06. Menumpang

Mobil jenis sport gunung itu terpaksa berhenti beberapa meter di belakang Rio setelah mengambil tindakan rem mendadak. Berhenti angkuh tanpa menurunkan sedikit pun salah satu kaca pintunya yang gelap.

Rio bergegas mendekati kaca pintu bagian depan. Khawatir jika mobil akan tancap gas dan pergi. Lalu diketuknya beberapa kali dengan agak keras dan berani. Kaca depan bagian penumpang mulai menurun perlahan. Wajah dan badan sopir telah nampak sebagian.

"Assalamu'alaikum,!" Rio membungkuk di kaca sambil melempar salamnya.

"Wa'alaikumsalam,!" jawab sopir dari dalam terlihat menyelidik.

"Maaf, pak. Kami warga perkebunan. Ingin menumpang, motor saya rusak." Rio berkata tanpa senyum. Hanya menunjuk kejujuran dari wajahnya yang serius.

"Menumpang sebentar ya, pak. Hanya saya saja,kok,,!" Ratria yang telah mendekat pun juga ikut merayu.

Sopir itu terlihat bingung, menoleh ke belakang sebentar, mungkin minta izin dengan orang yang sedang dibawanya. Lalu memandang Rio dan Ratria serta mengangguk pada mereka dengan sekali angguk yang ragu.

"Terimakasih, pak,!" sahut Ratria dengan lega. Ditolehnya Rio sebelum masuk dan duduk.

"Mas Rio, nggak papa,?" tanya gadis berkerudung itu pada kakaknya. Yang ditanya menggeleng. Membungkuk sedikit pada sopir, lalu minggir dan menghampiri motornya. Rio kembali berjalan cepat menuntun motor mogok yang disayang.

Mobil melaju mendahului kakak lelaki Ratria di belakang. Hal ini sudah biasa bagi Ratria. Bukan egois atau tega. Tapi tepat dalam mengutamakan siapa yang perlu menumpang san siapa yang harus tetap berjalan.

Juga memang sudah budaya di perkebunan bagi para warga lelaki. Pantang menyerah, berani, saling mengutamakan, serta harus siap berkorban kapan pun. Mereka dididik keras sedari kecil seperti itu. Meski bukan khusus dari keluarga saja, lambat laun sifat mereka akan terbentuk dari adab pergaulan di perkebunan juga.

Rela mendahulukan di perjalanan. Meski di saat yang memungkinkan, mereka akan tetap memilih berjalan bersama.

🍃🍃🍃

Ratria telah duduk di jok depan dengan bermacam perasaan. Antara merasa berat meninggalkan Rio, merasa lega, juga merasa berdebar. Berdebar dengan harap cemas agar orang yang ditumpangi adalah golongan manusia yang baik. Seperti itulah perasaan kala harus menumpang di perjalanan. Sedikit mempertaruhkan keselamatan. Dan itu terasa seru dan menegangkan bagi anak gunung perkebunan. Mampu membuat penasaran serta ketagihan!

"Tambah kecepatan, Arka! Aku ingin sampai di vila sebelum adzan,!" seru suara terdengar dari belakang.

Suara yang berat, dalam, dan garang. Tapi hasilnya justru empuk di dengar. Ratria penasaran. Tapi segan untuk memutar kepalanya ke belakang. Mungkin dia adalah pemilik mobil, sekaligus bosnya Arka. Ratria hanya merekam suara khas lelaki itu di kepala full memorynya.

"Siap, pak.!" sahut sopir muda berwajah manis yang punya nama Arka. Menoleh pada Ratria sebentar. Menyirat peringatan agar gadis menumpang itu bersiap. Ratria reflek mengangguk.

Jalan menuju perkebunan yang berkelok telah habis. Tersisa jalur lurus dan mulus yang jauh dari hambatan. Mobil telah melesat ke depan melebihi kecepatan terbang alap-alap. Orang di belakang seperti telah paham dengan kelok jalan menuju perkebunan. Jalan lurus sangat lengang sisa tiga kilometer itu kemungkinan hanya memerlukan hitungan detik saja untuk sampai.

