Ayah tiri, pak Edi yang biasanya jarang ikut mengobrol di antara ibu dan anak, kini juga duduk bersama sebab memang diminta Ratria.
Dan juga kakak tiri yang belum kembali ke Juanda, Surabaya, Rio mengkuti diskusi dengan sendirinya meski Ratria tidak meminta. Lelaki muda dan tampan itu terus menyimak pembicaraan mereka dengan mulut bungkamnya.
"Yang penting, kamu datang saja besok ke pabrik, Rat. Jumpai boss pabrik yang baru itu dan tanda tangan saja dulu. Agar gaji bulan ini bisa kami terima besok siang."
Ayah Edi terdengar suntuk namun bersemangat. Tidak menyangka jika inti masalah dari keterlambatan gaji bulan ini adalah dari anak tirinya sendiri. Pak Edi merasa cukup lega sekarang. Setidaknya tidak perlu ada demo atau mogok kerja. Hanya perlu memberi mereka sedikit pencerahan.
"Iya, Rat. Kasihan, jangan sampai tidak datang. Kami ini tidak bisa apa-apa jika sudah menunggu gaji. Perlu membayar macam-macam cicilan. Membeli banyak kebutuhan. Membayar sekolah anak. Ah, kamu bayangkan sendiri lah, Rat." Ibu Fatimah menepuk-nepuk punggung Ratria dengan harap memberi semangat.
"Besok pagi kuantar kamu ke pabrik, Ratria," suara khas Rio tiba-tiba menyela. Memandang sekilas Ratria. Lalu menatap televisi kembali. Televisi ada di ruang keluarga namun juga terlihat dari ruang tamu.
"Rat, ibu ke kamar dulu. Ibu mau rebahan, perut bawah ibu sakit. Sepertinya masuk angin. Kamu menginap saja. Sudah malam," pamit ibu Fatimah dengan berdiri dan memegangi perutnya yang bawah. Ratria hanya mengangguk dengan pandangan termangu. Khawatir dengan sang ibu namun segan untuk mengikuti ke kamar.
"Kamu tidurlah di kamarku," Rio lagi-lagi bersuara. Ratria terheran.
"Mas Rio tidur di mana?" tanya Ratria bingung dan enggan.
"Vega tertidur di ruang TV. Aku sama dia," ucap singkat kakak tiri. Dan akhirnya Ratria pun mengangguk.
Merasa enggan sebab di ruang tamu hanya ada ayah tiri yang telah mengantuk, serta kakak tiri yang juga acuh, Ratria pun berdiri.
"Aku pinjam kamarmu ya, mas," pamit Ratria. Rio hanya mengangguk tanpa memandangnya. Ratria menuju kamar Rio dan melewati Vega, adik lelaki yang tidur lelap di depan televisi. Ada busa empuk sangat tebal di bawahnya. Kasur busa yang juga sering Ratria tiduri saat menginap.
Kamar Rio sangat rapi dan lebih luas dari kamar Ratria. Mungkin rumah ini memang dibuat khusus dengan spek untuk mandor. Sedang rumah dinas warisan yang ditinggali Ratria dan sekarang telah diklaim milik boss Syahdan, dulunya rumah dinas biasa. Hanya sekarang terlihat modern sebab telah direvisi banyak kali.
Ratria merebah di bantal yang hanya sebuah saja di kamar, beserta guling sebiji sekalian. Bantal itu bersih dan wangi. Ratria tersenyum, tidak menyangka jika kakak tiri berubah sedikit baik sikapnya. Dan ini adalah pertama kali Ratria tidur dalam kamar, setelah banyak kali menginap di dalam rumah ini. Merasa terharu dengan kebaikan Rio padanya. Merasa diri diakui jadi bagian keluarga mereka.
Ratria dan Rio sangatlah jarang bertemu. Ratria mulai berani datang ke rumah ini setelah dewasa. Bahkan meski tinggal cukup dekat, mereka hampir tidak pernah bermain bersama saat kecil. Selain Ratria dibatasi pergaulannya oleh nenek, tapi juga sebab Rio dimasukkan ke asrama pesantren di pusat kota Blitar setelah lulus SD.
Berlanjut sekolah enam tahun di Surabaya setamat dari SMP. Ada paman dari pihak ayahnya di sana. Dan bahkan sekarang pun telah bekerja mapan di kota buaya. Hanya yang Ratria pahami, Rio tidak pernah menyapa dan selalu memandang dingin padanya tiap kali mereka bersua.
🍃🍃🍃🍃🍃🍃
"Angkat bajumu yang rapi, Rat. Jangan sampai digulung roda." ucap Rio sebelum meluncurkan motornya.
"Iya, mas," sahut Ratria. Gadis yang pagi itu nampak cantik dengan gaun serba panjang dan modis serta kerudung yang melekat simetris di kepalanya yang manis, telah duduk tegang di boncengan motor trail.
Tegang antara dibonceng motor sempit, juga diam-diam tegang sebab akan menemui Syahdan di vila.
Motor tidak kencang melaju. Rio seperti paham jika harus menjaga dandanan dan kerudung adiknya agar tetap rapi serta terlihat tidak rusak. Mendukung adik perempuan tirinya agar terlihat cantik dan menarik di hadapan boss besar di pabrik teh. Boss besar baru, sebagai salah satu pemegang kendali perekonomian di perkebunan.
🍃🍃🍃
Pukul tujuh lebih lima menit..
"Selamat pagi, Ratria,,! Kamu benar-benar datang,?!" seru suara lelaki dan ternyata pak Andi. Menyongsong kedatangan Ratria di pelataran parkir pabrik.
"Pagi, pak Andi. Iya saya harus datang,!" sambut Ratria tersenyum.
"Ayo ke vila, pak Syahdan dan pengacara menunggu di sana,!" ajak pak Andi pada Ratria. Memandang sekilas ke arah Rio yang juga memandang pak Andi.
"Kenalkan, pak Andi. Ini mas Vario kakak saya.!" Ratria menunjuk Rio pada pak Andi. Keduanya bersalaman dan saling melempar senyuman.
"Bagus jika ada saudara yang menyertai kamu, Rat. Kakak kamu boleh ikut masuk bersama kita ke vila," ajak pak Andi dengan sangat ramah.
Rio mengangguk cepat tanpa memandang Ratria. Bahkan berjalan di depan mengikuti pak Andi yang sudah mulai memimpin berjalan. Dan Ratria juga mulai melenggang di posisi yang paling belakang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Mom Dee🥰🥰
renovasi kali thor bukan revisi 🤭
2023-07-20
0
M akhwan Firjatullah
jenenge koyok motor ... untung Vario jadi bisa d panggil Rio coba nek motor bebek terus d panggil e bebek po ... wkwkwk
2023-01-10
1
Siti aulia syifa Az_zahra
namanya Rio aja kali Thor,,,emang Vario nama yg bagus tapi langsung tergambar sesosok sepeda motor matic diotak gue😆😆😆😆😆
2023-01-06
2