membuat hatinya sejuk, lapang dan nyaman. Ada semangat dan cercah harap masa depan di matanya. Mencoba yakin jika calon suami bukanlah lelaki jahat atau juga bukan pria yang serakah. Kini,, wajah cantik itu mulai terlihat binarnya.
Merasa cukup kejutan. Selain Syahdan, pria sangat tampan tapi memberi sakit saat dipandang, telah duduk diam ayah tiri dan sang ibu di sana. Tersenyum saat anak gadis yang bermata sembab datang bergabung dan menatap sendu pada mereka. Ratria membalas dengan menggerakkan sedikit ujung bibirnya namun itu bukanlah tersenyum.
"Buk, kalian sudah datang,?" sapa Ratria dengan suara yang tak bisa ditutupi mendungnya. Dan sang ibu mengangguk.
"Iya,Rat. Tadi pas ibu sama ayahmu datang, kamu sedang tidur. Ibu keluar lagi dari kamarmu," terang ibunya. Ingin melihat raut gembira di wajah Ratria.
Merasa sangat bersalah kali ini. Tidak menyangka jika setujunya pada boss besar belasan tahun lalu, malam ini akan diulangnya sekali lagi. Dan yang membuat ibu Fatimah harus menangis dalam hati, anak gadisnya tidak merasa rela dan bahagia sama sekali.
"Benarkah, buk,? Maaf, aku tidak peka dengan kedatangan ibu dalam kamarku." Ratria menyambut dengan tersenyum. Wajah cantiknya mulai cerah kembali. Melempar senyum juga pada ayah tirinya.
"Iya, Rat. Tidak apa-apa. Tadi pak Andi disuruh pak Syahdan yang datang menjemput kami di rumah," terang ibunya. Melirik Syahdan yang hanya menunduk dengan makanan di piring.
"Lalu, selama aku tidur. Kalian ke mana, buk,?" tanya Ratria merasa tidak enak pada ibunya.
"Pak Syahdan mengajak ibu dan ayah berbincang di teras vila," sahut sang ibu dengan wajah sumringah.
Ratria berfikir dan yakin. Bisa jadi dalam perbincangan mereka, boss pabrik itu memberi kabar gembira atau sebuah janji muluk untuk ibu serta untuk ayahnya.
Dan Ratria terdiam, tidak lagi bertanya. Resah, tidak ingin mendengar jika sang ibu justru mulai memberi sanjung lebay pada lelaki pemaksa yang duduk bertenang di sana.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
M akhwan Firjatullah
sabar. ya ratria aku dulu pengen banget d jodohin sayang nya ga ada yg mau d jodohin ma aku.... katanya suruh nyari sendiri... akhirnya d sinilah aku terdampar d Bekasi..
2023-01-10
2
As Lamiah
🤔🤔🤔🤔 Hem sepertinya ratria bakal sering nggerundel ngedumel nih
🌶️🌶️🌶️ semangat tour semoga sehat selalu 💖😘 semangat d tunggu upmu dan d tunggu eril up jg nih penasaran
2022-12-13
1
Ety Destha
satuuuuu....pertama,lanjuuut..semangaaat kk
2022-12-13
1