Mobil jenis sport gunung itu terpaksa berhenti beberapa meter di belakang Rio setelah mengambil tindakan rem mendadak. Berhenti angkuh tanpa menurunkan sedikit pun salah satu kaca pintunya yang gelap.
Rio bergegas mendekati kaca pintu bagian depan. Khawatir jika mobil akan tancap gas dan pergi. Lalu diketuknya beberapa kali dengan agak keras dan berani. Kaca depan bagian penumpang mulai menurun perlahan. Wajah dan badan sopir telah nampak sebagian.
"Assalamu'alaikum,!" Rio membungkuk di kaca sambil melempar salamnya.
"Wa'alaikumsalam,!" jawab sopir dari dalam terlihat menyelidik.
"Maaf, pak. Kami warga perkebunan. Ingin menumpang, motor saya rusak." Rio berkata tanpa senyum. Hanya menunjuk kejujuran dari wajahnya yang serius.
"Menumpang sebentar ya, pak. Hanya saya saja,kok,,!" Ratria yang telah mendekat pun juga ikut merayu.
Sopir itu terlihat bingung, menoleh ke belakang sebentar, mungkin minta izin dengan orang yang sedang dibawanya. Lalu memandang Rio dan Ratria serta mengangguk pada mereka dengan sekali angguk yang ragu.
"Terimakasih, pak,!" sahut Ratria dengan lega. Ditolehnya Rio sebelum masuk dan duduk.
"Mas Rio, nggak papa,?" tanya gadis berkerudung itu pada kakaknya. Yang ditanya menggeleng. Membungkuk sedikit pada sopir, lalu minggir dan menghampiri motornya. Rio kembali berjalan cepat menuntun motor mogok yang disayang.
Mobil melaju mendahului kakak lelaki Ratria di belakang. Hal ini sudah biasa bagi Ratria. Bukan egois atau tega. Tapi tepat dalam mengutamakan siapa yang perlu menumpang san siapa yang harus tetap berjalan.
Juga memang sudah budaya di perkebunan bagi para warga lelaki. Pantang menyerah, berani, saling mengutamakan, serta harus siap berkorban kapan pun. Mereka dididik keras sedari kecil seperti itu. Meski bukan khusus dari keluarga saja, lambat laun sifat mereka akan terbentuk dari adab pergaulan di perkebunan juga.
Rela mendahulukan di perjalanan. Meski di saat yang memungkinkan, mereka akan tetap memilih berjalan bersama.
🍃🍃🍃
Ratria telah duduk di jok depan dengan bermacam perasaan. Antara merasa berat meninggalkan Rio, merasa lega, juga merasa berdebar. Berdebar dengan harap cemas agar orang yang ditumpangi adalah golongan manusia yang baik. Seperti itulah perasaan kala harus menumpang di perjalanan. Sedikit mempertaruhkan keselamatan. Dan itu terasa seru dan menegangkan bagi anak gunung perkebunan. Mampu membuat penasaran serta ketagihan!
"Tambah kecepatan, Arka! Aku ingin sampai di vila sebelum adzan,!" seru suara terdengar dari belakang.
Suara yang berat, dalam, dan garang. Tapi hasilnya justru empuk di dengar. Ratria penasaran. Tapi segan untuk memutar kepalanya ke belakang. Mungkin dia adalah pemilik mobil, sekaligus bosnya Arka. Ratria hanya merekam suara khas lelaki itu di kepala full memorynya.
"Siap, pak.!" sahut sopir muda berwajah manis yang punya nama Arka. Menoleh pada Ratria sebentar. Menyirat peringatan agar gadis menumpang itu bersiap. Ratria reflek mengangguk.
Jalan menuju perkebunan yang berkelok telah habis. Tersisa jalur lurus dan mulus yang jauh dari hambatan. Mobil telah melesat ke depan melebihi kecepatan terbang alap-alap. Orang di belakang seperti telah paham dengan kelok jalan menuju perkebunan. Jalan lurus sangat lengang sisa tiga kilometer itu kemungkinan hanya memerlukan hitungan detik saja untuk sampai.
"Mas..!!! Mas..!!! Stop, mas,,!! Aku turun !!! Rumahkau dah kelewat,!" teriak Ratria untuk menghentikan Arka dan mobilnya. Padahal rumah warisan leluhur belum juga dinampak. Hanya tidak ingin kejauhan jika terlewat.
Arka menoleh pada gadis berkerudung yang nampak gusar di sampingnya. Merasa lalai telah lupa menanya, di mana rumah dia,, siapa nama dia dan berapa nomor teleponnya.
Ha,,ha.. Tentu saja Arka tidak lupa. Perempuan berkerudung ungu seanggun ituu.. Lelaki mana yang tidak punya rasa ingin tahu,,?!
Sebenarnya Arka sangat ingin bertanya. Tapi terpaksa ditahan. Sebab segan pada juragan tampan yang sedang dibawa dan duduk di belakang.
Ciiiiiiiittt,,,!!!!
Mobil gunung itu sedang menggarang kembali. Seperti yang sudah dijangkakan Ratria, sang sopir berhenti tepat di pagar rumah tetangga yang hanya berselang satu blok setelah melewati pagar rumahnya. Ratria tersenyum diam-diam.
"Mas, terimakasih tumpangannya, ya. Lain kali jangan segan-segan memberiku tumpangan." Ratria menoleh pada Arka. Seperti meminta agar Arka mengingat wajahnya. Demi kelancaran transportasi di perjalanan Ratria selanjutnya.