"Mas..!!! Mas..!!! Stop, mas,,!! Aku turun !!! Rumahkau dah kelewat,!" teriak Ratria untuk menghentikan Arka dan mobilnya. Padahal rumah warisan leluhur belum juga dinampak. Hanya tidak ingin kejauhan jika terlewat.

Arka menoleh pada gadis berkerudung yang nampak gusar di sampingnya. Merasa lalai telah lupa menanya, di mana rumah dia,, siapa nama dia dan berapa nomor teleponnya.

Ha,,ha.. Tentu saja Arka tidak lupa. Perempuan berkerudung ungu seanggun ituu.. Lelaki mana yang tidak punya rasa ingin tahu,,?!

Sebenarnya Arka sangat ingin bertanya. Tapi terpaksa ditahan. Sebab segan pada juragan tampan yang sedang dibawa dan duduk di belakang.

Ciiiiiiiittt,,,!!!!

Mobil gunung itu sedang menggarang kembali. Seperti yang sudah dijangkakan Ratria, sang sopir berhenti tepat di pagar rumah tetangga yang hanya berselang satu blok setelah melewati pagar rumahnya. Ratria tersenyum diam-diam.

"Mas, terimakasih tumpangannya, ya. Lain kali jangan segan-segan memberiku tumpangan." Ratria menoleh pada Arka. Seperti meminta agar Arka mengingat wajahnya. Demi kelancaran transportasi di perjalanan Ratria selanjutnya.

"Eh, iya, mbak. Sama-sama. Ini mobil boss saya saja kok, mbak,!" sahut Arka merasa segan pada penumpang di belakang.

"Cepat, Arka,! Tidak perlu mengobrol basa-basi, !" tegur sengit lelaki yang lagi-lagi dari belakang.

Demi suara khas yang menggema itu, Ratria segera melompat turun dan keluar. Menutup pintu perlahan sambil mencuri pandang ke belakang. Hanya setengah wajah saja yang nampak. Dan mata Ratria merekamnya.

Rambut hitam cepak gaya buzz cut tentara yang garang. Alis tebal lurus hitam legam, dengan mata tajam berkilat yang memandang jauh ke depan, tanpa melirik Ratria sedikit pun. Juga hidung mancung sebagian. Sebab hanya setengah wajah saja yang nampak. Dan cukup membuat Ratria merasa puas.

Dep..!!!

Mobil mahal itu tidak bising saat dibanting menutup. Ratria mundur dua langkah menepi. Menatap mobil yang meluncur kesetanan kembali sedetik setelah Ratria menghempas pintunya. Dan bersamaan dengan suara alun adzan dari mushola perumahan dinas di deretan blok bawah.

🍃🍃🍃

Mbak Lusi sedang menyiapkan makanan di meja saat Ratria baru keluar dari kamar. Aroma pedas gurih dari bumbu rempah masakan di meja sangat menggoda perut dan mulut.

"Sudah selesai ya, mbak? Maaf ya mbak, aku nggak bantu- bantu," tegur Ratria basa basi sebab merasa tidak enak. Hanya mengambil dua pasang piring dan sendok yang belum nampak ada di meja.

"Nggak papa, Rat. Sudah sholat, kan? Yuk kita makan," ajak mbak Lusi sambil menarik mundur dua kursi. Ratria mengangguk.

"Jadi, start kerjanya dua hari lagi?" tanya mbak Lusi dan mulai menyendok nasi dalam piring. Ratria kembali mengangguk.

"Eh, entah langsung kerja apa gimana ya mbak..Pokoknya datang dulu berseragam dan menjumpai pak Sofian," ralat Ratria kemudian.

Mbak Lusi manggut-manggut dan melanjutkan makan dengan diam. Menghayati semua kunyahan dan setiap telanannya.

Begitu juga dengan Ratria, merasa nikmat dengan isi perut yang kosong saat sampai. Rio tidak mengajaknya singgah makan. Eh... Beramah tamah memanglah bukan lagak kakak tirinya.

🍃🍃🍃

Tok..Tok.. Tok..

Gadis berkulit mulus dengan dress tidur manis itu telah nyaman berbungkus selimut yang hangat. Dan merasa terusik saat pintu depan terdengar sayup diketuk. Pura-pura sudah tidur dan tidak mendengar adalah jalan ninja terbaik pilihannya.

