Mbak Lusi telah menutup pintu pagar depan, pintu rumah, serta sudah merapatkan seluruh gorden di rumah dinas. Rumah warisan yang nyaman namun baru saja datang seseorang yang mengaku sebagai pemililknya. Sangat merongrong ketenangan Ratria sebagai penghuni alami rumah itu.
"Eh, mau ke mana, Rat,?" tanya mbak Lusi terkejut. Ratria keluar dari kamar dengan berkerudung segitiga yang ditalikan di leher asal saja.
"Aku mau ke tempat ibuk sebentar, mbak," jawab Ratria sambil mengantongi kunci kamar.
"Ada apa? Ini sudah hampir pukul sepuluh malam, Rat,?" mbak Lusi mengingatkan agak cemas.
"Masih sore, mbak. Belum pukul sebelas. Mungkin aku nanti menginap di rumah ibuk saja,!" seru Ratria sambil memegang kunci rumah dan membuka segel yang tadi telah dipasang mbak Lusi.
Ratria bergegas keluar dengan diikuti mbak Lusi di belakangnya.
"Assalamu'alaikum, mbak,!" pamit Ratria setelah berada di luar pagar. Dan berbalik untuk melangkah tergesa menuju blok rumah milik ayah tirinya.
"Wa'alaikumsalam,! Hati-hati, Rat,!" balas mbak Lusi yang terus mengawasi Ratria hingga punggungnya habis diterkam pekat malam.
Mbak Lusi masih memegangi besi pagar dan belum juga mengunci kembali. Mengabaikan hembusan hawa beku yang menusuk turun dari arah perkebunan.
🍃🍃🍃
Ratria berjalan cepat dan ingin segera mencapai rumah ibunya. Ingin mendapat kepastian sekali lagi dari satu-satunya saksi yang masih ada dan valid. Mengabaikan beberapa orang yang duduk-duduk santai di tepian jalan depan perumahan. Mereka adalah para pendaki gunung Butak yang istirahat dan bermalam di area perkebunan, sebelum melanjutkan pendakian esok hari.
Tidak heran jika para pendaki gunung Butak banyak berkumpul di area perkebunan. Sebab di Sirah Kenconglah salah satu tempat untuk mendapat perizinan resmi guna melakukan pendakian ke gunung Butak melewati hamparan perkebunan teh.
Yang tidak jarang bagi beberapa pendaki handal, dari gunuung Butak mereka akan menggeser diam-diam ke gunung Kawi yang terletak bersebelahan dengan gunung Butak. Medan berat dan tidak terbuka, rela mereka babat sebab jarak tempuh yang relatif lebih singkat dan dekat.
Bukan pemandangan aneh jika pada hari merah nasional serta hari Sabtu dan Minggu, Sirah kencong akan dipenuhi para pendaki yang bermalam. Mereka akan menyewa vila bersama atau mendirikan tenda sementara di dataran lapang, halaman SDN Sirah Kencong.
Hanya ada Sekolah Dasar saja di sana. Untuk mendapat pendidikan tingkat lanjut, anak-anak perkebunan harus turun gunung ke kota Wlingi. Demikian juga tahapan pendidikan yang telah dilalui gadis kecil Ratria saat itu.
Jadi tayangan yang sering ada di acara televisi, anak gunung turun ke kota dengan berjalan kaki menempuh kikometer hingga belasan kilometer demi menuju bangku sekolah, adalah nyata dan bukan hal baru bagi Ratria. Dan tak terkecuali juga bagi seluruh teman-teman di perkebunan.
Namun spesial untuk Ratria, hanya jika terpaksa..
Sebab semasa masih hidup, sang nenek sangat safety dan over protective pada cucu tercinta. Mencari pengantar jemput untuk Ratria. Tapi bagaimanapun, sang cucu sering juga berakal bulus untuk bisa berangkat dan pulang jalan kaki bersama teman-teman. Dan baginya itu jauh lebih menyenangkan.
🍃🍃🍃
Ruang tamu di rumah dinas milik ayah tiri masih terang benderang. Dengan para manusia dewasa yang tengah duduk dan saling berpandangan sesekali. Mereka sedang tegang berdiskusi.
"Besok hari Sabtu, Rat. Hari terakhir bank memberi kesempatan bagi nasabah spesialnya untuk bertranksaksi. Masak harus nunggu Senin, lagian kamu kan harus datang ke Telkom," pungkas sang ibu pada Ratria.
Ibunya memang membetulkan adanya kawin gantung antara Ratria dan cucu pemilik pabrik dan kebun. Namun tidak menyangka jika boss besar masih serius dan berminat. Hingga setelah kematiannya pun masih ada yang menguruskan. Ibu Fatimah sangat terkejut dan bahkan telah melupakannya.
Hanya bercerita dan jujur pada Ratria. Jika boss besar rutin memberi santunan pada ibu dan Ratria setiap bulan. Juga rumah dinas untuk ditinggali mereka hingga Ratria dewasa dan menikah. Dan ibu Ratria membenarkan jika rumah dinas itu bisa jadi atas nama pak Syahdan.
Tapi karena sang ibu memilih menikah lagi, maka dengan rela dan sadar diri, semua santunan diserahkan pada mertua demi membiayai segala keperluan Ratria selama ini. Jadi semenjak itu, Ibu Fatimah tidak mengambil santunan sepeser pun. Semua diserahkan untuk Ratria.
Itulah,, Ratria tidak pernah kesulitan dalam segi keuangan. Nenek selalu memberi lebih dari jumlah berapapun yang Ratria minta untuk kebutuhan pribadi dan sekolah. Hingga Ratria berhasil menamatkan kuliah sarjananya.
Dan meski keuangan sekarang bergeser pada mbak Lusi, tapi wanita itu tak kalah baiknya dengan sang nenek. Yang ternyata mbak Lusi adalah orang suruhan dari boss besar sendiri.
Bahkan Ratria merasa lebih longgar lagi sekarang. Mbak Lusi orangnya berwawasan dan memberi kebebasan untuk Ratria. Sedang sikap almarhum nenek sangat kolot memperlakukan Ratria.
Sang cucu seperti gadis pingit yang pergaulannya dibatasi dan cukup dikekang. Namun Ratria adalah gadis belut yang licin dan lihai berakal bulus di belakang sang nenek.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
As Lamiah
semangat ratria untuk menjemput impianmu bekerja
2022-12-11
1