"Eh, iya, mbak. Sama-sama. Ini mobil boss saya saja kok, mbak,!" sahut Arka merasa segan pada penumpang di belakang.
"Cepat, Arka,! Tidak perlu mengobrol basa-basi, !" tegur sengit lelaki yang lagi-lagi dari belakang.
Demi suara khas yang menggema itu, Ratria segera melompat turun dan keluar. Menutup pintu perlahan sambil mencuri pandang ke belakang. Hanya setengah wajah saja yang nampak. Dan mata Ratria merekamnya.
Rambut hitam cepak gaya buzz cut tentara yang garang. Alis tebal lurus hitam legam, dengan mata tajam berkilat yang memandang jauh ke depan, tanpa melirik Ratria sedikit pun. Juga hidung mancung sebagian. Sebab hanya setengah wajah saja yang nampak. Dan cukup membuat Ratria merasa puas.
Dep..!!!
Mobil mahal itu tidak bising saat dibanting menutup. Ratria mundur dua langkah menepi. Menatap mobil yang meluncur kesetanan kembali sedetik setelah Ratria menghempas pintunya. Dan bersamaan dengan suara alun adzan dari mushola perumahan dinas di deretan blok bawah.
🍃🍃🍃
Mbak Lusi sedang menyiapkan makanan di meja saat Ratria baru keluar dari kamar. Aroma pedas gurih dari bumbu rempah masakan di meja sangat menggoda perut dan mulut.
"Sudah selesai ya, mbak? Maaf ya mbak, aku nggak bantu- bantu," tegur Ratria basa basi sebab merasa tidak enak. Hanya mengambil dua pasang piring dan sendok yang belum nampak ada di meja.
"Nggak papa, Rat. Sudah sholat, kan? Yuk kita makan," ajak mbak Lusi sambil menarik mundur dua kursi. Ratria mengangguk.
"Jadi, start kerjanya dua hari lagi?" tanya mbak Lusi dan mulai menyendok nasi dalam piring. Ratria kembali mengangguk.
"Eh, entah langsung kerja apa gimana ya mbak..Pokoknya datang dulu berseragam dan menjumpai pak Sofian," ralat Ratria kemudian.
Mbak Lusi manggut-manggut dan melanjutkan makan dengan diam. Menghayati semua kunyahan dan setiap telanannya.
Begitu juga dengan Ratria, merasa nikmat dengan isi perut yang kosong saat sampai. Rio tidak mengajaknya singgah makan. Eh... Beramah tamah memanglah bukan lagak kakak tirinya.
🍃🍃🍃
Tok..Tok.. Tok..
Gadis berkulit mulus dengan dress tidur manis itu telah nyaman berbungkus selimut yang hangat. Dan merasa terusik saat pintu depan terdengar sayup diketuk. Pura-pura sudah tidur dan tidak mendengar adalah jalan ninja terbaik pilihannya.
Berharap juga agar mbak Lusi tidak usah mendengar dan membuka. Apalagi mencarinya. Ratria merasa sangat lelah dan ingin tidur cepat malam ini.
Tok..! Tok..! Tok..!
Tok..! Tok..! Tok..!
Ah, bunyi ketuk pintu tidak lagi dari depan, tapi jelas telah merapat di kamarnya. Dan bising diketuk ulang kali. Biasanya jika mbak Lusi mengetuk begini, akan ada hal penting sekali yang akan disampaikan. Ratria merasa tidak tenang jika terus mengabaikan.
"Ada apa, mbak?" tanya Ratria hangat sambil menyimpan muka suntuknya. Gadis itu telah membuka pintu kamar.
"Rat, ada pak Andi sama pak Syahdan di depan," ucap mbak Lusi. Wajahnya nampak tegang saat menyampaikan infonya. Mungkin bagi mbak Lusi ini adalah berita penting dari orang yang penting. Ratria memahami kegusaran dan posisi mbak Lusi.
"Eh,, mau ke mana,?" tanya mbak Lusi sambil menahan ujung belakang baju tidur Ratria yang baru melewati pintu dan sudah keluar kamar.
"Eh, mereka datang mencari siapa sih, mbak,?" gadis itu nyengir salah tingkah. Merasa diri kepedean.
"Ya nyari kamu, Rat,?" mbak Lusi tersenyum.
"Ya sudah ayo, mbak. Biar cepat selesai dan cepat pulang. Pokoknya aku nggak mau melanjutkan wacana perjodohan kawin gantung itu, mbak. Aku ingin berkarier di Telkom." Ratria berbisik pada mbak Lusi yang masih mencengkeram baju tidurnya.
"Iyaa,,aku dukung saja keputusan kamu, Rat. Tapi tukar bajumu dulu. Ini baju tidurmu nggak sopan buat menemui mereka. Lihat dadamu itu, kamu sudah melepas bra kamu juga kan,?" terang mbak Lusi dengan tak kalah lirih berbisik. Dengan jari telunjuk yang menunjuk ke arah dada Ratria.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Bunda Nian
Ha ha ha....
2023-02-02
1
M akhwan Firjatullah
hahahaha kutang mana kutang...asal jg kayak punyaku. ..nglembreh...meresahkan
2023-01-10
1
Lia liana
wkwkwkk ampir aj y rat untuk mbak Lusi ngingetin tuh baju kamu kalu nggak pak syhdn bakalan ketiban duren runtuh 😁
2022-12-09
3