Berharap juga agar mbak Lusi tidak usah mendengar dan membuka. Apalagi mencarinya. Ratria merasa sangat lelah dan ingin tidur cepat malam ini.

Tok..! Tok..! Tok..!

Tok..! Tok..! Tok..!

Ah, bunyi ketuk pintu tidak lagi dari depan, tapi jelas telah merapat di kamarnya. Dan bising diketuk ulang kali. Biasanya jika mbak Lusi mengetuk begini, akan ada hal penting sekali yang akan disampaikan. Ratria merasa tidak tenang jika terus mengabaikan.

"Ada apa, mbak?" tanya Ratria hangat sambil menyimpan muka suntuknya. Gadis itu telah membuka pintu kamar.

"Rat, ada pak Andi sama pak Syahdan di depan," ucap mbak Lusi. Wajahnya nampak tegang saat menyampaikan infonya. Mungkin bagi mbak Lusi ini adalah berita penting dari orang yang penting. Ratria memahami kegusaran dan posisi mbak Lusi.

"Eh,, mau ke mana,?" tanya mbak Lusi sambil menahan ujung belakang baju tidur Ratria yang baru melewati pintu dan sudah keluar kamar.

"Eh, mereka datang mencari siapa sih, mbak,?" gadis itu nyengir salah tingkah. Merasa diri kepedean.

"Ya nyari kamu, Rat,?" mbak Lusi tersenyum.

"Ya sudah ayo, mbak. Biar cepat selesai dan cepat pulang. Pokoknya aku nggak mau melanjutkan wacana perjodohan kawin gantung itu, mbak. Aku ingin berkarier di Telkom." Ratria berbisik pada mbak Lusi yang masih mencengkeram baju tidurnya.

"Iyaa,,aku dukung saja keputusan kamu, Rat. Tapi tukar bajumu dulu. Ini baju tidurmu nggak sopan buat menemui mereka. Lihat dadamu itu, kamu sudah melepas bra kamu juga kan,?" terang mbak Lusi dengan tak kalah lirih berbisik. Dengan jari telunjuk yang menunjuk ke arah dada Ratria.

Terpopuler

Comments

Bunda Nian

Bunda Nian

Ha ha ha....

2023-02-02

1

M akhwan Firjatullah

M akhwan Firjatullah

hahahaha kutang mana kutang...asal jg kayak punyaku. ..nglembreh...meresahkan

2023-01-10

1

Lia liana

Lia liana

wkwkwkk ampir aj y rat untuk mbak Lusi ngingetin tuh baju kamu kalu nggak pak syhdn bakalan ketiban duren runtuh 😁

2022-12-09

3

lihat semua
Episodes
1 01. Tamu Asing
2 02. Telah Dikawin Gantung
3 03. Boss Baru
4 04. Ibu Kandung
5 05. Kakak Tiri
6 06. Menumpang
7 07. Bersua
8 08. Memastikan
9 09. Menuju Vila
10 10. Di Vila
11 11. Paksaan
12 12. Dibawa Ke Vila
13 13. Sah..!!!
14 14. Malam di Vila
15 8. First Day of Work
16 16. Surabaya
17 17. Otewe Dinas
18 18. Nampak Syahdan
19 19. Manager Pemaksa
20 20. Bersepakat
21 21. Terlambat Datang
22 22. Ikut Syahdan
23 23. Berjumpa Ibu Mertua
24 24. Di Tunjungan
25 25. Vario
26 26. Tamu Berlainan
27 27. Langsing dan Muda
28 28. Ditolak Bareng
29 29. Pilihlah
30 30. Perubahan Data
31 31. Dipecat
32 32. Bertemu Ratria.
33 33. Otewe Pulkam
34 34. Dibawa Syahdan
35 35. Sekamar Sementara
36 36. Saling Janji
37 37. Terancam Amputasi
38 38. Akur
39 39. Judith
40 40. Vario's Story
41 41. Serba Ungu
42 42. Gelap Nyaman
43 43. Hasrat Pagi
44 44. Kupu Malam
45 45. Pandang Saja
46 46. Begadang
47 47. Baju Tidak Sopan
48 48. Kedatangan Kahfi
49 49. Hadiah
50 50. Bermesra
51 51. Di Macau
52 52. Surabaya Zoo KBS
53 53. Izin Pulang
54 54. Panas dan Gelap
55 55. Bye...
56 56. Pulang
57 57. Masuk Angin
58 58. Guncang Pesawat
59 59. Guncangan Yang Lama
60 60. Buah Siwalan
61 61. Bertemu Di Vila
62 62. Saling Menerima
63 63. Senang-Senang 18+
64 64. Pagi di Vila
65 65. Nasi Goreng
66 66. PT Greenfields
67 67. Otewe
68 68. Singgah Di Kakung
69 69. Mengantar
70 70. Naik Jabatan
71 71. Menguati Benteng
72 72. Semeja Berempat
73 73. Ngeri-Ngeri Sedap
74 74. Tamu Mendadak
75 75. Hadiah Melimpah
76 76. Beristri Dua
77 77. Istri Pembawa Harta
78 78. Undur Diri
79 79. Bersama Berdua
80 80. Perjodohan
81 81. Kebohongan Bersama
82 82. Kalian Menikahlah
83 83. Ayo Menikah
84 84. Sah!!
85 85 Lelaki Patah Hati
86 86. Hidup Bersama
87 87. Orang Tua Pengganti
88 88. Berasyik Masyuk
89 89. Saling Ingin
90 90. Bahagia Bersama
Episodes

Updated 90 Episodes

1
01. Tamu Asing
2
02. Telah Dikawin Gantung
3
03. Boss Baru
4
04. Ibu Kandung
5
05. Kakak Tiri
6
06. Menumpang
7
07. Bersua
8
08. Memastikan
9
09. Menuju Vila
10
10. Di Vila
11
11. Paksaan
12
12. Dibawa Ke Vila
13
13. Sah..!!!
14
14. Malam di Vila
15
8. First Day of Work
16
16. Surabaya
17
17. Otewe Dinas
18
18. Nampak Syahdan
19
19. Manager Pemaksa
20
20. Bersepakat
21
21. Terlambat Datang
22
22. Ikut Syahdan
23
23. Berjumpa Ibu Mertua
24
24. Di Tunjungan
25
25. Vario
26
26. Tamu Berlainan
27
27. Langsing dan Muda
28
28. Ditolak Bareng
29
29. Pilihlah
30
30. Perubahan Data
31
31. Dipecat
32
32. Bertemu Ratria.
33
33. Otewe Pulkam
34
34. Dibawa Syahdan
35
35. Sekamar Sementara
36
36. Saling Janji
37
37. Terancam Amputasi
38
38. Akur
39
39. Judith
40
40. Vario's Story
41
41. Serba Ungu
42
42. Gelap Nyaman
43
43. Hasrat Pagi
44
44. Kupu Malam
45
45. Pandang Saja
46
46. Begadang
47
47. Baju Tidak Sopan
48
48. Kedatangan Kahfi
49
49. Hadiah
50
50. Bermesra
51
51. Di Macau
52
52. Surabaya Zoo KBS
53
53. Izin Pulang
54
54. Panas dan Gelap
55
55. Bye...
56
56. Pulang
57
57. Masuk Angin
58
58. Guncang Pesawat
59
59. Guncangan Yang Lama
60
60. Buah Siwalan
61
61. Bertemu Di Vila
62
62. Saling Menerima
63
63. Senang-Senang 18+
64
64. Pagi di Vila
65
65. Nasi Goreng
66
66. PT Greenfields
67
67. Otewe
68
68. Singgah Di Kakung
69
69. Mengantar
70
70. Naik Jabatan
71
71. Menguati Benteng
72
72. Semeja Berempat
73
73. Ngeri-Ngeri Sedap
74
74. Tamu Mendadak
75
75. Hadiah Melimpah
76
76. Beristri Dua
77
77. Istri Pembawa Harta
78
78. Undur Diri
79
79. Bersama Berdua
80
80. Perjodohan
81
81. Kebohongan Bersama
82
82. Kalian Menikahlah
83
83. Ayo Menikah
84
84. Sah!!
85
85 Lelaki Patah Hati
86
86. Hidup Bersama
87
87. Orang Tua Pengganti
88
88. Berasyik Masyuk
89
89. Saling Ingin
90
90. Bahagia Bersama

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!